
“Kamu sudah bosan hidup?!” Zee sudah hilang arah lantaran Rendan malah memperkeruh keadaan. Pria itu baru akan menjawab jika Zee mau melanjutkan pernikahan mereka.
Melihat Zee yang sampai menyugar asal rambutnya hingga berantakan, Rayyan yang masih menemani, segera mengamankannya. Rayyan meraih pergelangan tangan kiri Zee, menjauhkannya dari Rendan. Ia menaruh Zee di belakang punggungnya, hingga kini, ialah yang menghadapi Rendan.
“Katakan apa yang Zee mau, dan aku akan memberi apa pun yang kamu mau sebagai imbalannya!” tegas Rayyan bertutur lembut sarat pengertian kepada Rendan.
Rendan mengernyit serius. Ia menatap tak mengerti Rayyan yang memang tidak ia kenal. Beda dengan Devano yang sudah terbilang terkenal di kalangan bisnis bahkan laman gosip sekalipun. Tak hanya karena kinerja, tapi juga karena tampang Devano yang memang good looking.
Walau sudah kacau, apa yang Rayyan lakukan langsung mengusik Zee. Dari awal, pria itu terus menemaninya, bahkan walau ia terus menolak. Sementara kini, Rayyan akan bertaruh segalanya asal pria itu mengatakan apa yang Zee mau.
***
Sore sudah menyelimuti kehidupan ketika langkah seorang Zee sempoyongan Zee memasuki perusahaan. Zee masih ditemani Rayyan yang mengawal di belakang. Dan langkah Zee mendadak lebih pelan sebelum akhirnya benar-benar berhenti, walau ia belum lama melewati lobi. Di antara lalu lalang karyawan dan sebagainya memang akan pulang, Devano yang kali ini tampangnya lebih kejam dari kompeni, terdiam di tengah-tengah lorong sana. Devano sudah langsung menatapnya dengan keji. Tatapan datar cenderung malas.
“Kau menghilangkan dokumen penting yang saya titipkan?” ucap Devano dingin dengan suara lantang. Membuat suasana di sana mendadak mati karena semuanya kompak berhenti, menjadikannya sebagai fokus perhatian.
Padahal semuanya juga sadar, yang sedang diajak bicara oleh Devano itu Zee. Namun, semuanya kompak penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Zee merasa sangat frustrasi. Ikatan spesial yaitu menjadi kekasih pura-pura sang bos dan sempat membuat mereka makin dekat, seolah tidak ada artinya lagi. Kini, Devano terlihat jelas menganggapnya sebagai karyawan yang bisa diperlakukan semena-mena lebih dari biasanya.
__ADS_1
“Saya benar-benar minta maaf, Pak! Saya akui, saya salah!” ucap Zee sambil membungkuk-bungkuk. Tangan kanannya memegangi kaitan tas di pundak kanannya.
Rayyan tidak terima Devano menghakimi Zee di depan umum. “Kak Rayyan,” sergahnya tapi malah langsung menambah kemurkaan seorang Devano.
“Jangan ikut campur urusan orang lain apalagi urusan saya yang bahkan kamu tidak tahu duduk perkaranya!” sergah Devano tak terima. “Zee salah. Kesalahannya fatal dan dia mengakuinya. Bahkan jika saya mau, saya bisa menjebloskannya ke penjara!” lanjutnya masih menatap marah Rayya.
“Kamu bisa menegurnya baik-baik, bukan malah melakukannya di depan umum dan yang ada malah mempermalukannya seperti ini! Di dunia ini, yang punya masalah bukan hanya kamu!” kesal Rayyan tak mau kalah.
“Justru saya harus begini agar karyawan lain tidak ada yang seperti dia! Apa yang dia lakukan bisa menjadi pelajaran buat semuanya!” tegas Devano makin meledak-ledak. Kemudian, tatapannya berangsur fokus pada Zee lagi. Di hadapannya, Zee yang tampak berusaha tegar, tapi baru saja mulai berlinang air mata, lagi-lagi meminta maaf. Zee mengaku sangat menyesal.
“Saya benar-benar minta maaf, Pak! Saya benar-benar menyesal!” ucap Zee yang tidak bisa menyudahi air matanya. Ia sungguh gagal melakukan semua usaha termasuk usaha dalam menemukan berkas penting yang Devano katakan, lebih berharga dari nyawa Zee. Berkas yang juga membuat Devano tak segan menjebloskan Zee ke penjara andai Zee sampai menghilangkannya.
“Mulai sekarang juga, kamu saya pecat!” tegas Devano dan sukses membuat semua wajah di sana menunduk, tak berani menatapnya. Termasuk juga, Zee yang langsung mengangguk-angguk.
“Dokumen itu bagian dari upaya agar aku tidak bisa menggeser posisimu dari perusahaan ini, kan?” sergah Rayyan benar-benar kesal. “DASAR MANUSIA EGOIS! DASAR MANUSIA BERHATI BATU!”
Devano sama sekali tidak peduli pada ucapan Rayyan. “Singkirkan semua barang-barang kamu dari depan ruang kerja saya karena mulai hari besok juga, akan ada pekerja lain untuk menggantikan kamu!”
“Sudah ayo kita bereskan semuanya!” sergah Rayyan sembari menggandeng sebelah pergelangan tangan Zee.
__ADS_1
Zee yang walau sedang sangat mengharapkan sandaran, tetap tidak mau menerima gandengan tangan Rayyan. Ia menyingkirkan gandengan tangan Rayyan dengan hati-hati tanpa menatap yang bersangkutan. Kendati demikian, Rayyan tetap membantu Zee membereskan segala sesuatunya. Barulah ketika sampai di lobi setelah barang-barang Zee dibereskan dengan waktu super singkat, Zee memohon kepada Rayyan agar pria itu berhenti mengganggunya.
“Tapi, Zee!” Rayyan sungguh tidak bisa mengabulkan permohonan Zee.
“Tolong hargai keputusan saya!” yakin Zee. Ia memutuskan pergi sembari membawa kardus besar berisi barang-barangnya. Ia pulang menggunakan taksi, dan sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan hubungan Devano. Alasan yang juga membuat Zee meminta pak Lukman pergi dari rumahnya.
“Kenapa begitu, Mbak, Zee? Apakah saya, ... apakah saya telah melakukan kesalahan bahkan fatal?” tanya pak Lukman.
Zee yang duduk di hadapannya dan belum lama pulang, berangsur menggeleng. Walau terlihat tidak baik-baik saja, Zee juga masih berusaha tersenyum kepadanya.
“Enggak, Pak. Memang harusnya begini karena perhari ini, saya tidak lagi bekerja dengan pak Vano, dan kami pun sudah putus.” Zee menjelaskan dengan sangat santun. Selain itu, ia juga yakin, dipecatnya ia dari perusahaan dan itu tanpa uang pesangon sedikit pun, membuat sandiwara mereka otomatis ikut berakhir.
Pak Lukman terdiam lemas menatap tak percaya Zee. Mata wanita itu masih sangat sembam dipenuhi kesedihan. Zee yang biasanya semangat juga terlihat sangat lemas, mirip orang sakit.
“Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya juga tidak bermaksud ikut campur, percayalah Mbak. Kak Devano tulus menyayangi Mbak. Sebelumnya, pak Devano belum pernah sesayang itu kepada orang lain apalagi wanita. Mbak beneran satu-satunya!” yakin pak Lukman.
Tak mau mengecewakan, Zee sengaja mengangguk, membalas pak Lukman dengan senyuman yang begitu hangat. “Makasih banyak, Pak! Sekali lagi, benar-benar terima kasih banyak!”
Pak Lukman masih menatap sedih Zee. Terpikir olehnya, apakah masalah Zee sangat fatal, hingga sekelas Devano yang ia yakini sangat menyayangi Zee, berani melepas Zee?
__ADS_1
Malam sudah menyelimuti kehidupan ditemani angin lembab yang seolah tengah mengabarkan bahwa sebentar lagi, hujan akan turun. Sebuah taksi berwarna biru laut, menepi di depan pos satpam pintu masuk perusahaan fashion Devano bernaung. Dari pintu penumpang taksi tersebut, Cheryl keluar sembari memasang senyum kemenangan. Cheryl menggunakan kedua tangannya untuk memegangi kaitan tote bag warna maroon yang menghiasi pundak kanannya.
“Hai Devano Sayang, ... sebentar lagi aku datang memberikan berkas yang kamu cari! Terima kasih banyak karena sudah langsung memecat Zee karena aku siap menggantikannya!” batin Cheryl tak hentinya tersenyum penuh kemenangan sambil terus melangkah memasuki gedung pencakar langit berdominan kaca di hadapannya.