Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
53. Mamah Mertua


__ADS_3

Pukul sembilan pagi, usai bersilaturahmi dengan sang baby di dalam perut Keylin, Edgar baru membersihkan tubuhnya. Keylin yang juga sudah mandi sebelumnya harus mandi kedua kalinya bersama Edgar. Satu bathtub  di dalam kamar mandi yang dibanjiri busa shampo. Keylin yang duduk di depan Edgar terus menundukkan wajah. Menyembunyikan kedua pipinya yang selalu bersemu merah. Apalagi Edgar tampak menikmati mengeramas rambutnya.


"Nanti gantian keramas rambutku ya, sayang." Edgar berbisik.


"Hmm, Iyah." Angguk Keylin malu - malu dan seketika memekik, "Akh!" Merasakan dua paha Edgar menjepitnya hingga bagian di antara pahanya  itu agak nyeri.


"Ups, maaf. Kau tak apa - apa, kan?" tanya Edgar memberi ruang bebas. Keylin menoleh dengan bibir mengerucut. "Kau sengaja ya?" Tatap Keylin tajam.


"Gak kok, aku tak sengaja, sayang. Tadi itu reflek pengen meluk ajah," ucap Edgar mengelak dan menyiram rambut istrinya, membersihkan busa shampo di sana. Keylin pun berdiri sehingga tubuh polosnya itu terpampang di depan mata Edgar. Pria itu berpaling sembari merona tidak jelas.


"Dih, malu. Hahaha…" Keylin tertawa kemudian duduk di atas bathtub. Gilirannya mengkeramas suaminya.


"Awas ya, kalau balas dendam, ku buat kau tak bisa jalan sepuluh hari," ucap Edgar was - was melihat senyum Keylin yang agak berbeda.


"Ya Tuan Suami, anda tak usah mengancam begitu, aku tak balas dendam kok." Keylin mengambil shampo, tapi meletakkannya kembali. Ia mengambil sabun pencuci baju. 'Hehehe, tapi aku tak janji.' Baru mau balas menjahili, tiba - tiba Edgar bicara.


"Sebentar!" tahannya mendongak.


"Hmm, kenapa? Mau aku keramas dari depan?" tanya Keylin tersenyum smirk. Edgar terkejut dan menggeleng cepat, agak canggung mendengar Keylin yang menggodanya.


"Aku dengar ada yang ketuk pintu deh, coba kau keluar saja bukain dia, siapa tahu itu Mona yang mau mengurus Samuel," ucap Edgar. Keylin pun menajamkan kedua kupingnya. Benar saja, pintu kamar terdengar diketuk.


"Kalau aku keluar membukanya, siapa yang keramas rambutmu?" 


Edgar meraih tangan Keylin, mengecupnya singkat tapi penuh sayang. Aku masih punya tangan jadi bisa keramas sendiri. Sekarang keluarlah." Edgar menunjuk pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Yakin, nih?" Keylin membersihkan tangan kemudian menjangkau jubah mandinya lalu berdiri dari tempatnya.


"Sana, keluar. Aku bisa kok keramas sendiri," ucap Edgar mengambil shamponya.


"Yaudah deh, aku keluar dulu,"


"Tunggu, sayang!" Edgar menahan tangan istrinya.


"Hmm, apa?"


"Sebelum buka pintu, pastikan itu siapa, paham?"


Keylin mengangkat tangan, memberi hormat. "Siap, Bos!" 


Edgar tertawa kecil kemudian lanjut keramas. Ia harus secepatnya ke tempat Tania sebelum wanita itu menghilangkan jejaknya.


"Kenapa kau mengetuk pintu, Mona?" tanya Keylin yang sudah berpakaian lengkap. Mona diam, ia sedang mengamati tanda cium yang membekas di leher Keylin. Mona pun mengabaikannya daripada isi kepalanya dipenuhi hal - hal lain.


"Uhuk… uhuk, barusan aku dapat pesan dari Nyonya," ucap Mona menunjuk hapenya.


"Mamah mertua?"


"Hmm, mamah mertua kau!" kata Mona gemas.


"Tunggu, kenapa mamah mertua mengirimkan kau pesan daripada aku ya?" tanya Keylin menyentuh dagunya. Mona mendesis kemudian mencubit kesal kedua pipi Keylin. "Ya, iyalah! Nona Charslope, hape jadul mu itu kan sudah diganti dengan yang baru, tentu saja Nyonya Regina belum tahu nomor barumu," dengkus Mona berkacak pinggang.

__ADS_1


"Eh, tapi… aku tidak ganti nomor kok," ucap Keylin menunjuk hapenya. "Nih, aku cuma ganti hape doang. Harusnya mamah mertua telepon saja ke aku, bukan ke kau, Mona." Lanjutnya menunjuk Mona.


"Ya juga ya, kau tak pernah ganti nomor, tapi kenapa nyonya lebih sering kontak aku?" gumam Mona juga heran.


"Eh, jangan - jangan …"


"Jangan - jangan kenapa, Mona?" tanya Keylin melihat Mona mendapat jawaban dari pertanyaan mereka.


"Mungkin kah suatu saat nanti aku jadi menantu di keluarga ini?" tebak Mona.


"Haha, apa sih maksudmu itu?" tawa Keylin memukul pundak Mona.


"Yah, siapa tahu aku jadi madu kau, Keylin, hahaha…' tawa Mona sengaja. Mendengar hal itu membuat tawa Keylin hilang. Tenggorokannya itu  terasa tercekik. Mona menambahkan nada tawanya melihat Keylin diam.


"Hahaha, aku bercanda, woy! Aku mana mau jadi istri kedua, hahaha…" tawa Mona menepuk - tepuk pundak Keylin. Sontak saja Mona diberikan satu kepalan tangan di depan mata. "Awas kau ya, kalau genit sama Edgar, siap - siap dapat ini." Keylin tak main - main memperingati Mona.


"Dih, jangan serius amat lah, Key! Aku bercanda kok!" sentak Mona.


"Hmm, oke. Tapi pesan apa yang mamah mertuaku kirim ke padamu?" tanya Keylin menurunkan tangannya itu dan tersenyum simpul. Mona mencebikkan bibirnya melihat Keylin mudah sekali mengubah ekspresinya. Agak sulit membaca tingkahnya itu.


"Cuma nanya soal kabarmu sih, tapi nyonya Regina kasih pesan padaku, dia nitip permintaan padamu,"


"Permintaan apa itu?" tanya Keylin.


"Jangan biarkan Tania mendekati Edgar. Setelah itu, berikan Samuel pada Tania dan biarkan dia yang mengurus anaknya sendiri. Kau hanya perlu mengurus Edgar, tak usah memikirkan hal lain selain suamimu itu."

__ADS_1


Keylin sedikit mundur dan bersandar ke tembok. Permintaan pertama itu tentu Keylin tak akan biarkan Tania merebut Edgar, tapi permintaan kedua itu yang sulit. Keylin sudah menganggap Samuel lebih dari anak asuhnya, ia merasa tak sanggup berpisah dari bayi itu. Tapi mengingat dirinya yang awalnya dijadikan hanya Ibu susu, membuatnya tak bisa bersama Samuel selalu. Pasti Tania tak akan membiarkannya dekat dengan Samuel.


"Hei, kau baik - baik saja, kan?" Mona menggoyangkan bahu Keylin.


__ADS_2