Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu

Dibeli Dan Dijadikan Ibu Susu
62. Dua Malaikat Kecil


__ADS_3

Dari apa yang terjadi kemarin, keputusan sudah ditetapkan dan untuk sementara waktu, Keylin tidak dapat syuting. Meski tidak ada korban jiwa, tetapi karena kru - kru yang mengalami luka - luka, harus menunggu pemulihan mereka. Apalagi Pak Sutradara yang memikirkan insiden kemarin, ja jatuh sakit. Sedangkan CEO pemilik studio itu tidak dapat berbuat apa - apa untuk menyelamatkan tempat syuting Keylin yang hangus terbakar itu. Ia hanya bisa menggunakan studio yang lainnya.


Tampak hari ini Keylin tidak keluar dari rumah. Disebabkan bawahan musuh yang perlu diwaspadai, tapi semenjak Alex hadir, satu demi satu tempat persembunyian mereka dihancurkan.


"Huftt…." Keylin membuang nafas kasar. Malam ini ia terlihat kurang semangat memotong sayur untuk menyiapkan makan malam sebab Mona masih dirawat di rumah sakit. Ia tidak masalah soal syuting yang ditunda, yang Keylin masalahkan seminggu ini adalah ia merasa canggung di rumah bertiga dengan Tania dan Samuel, karena Edgar dan Alex saat ini sedang di markas mereka.


"Woy, kau gak pulang?" tanya Edgar bersiap pulang melihat istrinya.


"Duluan gih, aku mau ngurus kartu keluarga," ucap Alex memakai helm. Bersiap mengendarai motornya.


"Yaudah, nanti pulang belikan aku martabak telor sama siomay di jalan sana," ujar Edgar masuk ke dalam mobilnya.


"Hah? Itu buat apa?" tanya Alex heran.


"Istriku ngidam, dia pengen makan itu, tapi suruh Gojek yang belikan," jawab Edgar memakai sabuk pengaman.


"Sebentar, maksudnya ini aku jadi Gojek gitu?" Alex menunjuk dirinya. 


"Yah gak apa - apa lah seharian ini kau cosplay jadi Gojek." 


"Edgar!" bentak Alex, namun mobil Edgar duluan pergi.


"Aihh, aku pikir dia akan memberiku kebebasan, tapi sekarang aku merasa seperti babu, kalau begini, aku tidak usah muncul di depannya." Alex kesal. Tiba - tiba bahunya ditepuk dari belakang.


"Woy, gak usah ngeluh, mendingan kau pergi laksanakan perintahnya," ucap Gerry menyalakan rokoknya.


"Ehh, sialan. Kau enak, masih jomblo, belum nikah. Lah aku sudah nikah, punya istri dan anak yang mau diurus, harusnya Edgar sendiri yang pergi beli." Alex naik ke motornya, menggerutu sendiri.


"Dih, kayak gak pernah diposisi Edgar ajah," cetus Gerry agak kesal. Tentu ia ingat bagaimana dirinya yang dijadikan babu  saat Tania ngidam Samuel.


"Eh, Bagong. Waktu itu aku ikut Edgar mengambil senjata ilegal yang diselundupkan, jadi gak salah sih aku suruh kau."


"Terserah dah, aku mau pergi," ucap Gerry melambaikan tangan. Tidak mau berdebat dengan Alex.


"Mau kemana kau?" tanya Alex menarik kerahnya.


"Cari Pak Santo, Edgar menyuruhku menemukan pria itu untuk menjelaskan identitas Keylin yang asli pada keluarganya," jawab Gerry dengan muka datar.


"Sekalian aku sedang mencari istri," lanjutnya menghembus nafas berat.

__ADS_1


"Kau mau nikah? Udah serius pengen nikah?" tanya Alex.


"Gak," jawab Gerry cepat.


"Lah, terus .. ngapain nikah?"


Gerry menepis tangan Alex kemudian menjawab terpaksa, "Aku sedang dalam ambang kematian."


"Hahaha, ngomong apa sih? Sok lagi keadaan sekarat ajah," tawa Alex tidak paham.


"Eh, pirang. Keluargaku menginginkan cucu, dan aku mau ke wilayah musuh mencari Pak Santo di sana dan sekalian juga membantu Bryan, pewaris worlfard yang tahtanya ingin direbut kembali."


Alex memegang dagunya. "Oh jadi maksudnya…."


"Aku membutuhkan istri untuk berjaga - jaga, kalau aku mati di sana, keturunan ayahku akan berakhir sampai di sini dan tidak ada yang bisa mengatur para gangster ku, jadi sebelum aku mendatangi wilayah musuh, aku mau menikah terus tanam benihku."


"Kalau kau gak jadi mati, gimana?" tanya Alex.


"Bagus dong, aku tinggal ambil anakku saja. Walau nanti si Mak lampir ngamuk, aku akan coba menghadapinya," jawab Gerry yang punya Ibu tiri dan karena Ibu tirinya masih muda, Gerry tidak mau digodain olehnya. Itu sebabnya Gerry lebih nyaman tinggal di markas semenjak ayahnya meninggal.


"Jadi …."


"Dih, padahal aku mau menawarkan diri jadi wali nikahnya, tapi emang dia udah punya calon?" Alex menggaruk kepalanya. "Entahlah, lebih baik aku pergi mengurus keluarga kecilku." Ia pun meninggalkan markas besarnya.


***


"Eh, Mama mau kemana?" tanya Justin heran melihat Regina menyeret koper keluar dari rumah.


"Mama mau balik, kata Edgar, sepupu kalian masih hidup," ucap Regina yang mendapat kabar dari sekretarisnya Justin.


"Nih, hapemu." Ia memberikan hape putra bungsunya.


"Alex? Alex masih hidup? Serius, Ma?" tanya Justin kaget sampai minuman di tangannya hampir jatuh.


"Iya, karena itulah Mama mau pulang mengeceknya sendiri." Regina menjawab kemudian bergumam dalam hati, 'Dan juga melihat hubungan Edgar dengan gadis itu. Inilah waktunya, aku pulang dan menyuruhnya pergi.' Regina tersenyum miring.


"Kau mau ikut pulang?" tanya Regina sambil mengecek tiket penerbangannya.


"Mau sih, tapi kuliahku tidak bisa aku tinggalkan, Ma."

__ADS_1


"Yaudah, Mama pulang duluan. Bulan depan, kalau kau ada waktu libur, pulanglah ke rumah. Mama ingin membuat pesta perayaan atas keselamatan sepupumu itu." Regina mengusap kepala putra bungsunya.


"Hm, okeh." Justin mengangguk dan tersenyum melihat Regina menaiki taksi. "Ihhh, kalau saja tidak kuliah, pengen banget pulang." Gerutu Justin pun masuk ke dalam kamar, mengerjakan tugasnya yang menumpuk, tugas kuliah dan juga urusan dari perusahaan keluarga.


***


Tepat Keylin selesai masak, Edgar pulang ke rumah. Aroma masakan Keylin yang tercium lezat membuat kedua kakinya itu dituntun ke arah dapur. Diliriknya wanita yang berdiri memakai celemek itu dan tidak sadar atas kepulangannya.


"Akhh! Astaga, Edgar." Keylin memekik. Terkejut tiba - tiba ada yang memeluknya dari belakang.


"Wihhh, enak nih." Edgar melihat tumisan di atas wajan.


"Tapi, hayo… lagi mikirin apa sampai bengong?" Colek Edgar menggelitik pinggang Keylin.


Keylin tersenyum dan kemudian melompat bahagia, ia memeluk Edgar yang hampir jatuh ke belakang, untung saja dapat menjaga keseimbangannya.


"Kau kenapa, sayang? Kok bahagia banget hari ini?" tanya Edgar ikut tersenyum senang. Keylin menarik nafas dalam - dalam, kemudian senyumnya tambah lebar. Dua hari yang lalu, Dokter datang mengecek kandungannya dan hasilnya ada dua malaikat kecil dalam perutnya.


"Aku hamil anak kembar."


"Anak kembar, serius?" 


Keylin mengangguk kecil. Sontak saja, Edgar mengangkat istrinya membuat Keylin syok, serasa ingin dilempar. Tapi Edgar pun kembali memeluknya. "Terima kasih, sayang." Bibirnya dicium dengan sangat bahagia dan cukup lama.


"Ed-edgar, tumis…tumis aku gosong!"


"Eh, astaga!" Keduanya kalang kabut melihat asap membumbung ke atas. Kemudian suami istri itu tertawa melihat isi wajan semuanya hitam.


"Ihh, jadi masak lagi," celetuk Keylin mengerucutkan bibirnya.


"Gak apa - apa, sayang. Sini aku bantuin kamu." Cubit Edgar gemas. Keduanya tampak menikmati kebersamaannya, beda dengan satu wanita di dekat pintu yang berdiri dengan raut wajah sedih.


Tania ingin sekali bicara pada Keylin, namun takut melihat reaksi adiknya itu. Ia masih tidak berani mengatakan hubungannya. Tiba - tiba seseorang membelai kepalanya. Tania menoleh pada Alex yang pulang membawa martabak.


"Jika kau terus begini, tidak akan ada kemajuan, sayang." Alex paham dengan ekspresi istrinya itu.


"Ya aku tahu, cuman bagaimana kalau —" putus Tania kala jari telunjuk Alex mendarat di bibirnya.


"Ayo, kita masuk. Makan bersama mereka dan malam ini kau harus katakan langsung padanya. Jangan lagi coba - coba menghindar." Alex menggandeng Tania masuk ke dapur. Ia tentu gemas melihat istrinya yang seolah terus menjaga jarak dengan Keylin dan penasaran bagaimana reaksi wanita itu yang sudah berbaik hati pada putranya, Samuel yang sedang tidur nyenyak di kamar.

__ADS_1


...


__ADS_2