Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
59. Merindukannya


__ADS_3

Pagi - pagi ini, Edgar menyiapkan dua simpel DNA yang ingin dia tes antara Keylin dan Tania. Ia terlihat memberikannya pada salah satu bodyguard untuk diserahkan pada Gerry, sang tangan kanannya yang entah kenapa belum memberikan kabar tentang pencarian Pak Santo.


"Edgar, apa yang kau berikan padanya?" Keylin datang menghampiri Edgar yang berdiri di dekat pintu utama.


"Oh itu, urusan kantor, sayang." Edgar terpaksa bohong. Masih belum yakin memberitahukan hubungannya dengan Tania sebab ia perlu bukti nyata agar nanti tidak ada keraguan di antara kedua wanita cantik itu.


"Ohh, kalau begitu, apa hari ini kau bisa temani aku ke studio?" tanya Keylin dengan mata yang berharap, ya.


"Hmm, tentu –" putus Edgar kala lengannya ditarik seseorang.


"Gak bisa! Hari ini aku dan Edgar mau keluar bareng." Tania tidak mau Edgar menemani Keylin. Mona yang datang pun berhenti di dekat kursi sambil menggendong Samuel. Ia tentu akan ikut dengan Keylin tapi Mona nampak harus menonton dua wanita yang mau berdebat seperti kemarin.


"Tidak boleh! Edgar harus ikut bersamaku. Ini adalah hari pertamaku bekerja, jadi suami perlu mendampingi istrinya." Keylin memegang sebelah tangan Edgar.


'Hadeh, jangan mulai lagi deh,' desis Mona.


Edgar pun menatap Keylin, ucapan istrinya ada benarnya.


"Tidak! Edgar sudah berjanji, hari ini dia mau menemaniku mengunjungi makam ayahnya Samuel. Kau pergilah sendirian ke studio." Tania menepis cepat tangan Keylin.


Edgar pun menatap Tania. Ucapannya juga benar. Jadi, siapa yang harus dia pilih sekarang?


"Edgar, pergilah bersamaku," mohon Keylin.


"Gak boleh, Edgar harus ke makam bersamaku. Tapi kalau kau tidak mau, okeh, gak apa - apa. Aku bisa ke sana sendirian dan tidak akan kembali lagi di sini. Mungkin lebih baik aku ikut terkubur di dalam tanah itu."


Edgar tersentak kaget mendengar perkataan Tania yang mengancam. Keylin dan Mona mendesis jengkel melihat satu wanita yang begitu bersikeras ingin Edgar. 'Padahal bisa ke sana bareng bodyguard, tapi inginnya sama Edgar. Dasar banyak maunya.' Keylin dan Mona menggerutu. Sama - sama merasakan kemanjaan Tania.


"Edgar...." ucap Keylin dan Tania terus memohon.


"Stop! Jangan buat aku marah hari ini. Sekarang lepaskan!" Edgar menarik dua tangannya cepat, membuat Keylin dan Tania mengerucutkan bibirnya. Namun Keylin tersenyum senang merasakan kepalanya dielus oleh suaminya. Tapi detik berikutnya, ucapan Edgar bikin kecewa.

__ADS_1


"Sayang, maaf. Kau pergilah dulu bersama Mona. Nanti aku datang ke sana setelah mengantar Tania mengunjungi makam suami. Paham?"


"Jadi... kau tidak bisa ya?" keluh Keylin dan melirik Tania yang tersenyum puas di sana. Tapi Tania kembali manyun melihat Edgar memberi kecupan mesra di kening sang istri.


"Kau mengerti kali ini ya, aku cuma sebentar kok, tidak usah cemas. Aku tidak akan kemana - mana nanti."


"Okeh, deh. Kalau begitu, aku pergi dulu." Keylin tersenyum kemudian menatap Tania yang meledeknya di belakang Edgar. Keylin pun pergi bersama Mona dan Samuel. Bayi itu ikut Keylin karena tak ada yang menjaganya di rumah.


"Ayo, Ed! Kita pergi juga." Tania menarik tangan Edgar, tetapi pria itu melepaskan gandengannya.


"Tania, aku bisa jalan, tidak usah menarikku." Edgar pergi ke arah mobilnya. Tania cemberut melihat perubahan Edgar yang tidak seperti dulu yang kadang bersikap manis padanya.


"Apa karena aku anak worlfard, Edgar mulai menjaga jarak?" Tania sedih melihat Edgar seakan tidak ingin disentuh lagi.


"Hai, cepatlah masuk!" panggil Edgar yang sudah duduk di kursi pengemudi. Tania pun duduk di kursi sebelahnya. Setelah itu, mobil melaju ke toko bunga kemudian tempat makam suami Tania.


Sesampai di sana, Tania yang turun dari mobil pun masih belum melangkah kan kedua kakinya. Ia melihat sedih bunga di kedua tangannya.


"Ck, kenapa aku secengeng ini sih," desis Tania mengusap air matanya. Kedua tangannya bergetar, begitupula hatinya yang belum mampu menerima takdir suaminya.


Edgar pun hanya diam. Hanya ia yang tahu kepribadian Tania yang memang mudah rapuh melebihi Keylin dan kini tangis Tania menjadi - jadi, membuatnya segera memeluk wanita itu yang sempoyongan.


"Sudah, ikhlaskan dia. Dia sudah tenang di sana." Edgar mengelus pundak Tania.


"Hiks, aku merindukannya, Ed." Tania tidak peduli bagaimana make up-nya sekarang, yang jelas perasaannya serasa hancur berkeping - keping.


"Aku masih ingin mendengar suaranya, memegang tangannya, melihat wajahnya, dan melihatnya bersama Samuel. Aku rindu dia, Ed."


Edgar menghela nafas berat. Ia memejamkan mata. Untung saja hatinya sudah dimiliki oleh Keylin, kalau saja tidak, mungkin hatinya juga sakit mendengar pengakuan Tania yang begitu cinta pada ayahnya Samuel.


Edgar pun terpaksa memegang tangan Tania, tersenyum kecil. "Kalau kau terus bersedih, dia tidak akan bisa bahagia di sana. Sekarang, ayo kita ke sana. Ucapkan semua yang ingin kau katakan padanya." Edgar menarik Tania ke arah makan tak jauh di sana.

__ADS_1


Tania pun melepaskan genggaman Edgar. Jatuh bersimpuh di dekat makam suaminya. Perlahan meletakkan bunga di dekat batu nisannya. Kemudian dengan rasa rindu yang menggunung itu, ia memeluknya.


"Ini semua salahku, aku seharusnya tidak memaksamu menuruti keinginanku. Harusnya aku lahiran di rumah sakit, bukan di kapal pesiar kita. Ini salahku, maafkan aku, Alex."


"Kau tahu, anak kita sudah besar, dia mirip denganmu. Namanya pun Samuel, seperti yang kau inginkan. Dia sehat, tampan, dan juga gemuk."


"Hiks, aku minta maaf, ini salahku."


Tania menangis, lanjut menumpahkan semua isi hatinya. Ia selalu dihantui rasa bersalah atas kehilangan ayah kandungnya dan juga ayah angkatnya. Hingga sekarang kehilangan suaminya. Tiga pria yang dia sayang, pergi secepat itu dari hidupnya.


Setengah jam berlalu, Tania pun berdiri. Mengambil tissu yang disediakan Edgar. Kemudian mengusap sisa air matanya. Setelah itu tersenyum pada Edgar. Senyum yang berisi kesedihan yang paling dalam.


"Sudah lega?" tanya Edgar. Tania mengangguk.


"Sudah, sekarang bawa aku ke tempat adikku, Ed." Tania memohon sebelum Edgar pergi ke tempat Tania. Edgar pun berjalan ke arah mobilnya.


"Edgar, ku mohon, jangan pergi ke tempat Keylin dulu, bantu aku, pertemukan aku dengan adikku, Ed." Tania memohon lagi. Edgar pun melihat kedua mata Tania yang tambah merah dan sembab itu. Kemudian ia pun mengangguk.


"Okeh, masuk ke mobil, kita ke tempat Keylin."


"Ke-keylin? Kenapa kita ke sana?" tanya Tania sedikit kecewa.


Edgar pun menepuk dua bahu Tania kemudian menjawab pelan - pelan. "Karena adik yang kau cari itu adalah istriku."


"A-apa?" Lidah Tania membeku. Terkejut mendengarnya.


"Gadis penyumbang asi itu, adikku?"


.


Maaf baru update, penyakit maag author kambuh🥺🙏

__ADS_1


__ADS_2