
Jam dua siang, Justin pulang. Adik tampan Edgar itu menyandarkan punggungnya ke kursi kemudian mengerutkan dahi melihat sebuah berita di hapenya. Tak lama kemudian, bola matanya itu membulat dapat pesan dari sekretarisnya.
"Mamah!" panggilnya berlari mencari Regina.
"Astaga, mamah! Bikin kaget tahu! Untung jantungku nggak ikut lompat lihat hantu jadi - jadian," pekik Justin berpapasan dengan Regina yang sedang memakai masker hitam di wajah.
"Dih, nggak usah lebay. Mana ada hantu di siang bolong. Bilang saja kau mengejek mamah, kan?" tatap Regina melotot dan mencondongkan mentimun di tangannya.
"Bukan!" sentak Justin merasa lega sudah mengatur nafasnya kembali normal.
"Terus ada apa teriak - teriak?" tanya Regina sambil mengunyah potongan mentimun.
"Coba lihat, Tania masih hidup! Ternyata dia selamat dan sekarang berhenti dalam karirnya, mah."
"Oh, ck, mamah kira apa, ternyata cuma berita tak penting." Regina duduk kemudian menonton televisi.
"Kok gitu sih, mah? Mamah udah tahu yah?" Justin duduk di sebelah Ibunya.
"Hmm, sudah. Barusan bicara sama Edgar."
"Terus? Gimana nih, mah?" tanya Justin.
"Gimana apanya?" tanya Regina tanpa menoleh.
"Kan mamah benci banget sama Tania, kalau dia tinggal bersama Edgar dan Keylin, bisa saja Tania mengacaukan pernikahan mereka," tutur Justin.
"Yaelah, gak usah dipikirkan. Edgar sudah tak peduli sama Tania, kakakmu sudah mencintai gadis penyumbang asi itu. Lagipula juga, itu bukan Tania tapi saudara kembarnya dan wanita itu pergi ke tempat worlfard." Saking seru menonton film dan bicara, mentimun yang dimakannya itu hampir habis.
"Apa? Tania punya saudara kembar dan pergi ke worlfard? Maksudnya gimana sih, mah?" tanya Justin kurang paham. Regina menoleh dan tersenyum gemas.
"Hais, kau ini memang tak seperti Edgar. Masalah kecil begini masih perlu dijelaskan untukmu. Untung saja perusahaan diambil alih oleh Edgar sementara. Dasar kau ini anak kurang kerjaan! Taunya keluyuran jadi tak bisa diharapkan," celoteh Regina memukulkan sisa mentimunnya ke kepala Justin.
"Ya deh, maaf. Mulai sekarang aku serius dan nggak main - main lagi." Justin cemberut dibandingkan sama Edgar. Regina pun mengatakan apa yang dia tahu dari Edgar.
__ADS_1
"What? Jadi Tania itu salah satu anak musuh papah?" Kagetnya berdiri.
"Yah, dugaan mamah tak melesat, wanita itu bagian dari worlfard. Tapi kau tak usah cemas, anak - anak worlfard tak akan berulah di wilayah kita. Mereka saat ini ingin merebut kekuasaan ayah mereka kembali. Mamah hanya berharap, Edgar tak ikut campur dan mereka tak menyuarakan perang lagi." Regina mencengkram sisa mentimunnya sampai gepeng.
"Ya deh, mah. Semoga ajah." Justin menghela nafas melihat Ibunya anti sekali pada worlfard.
"Oh ya, mamah udah kirim hadiah nggak buat Keylin?" tanya Justin masih belum meninggalkan kursinya.
"Hadiah? Buat apa?" Regina tampak tak sadar hari spesial menantunya.
"Ya ampun, mah. Hari ini di jam 11 malam nanti, menantu mamah itu ulang tahun. Masa mamah nggak tahu sih?" celetuk Justin tahu ketika mengurus surat nikah Edgar.
"Ck, nggak penting amat. Mau ulang tahun kek, apa itu kek, mamah tak peduli." Regina mematikan televisinya.
"Kok, mamah gitu sih? Mamah ini nggak senang ya dapat menantu seperti Keylin?"
"Justin, mamah nikahkan dia bukan jadikan dia sebagai menantu permanen mamah, tapi membuat Edgar melupakan Tania. Sekarang mamah mau pergi mengurus tiket penerbangan. Memberinya kejutan dadakan ini," senyum Regina menyeringai. Namun langsung dibalas sambaran petir di luar.
"Kuharap mamah tak menyesal nantinya." Justin pun masuk ke kamarnya juga dan tak lupa memesan sesuatu untuk dikirimkan pada kakak iparnya.
Dua jam berlalu, di pantai tampak sang sekretaris menyiapkan dekorasi unik di bagian pantai yang jauh dari penginapan Edgar. Wanita itu menghembus nafas tak dapat balasan dari Justin. 'Dasar bos kapret! Balas terima kasih kek, ini malah di read doang!' gerutunya dalam hati dan melangkah pergi.
"Keylin!" Mona menepuk bahu Keylin yang sedang berdiri di balkon sendirian menikmati indahnya pantai dan hembusan angin sore yang sejuk menenangkan jiwa.
"Hmm, kenapa?" Toleh bumil cantiknya Edgar itu.
"Mau nanas nggak? Aku barusan beli di sana lho, rasanya wow banget deh, manis dan tajam di lidah." Mona melahap satu tusuk nanasnya yang tersedia di piring.
"Nggak deh, Mona." Keylin menolak.
"Ayolah, coba satu potong ajah nih," bujuk Mona. "Aku tak bisa habiskan semua," lanjutnya merengek. Keylin tersenyum melihat Mona bertingkah begitu. Hubungan persahabatannya tampak semakin erat.
"Ya udah deh, aku makan tapi satu ajah ya,"
__ADS_1
"Ehhh sebentar!" tahan Mona.
"Ada apa lagi, Markonah?" tanya Keylin gemas.
"Nggak usah dimakan deh,"
"Lho, kenapa lagi?" dengkus Keylin serasa dikerjain.
"Hehehe, nanasnya manis, aku nggak rela membaginya."
Keylin memutar bola mata jengah. "KALAU BEGITU, NGGAK USAH DITAWAR! DASAR MARKONAH!" pekik Keylin sebal.
"Duh, jangan marah dong, hahaha…." Mona tertawa terbahak-bahak.
"Hmm, oh iyah! Samuel mana, Mon?"
Mona yang menikmati kunyahan nanasnya itu pun melompat kaget. "ASTAGA!"
"Astaga kenapa?" tanya Keylin melihatnya panik.
"Bayi itu ada di bawah. Hadeh, aku lupa!" jawab Mona.
"Buruan kita turun sebelum Tuan Edgar datang melihat bayi itu di bawah sana." Mona menarik paksa Keylin.
"Lho, kemana Tuan Samuel?" Mona terkejut di dalam kereta bayi tak ada putra Tania itu.
"Mona! Kau taruh di mana dia?" tanya Keylin dilanda kecemasan. Seseorang di balik pintu menyeringai sembari menggendong Samuel yang terlelap dan satu tangannya memegang gunting tajam.
"Kalian berdua akan tamat hari ini juga."
Keylin dan Mona berbalik badan cepat setelah mendengar suara tak asing itu. Kedua mata mereka langsung membola sempurna.
"Kau…"
__ADS_1