
"Udah sampai belum sih?" Keylin bertanya lagi. Sabar dong sayang, udah dekat kok." Edgar memasuki area.
"Eh, kok berhenti? Ada apa, nih?"
Edgar tak menjawab, ia perlahan melepaskan kedua tangannya. "Kok dibuka? Emang sudah sampai ya?" tanya Keylin masih merem.
"Kalau mau tahu, ayo buka matanya, sayang."
Keylin pun menurutinya. Perlahan - lahan kelopak matanya terbuka. Kedua netra hitam Keylin tak berkedip sedikitpun. Pandangannya memenuhi sebuah area yang dihiasi berbagai hiasan cantik dan begitu megah. Layaknya aula pernikahan. Tapi ini lebih unik sebab setiap pinggiran area disusun sebuah lampu hias dengan berbagai warna yang beda dan buket bunga di mana - mana. Serta balon udara yang banyak. Bagai anak kecil yang sedang merayakan hari spesialnya.
"Happy birthday, Kakak Lin!" seru segerombolan anak remaja datang membawa kue besar. Di atasnya terletak sebuah dua angka yaitu angka dua puluh.
"Edgar, mereka siapa?" tanya Keylin tak bisa melepaskan senyum bahagianya dan matanya berkaca - kaca. Sangat terharu diberi kejutan yang heboh malam ini.
"Nona Lin! Mereka penggemar anda. Tuan Edgar sudah mengatur ini semua untuk Nona." Sekretaris itu menjawab sembari menunjuk mereka.
"Ini semua kau yang buat khusus aku?" Keylin mengalihkan matanya pada Edgar.
"Hmm, yah dong sayang." Edgar tersenyum membuat kelompok anak remaja itu tercengang melihat Edgar dan Idola mereka dekat.
" Gimana? Kau senang, kan? Atau mau aku bawakan grup band untukmu?"
"Nggak usah, kalian semua sudah cukup untukku. Terima kasih." Keylin menyeka embun yang menggenang di pelupuk matanya kemudian tersenyum pada mereka.
"Ayo tiup lilinnya, kakak!" sahut seorang gadis kecil.
"Suara ini…." Keylin menoleh. Senyumnya makin lebar melihat anak perempuan itu datang bersama orang tuanya.
"Selamat ulang tahun, Nona." Orang tuanya tak lupa memberi selamat.
"Kakak, bagaimana? Apa kau suka kehadiranku?" tanya anak perempuan itu. Keylin mengangguk senang.
"Yeahh! Kalau begitu, ayo panjatkan doa, kakak! Terus tiup lilinnya! Aku tak sabar mau makan kue enak itu, hihihi." Anak perempuan itu tertawa kikik.
"Yuk, panjatkan doanya." Edgar memasangkan topi ultah ke kepala Keylin. Gadis itupun menggenggam kedua tangannya dan berdoa.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Edgar.
"Hmm, sudah." Senyum Keylin.
"Doanya apa itu, kak?" tanya anak perempuan itu sangat penasaran.
"Rahasia!" jawab Keylin mengedipkan satu matanya. Anak itu cemberut tetapi tersenyum pada kue besar. Tampak Samuel tak jadi mengantuk melihat kue itu. Kedua tangan mungilnya merengek ingin menjambak kue enak itu.
Semuanya dengan suka cita menyanyikan lagu untuk Keylin. Menyertai kebahagiaan bumil itu bersama mereka.
"Kakak! Kuenya aku yang makan duluan dong." Anak perempuan itu bermanja ingin mengambil potongan pertama. Begitupula penggemar Keylin juga berebutan. Siapa tahu bisa mendapat keberuntungan jodoh. Namun tak sangka, tangan kecil mencomot potongan pertama. Semua mata mengarah pada Samuel yang berhasil menjambak - jambak kue itu sembari tertawa ria.
"Aduh, kalau begini jadinya, lebih baik ku taruh saja di penginapan." Tatap Edgar pada Samuel.
"Huweee….." tangisnya mengundang keributan.
"Aduh, jangan ricuh ya. Kita makan bersama - sama, okeh?" Keylin membujuk Samuel dan Edgar agar kembali rukun. Sontak tangis Samuel berhenti ketika dua helikopter mengeluarkan gemuruhnya di atas sana. Kelompok anak remaja itu terpukau - pukau, tak tertinggal anak perempuan melompat girang di dekat orang tuanya.
"Lho, kok ada dua helikopter? Ini kenapa? Apa ada yang mau perang? Jangan - jangan worlfard?" Keylin menggenggam tangan Edgar. Takut dan cemas.
"Selamat bertambah usia, istriku, kehadiranmu dalam kehidupanku tidak hanya membuatku bahagia, melainkan juga melengkapi ketidaksempurnaan dan kekuranganku. Menua dan bahagia bersamaku. Jadikan aku jalan pulang satu-satunya sebagai tempatmu menghabiskan sisa usia kelak."
"Mencintaimu adalah anugerah dan bertambahnya usiamu menandakan bertambah pula rasa cintaku untukmu. Denganmu, aku selalu siap melewati segalanya, seterjal apapun jalan itu. Aku yakin kekuatan cinta kita berdua akan mampu menghadapi naik turun kehidupan ke depan. Sayang, kamu laksana pelangi yang selalu mewarnai gelapnya hariku. Terima kasih telah bersedia menjadi air yang menenangkan dalam pernikahan ini."
"Dan berapa pun bertambah usiamu, ketahuilah bahwa bagiku kamu tetap menjadi perempuan tercantik sama seperti pertama kali aku melihatmu. Kecantikan dalam paras dan hatimu tidak akan memudar, sayang. Semoga cinta kita abadi hingga akhir nafas, sayang. Selamat ulang tahun! Aku menyayangimu."
Air mata Keylin runtuh, ia melihat Edgar yang menghafalkan kalimat ungkapan itu. Dipeluknya dan menangis dalam dadanya. "Terima kasih."
Anak remaja yang menjadi saksi bisu atas ungkapan Edgar pun diam tak dapat berkata - kata mengetahui hubungan rahasia Keylin dan Edgar. Mereka pun diberi tawaran dari sekretaris untuk jangan membocorkan pernikahan Edgar dan Keylin sebelum worlfard dikuasai Bryan. Mereka mengangguk setelah menerima uang tutup mulut.
"Hiks, terima kasih. Ini lebih indah dari kejutan sebelumnya." Keylin sesegukan. Edgar membalas pelukan sang istri dan mencium sayang keningnya, kemudian membisikkan satu kalimat agar para anak remaja itu tak mendengarnya.
"Selamat ulang tahun, calon ibu dari anakku."
Deg.
__ADS_1
Keylin mendongak pada Edgar yang tersenyum sumringah. "Calon Ibu?" ucap Keylin.
"Ya, kau sedang hamil satu bulan," kata Edgar dengan nada berbisik.
"Kok nggak senang begitu?" tanya Edgar tak melihat Keylin terkejut.
"Habisnya kita itu baru beberapa hari melakukan 'itu' masa sudah hamil satu bulan? Kalau aku hitung mundur, aku saat itu masih perawan. Ini tak benar, Edgar." Keylin mengelus perutnya. Edgar diam, ia lupa sediakan penjelasan untuk itu.
"Itu, sebenarnya…" Edgar menjelaskan kalau Keylin sudah tak bersegel bulan lalu dan pengalaman pertama yang Keylin rasakan setelah menikah itu adalah pengalaman ketiganya.
"Ja-jadi kau melakukan hal itu sebelum kita menikah?"
"He'em, maaf ya buka segelnya kulakukan tanpa sepengetahuan kau." Edgar mengerjapkan matanya.
"Jangan marah ya, aku tak bermaksud jahat kok, dari awal aku memang ingin kau mengandung anakku." Edgar terus menjelaskan tindakannya itu.
"Tunggu, jadi kau tak keberatan aku hamil?" tanya Keylin yang tambah meneteskan air mata mengetahui fakta dirinya.
Edgar mengusap sisa embun istrinya dan menggelengkan kepala. "Tentu saja tidak, aku senang ada malaikat kecil kita."
"Ahhh, Edgar! Jahat kau! Kalau mau dedek, bilang dong, biar aku juga ikut senang buatnya." Keylin memukul - mukul sebal lengan suaminya.
"Duh, jangan marah dong, kita kan bisa buatnya lagi setelah baby kita lahir," ucap Edgar sembari menahan tawanya.
"Hmm, dasar beruang nakal!" ujar Keylin melipat tangan kemudian mencubit gemas Edgar karena malu tingkahnya itu dilihat semua orang. Mona cuma bisa geleng - geleng kepala sembari mencicipi kue di atas meja. Sesi foto untuk malam ini pun dimulai. Semua yang hadir senang dapat bergabung dalam sesi foto tersebut.
Tiba - tiba saja, Samuel merengek. "Ma-ma…." Semua orang mengarahkan pandangan mereka. Mereka pun membelalak, tak terkecuali Edgar, Keylin, dan Mona diam di tempat melihat seorang wanita berdiri sendirian di sana. Wanita itu juga syok sudah menampakkan dirinya kepada Edgar. Samuel semakin merengek, ingin pindah ke sang Bunda yang melangkah mundur ingin meninggalkan tempat itu.
"Tania!" Edgar menahan satu tangannya membuat Keylin membisu diam melihat suaminya itu bertemu dengan Ibu kandung Samuel yang sungguh masih hidup.
"Lepaskan, Ed!" hempas Tania berlari pergi. Sekilas ia menengis diam.
'Dia memanggil namaku, tidak salah lagi kau adalah Tania.' Edgar tersenyum kecil sebab Tania tak melupakan dirinya, maka artinya wanita itu tak amnesia. Serta Samuel yang menangis pun menunjukkan dugaanya semakin kuat. Edgar pun memerintahkan lima bodyguard itu mengikuti Tania diam - diam dan mencari tahu di mana wanita itu tinggal.
Keylin mengepalkan tangannya. Perasaannya tak karuan malam ini. Ia melirik Samuel yang tak dapat berhenti menangis. Bumil itu menunduk, ia ingin menghibur bayi itu tapi tangannya seperti enggan menerima Samuel. Keylin takut, suaminya pindah hati, namun seketika tangannya diraih Edgar. Pria itu mengulas senyum yang beda dari senyum biasanya. Jelas terlihat ia begitu bahagia. Namun Keylin sulit mengartikannya.
__ADS_1