
“Kamu bilang kamu punya videoku saat aku mandi yang kamu rekam diam-diam?” lirih Zee memastikan tapi sudah emosional meski ia masih menyikapi dengan tenang. Di hadapannya, Rendan mengangguk tanpa sedikit pun keraguan.
“Mana?” lanjut Zee bermaksud meminta bukti.
“Tentu saja aku tidak akan memberikannya sekarang. Jika aku memberikan sekarang, tentu masalahnya langsung selesai!” balas Rendan.
Kesal, bahkan wajah Zee sudah merah padam, Zee sengaja menggunakan kaki kanannya untuk menendang pangkal paha Rendan sekuat tenaga.
Rendan meronta-ronta, kesakitan dan berakhir terduduk.
“Ya ampun Zee, kalau punyaku jadi enggak berfungsi, masalahnya makin ribet, Zee!” rintih Rendan sembari meringis kesakitan.
“Mau enggak berfungsi bahkan busuk sekalipun, aku enggak peduli!” tegas Zee. “Bilangnya sayang. Bilangnya cinta, tapi selingkuhnya enggak pernah ada jeda. Lalu sekarang, kamu juga sampai mengancam! Memang dasar kamu buaya buntung! Laki-laki enggak bisa diuntung!” kesal Zee yang dengan sengaja melewati Rendan. Ia sengaja menginjak paha pria itu hingga Rendan makin meraung-raung kesakitan.
“Zee, sakit, Zee, ya Tuhan. Untung heels kamu enggak menancap di paha aku!” rintih Rendan.
Zee yang melangkah buru-buru juga kualat karena andai ia tak sigap berpegangan pada tembok gang, yang ada pasti ia terjatuh setelah keseleo.
“Si Rendan emang buaya buntung! Awas saja kalau dia sampai macam-macam lagi. Aku siram anunya pakai jus cabai lima kilo biar anunya kejang-kejang!” susah payah Zee melangkah karena memang sampai terpincang-pincang.
Zee menjadi kerap mengontrol langkahnya, hingga ketika mobil mewah Devano berhenti di depan sana, ia menjadi tak menyadarinya. Karena selain Zee yang tentu saja jadi tidak melihat, mobil Devano juga tipikal mobil yang suaranya tidak mencolok.
Bersamaan dengan Devano yang menurunkan kaca jendela pintu mobil sebelahnya, rambut panjang Zee yang awalnya disanggul modern mendadak tergerai. Kenyataan yang membuat dunia seorang Devano berputar lebih lambat. Devano langsung terpesona, tak bisa berkata-kata sekaligus tidak bisa mengakhiri tatapannya dari seorang Zee dan segala pesonanya.
“Sumpah, jantungku enggak aman!” batin Devano refleks memegangi dadanya menggunakan kedua tangan. Tatapannya memang masih terpaku pada wajah Zee, tapi kedua tangannya tetap bisa tetap sasaran.
Walau sudah memergoki Devano memandanginya nyaris tak berkedip, Zee tidak mempermasalahkannya. Bukan bermaksud tidak peduli, tapi karena Zee telanjur yakin, seorang Devano tak mungkin tertarik apalagi sampai mencintainya!
__ADS_1
“Kaki kamu kenapa?” tanya Devano benar-benar tenang.
“Si Rendan, sepagi ini sudah bikin masalah. Mana pakai mengancam segala!” sewot Zee.
“Lawan lah, jangan hanya diam!” Devano mendadak sewot.
“Sudah, tuh orangnya sampai enggak bisa bangun! Napas saja juga susah kayaknya!” balas Zee yang langsung duduk di sebelah Devano, setelah sang sopir juga sudah langsung membukakan pintu untuknya.
“Ini si Rendan mendadak mengejar-ngejar Zee lagi karena akhirnya dia sadar, Zee berkali-lipat lebih spesial dari Cheryl yang bisa dia ajak top up berulang-ulang, atau memang ada maksud lain?” batin Devano sambil sesekali melirik Zee yang tengah buru-buru mengikat tinggi rambutnya. Sumber yang kerap menjadi alasan Devano terpesona kepada wanita itu.
“Jadi, sejak kapan kamu sadar, Rendan enggak baik buat kamu? Awalnya sekelas kamu saja bucin ke dia, kan?” tanya Devano setelah ia juga meminta sang sopir untuk segera mengemudikan mobil.
“Dulunya, si Rendan juga baik, Pak!” yakin Zee.
Tanpa menatap Zee, Devano bertanya, “Jadi, sejak kapan dia berbeda? Kamu menyadarinya, enggak? Dia sudah mengkhianatimu sejak lama, kan?”
“Perbedaan paling mencolok itu ya ... dua minggu sebelum pernikahan kemarin. Aku sibuk urus persiapan pernikahan sendiri. Dia sulit dihubungi dan selalu bilang sedang keluar kota dengan lama waktu yang tidak bisa ditentukan, hingga akhirnya keputusanku ke apartemen Cheryl untuk meminta pendapat mengenai undangan pernikahan kami, justru menjadi awal mula aku mengetahui pengkhianatan mereka.”
“Terserah orang-orang menganggapku kuno apa bagaimana. Namun seperti yang aku katakan tadi, yang nikah saja bisa bercerai, apalagi yang belum apa-apa?” Zee mengakhiri ucapannya dengan mendengkus pasrah.
“Masa, sekadar ciuman saja, Zee belum mau kalau belum menikah? Dengan kata lain, dia hanya akan mau kalau itu dengan suaminya?” batin Devano yang masih diam-diam mengawasi Zee.
Setelah menyimak cerita Zee yang memiliki prinsip pantang ciuman apalagi tidur bersama sebelum menikah, Devano menjadi kagum. Di era yang serba modern dan sebagian sudah terbiasa melakukan pergaulan bahkan seksss bebas, Zee masih berpegang teguh pada prinsipnya. Zee bahkan rela kehilangan laki-laki yang nyaris menikahinya dan otomatis pernah sangat Zee cintai karena keduanya menjalin hubungan atas dasar saling cinta.
“Jadi, ... nyesel enggak karena harus kehilangan Rendan?” Devano bertanya dengan hati-hati. Ia bahkan melakukannya tanpa menatap bahkan sekadar melirik Zee.
“Enggak dong! Malahan aku bersyukur karena Tuhan sudah tunjukin sifat asli dia sebelum kami menikah dan melangkah lebih jauh! Yang ada, dia yang menyesal karena kehilangan wanita berkualitas seperti aku!” balas Zee penuh percaya diri. Namun, ia malah mendapat polesan di punggung kepalanya oleh sang bos.
__ADS_1
“Pak Vano, ... sakit tahu!” lirih Zee sambil memegangi bekas polesan gemas seorang Devano.
“Ya kamu, terlalu percaya diri!” balas Devano belum mau menatap bahkan sekadar melirik Zee.
“Aku kan belajar dari Pak Vano!” yakin Zee yang langsung bingung setelah ditodong mengenai Rayyan.
“Kok mendadak bahas Rayyan?” ucap Zee malah balik bertanya.
“Ya sudah dijawab saja, apa susahnya?” sewot Devano sambil menatap yang bersangkutan.
“Y-ya, memang biasa saja, Pak!” yakin Zee.
“Tapi kemarin malam pas saya ketiduran karena kelelahan, dia anterin kamu pulang!” sewot Devano, yakin seyakin-yakinnya.
“Lah memangnya kenapa? Aku saja sering diantar pulang sama tukang ojek, enggak Pak Vano minta pendapat!” balas Zee yang memang tidak tahu arah perbincangan Devano maksudnya karena sebenarnya, pria itu cemburu kepada Rayyan.
“Ya maksudnya, Zee. Dia kan tampan, lemah halus karena dia enggak hanya lemah lembut. Dia juga perhatian dan sweet banget! Masa sebagai wanita dan harusnya kamu masih normal, kamu enggak bersimpati apalagi tergoda?” omel Devano.
“Sumpah, Pak! Biasa saja!” yakin Zee sampai meletakan kedua tangannya di atas kepala Devano hingga pria itu panik.
“Apa-apaan? Kalau kamu ada rasa ke dia, yang ada sumpah kamu kena aku beneran!” kesal Devano buru-buru menghindar.
Tanpa mau kembali berdebat, Zee sengaja membuka bekal minumnya. Berbicara panjang lebar apalagi sampai berteriak karena melawan Devano, membuat tenggorokannya terasa kering.
Sementara itu, Devano yang mendengar Zee menenggak minuman juga langsung terusik. Ia langsung menoleh sekaligus menatap Zee. “Zee, saya belum sempat sarapan loh, gara-gara khawatir ke kamu karena semalam saya ketiduran.”
Pengakuan melow dari seorang Devano barusan langsung menggetarkan hati Zee. Zee menatap tak percaya Devano. Namun beberapa saat kemudian, ia memotret Devano yang melahap nasi goreng di kotak bekalnya.
__ADS_1
Zee mengirimkan foto maupun video Devano yang sedang makan dengan sangat lahap tersebut, kepada ibu Arnita yang sebelumnya telah lebih dulu mengabari, bahwa putra kesayangannya belum sempat sarapan hanya karena terlalu khawatir kepada Zee.
“Jujur, bersama pak Vano tetap jadi momen paling mendebarkan sekaligus membahagiakan. Apalagi setelah tahu dia sampai lupa sarapan hanya karena terlalu khawatir ke aku,” batin Zee yang kemudian membukakan sebotol air mineral masih segel, kemudian memberikannya kepada Devano. Pria itu sempat bengong, tapi berangsur menerima. Seperti biasa, tanpa ada kata terima kasih. Hingga Zee sengaja bilang, “Sama-sama Pak Vano.” Namun tetap saja, pria tampan itu hanya meliriknya sinis sambil tetap menenggak air mineralnya.