
Zee terdiam tak percaya menatap Devano yang masih menatapnya dengan begitu teduh. Ketulusan yang membuncah, kepedulian, kesungguhan, yang juga diliputi kepedihan, terpancar dari tatapan Devano sekarang. Dengan jarak wajah mereka yang begitu dekat, Zee merasa bisa masuk ke dalam tatapan seorang Devano.
Hati wanita mana yang tidak tersentuh ketika pasangan yang merawat sekaligus mencintainya dengan tulus, mengajaknya menikah dengan dalih, agar pria itu bisa merawatnya dengan leluasa? Agar mereka tak lagi susah payah menjaga jarak. Juga, agar mereka bisa segera memiliki keluarga kecil bahagia bersama anak-anak yang akan segera hadir mewarnai hidup mereka?
Sungguh impian yang begitu manis, benar-benar membahagiakan, walau Zee baru membayangkannya. Zee percaya, Devano mampu mewujudkan impian indah untuk masa depan hubungan mereka. Karena memang setanggung jawab itu pria yang selama ini ia anggap sebagai kompeni dalam hidupnya.
Tanpa mengusik sikap kejam seorang Devano yang juga sangat kaku, pada kenyataannya, Devano merupakan pria yang sangat baik. Selain sangat tanggung jawab, Devano juga pria yang sangat setia. Ibu Arnita bilang, Devano sangat mirip dengan sang papah yang akan selalu menyayangi pasangannya. Devano tipikal sosok yang lebih memilih dirinya terluka ketimbang pasangan termasuk anak-anaknya, yang merasakannya.
“Aku merepotkan, ya?” tanya Zee di tengah rasa sesak yang melanda.
“Kamu hitam, tapi aku sayang banget ... aku sayang banget ke kamu!” jawab Devano jujur tapi memang sengaja mengalihkan pembicaraan, agar kebersamaan mereka tidak diselimuti banyak kesedihan.
“Jangan mengalihkan pembicaraan!” kesal Zee.
“Menagihkan pembicaraan bagaimana? Ini sebenarnya kamu mau langsung menikah, enggak? Jangan bikin emosi dan menjadikan penghulu sebagai korbannya!” kesal Devano dengan suara lantang hingga Zee panik dan buru-buru membekap mulutnya menggunakan kedua tangan.
__ADS_1
Zee tersenyum geli sembari menarik tangan kanannya dari mulut Devano. “Mau banget! Bo*d*oh kalau aku sampai menolak bahkan sekadar menunda!” Zee menjadi tertawa kecil lantaran balasannya sukses membuat kedua pipi Devano merah.
“Sekalinya romantis beneran enggak kaleng-kaleng!” ucap Zee sembari membingkai gemas wajah Devano menggunakan kedua tangannya.
“Jangan bikin jantungku enggak aman!” keluh Devano lirih sambil melirik sebal Zee. Kendati demikian, kedua tangannya berangsur mendekap mesra tubuh Zee.
“Kenapa salah satu alasan Devano ingin segera menikahi Zee, agar Devano bisa merawat Zee dengan leluasa? Memangnya Zee sakit bahkan sakit parah?” pikir Rayyan yang langsung terkejut karena teguran yang dilayangkan Devano. Seperti biasa, Devano mengomel, tapi kali ini Rayyan merasakan banyak perbedaan dari cara Devano memperlakukannya.
“Gob*l*okmu jangan diformalin. Ke Zee saja dia tega. Dia pun dengan sengaja mencuri berkas rahasia milikku. Apalagi ke kamu yang aku yakin, sering menind*a*snya dan membuatnya kesal! Sudah, balikkin lagi ke kandang!” omel Devano ketika Rayyan sudah ada di hadapannya.
“Kalau kamu memang peduli bahkan sayang Zee, kamu enggak akan pernah menyakiti Zee, apalagi melakukannya dengan sengaja!” lanjut Devano. “Mikir yang benar karena kamu bukan anak kecil yang bisa seenaknya main-main! Sekali Cheryl berulah dan menggondol as*e*t perusahaan, bangkrut kamu! Hidup di jalanan kamu sekeluarga!”
Zee sengaja tetap mendekap Devano lantaran kal ini, pria yang baru saja mengajaknya menikah, benar-benar emosi. “Rayyan, ... jangan sampai apa yang kami khawatirkan benar-benar terjadi. Lihat mamah kamu, lihat papah dan adik-adikmu. Paling tidak jika memang kamu belum bisa peduli kepada dirimu dan juga nasib ribuan karyawan di perusahaan, ... setidaknya kamu jangan mer*am*pas kebahagiaan mereka.”
“Kenapa kalian selalu menyalahkanku hanya karena aku memperkerjakan Cheryl?” sergah Rayyan sengaja melakukan pembelaan.
__ADS_1
“Tidak semua rasa sayang ditunjukkan dalam bentuk dukungan, Rayyan. Jelas-jelas kamu akan lompat ke jurang, tak mungkin kami mendukung apalagi mendorong kamu agar secepatnya jatuh karena kami sungguh-sungguh peduli ke kamu!” balas Zee masih lirih dan sengaja menjaga ucapannya dari tamu undangan lainnya.
“Jangan hanya melihat seseorang dari penampilan termasuk itu dari ucapan. Kak Devano memang keras, tapi alasan dia keras kepadamu karena Kak Devano peduli. Kak Devano sangat peduli kepadamu.” Zee sengaja menjeda ucapannya dengan terus menatap dalam kedua mata Rayyan. Kedua mata yang selalu menatapnya penuh ketenangan sekaligus keteduhan itu perlahan menjadi bergetar, merah, dan juga basah.
Masih dalam hitungan detik, Rayyan juga tidak berani menatap Zee. Tampang Rayyan benar-benar tampang khas orang yang merasa bersalah.
“Sekarang aku kembalikan kepadamu. Kamu begitu santun. Kamu sangat lembut, tapi apa yang kamu lakukan sama sekali tidak mencerminkan penampilan sekaligus sikap kamu. Kamu hanya terlalu pandai menyembunyikan semua sen*ja*ta kamu yang ingin selalu mengalahkan Kak Devano. Ibaratnya, kamu tidak berbeda dengan Cheryl yang selalu ingin merebut apa yang aku miliki. Padahal selama ini, baik kamu maupun Cheryl sama-sama merasa lebih baik dari kami!” lanjut Zee. “Jika sesuatu sampai terjadi dan mamah, keluarga kamu, dan juga perusahaan harus menanggung ulahmu, ... aku akan menjadi orang pertama yang akan mencarimu!” lanjut Zee kali ini benar-benar marah kepada Rayyan walau ia masih berucap dengan lirih.
Rayyan menatap tak percaya Zee yang sampai berkaca-kaca masih menatapnya. Kedua mata Zee yang juga sudah sangat merah, menatapnya nyaris tak berkedip. Zee terlihat jelas marah kepadanya.
“Kamu berhak memiliki kehidupan lebih baik. Jangan dilanjutkan, berhenti dari sekarang dan hiduplah dengan tenang karena aku yakin, hidupmu yang sekarang tidak membuatmu tenang. Karena jangankan tenang, bahagia saja kamu tidak. Padahal, keluargamu sangat peduli kepadamu. Itu kenapa sangat penting bagi kita untuk mensyukuri apa yang kita punya. Kamu dikasih keluarga yang sangat baik, kamu diberi kehidupan enak, eh kamu malah begini. Jangan sampai Tuhan mengambil semua kemudahan dalam hidup kamu hanya karena Tuhan marah karena kamu justru menyia-nyiakan semua pemberian-Nya!” lanjut Zee. “Ya sudah, ... kami benar-benar akan menikah jadi jangan merusuhi hubungan kami karena andai kamu jadi kami, kamu tidak mungkin bisa sampai di titik ini!” tegas Zee lagi.
Zee memang melangkah pergi membawa Devano menghadap orang tua mereka untuk membahas rencana pernikahan yang tiba-tiba tercetus, setelah ia menatap Rayyan penuh peringatan. Namun, Zee juga turut menggandeng Rayyan, menjadikan pria itu bagian dari kebahagiaannya dan Devano. Itulah cara yang Zee lakukan untuk merangkul Rayyan yang selama ini terlalu dimanja.
Iya, Zee yakin alasan Rayyan seperti sekarang karena Rayyan terlalu dimanja. Hingga seberapa pun kemudahan yang pria itu dapatkan, Rayyan akan tetap merasa kurang. Persis seperti Cheryl yang tidak pernah bersyukur.
__ADS_1