Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
44. Kalung Tania


__ADS_3

Yang mereka tunggu sudah datang. Ibunya Bryan kini duduk di sebelah putranya. Raut wajahnya tampak bingung dan sedikit takut berhadapan dengan Edgar, namun ia mencoba tenang sembari memperhatikan Keylin dan Samuel yang duduk bersama mereka, kecuali Kiara yang disuruh bersembunyi nampak ia tak bisa mengalihkan matanya. Mona yang berdiri di sebelahnya itu sedikit tak enak melihat kembaran Tania itu ingin menangis.


'Hmm, ternyata dia bisa menunjukkan sisi lemahnya,' batin Mona seperti melihat Tania pada Kiara.


"Bryan, kenapa kau minta Ibu ke sini?" bisik Ibunya Bryan.


"Oh ya, apa bayi di tangan Keylin itu anaknya model terkenal itu?"


Bryan pun tersenyum dan memegang satu tangan Ibunya. "Ya Bu, bayi itu namanya Samuel, anaknya Kania."


"Ha? Kania? Kau tidak salah panggil nama orang kan, Ray?" Ibunya agak terkejut sebab nama itu mirip salah satu putrinya.


"Tidak Bu, nama asli model itu Kania, bukan Tania. Dia adik kembarku dan salah satu anak Ibu." Bryan lanjut memberikan foto Tania kecil yang tadi dipersiapkannya. Wanita baya itupun diam seribu kata.


"Bu, ini foto kecilnya, mirip dengan Kania dan Kiara. Aku sudah menemukan mereka." Bryan masih menjelaskan sedikit - sedikit. Wanita baya itupun melihat Edgar.


"Apa ini benar foto Tania?" Edgar mengangguk. "Ya, aku memiliki beberapa foto Tania dalam album ini." Edgar memberikan benda segi empat itu. Keylin yang melihat album itupun menunduk. 'Tak apa - apa, Key. Kau ini kan tak berharga dibandingkan foto itu. Kau jangan berharap Tuan Edgar membuatkan itu untukmu.' Keylin merem4s jemarinya kemudian melihat tangan mungil Samuel yang mengusap pipinya. Bayi itu nampak paham apa yang membuat Keylin bersedih.


Semuanya semakin jelas. Foto - foto itu sudah membuktikan Tania adalah putrinya. Tangisnya pun runtuh siang ini. "Bryan, coba lihat, adikmu ternyata selama ini ada di depan mata kita. Kenapa Ibu tak menyadarinya dari dulu? Hiks," tangisnya pecah. Ia sedih karena satu putri kembarnya sudah ditemukan namun sekarang putrinya itu tak ada.


"Ibu, mau kemana?" Bryan berdiri saat Ibunya ingin keluar. Wanita baya itupun melihat Edgar, ia memohon untuk dibawa ke makam Tania.


"Maaf, Tante. Sampai saat ini kami belum menemukan jasadnya. Hanya suaminya saja yang sudah kami makam kan," ucap Edgar. Mendengar kenyataan pahit itu, ia pun hampir jatuh pingsan, namun seseorang dengan cepat menyangga pundaknya dan memanggilnya, "Ibu." Ia spontan menoleh dan semakin terisak melihat Kiara di sampingnya.


"Ibu," lirih Kiara langsung memeluknya.


"Ibu, ini Kiara. Kembaran Tania," ucap Bryan pada Ibunya yang kemudian mengamati wajah Kiara. Ia pikir tadi itu Tania, namun melihat perbedaan di bibir Kiara, ia balas memeluk anak ke tiganya itu. Keylin yang melihat mereka dipertemukan membuat hati kecilnya senang dan juga sedih. Ingin rasanya ia juga bertemu kedua orang tuanya.


"Ibu, maaf. Dari awal Kiara sudah tahu Tania adalah kembaranku,"


"Lantas kenapa kau tak katakan padanya?" tanya Edgar.

__ADS_1


"10 tahun lalu aku pernah kok bertemu dia, tapi Tania pergi mengacuhkan aku, dia sombong, lebih memilih keluarga barunya. Padahal aku ingin mengajak dia mencari keysa, ayah, ibu dan Kak Bryan." Kiara menjawab jujur. Saat itu Tania pulang dari sekolah, dia memang bertemu Kiara, tetapi Tania tak mengenalnya dan berpikir Kiara adalah gadis pemulung dan penjiblak wajahnya.


"Tidak, yang kau katakan itu tidak benar," sela Edgar.


"Apa yang tak benar?" tanya Bryan.


"Tania mengalami lupa ingatan. Dia diadopsi dua puluh tahun lalu setelah mengalami kecelakaan. Karena itulah dia mungkin tak mengenalmu. Tapi dia pernah berniat mencari keluarga aslinya, hanya saja -" Edgar menggantungkan ucapannya.


"Hanya saja apa?" tanya Kiara dan Bryan.


'Hanya saja aku yang dulu melarangnya,' batin Edgar tak berani jujur.


"Apa yang ingin kau katakan, Ed?" tanya Keylin pun bersuara. Edgar tertegun pada istrinya yang kini mau bicara. Ia pun sedikit tersenyum lega. "Maaf, dia tak punya petunjuk." Edgar menjawab tak sepenuhnya jujur.


"Seandainya saja Ibu tampil ke acara tv, mungkin kita bisa berkumpul cepat, tapi Ibu terlalu takut. Takut worlfard mengincar kalian. Ini salah Ibu, hiks." Bryan memberi dadanya, ia biarkan Ibunya itu yang meratapi nasib anak - anaknya. Ia memang jarang keluar rumah semenjak Bryan selamat dalam kecelakaan. Oleh karena itu, hanya Bryan yang sering disuruh - suruh dan akibat mentalnya itu, ia digrogoti banyak keluhan pada kondisi tubuhnya. Seperti sekarang, wanita baya itu langsung pingsan.


"Ibu!!" Mona dan Kiara segera membawanya ke kamar. Kini di ruang tamu menyisakan Edgar, Keylin, Bryan dan Samuel.


"Aku berdiri di sini bukan atas nama Worlfard, jadi tak usah melihatku seperti itu," ucap Bryan. Namun Edgar langsung memukul wajahnya.


"Edgar, kenapa kau pukul dia?" tanya Keylin berdiri di tengah - tengah.


"Sial, ternyata kau ini peretas semalam. Gara - gara kau juga, aku kadang tak bisa tidur nyenyak selama 20 tahun ini." Edgar mengepal tangannya.


"Ha? Apa maksudmu?" tanya Bryan mengernyit dan mengelus pipinya yang lumayan sakit.


"Oh jadi begini ya, setelah kau acak - acak sistem perusahaan ayahku, kau sudah lupakan aku? Dasar bocah peretas! Dulu kita saling kenal tahu." Edgar tersenyum kesal.


"Kenal? Kita dulu saling kenal?" Bryan menunjuk dirinya. Edgar menarik nafas dalam - dalam kemudian menjelaskan kalau dua puluh tahun lalu disaat perseteruan worlfard memanas, Edgar mendapat pergerakan aneh pada sistem perusahaan ayahnya. Dari situlah, Edgar mengirim balasan ke situs sang peretas yang tak lain adalah Bryan dengan kode nama pewaris Fard yang meminta bantuan pada Skypea. Bryan dan Edgar pun saling mengenal dan akhirnya berteman walau kedua ayah mereka saling bermusuhan. Namun sayang permintaan Bryan ditolak mentah - mentah oleh Regina yang tak mau Marquez ikut campur.


"Arghhh.. " desis Bryan kesakitan tatkala memorinya memutarkan semua ingatan masa lalunya.

__ADS_1


Bryan jatuh terduduk mengingat perseteruan ayahnya dengan pamannya tak dapat dijelaskan kata - kata. Pembantaian, pemusnahan dan pembasmian membuat adrenalin Bryan terpicu untuk balas dendam.


"Kak Bryan.... " Keylin mau menenangkannya, tetapi Edgar mencegahnya. "Masuk ke kamar, Sayang." Tentu Edgar tidak suka istrinya memberi perhatian pada pria lain.


"Tapi... "


"Keylin, ke kamar!" titah Edgar terpaksa membentak. Keylin pun berbalik badan ingin pergi ke atas namun tiba - tiba Bryan berdiri cepat.


"Hei, mau kemana kau?" Edgar mencegatnya.


"Aku ingin memberikan kalung ini pada Kiara dan meminta dia ikut denganku ke Worlfard. Aku harus balas dendam pada mereka semua," ucap Bryan tetapi Edgar merebut kalung itu.


"Hai, berikan kalung adikku, Ed!" pinta Bryan.


"Kalung adikmu? Hei, ini kalung istriku! Ini punya kau kan, sayang?" Edgar memperlihatkan kalung yang persis dia hadiahkan pada Istrinya.


"Bukan! Ini aku pakai kok kalung pemberianmu," ucap Keylin mengeluarkan kalungnya dari kerah baju. Bryan membelalak pada dua kalung yang sama. Ia merebut kalung Kiara dari Edgar dan menunjuk Keylin.


"Da-dari mana kau dapatkan kalung itu?" tanya Bryan.


"Memang kenapa kau tanyakan?" tanya Edgar berdiri di dekat Istrinya.


"Ka-kalung itu punya Tania." Bryan menjawab sembari menunjukkan foto kalung pasangan adik kembarnya.


"Kalung Tania? Tapi awal dia dibawa oleh ayahku, Tania tak memakai kalung apa - pun," ucap Edgar tak yakin.


"Memang ini milik Tania, tapi kalung ini dipakai oleh adik bungsu kami." Bryan pun percaya bahwa kalung ini sudah memberinya petunjuk baru.


"Jika begitu, mungkin kah Tania masih hidup dan bersama adik kalian?" tebak Edgar. Keylin yang melihat ekspresi Edgar membuatnya tak tahan pada kedua pria itu yang terus membahas Tania. Keylin pun menaiki anak tangga. Ia merasa sedih dan merasa tak penting sama sekali.


Tampak Edgar menghubungi Gerry untuk segera menelusuri siapa yang telah melelang kalung itu.

__ADS_1


__ADS_2