Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
60. Ketahuan


__ADS_3

Kini nampak di studio sedang sibuk memulai syuting. Terlihat Keylin di depan kru - kru menunjukkan kebolehannya. Sedangkan Mona dan Samuel duduk di bagian belakang panggung, menunggu calon Ibu itu selesai. Gerakan setiap gerakan bela diri yang ditunjukkan Keylin mampu membuat mereka yang di sana tercengang. Tentu saja Keylin sudah melatih dirinya. Belajar dari asisten serbaguna, yaitu Mona yang sekarang tersenyum bangga.


"Cut!!" ujar sang Sutradara kemudian memberi jempol keberhasilan Keylin yang menampilkan perkelahian yang terlihat nyata dan keren.


"Huftt, akhirnya selesai." Hela Keylin mengusap sedikit keringat di keningnya. Waktu adegan aksi yang lain akan segera berlanjut, tetapi karena Keylin tidak bisa melakukan aksi ekstrim yang dapat membahayakan kehamilannya, ia pun terpaksa meminta untuk digantikan oleh pemeran lain.


"Ciee, perkelahian kau barusan terlihat ada kemajuan." Mona menggoda Keylin yang duduk di sebelahnya.


"Tapi, kenapa sih gak lanjut aja? Padahal adegan ini dapat menyoroti wajahmu lho, dan kau bisa menarik banyak penggemar, Key," ucap Mona melihat Keylin yang meneguk air mineralnya.


Merasa tenggorokannya sudah tidak kering, Keylin pun meletakkan botolnya di atas meja kemudian menjawab, "Aku tidak bisa." Sambil mengelus perutnya.


Dahi Mona pun mengkerut. "Kenapa? Perutmu sakit?" tanya Mona dan memberikan obat pereda nyeri.


"Atau kau datang bulan?" tebak Mona. Keylin menolak obat itu dan menggelengkan kepala.


"Aku baik - baik saja kok, Mon." 


"Lho, terus? Perutnya kenapa dielus - elus terus?" tanya Mona heran. Keylin diam sejenak. Kemudian melihat kru - kru di studio itu sibuk. Merasa tidak diperhatikan, Keylin pun berpikir ingin mengatakan kehamilannya.


"Gini, Mon. Sebenarnya…"


"Sebenarnya, kenapa?" Mona semakin mendekat.


Keylin melihat Samuel kemudian menjawab berbisik, "Aku hamil." Dua netra Mona membola sempurna.


"Seriously, are you pregnant?"


"Pftt, hahaha…" Keylin tertawa. Ekspresi dan reaksi Mona sangat lucu. Dari keterkejutannya itu, membuat asisten serbaguna itu mengeluarkan logat bulenya.


Dari tawanya itupun membuat orang - orang di sana menoleh. Keylin segera menutup mulut dan secepatnya melempar senyumnya.


"Kau, serius hamil?" tanya Mona.


"Shht, jangan keras - keras." Keylin meletakkan jari telunjuknya ke bibir.


"Tapi, kau benar - benar hamil?" tanya Mona berbisik.


"Iyah, aku sudah telat satu bulan. Mungkin kehamilanku sudah empat minggu," jelas Keylin.


"Sumpah, ini gak bohong, kan?" Mona menepuk kedua bahu Keylin.


"Lho, kenapa kaget terus sih? Kau gak percaya? Atau gak senang?" tanya Keylin menyipitkan mata. Mona pun mengelus dadanya, mencoba tenang.

__ADS_1


"Keylin, aku senang. Cuman, bukan kah kalian berdua baru - baru ini melakukan itu, kan? Kenapa bisa telat satu bulan? Gimana jadinya itu?" Mona menggaruk kepala.


"Hihihi…" kikik Keylin melihat Mona terlihat bodoh memikirkannya.


"Jangan - jangan kau hamil anak orang?" Tawanya pun seketika sirna setelah ditunjuk dan dituduh ngasal.


"Ihhh, mana ada! Aku hamil anaknya Edgar kok." Keylin menepuk pundak Mona. Tentu tidak terima. 


Sekali lagi, para kru dan pemeran lain menoleh. Mereka mengerutkan dahi, antara salah dengar atau tidak.


'Apa yang kedua wanita ini gosipkan?' batin mereka ikut penasaran. Tapi syuting lebih penting sekarang.


"Sini, berikan Samuel padaku, aku mau ke ruang ganti, sekalian memerah ASI untuknya." Keylin mengambil Samuel. Pergi dari aula syuting dan Mona yang masih bengong, ia blank. Belum bisa mencerna kondisi Keylin.


'Berarti, malam itu … beneran?' pikir Mona menyadari Keylin dari dulu memang sudah tidak perawan.


'Eh busyet, selama ini Keylin bohongin aku? Atau aku yang gagal paham?' Mona menggaruk kepala tak gatal. Tiba - tiba perhatiannya teralih pada hapenya yang bergetar.


Ia cepat - cepat melihat siapa sang pemanggil. Kedua matanya kembali terbuka lebar melihat nama sang kontak adalah Ibu mertua Keylin, Regina.


"Waduh, aku katakan pada nyonya, atau biarkan Tuan Edgar yang kasih tahu?" Mona meninggalkan tempat duduknya. Pergi untuk mengangkat panggilan sang majikan. Namun, saat berdiri di dekat tembok, kedua arah matanya menangkap dua orang yang berseragam satpam tapi mencurigakan. Nampak mengendap - endap layaknya penjahat.


"Siapa mereka?" Mona mengikutinya dan bersembunyi cepat.


"Ini waktunya, kita tangkap dia dan bayi itu. Mumpung ketua Sky tidak bersamanya." Mereka datang menyamar dengan niat jahat ingin menculik Keylin dan Samuel.


Kedua pria itu menoleh, langsung terkejut pada Mona yang kesulitan mematikan panggilan dari Regina.


"Hei! Apa yang kau lakukan di sana!" ujar mereka berteriak.


"Sial, aku ketahuan!" Mona berlari ke arah lain.


"Ck, kejar dia! Usahakan kita singkirkan wanita ini dulu." 


Mendengar mereka ingin membunuhnya, kedua kaki Mona seakan - akan lemas. Tapi dia harus ke tempat Keylin.


BRAK!


"Akh, Mona! Kalau buka pintunya, jangan digituin lah," celetuk Keylin terkejut. Namun mengerti heran melihat raut wajah Mona yang ketakutan dan panik.


"Akhh, kenapa kau tarik aku?" Keylin diseret keluar sambil membawa Samuel.


"Mona, aku lagi menyusui Samuel. Bisa tidak sih, jawab aku?" Keylin memaksa Mona melepaskannya.

__ADS_1


"Tidak bisa, Keylin! Kita sekarang dalam bahaya! Kita harus pergi dari studio ini!" kata Mona menarik Keylin menuju ke pintu darurat. Sontak saja sirine berbunyi. Asap tiba - tiba muncul dari arah barat studio dan kemudian …


BOM!!


"Akhh, kebakaran! Cepat keluar!" teriak orang - orang berlarian panik setelah api meledak di sana.


"Mona, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Keylin terbata - bata dan memeluk Samuel yang hendak menangis.


"Sial, tempat ini sudah disabotase, mereka melakukan ini untuk menangkapmu, Key. Sekarang keluarlah melalui pintu itu." Mona menunjuk pintu darurat yang mengarah ke bagian parkiran.


"Terus, bagaimana denganmu?" Keylin ikut panik.


"Sial, pergilah! Tidak usah memikirkan aku, mereka perlu aku halau!" kata Mona berniat mengulur waktu mereka.


"Tidak, Mona! Aku tidak mau kau mati!" Keylin lari menyeret Mona. Namun seketika tembakan mengagetkan keduanya.


DOR!!


"Akhhh…." Mona menjerit, dua pahanya ditembak oleh dua orang yang kini mengejarnya.


"Pergi, Keylin! Pergi!" ujar Mona yang tumbang, ia membentak dan berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


"Hai, berhenti di sana!" teriak mereka semakin mendekat. Keylin pun terpaksa memapah Mona. "Kita harus keluar dari sini bersama, Mona." Keylin tidak tega melihat darah segar bercucuran keluar dari luka tembak itu.


"Hueeeee…." Tangisan Samuel pun pecah. Mengakibatkan suasana tambah buruk. Tapi Keylin terus membawa Mona yang sudah tidak bisa menggerakkan kakinya itu. Kedua wanita itu pun berhasil sampai ke parkiran.


"Tinggalkan aku, Key. Kau harus menyelamatkan dirimu dan Tuan Samuel." Mona ingin terlepas dari Keylin, namun calon Ibu itu membentaknya tiba - tiba.


"Sudah aku bilang, tidak! Kau bertahanlah, aku yakin Edgar akan segera ke sini!" 


Mona tertegun diam melihat tekad Keylin. Namun ia kembali tumbang di dekat mobil. Keylin segera menyeret Mona bersembunyi dan berusaha menenangkan Samuel.


"Sial, kemana mereka?" Dua orang itu mendecak, tidak melihat keberadaan yang mereka cari.


"Mona, bertahanlah." Keylin merobek ujung bajunya, membalut semua luka Mona kemudian mengambil hape, ingin diam - diam menghubungi Edgar namun hapenya tidak memiliki sinyal satupun karena listrik di area itu padam.


"Shht, pergilah dari sini, Keylin. Tinggalkan aku." Mona mendesis kesakitan. Kedua mata Keylin mulai basah, takut dan cemas melihat Mona yang tidak berdaya.


"Tapi, Mona…. kau perlu dibawa ke rumah sakit," lirih Keylin ingin memapahnya namun Mona menepisnya.


"Jangan keras kepala, Key. Mereka mengincarmu. Tidak usah memikirkan aku." Mona bersandar ke tembok, nafasnya mulai menghembus pendek.


"Tidak, Mona. Kau sahabatku, jika aku tinggalkan kau, aku tidak punya sahabat lagi." Keylin menolak.

__ADS_1


"Bodoh, nyawa kalian lebih penting dari hubungan kita. Berhenti menangis dan pergilah dari sini!" ujar Mona mendorong Keylin. Akhirnya, Samuel memecahkan tangisnya.


"Di sana! Cepat tangkap mereka!" Seru dua orang itu berlari.


__ADS_2