Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
61. Bertahanlah


__ADS_3

"Pergi sekarang, Key!" ujar Mona marah. Keylin pun berdiri namun seketika dia orang itu sudah ada di belakangnya.


"Akhh, lepaskan aku, bajingaan!" Keylin melayangkan pukulannya. Tepat mengenai wajah salah satu dari mereka. Namun tenaga Keylin terasa seperti semut kecil.


"Akhhh," jerit Keylin kesakitan. Kedua tangannya dicekal.


"Lepaskan mereka, berengsek!" bentak Mona geram melihat Samuel direbut dan Keylin dipaksa ikut mereka.


Sontak saja, kedua mata Keylin melotot tatkala salah satu dari mereka menarik pelatuk dan menodongkan pistolnya ke arah Mona.


DOR!


"Akhh, tidak! Mona!" Keylin syok melihat mereka menembaki Mona tepat di dada wanita itu.


"Mona, bertahanlah!" Keylin meneriaki Mona yang tergeletak. Sudah tidak bergerak. Air matanya pun menetes deras melihat sahabatnya tumbang.


"Ikut kami!" paksa mereka membawa Keylin dan Samuel. Memasuki mobil hitam kemudian melaju pergi. Bersamaan Edgar dan Tania sudah sampai di studio Keylin yang terbakar. Keduanya panik melihat api melahap tempat itu.


"Tidak, Keylin! Samuel!" Tania berlari ingin masuk, namun Edgar menahannya. "Jangan gila kau, Tania!"


"Lepaskan aku, Ed! Anakku dan adikku ada di dalam!" Tania menampar tangan Edgar. Namun seketika berhenti tatkala Edgar mendapat notif dari seseorang. Edgar dan Tania saling memandang dan sangat terkejut. Edgar pun segera menarik Tania menuju ke tempat Keylin dan Samuel berada. Lokasi yang dikirim dari tangan kiri, sang penasehatnya.


Mobil sang penculik memasuki gedung terbengkalai. Lokasi yang ditetapkan untuk memberikan Keylin dan Samuel pada bos mereka. 


"Kalian semua bajingaan! Bern3gsek! Lepaskan kami!" ujar Keylin memberontak.


"Diamlah, ******!" Bentak mereka menyeret Keylin yang diikat kedua tangannya. Menarik rambutnya paksa menuju ke dalam gedung. Namun tiba - tiba saja, keduanya ditendang ke depan membuat Samuel terlempar. Sudah kedua kalinya bayi itu melayang ke atas, namun kali ini, bukan Mona yang menangkapnya tetapi seorang pria yang datang menyingkirkan kedua bawahan worlfard.


"Hai, berikan bayi itu pada kami!" Mereka menerjang, menyerang brutal pria itu yang memakai helm. Keylin pun segera melonggarkan tali yang mengikatnya. Namun langsung aksinya itu terhenti kala pria itu melontarkan perkataannya.


"Berikan? Kau ingin mengambil anakku?"


"Tak akan ku biarkan, keparAt!"


Duaaaghhh….


Dughh ..


Dugh..


Kedua bawahan itu terhempas ke belakang. Memuntahkan darah dan tumbang ke tanah.


"Huaaaa…. hueee…huaa…" Samuel menangis sejadi-jadinya. Membuat pria itu mulai kesusahan.


Dua bawahan itu pun bangkit kembali. Mereka hendak menyerang lagi. Keylin pun berteriak histeris melihat keduanya tertembak dan darah terciprat keluar. Matanya pun beralih ke arah lain, tepat di sana ada Tania yang memegang pistol. Wanita itu menembak sendiri dengan raut wajah yang merah padam.

__ADS_1


"Sayang!" Edgar menangkap tubuh Keylin yang jatuh pingsan. 


"Hai, berikan anakku, sialan! Kalau tidak, peluru ini akan melubangi kepalamu itu," ujar Tania menodongkan pistolnya. Pria berhelm itu mengangkat satu tangannya.


"Tenang, sayang! Jangan tembak, dong." 


Edgar dan Tania terdiam. Suaranya familiar. 


"Sayang? Kau siapa?" tanya Tania masih menodongkan senjatanya.


"Siapa lagi, kalau bukan suamimu," ucap pria itu melepaskan helmnya. Samuel seketika diam melihat wajah pria itu.


"Jadi, kau masih hidup? Ini sungguh kau, Alex?" Tania menurunkan senjatanya. Edgar pun berdiri di depan Tania dengan satu tangan direntangkan.


"Jangan lengah, Tania. Siapa tahu dia pria yang menyamar," ucap Edgar dengan tatapan dingin.


Pria berhelm itu mengepal tangan dan langsung mencengkram kerah Edgar. "Woy, bodoh, aku ini masih hidup! Jasad yang kau ambil itu awak kapalku, apa kau tidak bisa berpikir, siapa yang menyelamatkan Samuel kalau bukan aku? Dan sekarang kau anggap aku mati?"


Edgar balas mencengkram kerahnya. "Hai, bego. Kalau kau masih hidup, kenapa baru muncul? Kenapa, haaa?" Tatap Edgar melototkan kedua matanya. Ia memang melakukan autopsi tapi tidak melakukannya sampai tuntas sehingga berpikir tubuh yang terbakar dan tertembak itu milik sepupunya, sang tangan kirinya.


"Malah ngegas balik! Tentu saja aku sibuk mencari Tania, bodoh! Berkat dia muncul di jumpa pers, aku menghentikan pencarian ku dan berpikir hari ini dapat melihatnya di studio itu. Tapi siapa sangka, anakku dijaga oleh artis baru itu dan diculik. Kau sepertinya sudah tidak bisa diandalkan, Edgar," ucap Alex menunjuk Keylin yang digendong Edgar.


"Wah, jadi kau kira aku sudah lemah gitu?" balas Edgar menunjuk dada Alex.


STOP!


"Jangan berdebat dulu, sekarang kita ke rumah sakit dan bawa Keylin ke sana, Edgar." Tania tidak tahan melihat Keylin.


"Baiklah, ayo kita pergi." Edgar melewati Alex.


"Berikan anakku!" Tania merebut Samuel.


"Sayang, tunggu! Ikutlah denganku," ucap Alex meraih tangan Tania dan menunjuk motornya.


"Gak, kau bukan suamiku, ayah Samuel sudah mati." Tania menghempaskan tangannya kemudian menyusul Edgar. Terlihat antara senang dan kecewa.


"Sayang, harusnya kau sambut aku dengan pelukan, bukan malah dicuekin! Kau tahu, aku mati - matian mencarimu selama ini!" Alex mengejar istrinya dan membiarkan bawahan Edgar mengurus jenazah dua penculik itu.


Dua jam berlalu, Keylin perlahan sadar. Pandangannya berkabut. Ia pun mengerjakannya kedua matanya. Merasa sudah normal, ia pun beranjak duduk dan menoleh ke samping. Seketika, dipeluk cepat.


"Kesya. Syukurlah, kau baik - baik saja." Tania memeluk Keylin.


"Kesya?" Keylin melirik Edgar dan satu pria lain yang menggendong Samuel. Seketika tersentak kaget mendengar Isak tangis Tania.


"Hiks, maafkan aku, Kesya." Pelukannya semakin dieratkan, membuat Keylin bingung apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Tolong, lepaskan aku." Keylin mendorong Tania.


"Kesya, aku …." Putus Tania terkejut dilewati Keylin. Ia menoleh dan melihat Keylin berdiri di depan Edgar.


"Edgar, Mona mana?" Keylin lebih memikirkan Mona.


"Edgar! Jawab, dimana Mona?" tanya Keylin lagi.


"Dia selamat, kan?" lirih Keylin dengan embun kecil menggenang di pelupuknya. Edgar segera memeluk Keylin. "Hiks, Mona masih hidupkan?" Tapi Edgar hanya diam. Sedangkan Tania mengepal tangan, sedih melihat adiknya mengabaikan dirinya.


"Hiks, Mona…." Keylin menangis pilu di pelukan Edgar. Ia pun membawa Keylin, menenangkan istrinya. Sedangkan Alex mendekati Tania. "Mau dipeluk juga, sayang?" 


Tania hanya diam dan menunduk. Ia pun membiarkan dirinya dipeluk bersama Samuel. "Alex, dia tidak mengenaliku."


"Siapa yang kau maksud?"


"Dia, adikku." Alex menunduk, terkejut mendengarnya. "Kau sudah ingat tentang dirimu?" tanya Alex. Tania mengangguk kemudian memeluk suaminya. "Hiks, dia pasti membenciku. Aku harus bagaimana menjelaskannya?" Tania menunduk. Alex membelai kepala Ibu kandungnya Samuel itu, kemudian mengelus pundaknya. "Biarkan dia tenang dulu. Sekarang, kau dan Samuel perlu diperiksa." Alex meraih tangan istrinya, namun Tania berhenti.


"Ada apa?" 


"Kau sungguh suamiku, kan? Bukan suami jadi - jadian kan? Bukan arwah gentayangan, kan?"


Alex menggigit bibir bawahnya melihat muka polos istrinya. "Ya iyalah, sayang. Aku ini suamimu, atau mau aku praktekkan bagaimana suara des4han mu di malam pertama?" Tatap Alex gemas. Samuel di sana hanya bisa tertawa, entah dia mengerti atau tidak, tapi melihat ekspresi kedua orang tuanya yang masih hidup itu, ia merasa sangat senang.


"Akhh, kenapa lagi, sih?" desis Alex dijewer telinganya.


"Gak usah! Ayo kita periksa. Sekalian aku mau cek DNA kau dan Samuel. Biar aku percaya 100 persen." Tania pergi dengan kedua pipi yang merah.


"Pftt, ayo Samuel, kita ke periksa bareng Mami mu." Pria itu dengan hati berbunga-bunga menyusul istrinya.


Sedangkan Edgar dan Keylin berada di luar rumah sakit. Duduk berdua di bangku bersama.


"Edgar, aku tidak mau Mona mati." Keylin menunduk. Edgar mengelus perut Keylin dan pindah memegang tangan Keylin. "Sudah, tenang saja. Dia akan baik - baik saja nanti. Aku sudah mengerahkan Dokter yang terbaik untuk menangani Mona." Menghapus sisa air mata istrinya.


"Kalau begitu, siapa pria yang tadi? Apa dia ada hubungannya sama Samuel?" tanya Keylin merasa pria di samping Edgar itu mirip Samuel. Edgar pun menarik nafas. Ia ingin sekali katakan identitas istrinya sekarang juga. Tapi situasi saat ini masih tidak terkendali. Masih ada bawahan worlfard yang berkeliaran di luar sana.


"Nanti aku jelaskan, sekarang kita kembali ke rumah, okeh?" Edgar berdiri, mengulurkan tangannya. 


"Hmm, baiklah." Keylin menerimanya. Pulang bersama Edgar. Sedangkan sang tangan kanan Edgar tampak sibuk dengan urusannya dan tidak bisa ikut mencari sisa - sisa bawahan worlfard. Tapi ia senang mendengar rekannya masih hidup, sebab tidak ditumpuk tugas lagi.


.


Dua bab lagi tamat ya🥳tinggalkan like dan happy new year.


Ini skuelnya hehe, jangan lupa mampir ya.

__ADS_1



__ADS_2