
Dalam jumpa pers yang dilakukan pukul 09.00 pagi, Kiara yang menyamar sebagai Tania, menyapa penggemar dan menjawab berbagai pertanyaan yang silih berganti dari semua reporter yang hadir. Kiara yang tak mudah tersenyum itu nampak kaku mengulas senyumnya. Walau begitu, Kiara terus menebar senyum manisnya dan juga mengatakan niatnya yang akan berhenti dari karirnya. Sesuai skenario dari Bryan, Kiara pun mengatakan dirinya akan lebih fokus merawat Samuel. Sebagian penggemarnya sedikit kecewa tetapi mereka sadar idolanya sudah banyak melewati masa - masa sulit, apalagi sang Suami tercinta telah pergi selamanya.
Jumpa pers pun selesai tepat di pukul 11.00 pagi. Semuanya bubar dan Kiara meninggalkan ruangan dan bergabung dengan Bryan, Edgar, Keylin, dan Mona yang menunggunya.
"Sumpah, aku gak kuat di posisi Tania. Kedua kakiku mati rasa." Kiara merasa tak mampu mengikuti jejak karir kembarannya.
"Bilang saja kau phobia kamera," ledek Bryan.
"Ck, mental ku dan Tania beda tahu. Terus aku cuma nggak suka difoto, bukan phobia!" cetus Kiara memukul lengan Bryan.
"Sekarang urusan kita di sini sudah selesai, ini waktunya kita kembali ke worlfard, Kiara."
"Tapi nenek di rumah sakit gimana? Nenek itu sudah merawatku, Bryan. Aku nggak tega meninggalkannya." Kiara masih ragu.
"Tenang saja, nenek itu sudah kuberi perawatan gratis di rumah sakit. Dia akan dirawat oleh temanku," ucap Bryan sedikit lega adanya nenek itu yang menemukan Kiara, wanita renta itu senang sudah membesarkan putri dari keluarga kaya. Ibunya Bryan juga ada di rumah sakit. Ia ke sana berterima kasih pada nenek itu kemudian ia pun bersiap ikut bersama Bryan dan Kiara.
"Hmm, baguslah. Ayo Bryan, kita ke sana sekarang. Aku tak sabar membalas paman serakah itu." Kiara yang sudah mengumpulkan tenaga pun menarik Bryan.
"Tunggu!" Mona menahan.
"Hmm, kenapa?" tanya Bryan dan Kiara.
__ADS_1
"Kalian serius akan ke sana?" tanya Mona balik.
"Apa kalian tak memerlukan bantuanku?" Edgar juga menawarkan diri. Sedangkan Keylin masih diam dan menatap Bryan. Seperti ada yang dia tunggu - tunggu dari Bryan.
"Tak perlu," tolak Bryan kemudian melihat Keylin.
"Ya udah, tapi kalau kau terdesak, jangan malu - malu hubungi aku ya," ucap Edgar tersenyum remeh dan merangkul mesra istrinya.
"Ck, aku tak mau mengulangi masa lalu." Bryan pergi membawa Kiara ke tempat Ibunya menunggu. Dokter tampan itu akan kembali setelah menaklukkan worlfard dan setelah itu menjembut Samuel.
Mona yang menggendong Samuel nampak lesu tak diberi ucapan perpisahan. "Hm, Dokter tampan masih tak peka - peka juga. Ish, nyebelin!" gerutu Mona.
"Baik, Pak Edgar. Saya akan siapkan semua."
Edgar menghela nafas. Untung dia punya sekretaris jadi tak perlu menyuruh Gerry yang masih menelusuri orang yang melelang kalung Tania.
"Edgar," lirih Keylin memanggil.
"Hmm, kenapa sayang? Kau mau pulang sekarang?" Edgar bertanya sembari tersenyum.
Keylin menunduk. Bumil cantiknya itu sedang menunggu ucapan manisnya, tapi ia lebih menginginkan Edgar memberitahukan kondisi dirinya yang sedang hamil.
__ADS_1
'Aku mau katakan kalau aku ini hamil, tapi aku ragu, kenapa aku bisa hamil secepat ini?' batin Keylin.
"Sayang, kok diam saja? Kau mau apa, hm?" Edgar meraih tangan Keylin.
"Gak ada,"
"Terus buat apa manggil tadi?"
Keylin pun melirik Samuel dan Mona. "Aku mau jajan, boleh nggak?" mohon Keylin mengedipkan matanya.
"Apa sih yang nggak boleh buat istriku? Yok, aku temani kau jajan." Edgar menggandeng Keylin keluar dari gedung. Disusul juga oleh Mona dan Samuel. Dengan ekstrak sabar, Edgar terus berjalan di sisi Keylin yang asik menikmati keluyuran nya di pusat perbelanjaan. Ada berbagai hal yang dibeli bumil itu yang mengarah ke calon bayi. Keylin membeli benda lucu - lucu. Ia harap Edgar peka dari tingkahnya itu, tetapi sang suami berpikir salah.
"Hmm, ini terlalu banyak lho buat Samuel. Yang ini tak usah dibeli deh, sudah banyak mainan Samuel tertumpuk di rumah," ucap Edgar menaruh mobil mainan itu. Kedua ujung alisnya pun menyatu melihat Keylin menekuk mukanya.
'Hmm, katanya Edgar sudah tahu aku hamil, apakah dia hanya pura - pura tak tahu? Tapi kalau dia tahu, bukankah dia harusnya marah, kan?' pikir Keylin. Mona yang di sekitar mereka pun heran pada Keylin yang dari tadi tidak ceria.
"Hmm, oke deh. Tapi maaf kalau aku agak kelewatan," ucap Keylin tersenyum paksa, sedangkan Edgar balas dengan senyum tulus.
"Ya udah, kau dan Samuel ke mobil duluan, nanti kita makan di restoran pinggir sana."
"Hmm, okeh." Keylin dan Mona pun pergi membawa Samuel. Edgar pun mengangkat sebuah panggilan dari Regina yang sudah tahu isi jumpa pers hari ini. Wanita itu bertanya terus tanpa titik, membuat Edgar kesusahan yang mana harus dijawab duluan.
__ADS_1