
Edgar menangkis pikiran kotornya. "Ck, jangan tergoda dulu Edgar, kau harus membuktikan sesuatu." Edgar mendekati Keylin yang berdiri gugup di sana. Diambilnya jas putihnya yang panjang kemudian memakaikannya pada tubuh Keylin.
"Hari sudah malam, tidak harusnya kau ke sini dengan memakai pakaian tipis seperti itu. Kau bisa kedinginan nantinya," tegur Edgar. Keylin mengarahkan matanya ke atas, memandangi wajah Edgar yang datar.
"Kembalilah ke kamar dan banyak - banyak istirahat di sebelah Samuel," suruhnya lagi.
"Kenapa belum gerak juga?" tanya Edgar yang selesai mengancing jasnya itu.
"Tuan Ed, apa kau tidak menginginkan sesuatu?"
"Hmm, apa ya?" Edgar memegang tengkuknya dan berpikir - pikir. Melihatnya tak peka itu, membuat Keylin manyun dan kecewa tak dapat pujian. Sia - sia rasanya Mona mendandaninya cantik malam ini. Dan lagi, pria tampannya itu malah duduk santai di sofa. Serasa dicuekin beruang kutub.
"Ayo sana kembali ke kamar," usirnya mengacuhkan tangan. Keylin masih bergeming di tempatnya dan menatap satu arah suaminya.
'Ayo Keylin! Kau harus relakan segel perawanmu malam ini. Jadilah wanita sejati!' Keylin berjalan ke depan.
__ADS_1
'Aneh sekali, dia tampaknya bersikeras ingin merayuku, apa ini bagian dari ngidamnya?'
'Jangan - jangan ngidamnya mau esek - esek rekening? Menggodaku malam ini terus paginya pergi shoping layaknya istri - istri orang di luar sana?' batin Edgar kemudian melirik laptopnya.
Ia barusan menggali informasi penyebab mual - mual dan satu jawaban yang masuk ke dalam otaknya adalah awal kehamilan. 'Tapi kalau hamil, seharusnya Dokter kasih tahu aku!' batin Edgar sedikit ragu - ragu.
Keylin berhenti di depan meja dan terheran - heran melihat Edgar menghitung jari - jarinya. Raut wajahnya menggambarkan kekecewaan sudah diabaikan lagi.
'Apa aku kurang menarik malam ini?' pikir Keylin sedih kemudian memegang dua paha Edgar.
"Honey, apa kau tidak menginginkan apa - apa dariku?" Mata Keylin berbinar dan berharap dijawab - ya.
"Keinginan seperti apa?" Edgar menyentuh bibir seksi istrinya itu yang bertingkah layaknya kucing yang meminta dibelai oleh babunya.
"Misalnya kau mau punya anak denganku," ucap Keylin menjawab tepat. Senyum nakal Edgar sirna. Dia syok mendengarnya.
__ADS_1
"Ed, apa malam ini aku terlihat jelek? Kau tidak biasanya seperti ini," keluh Keylin murung.
Edgar memegang tangan kanan istrinya kemudian menaruhnya di pipi kirinya, berbicara begitu lembut penuh sayang. "Apa kau serius dengan ucapanmu itu?" tanya Edgar.
"Tentu saja, kita kan sudah jadi suami istri dan aku merasa untuk membuktikan perasaanku padamu, aku perlu melahirkan anak kita dan adik untuk Samuel," jelas Keylin gugup dan tegang. Dalam hatinya ingin teriak sekeras mungkin sebab tak tahan duduk di atas sang pamungkas Jack yang lumayan agak menonjol di bawah sana.
Edgar mendekati wajah istrinya yang memerah itu. "Kau gampang sekali bicara, tapi aku senang mendengarnya," ucap pria itu mengecup sebentar sudut bibir Keylin.
"Tapi apa kau sudah tahu bagaimana membuat anak?" lirik Edgar merayu.
Keylin menelan saliva kasar, menjawabnya terbata - bata, "Aku belum berpengalaman dan masih ting - ting. Jadi untuk memulainya, aku tidak tahu apa - apa," ucapnya begitu polos membuat Edgar menahan tawanya susah payah.
"Tuan, apa kau sudah berpengalaman sebelumnya?" Keylin bertanya, ingin tahu apakah Edgar pernah buka segel bersama wanita lain atau tidak.
.
__ADS_1
Ya si Edgar udah buka segel bareng kamu, Key wkwk