
Esok harinya, Keylin masih bersikap diam pada Edgar. Tapi di lubuk hatinya dia ingin bicara, bicara untuk melarang Edgar memikirkan Tania. Namun bumil cantik itu menyadari statusnya yang tak bernilai dan tak sepenting Tania. Demi tak ada perdebatan pagi ini, Keylin pun mencoba menahan emosinya dan air matanya.
"Hari ini kau mau ke tempat pemotretan, kan?” tanya Edgar pada Keylin yang diminta untuk menghadiri pemotretan dari pak sutradara. Tetapi istrinya itu tak menjawab.
"Key, kau kenapa sih cuek - cuek begini? Dari kemarin malam kau tak mau bicara apa - pun padaku, apa aku melakukan kesalahan?” Edgar menarik bahu Keylin agar dia mau melihatnya. Samuel yang di atas kereta bayinya itupun memperhatikan Edgar dan Keylin. Bayi itu juga penasaran mengapa Ibu susunya tidak begitu akrab dengan Edgar hari ini. Keylin berhenti membereskan isi tasnya kemudian melirik Edgar dengan tatapan sulit diartikan, namun hatinya jelas sedang kesakitan.
Keylin pun tersenyum kecil kemudian menjawab, “Tidak ada kok, aku cuma lagi sariawan jadi agak malas bicara,” ucapnya dengan nada kecewa.
‘Sariawan? Hanya sariawan dia bersikap dingin begitu padaku?’ Edgar merasa tak percaya mendengar alasan istrinya itu.
“Kalau begitu, aku antar kau ke sana, mau kan?” Edgar menawarkan tumpangan pada istrinya. Keylin kembali tersenyum, tapi tak semanis biasanya.
"Hmm, terima kasih. Aku tunggu kau di mobil." Keylin keluar dan mendorong kereta bayi Samuel. Keylin tak pergi sendirian ke sana, dia bersama Mona yang akan menjadi asisten serbaguna untuk Keylin dan Samuel hari ini.
Edgar mengepalkan tangan kirinya. Wajahnya ditekuk kecewa. Ia tak tahan diacuhkan seperti ini. Namun Edgar tetap coba bersabar mengantar Keylin ke tempat kerjanya.
.
Empat jam berlalu, tampak Kiara berada di rumahnya dan menggeledah apapun di dalam lemari untuk dijual. Wanita itu sedang membutuhkan uang untuk membayar perawatan neneknya. Namun di gubuk kecil yang sudah tak layak ditempati itu tidak memiliki barang - barang yang dapat ditukar dengan uang. "Aghh, sialan!" Kiara mengumpat kesal kemudian menatap ke arah cermin. Matanya terpaku pada kalung di lehernya.
"Apa aku jual ini?" Kiara merasa ragu.
"Tidak, ini satu - satunya kalung yang bisa memberiku petunjuk. Jika aku jual ini, aku tak bisa menemukannya." Kiara merem4s kepalanya. Wanita berambut pendek itu menghela nafas.
"Baiklah, ini urusan nyawa. Nenek lebih membutuhkan ini." Kiara pun keluar dari gubuk kecil itu. Ia berlari cepat ke tempat toko perhiasan.
__ADS_1
"Mba, saya mau jual kalung ini, kira - kira harganya sampai 100 juta nggak?" Kiara berharap demikian.
Penjual emas itu mengamati sejenak perhiasan Kiara. Diamati dengan baik - baik dan tampak sangat mewah dan berat, apalagi induk kalung itu tampak berlian asli dengan paduan warna merah layaknya batu rubi.
"Wah, mba, harganya ini lebih dari itu lho," ucap penjual toko. 'Hmm, ini bagus sekali kalau dilelang. Harganya ratusan juta. Kalau begini, aku bisa kaya mendadak.' Penjual toko itu membayangkan kalung menarik itu diperebutkan oleh pengusaha - pengusaha kaya.
Kiara tersenyum lega, namun tiba - tiba kalung itu direbut oleh seseorang yang datang dan kini berdiri di sebelah Kiara. Wanita itu menoleh dan heran melihat Bryan tiba - tiba ada juga di toko itu.
'Lho, dia kan yang kemarin, kenapa ada di sini juga? Jangan - jangan dia mengikutiku?' batin Kiara bergeser.
"Maaf, Mas, tolong kembalikan kalung saya," pinta Kiara dengan ekspresi judesnya. Tapi Bryan tak mau kalah juga, ia memasang wajah dinginnya.
"Saya yang akan membeli ini dengan harga dua kali lipat dari yang penjual ini katakan," ucap Bryan.
"Ya, sekarang ikut aku ke rumah sakit. Uang yang kau perlukan sudah ada di sana dan kau bisa membayar biaya perawatannya hari ini." Bryan menarik Kiara menuju ke mobilnya dan membawanya ke rumah sakit.
"Hey, lepaskan! Aku tidak mengenalmu. Jangan tarik sembarangan dong!" Kiara membentak. Bryan berhenti dan memperhatikan wanita berpenampilan tomboy itu.
"Nona Tania, sudah beberapa bulan berlalu semenjak kematian suamimu, kenapa kau baru muncul? Apa kau tidak mengkhawatirkan anakmu?" Bryan bertanya dengan suara yang ditinggikan membuat pasien dan pengunjung memperhatikan mereka. Semua mata pun membelalak terkejut melihat wanita tak asing itu berdiri di dekat Bryan. Mereka heboh dan bertanya - tanya apakah itu Tania?
"Hei, aku ini masih single ya, belum nikah, apalagi belum bersuami!" sentak Kiara marah. Bryan terkejut, ia merasa aneh mendengarnya.
"Ck, aku juga masih perawan, mana mungkin aku punya anak," tambah Kiara. Bryan pun menyentuh dagu. Berpikir sejenak dan mengamati dari atas ke bawah body Kiara. Tapi 100 persen tak ada yang berubah, dan semuanya benar - benar mirip Tania, hanya model rambutnya yang berbeda. Kiara juga punya bibir bawah yang mirip Keylin.
"Jika begitu, darimana kau curi kalung ini?" tanya Bryan mengalihkan pertanyaannya sementara.
__ADS_1
"Hah? Curi?" Kiara syok dituduh maling.
"Woi, kalung ini milikku, enak saja kau fitnah aku mencurinya! Kalung ini pemberian orang tuaku!" bentak Kiara mendengkus.
"Ck, buang - buang waktu saja. Sekarang berikan 200 jutaku itu," pintanya mengulurkan tangan. Bryan mendekat membuat Kiara mundur.
"200 jutamu sudah aku berikan pada seorang suster, jadi kau minta saja padanya. Tapi sebentar, kau sungguh bukan Nona Tania?" tanya Bryan dengan tatapan curiga.
"Ck, bukan urusanmu." Kiara pergi dengan angkuh lalu berlari cepat ke ruangan sang nenek. Bryan melihat kalung di tangannya. Dalam lubuk hatinya, kalung ini perlu diperlihatkan pada Ibunya. Ia merasa kalung ini ada hubungannya dengan kecelakaannya dua puluh tahun lalu.
'Apa dulu yang menabrakku adalah keluarga Nona Tania? Yang artinya keluarga Marquez?' Bryan memegang kepalanya yang kembali berdenyut lagi. Tiba - tiba saja seseorang tak sengaja menyenggolnya. Bryan pun mundur selangkah. Yang menyenggolnya itu ternyata Gerry yang datang ke rumah sakit untuk memeriksa kepalanya. Sang tangan kanan Edgar itu merasa pusing gara - gara tugasnya yang menumpuk dan perlu diperiksa sekarang. Namun sontak, mata Gerry membola ketika melihat di kejauhan sana ada Kiara sedang berlari dan tampak dikejar oleh seseorang. 'Non... nona Tania? Dia... Nona Tania?' pikir Gerry segera mencarinya dan mengabaikan Bryan.
Bryan mengepal tangan. Semua pertanyaan di dalam benaknya semakin menumpuk.
'Sial, siapa sih itu orang!' decak Kiara bersembunyi namun seketika tangannya ditarik oleh seseorang. Kiara reflek melayangkan tinjunya dan tidak sengaja memukul perut Gerry yang berhasil menangkapnya.
"Hei, berengsek! Lepaskan aku!" ronta Kiara geram dipegang - pegang asal. Namun Gerry mencengkram kuat tangan Kiara dan menerima sebuah panggilan dadakan dari Edgar.
"Gerry, tolong cepat kemari, aku sudah yakin, Tania masih hidup. Sekarang aku ada di rumah sakit dan barusan melihat Tania di sini." Gerry pun menatap Kiara. Ia pun menunjuk Edgar yang lagi menelpon dan jalan ke arahnya. Bos Mafia itu langsung menarik satu tangan Kiara dengan tatapan senang dan tak percaya melihat wanita yang dia rindukan masih hidup.
Mona yang menyusul bersama Samuel pun terperangah di tempatnya dan kemudian melirik Keylin yang diam di sebelahnya. Ibu hamil itu berbalik pergi tak kuasa menahan air matanya dan melihat Edgar memeluk tiba - tiba wanita itu dengan erat. Keylin terus melangkah kakinya dan tak sengaja menabrak seseorang. Untung saja orang itu menahan bahu Keylin sehingga bumil cantik itu tak jadi terjatuh lagi. Keylin mengangkat dagunya dan melihat orang itu adalah Bryan yang tak sengaja bertemu Keylin di pintu rumah sakit. Air matanya runtuh seketika. "Kak Bryan." Keylin menangis tersedu - sedu di depan Bryan. Dokter itupun mengusap perban di kening Keylin yang tadi tidak sengaja tergores meja setelah pemotretannya berakhir. Tak lupa menyeka air matanya yang terus menetes. Di dekat tembok, Mona bersembunyi, ia juga syok melihat Keylin rupanya mengenal Dokter tampannya. Samuel di sana pun merengek tak diperhatikan oleh siapapun. Namun Mona segera pergi dengan kecewa membawa Samuel kembali pada Edgar daripada memberinya kepada Keylin.
"Key, ada apa denganmu?" tanya Bryan cemas. Keylin sesugukan dan berjalan keluar dari rumah sakit. Bryan ingin mengejar, tetapi Ibunya menelpon menyuruh Bryan pulang. Dengan berat hati, Bryan terpaksa membiarkan Keylin pergi lagi. Ibu hamil itupun tak sengaja bertemu Pak Santo yang memiliki beberapa memar di wajahnya. Keylin menghapus kasar air matanya sampai kering supaya ayahnya itu tidak melihatnya sedang menangis. Pak Santo yang membawa sebuah koper itupun tersenyum bisa kebetulan bertemu dengan Keylin tanpa Edgar di sebelahnya. Senyumnya terlihat senang tapi tidak di dalam hatinya ada niat tersembunyi.
.
__ADS_1