
Pada esok harinya, sebelum berangkat kuliah, Justin melihat Ibunya sedang menelpon. Ia menghampiri Regina yang selesai menelpon rekannya dulu. Membicarakan kesembuhan Keylin dengan mereka.
"Mamah," ucap Justin memanggil.
"Hmm, kenapa? Mau mamah temani ke kampusmu?"
"Bukan, Justin sudah dewasa, nggak perlu segitunya kok," tukas Justin.
"Terus ngapain panggil mamah?" tanya Regina.
"Kemarin mamah kenapa bicara nyesel gitu? Mamah merasa kalau pernikahan Edgar dan pengasuh itu sudah salah?" Justin balik tanya.
Regina manarik nafas singkat kemudian menjawab, "Bukan itu yang mamah maksudkan," ucapnya duduk di kursi dan menyeduh teh manis buatannya sendiri.
"Lalu apa dong, mah?"
"Mamah harusnya nggak usah ikut denganmu ke sini," jawab wanita itu dengan nada santai.
"Lho, kok malah salahin Justin?" Justin menggaruk kepala tak gatal. Regina menunjukkan sebuah tiket liburan di depan Justin.
"Mamah lupa suruh pengantin baru itu berbulan madu,"
"Hah? Maksudnya, mamah benar - benar berharap Keylin hamil cucu mamah gitu?" tebak Justin agak kurang paham.
"Bukan!" kilah Regina.
"Terus apa yang membuat mamah menikahkan mereka?" Justin heran pada Ibunya. Ia mengira Ibunya itu tulus menjadikan Keylin seorang menantu. Regina pun terus terang jika ia cuma mengharapkan Keylin bisa cepat menghilangkan perasaan Edgar pada Tania. Regina juga mengatakan dia telah membuat kesepakatan pada Keylin. Jika Samuel sudah besar dan gadis itu kembali normal, dia tidak membutuhkannya lagi.
__ADS_1
"Wah-wah, pikiran mamah sangat jahat," lontar Justin apa yang dia bayangkan dari dampak kemauan Ibunya itu.
"Jahat kenapa?" tanya Regina menaruh cangkirnya.
"Mamah, coba pikir baik - baik. Kalau sampai Edgar jatuh cinta pada gadis itu, kemudian mamah memisahkan mereka, itu pasti sangat menyakitkan. Mamah jatuhnya malah mempermainkan perasaan Edgar dan memanfaatkan gadis itu," tutur Justin.
"Apa susahnya? Mamah tinggal berikan wanita lain yang lebih baik dari gadis ini. Wanita berpendidikan yang pantas untuk Edgar dan juga gadis itu tidak masalah membantu mamah. Dia akan pergi sendiri setelah sembuh," jelas Regina.
"Aish, terserah mamah deh, Justin tidak mau terlibat." Pria muda yang tampan itu meninggalkan Regina. 'Hmm, tapi sepertinya gadis itu sudah tidak perawan, kalau dia sampai hamil, bisa berabe nih.' Regina menghubungi seseorang. Menyuruhnya memberikan obat pencegah hamil atau keguguran pada Keylin dengan alasan itu obat kesembuhannya. Regina tak mau cucunya lahir dari rahim gadis biasa. Walau Keylin menarik, tetap saja status cucunya harus terlahir dari rahim wanita berkelas.
.
Satu bulan kemudian...
Sampai sekarang Edgar belum memberi jawaban keinginan istrinya. Keylin yang menunggu selama ini merasa kecewa tidak diberi persetujuan yang jelas. Mungkin karena Edgar sibuk akhir - akhirnya ini membuatnya lupa pada niat Keylin. Bahkan sekarang pun suaminya itu masih ada di kantor.
Cklek!
Karena jabatan Mona naik, wanita itu tidak bisa bebas pergi ke rumah Bryan lagi.
"Mona, kenapa datang ke sini?" tanya Keylin dan meletakkan alat pumpingnya di atas meja. Siang ini dia baru selesai memerah asinya untuk Samuel. Bayi kecil itu sudah tumbuh besar, umurnya tidak lama lagi masuk empat bulan. Samuel yang tengkurap di kasur pun tertawa ria dengan sangat menggemaskan. Membuat Mona selalu luluh melihatnya.
"Ya cuma pengen ke sini aja lihat Tuan Samuel," ucapnya mencubit pelan pipi gemoy Samuel.
"Oh ya, kenapa kau menekuk wajah seperti itu?" lanjut Mona bertanya.
"Jangan - jangan kau belum pernah diberi nafkah batin?" tebak Mona mencolek majikan dan sahabatnya itu. Dari kejadian bulan lalu membuat hubungan keduanya semakin erat dan berakhir dengan persahabatan.
__ADS_1
"Emang benar sih, tapi bukan itu yang kupikirkan!" celetuk Keylin sedikit malu.
"Sebentar, kau dan Tuan Edgar belum pernah melakukan ritual malam pertama?" Mona syok baru tahu Keylin masih bersegel halal.
"Ya, sampai sekarang aku masih perawan tahu! Tapi entah kenapa bulan ini aku kok tidak menstrusi?" Keylin heran pada tubuhnya.
'Wah, aku pikir sebulan ini Tuan Edgar sudah menyentuhnya, ternyata dugaanku salah. Hmm, apa mungkin Tuan Edgar tidak begitu berselera pada Keylin?' Mona membatin heran juga. 'Jangan - jangan Tuan Edgar itu seorang impoten?' pikirnya jadi kemana - mana.
Memang Edgar sebulan ini tidak lagi menyentuh Keylin dikarenakan kesibukannya pada musuh Mafianya dan perusahaannya. Pria itu kadang frustasi sendiri dan ditambah sudah menyerah mencari jasad Tania. Edgar pun berusaha ikhlas walau hatinya perih menerima kenyataan.
"Mona, aku takut nih," desis Keylin memegang perutnya.
"Takut kenapa?" tanya Mona.
"Aku takut ada tumor di perutku," keluh Keylin.
"Kok kau bisa menebak begitu?" tanya Mona lagi.
"Soalnya aku sering pusing dan kadang perasaanku agak aneh. Takutnya sih ada penyakit lain di tubuhku," tutur Keylin yang sering mual - mual. Tapi asinya semakin lancar keluar dan kadang lima kali Keylin harus memerah asinya sampai Samuel jadi gemuk harus menghabiskan asinya. Gadis itupun membuka laci meja dan mengeluarkan botol obat yang diterima dari Regina yang berisi pil penggugur janin. Bentuknya pun diserupai layaknya obat biasa.
"Ini apa?" Mona menunjuk botol itu.
"Ini obat kesembuhanku, Nyonya Regina yang mengirimnya. Tapi aku belum pernah meminumnya."
Keylin tidak minum sebab dia masih mau menyusui Samuel hingga obat itu disimpan saja. Tapi kini Keylin merasa dia sudah salah mengabaikan obat itu. Dia pikir, harusnya minum obat itu supaya keluhan - keluhannya sekarang tidak muncul. Keylin cemas, keluhannya bisa saja berkaitan dengan kelainannya itu.
"Apa aku mulai sekarang minum ini saja?" Keylin membukanya ingin mencoba satu pilnya.
__ADS_1
.
Jangan Lupa Like dan Komen🌼