
Karena tak mendapat petunjuk, Edgar dan Gerry pulang. Sampainya di rumah, tangisan Samuel masih belum berhenti.
"Mona! Ada apa dengannya?" tanya Edgar masuk ke kamar milik Tania. Kiara yang duduk di dekat jendela langsung pindah duduk di sebelah Samuel. Ia mengambil cepat keponakan kecilnya.
"Maaf, Tuan. Nona Tania tak bisa menyusui anaknya sendiri," ucap Mona berdiri di sebelah Edgar.
"Kalau tak bisa, harusnya kau kasih susu formula," sahut Gerry di dekat pintu.
"Percuma, Tuan Gerry. Susu yang aku buatkan tetap ditolaknya," ucap Mona merasa disalahkan lagi.
Edgar pun mendekati Kiara yang menggendong Samuel dan menatapnya sedikit heran. "Apa asimu masih belum keluar juga? Kasihan anakmu itu kau biarkan menangis," kata Edgar dengan nada lembut tapi tatapannya tajam.
Kiara menghembus nafas lalu mencoba santai. Namun tersenyum lumayan kesal. "Hei, Tuan. Aku jelaskan pada kalian semua, bahwa wanita yang kalian kira Tania itu salah! Aku ini Kiara, saudara kembarnya. Berhenti menganggap ku Tania! Aku dan wanita sombong itu beda orang, tapi kami berdua terlahir sama. Sampai di sini kalian paham?"
Mona dan Gerry terdiam melihat cara bicara Kiara yang agak songong. Tak ada lembut - lembutnya seperti dulu yang tak meninggikan suaranya. 'Mungkin kah Nona Tania selama ini amnesia sampai bicara aneh seperti itu?' batin Mona dan Gerry sulit memahami kondisi Kiara.
"Huftt," hembus Edgar merasa agak kecewa dibentak.
"Berikan Samuel padaku, biarkan aku yang menenangkannya. Kau istirahatlah dan jangan lagi bicara ngelantur malam ini," pinta Edgar meminta Samuel.
"Ck, tak akan kuberikan! Kalian semua tak ada hubungannya dengan bayi ini. Aku akan membawanya pergi dan kalian jangan paksa aku tinggal di sini!" ujar Kiara lantang membuat Samuel pun diam karena kaget. Namun detik berikutnya, bayi itu mengencangkan tangisnya.
"Berhenti kau, Tania!" Edgar membentak dan menahan langkah wanita itu yang mau keluar dari kamar.
Plak!
"Ck, sudah aku tegaskan namaku Kiara, bukan Tania!" ujar Kiara menepis tangan Edgar.
'Aku harus pergi dari sini dan tak boleh berurusan dengan pria ini, mereka di sini semuanya berbahaya,' batin Kiara tahu Edgar adalah Bos Mafia yang mendalami dunia kejahatan.
"Tunggu!" tahan Gerry berdiri di depan Kiara.
"Cih, apa lagi?" tanya Kiara.
"Kau sungguh bukan Nona Tania?" tanya Gerry balik dan melirik Edgar yang lagi diam mencerna kata - kata Kiara yang tadi.
"Ya kau benar, aku bukan Tania." Kiara menjawab ketus namun sontak memekik saat Gerry mencabut rambutnya.
"Akhh, kenapa kau cabut rambutku, berengsek!" cengkram Kiara menarik kerah Gerry.
__ADS_1
Edgar dan Mona pun terkejut melihat tingkahnya itu yang sangat berbeda.
"Okeh, tenang dulu, Nona. Sekarang aku paham sesuatu, jadi tolong lepaskan tanganmu."
"Ck, dasar jahat kalian semua." Lagi - lagi bicara tak seperti dulu.
"Apa yang sudah kau pahami, Gerry?" tanya Edgar juga memahami sesuatu. Gerry pun menarik Edgar. Dua pria itu membelakangi Kiara dan Mona. Edgar dan Gerry membicarakan awal masuknya Tania di keluarga Marquez. Edgar mengatakan jika dulu Tania yang berumur lima tahun tak sengaja ditabrak oleh ayahnya. Karena Tania siuman dengan ingatan yang hilang, akhirnya Tania diangkat sebagai anak kedua.
"Berarti Nona Tania bukan anak yang diadopsi dari panti asuhan?" tanya Gerry.
"Bukan, rumor yang kau dengar itu hanya cerita yang dibuat oleh Ibuku supaya orang - orang tak tahu ayahku pernah menabrak orang," jelas Edgar.
"Kalau begitu, apa yang diucapkan Nona itu ada benarnya?" tanya Gerry lagi.
"Hmm, aku juga tidak bisa memastikannya sekarang. Tapi aku sarankan padamu lakukan tes DNA untuknya dengan Samuel. Kalau memang ada kecocokan antara wanita ini dan Samuel, bisa jadi ucapannya itu benar." Edgar menunjuk rambut Kiara yang tadi dicabut Gerry.
"Kalau wanita itu bukan Nona Tania, itu artinya Nona Tania sudah benar - benar meninggal," ucap Gerry dan melihat Edgar yang membuang nafas berat.
"Sudahlah, aku tak mau memikirkannya lagi. Sekarang lakukan tugasmu itu." Edgar menepuk bahu Gerry kemudian melihat Kiara.
"Hei, Nona. Mulai malam ini kau harus tinggal di sini sampai hasil DNA keluar. Tolong berikan anak itu padaku," pinta Edgar kini serius menatapnya dingin.
"Nih, ambil. Tapi kau jangan seenaknya padaku!" ujar Kiara.
"Ck, aku punya istri, jadi tak perlu mengatakan itu." Edgar mengambil Samuel kemudian pergi ke arah kamarnya sendiri.
Kiara cemberut namun seketika menarik kerah belakang Gerry yang mau melewatinya.
"Woi, Tuan. Kau mau kemana sekarang?" tanya Kiara.
"Hei, Nona, bisa bicara lembut nggak? Aku ini bukan preman jalanan, tak usah membentak begitu dong," ujar Gerry menepisnya.
"Mau prema jalanan kek atau preman berkelas kek, kalian para cowok semua sama saja menjengkelkan. Sini, antarkan aku ke rumah sakit sekarang!" Kiara menarik lengan Gerry layaknya menyeret seorang pencopet.
"Tunggu, Nona!" tahan Mona.
"Hmm, kenapa? Kau kau juga mau ke rumah sakit?" tanya Kiara melotot. Mona meneguk saliva, agak takut pada Kiara yang tak ada pesona anggunnya.
"Maaf, lebih baik besok saja, di luar sedang hujan deras. Kalau anda sakit, Tuan Edgar mungkin akan marah lagi." Mona bicara pelan - pelan.
__ADS_1
"Ho'oh, benar. Kau tak usah pergi kemana - mana atau ikut denganku. Permisi." Gerry segera menerobos keluar lalu masuk ke dalam mobilnya kemudian melaju pergi.
"Hei, bedeb4h!" ujar Kiara ingin melewati pintu tetapi lima bodyguard mencegat.
"Maaf, Nona. Malam ini tak ada yang boleh meninggalkan area ini." Mereka berbaris dengan kokoh di depan Kiara.
Mona di belakang sedikit tertawa melihat Kiara seperti tahanan baru, tetapi segera diam dan menunduk saat Kiara menengoknya.
"Hei, babu!" panggil Kiara tak segan - segan menghina. Mona mengepal tangan, agak sakit mendengarnya.
'Sial, Nona Tania tidak pernah seperti ini padaku. Sepertinya wanita ini memang orang lain.' Mona pun yakin 100 persen bahwa Kiara sepertinya akan jadi Bianca kedua dalam hidunya yang akan selalu disuruh - suruh.
"Ada apa ya, Nona?" tanya Mona dengan nada kecil.
"Tenggorakanku kering, mau minum nih. Sana pergi sediakan aku jus manis." Benar saja, Kiara mulai memerintah sambil duduk santai di kursi empuk.
"Eh sebentar!" cegat Kiara berdiri.
"Kenapa, Nona?"
"Nggak usah deh, biar aku yang buat sendiri. Tunjukkan saja padaku di mana dapur kalian?" tanya Kiara dan mengamati rumah besar dan luas itu. Matanya pun melihat ke arah Edgar yang berhasil menenangkan Samuel dan kini memperhatikan dirinya.
'Sial, aku tak suka seperti ini.' Batin Kiara memalingkan muka. Merasa terancam dan takut.
"Kenapa anda tidak mau dibuatkan, Nona?"
"Aku nggak mau mati kayak Tania yang kalian bunuh di kapal itu," ucap Kiara menunjuk.
Mona mengepal tangan, ingin rasanya memukul mulut Kiara yang banyak tuduh itu. Tapi Mona dengan sabar menjelaskan kalau worlfard yang melakukan pembunuhan pada Tania dan suaminya.
"Ohh, sorry, aku pikir kalian ini jahat tapi ya mau bagaimana lagi, kalian semua tetaplah penjahat. Permisi." Kiara pergi ke arah dapur dengan angkuh. Mona menggertakkan rahang.
'Untung saja tak ada Keylin, kalau saja ada dia di sini, aku bisa sinting sekarang menghadapi dua wanita yang bertolak belakang. Tapi kemana yah perempuan itu?' pikir Mona cemas pada Keylin. Sama halnya juga pada Edgar yang terus mengkhawatirkan istrinya. Ia kini bisa menunggu hasil pencarian bawahannya. Sedangkan Keylin, bumil cantik itu sedang dihibur oleh sang Ibu.
.
Sabar Mona, jangan marah - marah. Orang sabar banyak rezeki😁hhhi
Maaf kalau ada kata salah😊tinggalkan likenya ya. Terima kasih.
__ADS_1