Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
56. Ini Bukan Tania


__ADS_3

Edgar mengarahkan semua bawahannya mencari petunjuk di jalan tersebut. Mencari cctv yang merekam siapa saja yang melewati jalan itu dua puluh tahun lalu sesuai waktu, hari yang dikatakan Tania.


Setelah memeritahkan seluruh bawahannya, Edgar menuju ke arah Gerry yang berdiri sendirian.


"Hai, Gerry! Sedang apa kau berdiri di sini?"


Sang tangan kanannya masih diam.


"Woy, aku menyuruhmu cari cctv, bukan bengong di sini!" 


Bugh!! Edgar memukul pundak Gerry.


"Apa yang kau lihat, sih?" Edgar ikut mendongak ke atas.


"Lihatlah, aku sedang mengamati cctv itu, Tuan Ed. Bukan melihat bidadari cantik turun dari langit." Gerry mengelus pundaknya yang lumayan sakit dipukul.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi, cepat kau panjat ke atas dan ambil cctv itu." Edgar menunjuknya ke Gerry.


"Kenapa diam lagi?" tanya Edgar. Gerry menjawab, "Aku belum menikah, Tuan Ed."


"Terus? Apa hubungannya dengan cctv?"


"Emang gak ada hubungannya sih, tapi kau perhatikan saja, ketinggian cctv itu bisa membuatku meninggal. Kalau aku panjat, terus tiba - tiba terpeleset, kau bisa kehilangan orang kepercayaan mu." Gerry bersandar ke tembok lalu santainya menyalakan rokok.


"Daripada sudah - susah panjat, lebih baik kita tunggu pemilik rumah ini pulang." Lanjutnya menikmati sebatang rokok di tangannya itu.


Edgar mengeratkan tinjunya. Agak gemas melihat Gerry. Waktunya tak banyak, tapi sang tangan kanannya lebih santai daripada dirinya yang saat ini cemas memikirkan istrinya di rumah.


"Atau bagaimana kalau Tuan Ed yang panjat?" Gerry tersenyum simpul. Edgar tak tahan lagi, ia mencengkram kerah Gerry. "Aku ini ketuamu, bisa - bisanya kau suruh aku. Mau aku turunkan jabatanmu itu? Atau kupotong si Jaka mu itu?" Kesal Edgar.


"Tenang dong, Tuan Ed. Jangan langsung mengancam Jaka. Jaka itu masih murni, belum tersentuh apapun, tidak seperti si Jack kau itu yang sudah tanam bibit."


"Kasihan kalau aku jatuh terus mati ditempat, Jaka bisa jadi perjaka sampai akhir hayatnya. Oh atau, aku mungkin ke klub malam dulu terus tanam benih sepertimu?" Gerry mencari situs klub malam yang menyediakan pelayanan yang terbaik di hapenya.


Sekali lagi, Edgar mengeratkan kedua tangannya. Emosinya sampai ke puncak ubun - ubun melihat Gerry senyum - senyum sendiri.

__ADS_1


"Hmm, enaknya pilih yang mana?"


"Ini bohay, tapi kurang cantik."


"Ini seksi, tapi kurang tinggi."


"Ini tinggi, tapi kelihatan galak."


"Bagusnya yang mana ya kujadikan wadah bibitku?"


"Tuan Edgar, punya saran, gak ya?" Gerry bertanya ke Edgar lalu melihat layar hapenya. "Hmm… coba aku lihat list wanita yang lain. Mungkin lebih bagus kalau yang masih bersegel dan polos. Siapa tahu bisa ku ajarkan cara bercocok tanam. Pasti lebih menyenangkan."


'Sial, kenapa Gerry menyebalkan hari ini?' batin Edgar jengkel melihatnya sibuk sendiri dan seolah sedang menyindirnya.


"Gerry!" ujar Edgar mau merebut hapenya itu namun Gerry mengangkat tangannya.


"Ehh, sebentar Tuan Edgar, aku mau tanya," ucap Gerry terlihat kaget sampai batang rokok di mulutnya jatuh.


"Hmm, apa? Kau mau panjat? Atau dobrak pintunya?" tebak Edgar mencoba menahan tinjunya.


Deg.


Edgar terkejut melihat di dalam list wanita malam ada foto yang mirip Tania. Namun Edgar menyipitkan matanya dan melihat dibagian bibirnya tak seperti Tania.


"Bukan, ini bukan Tania." Edgar menggelengkan kepala.


"Hmm, kalau bukan Nona Tania, lalu siapa ini?" Gerry menyentuh dagu. Tak lama memikirkannya, dua pria itu membelalak. "Kiara? Ngapain dia terdaftar di sini?" 


Saat mereka mau mencari tahu kronologinya, tiba - tiba sang pemilik rumah datang. Seketika saja, seluruh bawahan Edgar mengelilinginya.


"Ada apa ini? Siapa kalian?" tanya orang itu ketakutan dikepung puluhan preman. Edgar dan Gerry pun masuk ke dalam lingkaran bawahannya.


Orang itu jatuh terduduk melihat Edgar datang ke rumahnya. "Tuan Edgar, apa salah saya?" tanya orang itu meneguk siliva.


"Hmm, kau tak punya salah, kami di sini ingin bertamu," ucap Edgar menunjuk rumahnya.

__ADS_1


"Apa kau tak keberatan, Pak?" tanya Gerry dengan senyum jahatnya.


"Tidak, mari saya antar kalian ke dalam." Orang itu berdiri dan segera membuka pintu. Terpaksa menerima Edgar dan Gerry daripada nanti rumahnya rata dengan tanah.


"Omong - omong, apa tujuan anda, Tuan Edgar?"


Edgar langsung ke intinya. Bertanya sudah berapa lama cctv itu terpasang. Orang itupun menjawab jujur, cctvnya memang sudah lama di sana, tapi sudah tak berfungsi lima belas tahun lalu, namun isi rekaman masih tersimpan baik.


"Kalau begitu, apa kau bisa memberikannya pada kami?" tanya Edgar.


"Tentu, silahkan diambil." Orang itu menyerahkannya cepat kemudian menghela nafas lega melihat sang tamu besarnya pergi. Edgar dan Gerry menuju ke markasnya, menggali isi rekamannya. Begitu terkejutnya, saat memutarkan waktu dan harinya, yang tertera dalam rekaman itu terlihat Tania kecil menaruh adiknya ke tong sampah. Kemudian berlari kabur dari kejaran sepuluh preman worlfard. Tak lama kemudian, serang pria berjalan terhuyung - huyung dan mendekati tong sampah itu. Pria itu seakan ingin membuang botol birnya namun seolah terkejut mendapati bayi kecil.


"Pak Santo?" Pria itu mendongak ke arah cctv sehingga wajahnya tercetak jelas. Edgar dan Gerry pun bertatapan diam. "Jangan - jangan…." Edgar berdiri.


"Gerry, cari Pak Santo sekarang juga."


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Gerry.


"Aku perlu mengecek sesuatu di rumah." Edgar pulang. Gerry cemberut, niatnya mau ke klub malam tak jadi, padahal dia ingin cari tahu mengapa Kiara terdaftar jadi wanita malam. "Kira - kira, dia masih perawan gak ya?" gumam Gerry memikirkan Kiara.


"Sialan, ngapain juga aku kepo sama satu wanita galak ini." Gerry bergegas mencari Pak Santo bersama bawahannya yang lain.


"Edgar!" ujar Keylin dan Tania bersamaan memegang masing - masing tangan Edgar yang baru pulang.


"Ada apa ini? Kenapa dengan kalian berdua?" tanya Edgar heran melihat istrinya dan Tania bertengkar. Sekalian bingung melihat kursi berjejeran sampai ke tangga rumah layaknya perbatasan.


"Hai, dia suamiku! Lepaskan tanganmu!" kata Keylin mendengus.


"Dia kakakku, kami tumbuh bersama jadi kau yang lepaskan Edgar!" balas Tania menarik Edgar, tapi Keylin memeluk suaminya. Keduanya pun menatap tajam.


Mona yang menggendong Samuel hanya bisa tepuk jidat. Pusing mengurus Samuel dan melihat dua wanita yang tak mau kalah dari yang lain. Bahkan sampai membuat perbatasan wilayah di dalam rumah.


"Lama - lama, aku minggat dari sini." 


Samuel yang melihat semua orang dewasa, hanya tertawa ria. Sedangkan Edgar, mukanya merah padam ditarik sana sini.

__ADS_1


__ADS_2