Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
47 : Persiapan Untuk Malam Pertama


__ADS_3

Sesuai rencana, Devano menghentikan mobilnya di galeri mal yang kini dipimpin Rayyan. Ia memilih tempat parkir depan karena yakin hanya akan di sana sebentar. Bersama Zee, ia melangkah memasuki tempat yang biasanya menjadi bagian dari pekerjaan mereka.


Devano memang tidak menggandeng Zee, tapi Zee berinisiatif mendekap lengan kanan Devano menggunakan kedua tangannya. Devano sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang Zee lakukan karena pada kenyataannya, Devano hanya lupa menggandeng Zee. Devano telanjur terbiasa apa-apa melenggang sendiri. Pria berusia tiga puluh satu tahun itu sudah terbiasa menjadi bujangan yang tidak terikat peraturan dalam sebuah ikatan.


Beberapa dari mereka apalagi karyawan di sana yang tentu saja mengenal mereka, langsung menjadikan kebersamaan kedua sejoli itu sebagai fokus perhatian. Kedua sosok yang awalnya hanya bawahan dan atasan dan itu jarang akur, kini malah tampil layaknya pasangan. Padahal terakhir, Devano malah memecat Zee dengan keji. Namun kini, dunia seolah terbalik.


Kedatangan Devano dan Zee yang juga langsung mendapat sambutan bingung dari karyawan, langsung sampai ke telinga Rayyan. Ajudan Rayyan yang mendapat kabar, kemudian langsung menyampaikannya kepada Rayyan yang ia jaga selama dua puluh empat jam.


“Pilih yang kamu suka, nanti aku yang bayar!” ucap Devano yang langsung dibalas, “Sombong!” oleh Zee. Tentu calon tunangannya itu hanya meledek. Terbukti, Zee melakukannya dengan menahan tawa. Selain itu, Zee juga sibuk mengelus dahinya yang merah dan itu bekas sepatu flat-nya.


“Harusnya kamu bersyukur, dikasih pasangan sempurna seperti aku. Tampan, good looking, cerdas, pintar cari uang, setia enggak seperti Rendan. Bukan malah dianiay*a dibikin caca*t begini!” keluh Devano tapi ia melakukannya dengan suara lirih.


“Ucapanmu penuh sensor. Kalau kamu tampil di layar kaca, wajah kamu pasti bisa sampai diblur!” balas Zee masih mengelus-elus dahi Devano.


Zee yang awalnya fokus mengelus kening Devano yang memang sampai agak lebam walau tangan Devano sibuk meraih ke sekitar, langsung syok lantaran tangan kanan Devano membawa hanger berisi lingeri*e super sek*si warna hitam.


“Balikin!” omel Zee yang memang sampai mendelik.


“Apa salahnya? Yang salah, kalau aku yang pakai, kan?” balas Devano berbisik-bisik.


Zee masih belum bisa berkata-kata lantaran terlalu syok. Namun, ulah Devano juga sukses membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Dadanya sampai terasa pegal.


Bergegas Devano melipir, memilih koleksi aneka dalam*an wanita di sana. “Buat persiapan malam pertama!”


“Masih lama, kan?” lirih Zee mengikuti ulah ajaib seorang Devano yang memang sangat sulit untuk ditebak.


“Enggak sampai dua bulan lagi. Sudah, kamu pilih saja. Kamu suka yang mana?” Devano benar-benar bersemangat. Memilih secara detail

__ADS_1


Lain dengan Devano, Zee masih merasa sangat malu. Zee belum siap mental belanja dala*man bersama orang lain apalagi itu bersama Devano. Karena jangankan dengan Devano, dengan Cheryl saja, Zee malu. Selama ini Zee selalu membeli yang berkaitan dengan koleksi dalam*an, secara online.


Devano mengepaskan pilihannya pada Zee dan itu membuat Zee panik sepanik-paniknya. Zee langsung melipir.


“Jangan dipas-pasin gitu, kenapa? Malu!” protes Zee dan hanya berani melakukannya lirih. Berada di sana bersama Devano saja, sudah membuat ya deg-degan dan kerap mengawasi sekitar.


“Malu kenapa? Kita di sini mau beli, enggak nguti*l kayak Cheryl!” balas Devano masih sewot, tapi kali ini meyakinkan.


Balasan Devano yang sampai membahas kasus Cheryl pernah nguti*l di sana, membuat Zee tidak bisa untuk tidak tertawa. Zee menggunakan tangan kanannya untuk membeka mulut Devano yang tak memiliki rem, sementara tangan kirinya bertumpu pada punggung kepala Devano.


“Kamu kalau ngomong, ya. Enggak tahu ini, gimana nasib anak-anak kita kayak apa, kalau papahnya saja nyerocos enggak ada rem kayak kamu!” ucap Zee di tengah tawa lirihnya.


“Ini coba, pas enggak.” Ada lima hanger yang Devano berikan kepada Zee.


Zee langsung menggeleng.


“Aku anti coba-coba pakaian di mal atau tempat umum lainnya, takut ada orang jail yang sengaja pasang kamera pengawas buat koleksi!” ucap Zee.


Devano yang tak mungkin memaksa, refleks menghela napas dalam. Ia mengepaskan setiap pilihannya ke tubuh Zee. Namun ia juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk jail kepada Zee yang ia pergoki menjadi gelisah tak karuan. Tak kalah mencolok, pipi Zee sampai merah.


“Pipi kamu merah, loh!” ucap Devano di sela tawanya.


Malu-malu dengan ekspresi yang begitu manja, Zee berkata, “Kan kamu sendiri yang bilang kalau sekarang, kulitku jadi lebih putih. Gara-gara nginep di Singapura, kan, kata kamu?”


Devano menahan tawanya, merasa menang karena Zee sungguh tak lagi bar-bar apalagi kurang aja*r kepadanya.


“Memangnya kamu pengin banget punya kulit putih?” tanya Devano sambil menggandeng Zee, membawanya ke tempat pembayaran.

__ADS_1


“Enggak juga, sih. Dulu sempat pengin banget, tapi sekarang sudah biasa saja,” balas Zee.


“Ya iya. Bule saja sengaja bikin kulit mereka lebih gelap. Bersyukur kamu, punya kulit begini!” Devano membandingkan kulit tangan mereka yang memang tengah bergandengan.


“Ngej*ek?” kesal, Zee.


“Enggak!” yakin Devano tapi masih tertawa.


“Enggak salah?” balas Zee masih melirik sinis Devano.


“Sumpah, enggak! Beneran enggak salah, maksudnya!” Devano terbahak.


Kesal, Zee sengaja menggunakan kedua tangannya untuk mendekap tengkuk Devano kemudian mengunci pipi kiri pria itu dengan ciuma*n dalam walau mereka masih berjalan menuju tempat pembayaran.


Rayyan yang sedari awal sibuk memperhatikan dari lantai atas, sudah berulang kali kebakaran. Hati Rayyan remuk redam melihat keromantisan Zee dan Devano. Bukan hanya Devano yang terlihat jelas sangat mencintai Zee. Karena Zee pun demikan. Kini, masih di lantai bawah sana, Zee mengajak Devano menuju pakaian pasangan di sebelah.


“Jangan bayar dulu, aku mau pakaian pasangan. Pakaian olahraga, bagaimana?” ucap Zee.


“Boleh. Mau yang ragam basket apa celana training? Buat jalan pagi nemenin papah kamu juga oke.” Devano makin bersemangat. Namun karena wajah Zee sudah terlihat pucat dan berkeringat, Ia berinisiatif untuk menggendongnya.


“Enggak usah dulu. Jalannya pelan-pelan saja, aku masih kuat, kok!” yakin Zee.


Walau menyaksikan Devano sibuk mempermasalahkan wajah Zee yang pucat, dan Devano juga begitu khawatir ke kesehatan Zee, Rayyan sama sekali tidak berpikir bahwa Zee sedang sakit. Ia juga tidak berinisiatif untuk mencari tahu tentang Zee hingga ia otomatis akan mengetahui bahwa wanita yang ia cintai, sakit.


Pada kenyataannya, Rayyan memang tak secekatan Devano dalam menyelesaikan hal apa pun. Namun Rayyan akan selalu bersedih di setiap dirinya kalah jauh dari Devano.


Tak jauh dari Rayyan yang masih dikawal ajudan, Cheryl yang gayanya masih tetap *****i, melangkah mendekat. Cheryl yang langsung mengamati apa yang tengah Rayyan amati, langsung melongo melihat kebersamaan Zee dan Devano di bawah sana, yang benar-benar romantis.

__ADS_1


__ADS_2