Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
37. Hanya Setengah


__ADS_3

Malam harinya, Keylin berdiri di dekat pintu kerja Edgar. Ia menguping pembicaraan suaminya itu dengan Gerry yang selesai menyelidiki siapa pengantar paket tadi.


"Serius, Tuan Edgar. Saya sudah mengeceknya dan tak ada kecurigaan apa pun yang kurasakan padanya."


Mendengar Gerry menyampaikan hasil kerjaaannya, Edgar masih belum yakin.


"Aneh, padahal tadi aku merasa jelas - jelas dia itu mirip Tania." Edgar memperhatikan biodata dan foto seorang wanita yang didapatkan oleh Gerry. Rupa wanita itu tidak mirip dengan apa yang tadi dilihat Edgar di sana.


Keylin pun terdiam lesu di dekat pintu mendengar nama Tania disebut dari mulut suaminya. Raut wajahnya sedih dan kembali mengintip Edgar yang lagi duduk santai di kursinya.


"Sepertinya anda ini sedang berhalusinasi deh Tuan Edgar," ucap Gerry tertawa di sebrang sana.


"Halusinasi pala kau! Mata aku ini sehat tahu! Mana ada halusinasi, ini jelas - jelas nyata!" ujar Edgar.


"Tuan Edgar, sebenarnya saya begitu penasaran, anda ini benar - benar sudah ikhlas atau hanya merelakan kematian Nona Tania setengah - tengah?" tanya Gerry membuat Keylin tertarik mendengar jawabannya.


"Cih, aku memang sudah ikhlas soal tragedi kapal itu tapi sampai sekarang aku belum bisa melupakannya. Kau pikir membuang rasa cinta pertamaku ini bisa semudah itu?" Edgar menggenggam hapenya kuat - kuat.


Keylin menunduk, tambah sedih.


"Tuan Edgar, kau ini aneh banget! Kau kan sudah beristri, tak usah mengatakan itu dong. Kalau begini, sama saja kau tidak tulus menikahi gadis penyumbang asi itu." Gerry tampak gemas di sana.


"Hei, Gerry. Dengar baik - baik, aku awalnya menikahi dia supaya Justin tidak menjadikannya istri,"


"Tapi lama - lama dia berhasil mengubah pandanganku dan sedikit perasaanku ini. Tapi itu belum cukup sepenuhnya membuatku jatuh cinta padanya."


Keylin merem4s jemarinya. Embun di pelupuk matanya perlahan menetes. Perasaannya semakin gundah.


"Maksudnya?" Gerry kurang paham.


"Hei, Ger. Kau tahu, dia polos, dia cantik, dan juga menyenangkan. Tapi dia tak bisa 100 persen seperti Tania dan jujur aku memang mencintainya tapi itu hanyalah setengah," ucap Edgar tak sadar ucapannya itu


menyakiti perasaan Keylin di sana.

__ADS_1


"Lalu setengahnya bagaimana?" tanya Gerry.


"Heh, tentu saja untuk Tania."


Gerry memijat pelipisnya, cukup pusing meladeni Edgar yang perasaannya kadang berubah - ubah. Entah itu musuh ataupun orang lain, hatinya tetap selalu terpaku pada Tania. Gerry pun memutuskan panggilan itu daripada nanti berdebat dengan Bosnya.


Edgar pun menyimpan hapenya kemudian mengamati foto wanita di layar laptopnya. 'Aku yakin, tadi itu bukan halusinasi.' Edgar mendengkus, masih kesal mendengar laporan Gerry yang kurang memuaskan.


"Tuan Ed," panggil Keylin masuk. Edgar buru - buru merapikan atas mejanya.


"Hei, ada apa kau masuk ke sini?" Edgar berdiri menghampiri istrinya. Keylin berhenti di depan Edgar dan menunduk diam.


"Hmm? Kau kenapa? Tumben tidak mengajukan keinginanmu. Apa ada sesuatu yang tertinggal di perusahaan tadi?" tanya Edgar, tapi Keylin masih diam.


"Oh ya sudah jam tujuh malam, bagaimana kalau kuajak makan di luar?" tawar Edgar mengambil kunci mobil tetapi Keylin masih diam di tempatnya.


"Hei, kenapa? Kenapa kau diam saja, sayang?" Edgar meraih tangan Keylin. Seketika saja bumil cantik itu memeluknya. Menenggelamkan wajahnya di dada Edgar, membuat pria itu kebingungan. Sejanak, Edgar pun membalas pelukannya dan membelai rambut Keylin. Ia mengira tingkah Keylin mungkin berasal dari faktor ngidamnya.


Dua menit kemudian, Keylin baru melepaskan Edgar lalu menatap suaminya itu dengan sedih.


Keylin menggelengkan kepala kemudian berbalik badan ingin ke kamarnya. Edgar mengerutkan dahinya melihat Keylin tidak seperti biasanya. Harusnya ada satu kata terucap, tapi sekarang Keylin seperti tak mau bicara dan serasa acuh malam ini.


"Keylin, kau kenapa sih?" Edgar menahan tangannya.


Mendengar namanya disebut, Keylin menoleh pada Edgar yang tersenyum.


"Kau lagi marah sama aku gara - gara hape itu? Atau ada hal lain?"


Keylin menggelengkan kepalanya lagi.


"Jika tidak ada, kenapa kau diam saja dan pergi tanpa bicara sesuatu padaku?"


Edgar menarik istrinya mendekat. Keylin menunduk dan menarik nafas dalam - dalam kemudian bertanya, "Seberapa bernilainya aku di dalam hidupmu, Tuan Ed?" tanya Keylin.

__ADS_1


Edgar terdiam diberi pertanyaan itu.


"Maaf, aku hanya ingin tahu itu, tapi jika kau tak mau jawab, tidak apa - apa kok," ucap Keylin tersenyum paksa. Edgar menghembus nafas ringan lalu menepuk dua bahu Keylin. Ia ingin menjawabnya tetapi mendadak suara keroncongan menyahut.


"Haaha, nanti saja aku jawabnya, bagaimana kalau kita makan di luar dulu?" ajak Edgar dan melirik perut Keylin yang tadi bunyi. Namun di luar sana diguyur hujan deras.


"Sial, sepertinya kita tidak bisa makan malam di luar, tapi tenang saja, malam ini aku yang akan masak untukmu. Sini, temani aku ke dapur." Edgar mengecup kepala Keylin dan menggandengnya ke dapur. Sedangkan di kamar, terlihat Mona yang menjaga Samuel. Tapi wanita itu sibuk mencari obat pemberian Regina.


"Duh, kemana ya Keylin menyimpan obat itu? Sudah dicari - cari tapi belum ketemu juga. Bikin tenagaku terkuras." Mona mengeluh capek dan bersandar di kursi kemudian melirik Samuel yang asik menghisap asi milik Keylin yang tadi sudah disediakan. Tak mau tugasnya gagal, Mona pun kembali menggeledah lemari.


Sementara di dapur, Edgar memasak tanpa mengandalkan resep contekan. Pria itu tentu ahli dalam urusan dapur juga. Ia menunjukkan cara memasaknya pada Keylin, tapi gadis itu hanya diam dan duduk di kursi. Menatap kosong ke arah Edgar. Dalam hatinya, ia ingin menangis, merasa sia - sia. Ia ingin sekali berharap, berharap Tania benar - benar mati. Tapi Keylin mana mungkin mengharapkan itu, ia tidak mau berpikir jahat pada Ibu Samuel yang tak bersalah apapun padanya.


Lima menit berlalu, Edgar sudah selesai menuangkan hidangannya. Pria itu duduk di dekat Keylin. Menunggu sebuah pujian untuknya, tetapi ibu hamil itu masih diam saja memandangi hidangan di depannya yang terlihat lezat - lezat.


"Kenapa tidak makan?" tanya Edgar. Tapi mulut Keylin terkunci rapat - rapat. Edgar pun mencoba memaklumi sikap diam istrinya. Ia pun menyodorkan satu sendok pada Keylin.


"Kau tidak usah banyak memikirkan hape itu. Aku sudah menyuruh Gerry tidak menghampusnya, dan mungkin besok hapemu sudah bisa dipakai lagi. Sekarang kau makan dulu, okeh?"


"Ayo buka mulutnya, biar aku suapin kamu," pinta Edgar memohon. Tetapi Keylin mendorong tangan Edgar.


"Tidak usah, aku bisa makan sendiri kok. Terima kasih." Keylin menyantap hidangan di piringnya tapi nampak tak bernafsu malam ini. Edgar yang melihatnya begitu semakin bersalah. Tapi ia tak mau memaksa Keylin sehingga makan saja di sebelah Keylin. 'Apa jangan - jangan dia tahu aku sudah merenggut duluan keperawanannya malam itu?' pikir Edgar melirik Keylin. Rasa penasarannya malam ini sudah tertumpuk dalam benaknya.


"Sudahlah, aku biarkan dulu sampai hari ulang tahunya tiba. Setelah itu, aku akan jujur padanya." Edgar makan dengan perasaan kurang puas malam ini dikacangin terus oleh istrinya.


.


Hujan di luar semakin deras membasahi kawasan kota. Namun tidak bisa menghentikan langkah kaki Kiara yang baru pulang kerja dari restoran mahal. Ia hari ini menggantikan seseorang mengantarkan paket makanan saji ke perusahaan media. Akibat dari itu, Kiara berhasil mendapat sedikit uang. Langkahnya menuju ke sebuah apotik dengan senyum yang mengharapkan apotik itu tidak tertutup.


Ia rela hujan - hujanan demi membeli obat sang nenek yang lagi terkena asam lambung. Namun sampainya di rumah dan masuk ke dalam, obat di tangannya itu terjatuh. Kiara mematung diam melihat orang tua renta itu terkapar di lantai.


"NENEK!"


Kiara jatuh bersimpuh di dekat nenek yang pingsan. Ia pun mengangkat neneknya keluar dan membungkus tubuh nenek itu memakaikan kardus besar. Wanita muda itu berlari membawa neneknya ke rumah sakit yang semakin lemah.

__ADS_1


"DOKTER! DOKTER!" panggilnya teriak dengan panik dan menangis tak tega melihat orang yang merawatnya itu sekarat. Sontak saja, Kiara berhadapan dengan Bryan. Dokter itu datang gara - gara panggilan rekan kerjanya yang meminta bantuan dan malam ini bertemu Kiara. Bryan terkejut diam melihat orang bersweater hitam yang dia cari - cari itu kini menampakkan wajahnya yang sangat familiar. 'Nona Tania?' batin Bryan tak berkedip. Tidak seperti Kiara lari melewati Bryan dan dituntun oleh seorang suster.


'Dia sungguh Nona Tania?' Bryan menengok ke belakang. Masih tak percaya bertemu dengan wanita itu. Namun, pikirannya teralih pada kalung yang dipakai Kiara. Serasa tak asing dalam memorinya. Ia segera mengejarnya untuk memastikan firasatnya itu benar atau tidak.


__ADS_2