Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
42 : Masih Di Singapura


__ADS_3

“Bedanya Devano sama pasangan yang dulu, terasa banget, enggak?” tanya ibu Arnita berbisik-bisik sambil menikmati es krim contongnya.


Pertanyaan yang juga langsung membuat syaraf Zee menegang. Zee takut pertanyaan tersebut malah sengaja untuk menjebaknya.


“Harusnya sih beda. Soalnya Devano mirip papahnya. Papahnya Devano kan tanggung jawab banget, romantis juga walau tampangnya cuek begitu,” cerita ibu Arnita lagi.


Ternyata ibu Arnita sedang curhat karena sebelum dinikahi pak Restu, ternyata ibu Arnita sudah nyaris menikah. Baca novel : Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak.


“Iya. Memang beda banget, Mah. Malahan sepertinya kisah percintaan kita memang sebelas dua belas!” Zee membalas dengan berbisik-bisik juga. Di depan mereka, Devano tengah menjawab telepon dari pak Restu. Mereka sedang di sekitar patung singa putih yang menyemburkan air mancur.


“Tapi dulu, Mamah bukan istri pertama,” lirih ibu Arnita yang menjadi sendu.


Zee langsung memelotot syok mendengarnya. “K-kok bisa, Mah?!” tanya Zee refleks. Ia mendadak mingkem, menyayangkan kenapa ia sampai bertanya. Ia terlalu takut dianggap sebagai calon menantu durhaka.


“Mamah dijebak,” balas ibu Arnita jujur.


“Papah yang melakukannya?” sergah Zee menebak, dan lagi-lagi langsung mingkem, menyesali kelancangan mulutnya yang memang tidak memiliki rem. “Ya ampun, Mah ... maaf. Ini mulutku beneran enggak ada remnya! Tapi masuk akal sih kalau papah sampai begitu, pas muda Mamah pasti cantik banget, makanya papah nekat!” ujar Zee, tapi ibu Arnita yang masih menikmati es krim layaknya dirinya, menggeleng.


“Saudara tiri Mamah, dia suka calon suami Mamah yang saat itu merupakan anak kades,” cerita ibu Arnita.


“Kades, ... kepala desa, maksudnya, Mah?” tanggap Zee yang memang masih menyimak, dan ibu Arnita langsung mengangguk-angguk.


Zee terdiam sejenak, mengernyit hingga ia mendapati kerut tipis saling menumpuk di dahinya. “Memangnya, Mamah dari desa?”


Tersipu malu, ibu Arnita berkata, “Bukan desa lagi, tapi malah kampung paling pelosok!”


“Wah ...?” ucap Zee refleks. Merasa takjub, tak percaya dengan pengakuan ibu Arnita. Ibu Arnita asli orang kampung bahkan pelosok? Sama sekali tidak ada tanda-tanda karena selain bersih, cantik, elegan layaknya orang kota kebanyakan, ibu Arnita juga tipikal wanita yang cerdas. “Harta dan tahta kan bisa mengubah seseorang termasuk mengubah fisik maupun sikapnya!” batin Zee.


“Sudah puas kan, foto-foto di sininya?” tanya Devano yang sudah kembali menghampiri kebersamaan ibu Arnita dan Zee. “Zee, kamu beneran mau renang di kolam air mancurnya?” Ia fokus menatap Zee yang baru saja ia pergoki bertukar senyum semringah dengan ibu Arnita.


“Yang benar saja, ... nanti kalau beneran iya, kamu bilangnya aku bikin malu!” balas Zee mengomel kepada Devano, dan sukses membuat ibu Arnita tertawa sampai lemas.

__ADS_1


“Ya sudah, ayo kita belanja oleh-oleh,” ucap Devano yang menggandeng sebelah tangan Zee maupun ibu Arnita, yang tidak memegang es krim contong.


“Mau beli apa, sih?” tanya ibu Arnita.


Zee hanya menyimak, menatap Devano maupun ibu Arnita sambil menghabiskan es krimnya sebelum diprotes Devano lantaran es krim yang pria itu belikan tak kunjung habis.


“Beli beberapa herbal buat Zee. Ke depannya, Zee kan bakalan makan bersih. Biar dia makan bersih ala orang chinese yang serba kukus, godok, dan memang minim goreng-goreng,” ucap Devano.


“Oke ... oke. Berarti sekarang, mending kita makan serba bersih saja. Paling Sabtu Minggu boleh makan agak merdeka dikit,” ucap ibu Arnita.


“Itu jauh lebih baik,” tanggap Devano masih datar.


“Kalian mau sekalian beli cincin?” tawar ibu Arnita sambil menatap wajah Zee maupun Devano, silih berganti.


Zee langsung kikuk, lain dengan Devano yang langsung berucap sanggup.


“Kita masih punya banyak waktu karena kita sudah mundur penerbangan di malamnya. Kamu kalau capek, bilang. Bilang, jangan hanya dibatin karena aku bukan duk*un karena duk*un saja enggak selamanya bisa menerawang batin seseorang!” Devano menatap saksama Zee, dan lagi-lagi membuat mamahnya tertawa sampai lemas.


“Pilih yang produk Kore*a, mahalan dikit nggak apa-apa,” ucap Devano kepada Zee yang akan mengambil buah kering. Zee bingung mengambil yang mana, tapi tangan Devano dengan cekatan memberikan beberapa bungkus buah kering pilihannya kepada Zee.


“Ini orang selalu kasih kesulitan di setiap perhatian yang dia berikan,” batin Zee kerepotan mendekap buah kering pemberian Devano karena ia diberi sepuluh bungkus berukuran besar sekaligus.


Seolah bisa membaca gelagat kesal dari sang calon istri, Devano yang walau melangkah pergi sengaja menendang ranjang belanjanya tepat ke depan perut Zee, bertepatan dengan buah kering dalam dekapan Zee yang berjatuhan.


“WAH?!” ulah Devano sukses membuat Zee terpesona.


“Enggak usah terpesona. Lama-lama kamu pasti terbiasa karena aku memang produk langka!” ucap Devano yang walau melangkah, tetap menoleh sekaligus menatap Zee.


Braaaak! Devano tak bisa pamer lagi karena baru saja, ia menabrak rak lemari berisi aneka herbal yang didagangkan.


Zee terikiki. “Takut dosa, tapi sudah ketawa!” ucapnya sambil membantu Devano yang juga langsung jengkel menahan malu.

__ADS_1


“Sudah, kamu ya. Makanya, sombongnya dikurangin. Sombong sama malu-maluin diri kan beda tipis!” yakin Zee sambil memapah Devano yang ia yakini sampai pusing gara-gara menabrak rak lemari herbal di sana, dan sebagian herbal yang dikemas dalam aneka ukuran, juga sampai berjatuhan.


“Jangan keras-keras, diuyek gitu, itu beneran sakit!” rengek Devano aji mumpung sengaja bermanja kepada Zee, memeluk sekaligus bersandar.


Zee yang sadar Devano sedang modus, tak kuasa menahan tawanya. “Ini yang sakit siapa, yang manja siapa?” ucapnya sengaja menyindir.


“Jangan keras-keras ih, ngomongnya. Malu kalau dilihat mamah!” bisik Devano tak lagi sibuk meringis apalagi merintih.


Zee sengaja menahan tawanya daripada kembali disemprot oleh Devano.


“Aku mau beli buat papah kamu juga. Ke sana, nah itu ada mamah di sana,” ajak Devano. Ia menggandeng Zee, membawanya ke ibu Arnita yang sudah tampak sibuk memilih herbal di lorong depan.


Selesai belanja herbal, yang langsung menjadi tujuan ketiganya adalah toko perhiasan. Ibu Arnita sangat antusias memberikan banyak rekomendasi.


“Tunangan emas putih. Kalau nikahan emas Devano!” ucap ibu Arnita sengaja bercanda, tapi sukses membuat calon menantunya ikut tertawa.


“Mamah kamu selawak itu, kok kamu sekaku ini?” bisik Zee di tengah tawanya kepada Devano.


“Pas diproses kayaknya memang kurang pelembut, makanya aku jadi sekaku ini!” balas Devano dengan berbisik-bisik juga di tengah tatapannya yang fokus ke cincin pasangan warna putih dalam cepuk hati warna putih. Satu cincin untuk wanita berhias batu permata terbilang besar dan sangat berkilau. Satunya lagi polos dan Devano yakini sebagai cincin untuk laki-lakinya.


Zee langsung tertegun menatap cincin pilihan Devano yang baginya terlalu indah. Itu cincin idaman kebanyakan wanita. Ia membiarkan Devano memasangkan cincin yang dikata ibu Arnita berlian, di jari manis tangan kirinya.


“Itu bagus ... cantik banget!” lirih ibu Arnita yang kemudian meminta Zee untuk memakaikan cincin yang satunya lagi, ke jari manis tangan kiri Devano. Ia masih menjadi pengawas sekaligus satpam kebersamaan Devano dan Zee.


Di tempat berbeda, di ruang kerjanya, Rendan makin kesal pada pesan peringatan yang dikirimkan oleh pihak pinjo*l. Namun karena Rendan tidak merasa meminjam, lagi-lagi yang pria itu lakukan adalah memblokir setiap nomor dari pihak pinjaman online.


“Hah! Coba, Zee bikin status apa lagi setelah semalam foto gelap-gelapan di pelukan Devano.” Rendan yang memang sengaja melihat status WA Zee, langsung melongo melihat sepasang cincin putih dan ia yakini sebagai berlian.


“Mereka beneran akan menikah?” Rendan langsung berpikir keras. Terlebih, foto yang juga baru saja Zee pasang sebagai status yaitu foto Zee yang mendekap erat ibu Arnita dari samping sambil tersenyum ceria, di sebelah patung singa putih khas yang ada di Singapura, seolah membenarkan kecurigaan Rendan.


“Ini beneran di Singapura, apa suasana Singapura kawe di sebelah?” Rendan makin merasa terbanting. “Kalau Zee beneran sama Devano, berarti ini asli. Bisa-bisanya Zee bahagia di atas kesengsaraanku!” kesal Rendan.

__ADS_1


__ADS_2