
Untuk malam ini, Edgar ingin menuntaskan birah*nya. Gelora yang bergejolak sudah mengusai dirinya. Ia kini lebih intens memperlakukan Keylin di pangkuannya. Tetapi gadis itu dengan lembut mendorong dada bidang suaminya.
"To-tolong jangan berlebihan, Tuan." Suaranya mengecil tetapi tekanan dari dorongan Keylin terasa kuat. Namun keinginan Edgar tak dapat ditentang lagi. Pria itu tersenyum smirk pada Keylin yang takut dan gelisah. Gadis itu terus memikirkan perkataan Mona.
'Apakah hari ketiga pernikahan kita ini akan menjadi malam pertamaku?' pikir Keylin cemas dengan wajah polosnya.
Ia bergidik ngeri membayangkan adegan - adegan dewasa yang ada dalam otaknya. Semua itu Keylin terima ketika waktu kecil, ia yang duduk di pojokan kamar melihat ayahnya bercinta dengan seorang wanita malam yang menimbulkan rasa trauma yang luar biasa. Des*han mesum dari wanita itu memenuhi telinga Keylin sekarang. Itu semua sulit dilupakan gadis itu. Untungnya dua orang dawasa itu melakukannya di dalam selimut.
"Kau menolak tugasmu sebagai istri?"
Edgar bertanya dan menyentuh bibir cantik istrinya itu dengan suara s3ksu4l dan tatapan menggoda. Keylin diam, bingung mau bicara apa. Karena tak dijawab, Edgar pun kembali melucurkan satu ciuman mesra pada bibir manis istrinya. Satu tangannya melepas semua kancing piyama Keylin dan satu tangannya mengangkat paha Keylin yang halus.
"Tuan, sebentar." Keylin menghentikannya. Pipinya sangat - sangat merah. Ia seperti terbakar oleh sesuatu yang panas di dalam dadanya. Edgar memandang tubuh Keylin yang terbuka di di depannya. Dua gunung semok itu mendebarkan adik kecilnya. Jack sudah lama mengeras di bawah sana dan siap dikandangi.
Keylin menelan ludah dan mengatur nafasnya yang tersengal. Ia ingin turun dari pangkuan Edgar tetapi pria gagah nan tampan itu berdiri kemudian mengangkatnya. Rasa cemas Keylin bertambah. Ia dibaringkan ke kasur dan ditindih olehnya.
Edgar mau Keylin merasakan setiap sentuhannya itu dapat menyadarkannya tentang dua kesempatan yang dia ambil darinya. Tetapi tiba - tiba Keylin mendes*h lembut.
"Kenapa?" tanya Edgar yang didorong.
"Maaf, Tuan. Ini waktunya saya pompa asi," jawab Keylin yang kebetulan isi dadanya itu menyemprot keluar. Edgar tersenyum smirk, berpikir inilah waktu gilirannya. Namun lagi - lagi ada yang mengganggunya. Samuel menangis di sana.
Pupus sudah gairahnya malam ini. Pria tampan itu terlentang dengan perasaan sedikit kecewa dan mengacak berantakan rambutnya.
Keylin mengelus dada berhasil terlepas dari belenggu suaminya malam ini. 'Syukurlah, aku masih bisa menjaga status perawanku.' Keylin merasa amat lega. Ia pun berdiri lalu mengambil alat pumpingnya, menyiapkan asi jika Samuel terbangun lagi.
Sambil memerah asinya, Keylin duduk dan menenangkan Samuel. Ia diam - diam melirik Edgar yang belum tidur di sana. Sepertinya ketua mafia itu sedang menunggu dan berencana melanjutkan hasratnya setelah Samuel tidur kembali.
Sudah dua jam berlalu, Keylin masih mengurus Samuel. Edgar pun menyerah dan tidur duluan dengan perasaan yang tidak karuan.
Makasih ya, sayang.
Keylin mengecup ubun - ubun Samuel. Diletakkannya bayi mungil itu ke tempatnya semula. Setelah itu, Keylin memperbaiki piyamanya, kemudian tidur di sebelah Edgar. Ia terlentang bebas dan menatap kosong langit - langit kamar. Perlahan memejamkan mata namun entah kenapa gadis itu susah tidur.
"Hei, kenapa belum tidur juga?"
Keylin terkesiap ditanya oleh Edgar. Rupa - rupanya pria tampan itu hanya berpura - pura memejamkan mata.
"Saya mau tidur kok, selamat tidur, Tuan." Setelah menjawab, Keylin membelakangi. 'Duh, jangan mulai lagi dong.' Batinnya resah gelisah.
Yang dikhawatirkan pun terjadi. Edgar memegang bahu gadis itu kemudian mengelus ke bawah sampai pada telapak tangan Keylin. Jantungnya kembali berpacu ketika ditarik menghadap pada suaminya.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan?" tanya Keylin bertatap mata dengannya. Edgar pun menarik tangannya itu kemudian mengecup lembut punggung tangan istrinya dan diliriknya dengan nakal.
"Apa kau pernah menyukai seseorang?"
"Atau sekarang mencintai seseorang?"
Dua pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Kalau jujur, nanti yang ada si Edgar marah. 'Aku harus jawab apa?' batinnya bingung.
"Ayo jawab aku," desak Edgar lebih mendekat.
"Sa-saya tidak pernah menyukai siapa pun, Tuan." Ia menjawab terbata - bata pada suaminya itu.
"Kalau begitu, siapa pria yang kau temui waktu itu?" tanya Edgar yang sudah tahu dari cctv di cafe itu kalau Keylin ke sana bersama Bryan.
"Dia cuma temanku, Tuan," jawab Keylin lirih.
"Serius?" Edgar tak percaya.
"Serius, dia Dokter yang sering menangani ayahku, Tuan. Dari situlah kami berteman." Keylin tersenyum, berharap Edgar tak emosi pada Bryan.
Edgar masih tak percaya, ia mentoel - toel pipi dan memencet - mencet hidung mancung Keylin. Gadis itu semakin gelisah dengan tindakan Edgar itu.
Benar saja, Edgar mengungkit perihal Bryan yang mengabaikan Keylin. Gadis itupun diam membisu.
"Kalian bertengkar? Atau main api di belakangku?"
Edgar menatap curiga dan nada suaranya pun juga naik. Keylin beranjak duduk dan menjawab, "Saya sudah menikah dengan Tuan."
"Lalu?" Edgar ikut duduk.
Keylin menatap satu arah pada netra suaminya itu dengan lekat - lekat. "Saya tidak mau dekat - dekat lagi dengannya dan kurasa hubungan kami sudah berakhir."
"Kenapa kau berkata begitu?" tanya Edgar ingin tahu. Keylin menunduk. Kali ini pertanyaan itu benar - benar sulit dijawab.
"Ka-kar-karena saya sudah jadi istrinya Tuan. Jadi saya tidak mau menyakiti perasaan anda, Tuan."
Edgar sedikit tersentuh mendengarnya. Ia pun membelai rambut Keylin dengan perasaan senang. Walau begitu, bukan itu yang ingin dia dengar.
"Hmm, terus siapa yang kau sukai saat ini?" tanya Edgar bergeser ingin lebih dekat pada istrinya itu.
"Apa kau menyukaiku?" bisiknya di telinga Keylin dan merangkul dari belakang gadis itu. Tak lupa mengecup pipinya. 'Huh, tenang, Tuan Edgar cuma tanya saja, tidak mau melakukan aneh - aneh.' Keylin berusaha tetap santai menerima belaian ketua mafia itu.
__ADS_1
"Kalau iya, apa Tuan akan marah?" Keylin melonggarkan sedikit pelukan Edgar yang serasa mencekik perutnya.
"Kalau kau tulus mengatakan itu, aku senang mendengarnya. Disukai gadis menarik sepertimu tidak ada salahnya." Keylin terenyuh dianggap menarik. Gadis itu pun memandangi wajah Edgar dan kedua netra biru itu.
"Kalau begitu, apa Tuan juga menyukaiku?"
Akhirnya giliran mulut Edgar yang diam. Pria itu teringat dengan kata - kata Gerry dan juga ucapannya yang tidak menyukai Keylin. Tapi sesaat kemudian, pria itu dengan gemas menggigit sedikit leher gadisnya.
"Auhh, kenapa, Tuan?" ringis Keylin mendes*h. Edgar tersenyum simpul sudah memberi tanda merah di sana. Setelah itu beranjak tidur. "Akan ku jawab pertanyaanmu itu besok. Sekarang tidurlah," ucapnya membelakangi Keylin. Pria itu sedang bersemu karena malu mejawab. Ia sedikit sadar atas perasaannya yang lumayan suka pada istrinya.
"Baik, Tuan." Keylin tidur dengan hati yang kecewa tapi ia merasa lega tidak melakukan hal - hal aneh malam ini. Namun sontak, Keylin lupa satu hal yaitu jawaban tentang keinginannya yang mau ikut casting.
Huft, besok saja deh.
Keylin memejamkan mata dan tidur duluan. Sedangkan Edgar sedang memandangi foto Tania di hapenya. Ia terlihat ragu - ragu tapi Edgar pun ikut memejamkan mata. Menunda Jack masuk kandangnya lagi.
Sementara di tempat lain, Regina belum meninggalkan tempatnya. Wanita itu mau hubungi Keylin tapi ragu - ragu juga.
"Lho, Mah, kenapa berdiri di situ?" tanya Justin datang.
"Gini Justin, Mamah agak menyesal deh," ucap wanita itu menyimpan telepon rumah. Justin tersentak kaget.
'Menyesal kenapa nih?' pikirnya penasaran dan cemas Ibunya berubah pikiran.
....
Tuutt...
Sebuah panggilan masuk ke hape Bryan. Pria itu lagi jalan sendirian di tepi jalan dan mencari tempat menginap. Namun malam ini dia disuruh pulang oleh Ibunya, akan tetapi, Bryan menolak. Pria itu sedang berusaha menghibur hatinya, ia masih tak percaya pada Keylin yang menolak perasaannya.
"Huftt." Nafasnya menghembus kasar. Tiba - tiba netranya menangkap seseorang tidak asing di jalan sebrang. Bryan memasang kacamatanya namun orang itu sudah hilang.
"Aneh, kemana dia?" Bryan mau mencarinya tetapi udara malam ini terasa dingin. Dokter tampan itu terpaksa kembali mencari apartemen kecil. "Sudahlah, mungkin aku salah lihat tadi." Bryan mengabaikan firasatnya itu.
.
Terima kasih
Jangan Lupa Like dan Komen
Favoritkan juga ya, supaya author semangat dan rajin update🌼
__ADS_1