Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
40 : Lega


__ADS_3

Sebelum ke Singapura, Devano memang sudah mendaftar secara online untuk melakukan konsultasi khusus dengan dokter yang akan menangani Zee. Karenanya, mereka tak harus menunggu lama apalagi repot-repot mengantre.


Zee langsung menjalani serangkaian pemeriksaan walau saat di Jakarta, Zee sudah menjalaninya. Selama itu juga, tak hanya Zee yang sibuk berdoa dalam hati. Karena Devano dan sang mamah yang menunggu di luar ruang pemeriksaan juga melakukan hal yang sama. Keduanya sibuk mendoakan kesembuhan Zee.


“Kuatkan Zee, angkat semua penyakit dan rasa sakitnya ya Alloh!” batin ibu Arnita yang sudah mendekap erat Zee.


“Aku janji, aku akan selalu menyayanginya. Aku akan mencintainya, membahagiakannya walau sering kali, dia sangat berbakat membuatku kesal. Jadi aku mohon, tolong sembuhkan dia ya Alloh! Aku janji, aku akan menjadi manusia lebih baik lagi asal Engkau menyembuhkan Zee. Aku juga tidak akan dendam kepada Rayyan, walau ibaratnya, seumur hidupku aku sudah menghabiskan waktuku dengan menjadi kac*ungnya!” batin Devano.


Devano memang diam, tapi butiran bening tak hentinya berlinang dari kedua sudut matanya. Di dalam sana, Zee kembali masuk ke mesin yang mirip mesin penggal. Devano tak sanggup melihatnya. Ia menahan rasa sakit luar biasa hanya karena kenyataan kini. Hatinya seperti dicabik-cabik—terasa begitu menyakitkan, menghadirkan rasa sasak yang juga membuatnya makin tak berdaya.


“Pulang dari sini, aku mau lamaran yah, Mah. Bikin acaranya di hotel saja. Soalnya kalau bikin di rumah kita, takutnya Zee sama papahnya jadi kecil hati. Mamah kan tahu, Zee dan papahnya enggak mungkin benar-benar pindah dari kontrakan karena kontrakan itu punya kenangan khusus mereka dengan mamah Zee. Selain itu, kita juga enggak mungkin bikin acara di kontrakan Zee,” ucap Devano di tengah tatapannya yang kosong, walau kedua matanya masih sangat basah.


Devano yang berencana, tapi hati ibu Arnita yang berbunga-bunga. Ibu Arnita menjadi tak hentinya tersipu walau dari kedua matanya, butiran bening tengah mengurai kesedihannya atas pemeriksaan kesehatan yang Zee jalani.


“Pasti Sayang! Nanti langsung diatur, Mamah akan langsung urus!” sanggup ibu Arnita.


Devano tetap dengan kesedihannya. Tatapan yang tetap kosong, juga wajah yang benar-benar pilu.


Sekitar dua puluh menit kemudian, ibu Arnita dan Devano diizinkan masuk untuk mendengarkan penjelasan dokter. Dokter akan menjelaskan mengenai hasil pemeriksaan kesehatan yang baru saja Zee jalani. Zee sendiri menjadi terlihat lemas efek serangkaian pemeriksaan yang sepertinya membuat wanita itu kelelahan. Devano sengaja berdiri lantaran di sana hanya disediakan dua tempat duduk dan itu sengaja Devano berikan untuk sang mamah maupun Zee.


“Mereka akan berbicara dalam bahasa Inggris, kamu ngerti? Bahasa Inggrismu mirip orang nguap, kan?” bisik Devano sembari menepuk-nepuk dagu Zee yang ia bingkai menggunakan tangan kanan. Karena meski tatapannya fokus pada dokter dan juga tim yang terlibat dalam pemeriksaan Zee di sana, tangan kanan Devano malah sibuk membingkai dagu Zee.


“Aku sudah menyalakan alat perekam di hape, buat merekam penjelasan mereka. Biar pas keluar nanti, aku bisa pakai bantuan terjemahkan lewat aplikasi online!” balas Zee yang walau masih merasa lemas, tetap saja membalas apalagi ulah Devano makin membuatnya geregetan.


Devano langsung mesem, merasa menang sekaligus tenang karena Zee masih bisa membalasnya.


Dokter dan tim yang terlibat dalam pemeriksaan kesehatan Zee, secara bergantian menjelaskan keadaan Zee sambil menyaksikan gambaran keadaan jaringan kanker di tubuh Zee. Zee tidak sampai dirawat inap dan hanya diberi obat yang wajib dikonsumsi selama dua minggu berturut-turut. Selain itu, Zee juga wajib menjaga pola makan sekaligus pola istirahatnya. Zee harus menjalani hidup sangat sehat sekaligus steril. Tak ada lagi makanan maupun minuman instan. Tak ada lagi makanan yang hanya diolah setengah matang, apalagi yang masih mentah.


Ibu Arnita sampai sesenggukan sepanjang menyimak. Wanita itu terlampau bahagia hingga tak kuasa mengungkapkannya. Direngkuhnya tubuh Zee yang menunduk dalam di sebelahnya. Tak beda dengannya, Zee juga sudah sampai sesenggukan.


“Terima kasih banyak, ya Alloh. Aku pastikan, aku akan menepati janjiku!” batin Devano. Pipinya sudah basah karena air matanya yang sibuk berjatuhan.


***

__ADS_1


Malam telah menyelimuti kehidupan, membersamai kelegaan yang tengah Devano maupun Zee rasakan. Karena belum menyiapkan tiket pesawat untuk pulang dan tiket mendadak juga hanya ada yang untuk hari besok dan itu pun penerbangan siang, mereka terpaksa menginap di salah satu hotel terdekat dengan rumah sakit.


Zee tengah duduk di sofa sembari menonton acara televisi di kamar hotel mereka menginap. Sementara ibu Arnita tampak sibuk memotong buah melon di sebelahnya. Lain dengan Devano yang baru datang dan langsung menatap sebal Zee.


“Dari tadi aku telepon kok enggak nyambung-nyambung?” keluh Devano sembari duduk di sebelah Zee.


Zee menatap heran Devano. “Lagi dicas. Hapeku kan ngedrop!” balas Zee.


“Kakak dari mana? Dandan rapi gitu? Apa habis ketemu klien?” tanya ibu Arnita menyikapi keluh kesah Devano dengan sangat sabar.


“Niat hati nunggu Zee di taman depan, biar kesannya romantis kayak orang-orang. Eh, hapenya enggak bisa dihubungi. Ya jadi sesaj*i gratis buat nyamuk. Asli, ini ... lihat.” Jengkel, Devano sampai membuka jas maroonnya, menyisakan kaus polos lengan pendek warna putih. Sepanjang tangannya yang jauh berkali-lipat lebih putih dari Zee, menjadi dihiasi banyak bentol merah khas bekas gigitan nyamuk.


Walau merasa berdosa, Zee tetap tertawa. Ia segera meraih minyak telon dari tas obatnya kemudian mengoleskannya pada setiap bentolan di tangan Devano.


Demi mengalihkan pembicaraan khususnya meredam kemarahan Devano, ibu Arnita memberikan garpu ke Devano, kemudian Zee, meminta keduanya untuk segera makan potongan buahnya.


“Ini manis banget. Mamah beli yang super. Ayo coba! Ini kesukaan Didi, makanya tadi Mamah sengaja beli beberapa!” ucap ibu Arnita yang juga ikut makan menggunakan garpunya.


Sambil menyimak obrolan Devano dan ibu Arnita, Zee juga mulai melahap satu potongan buah melonnya. Namun, baru juga di gigitan pertama, jiwa mis*kinnya meronta-ronta. “Ini sih melon sultan! Manis banget! Isinya juga air dan wanginya enggak kalah dari parfum mahalnya Devano. Astaga, katro banget ih aku!” batin Zee.


Di sebelah Zee, Devano dan ibu Arnita masih sibuk membahas hubungan Didi alias Divani adiknya Devano, dengan sang kekasih yang bernama mas Aidan. Namun baru saja, Devano mendadak menyuapi Zee, membuat mulut Zee penuh, hingga Zee sulit mengunyah. Kenyataan tersebut terjadi setelah Zee ikut berkomentar, meminta Devano untuk tidak terlalu ikut campur hubungan Didi dengan mas Aidan, asal hubungan keduanya baik-baik saja, persis seperti saran ibu Arnita.


“Kamu harusnya dukung aku karena aku pacar kamu. Kamu enggak tahu kan, kalau mereka putus nyambung enggak jelas? Daripada mereka terus-menerus saling melukai, mending disudahi!” yakin Devano.


“Kenapa harus lihat orang lain, kalau kita saja enggak pernah akur?” balas Zee sambil terus mengunyah potongan buah melon di dalam mulutnya. “Yang namanya jodoh kan enggak kenal putus nyambung. Atau malah ribut dan jarang akur!”


“Kalau memang jodoh, pasti ya tetap sama-sama terus. Malahan aneh kalau ada pasangan adem tenteram. Berasa kurang greget ibarat makan gorengan anget-anget pakai cabe ijo! Uh!” tambah Zee lagi dan lagi-lagi mendapatkan dukungan penuh dari ibu Arnita.


“Ah, kalian. Malah jadi duo somplak begitu!” sebal Devano yang kemudian mengangkut piring berisi potongan buah melonnya, kemudian ia makan sendiri.


Zee dan ibu Arnita menjadi senyum-senyum sendiri. Namun, ibu Arnita yang sadar Devano ingin quality time dengan Zee sengaja pamit undur. Ia memilih pergi ke balkon untuk menghubungi sang suami.


“Biar kami saja yang ke balkon,” pinta Devano.

__ADS_1


Ibu Arnita langsung terdiam sejenak kemudian menatap Zee. Kekasih putranya itu langsung tersenyum kikuk. Membuatnya mengangguk-angguk kemudian mengizinkan Devano membawa Zee ke balkon kamar hotel mereka menginap.


“Ini buahnya dihabiskan, jangan ditinggal!” tegur ibu Arnita buru-buru mengembalikan piring berisi potongan buah melonnya, kepada Devano.


Sampai di balkon, suasana di sana benar-benar dingin. Angin yang berembus juga terbilang kencang. Rambut panjang Zee yang kebetulan digerai langsung berantakan.


“Mau masuk ke dalam saja soalnya di sini dingin banget?” tawar Devano.


Zee segera menggeleng. “Enggak apa-apa, yang penting jangan lama-lama,” ucapnya manis kemudian senganya menyamping ke tubuh Devano, kemudian menyandarkan kepala berikut tubuhnya ke tubuh Devano.


Devano membiarkan Zee melakukan apa yang wanita itu inginkan. Malahan tangan kirinya yang memegang piring berisi potongan buah melon, sengaja mendekap tubuh Zee.


“Habiskan dulu biar buahnya enggak mubazir. Kamu tahu, satu buah ini harganya tiga jutaan?” ucap Devano sembari menyuapi Zee.


Zee yang awalnya tak sampai mendekap Devano, berangsur menggunakan kedua tangannya untuk mendekap tubuh kekasihnya itu.


Sambil terus mengunyah, Zee berkata, “Sudah, kamu mau ngomong apa? Ayo ngomong, biar kita enggak semakin lama di sini.”


“Bukannya kamu malah seneng kalau kita lebih lama di sini?” balas Devano sewot, tapi kemudian tersipu.


“Akhirnya, kamu senyum juga. Sudah, ya ... jangan sedih-sedih lagi. Aku kan cukup jaga pola hidup, sama—” ucap Zee.


“Jaga hatimu juga, biar enggak sampai digondol kucing garong!” sergah Devano dan malah membuat Zee tertawa.


“Sekarang aku beneran mau ngomong serius!” ujar Devano.


Detik itu juga Zee terdiam seiring rasa tegang yang juga turut wanita itu rasakan.


Malahan, ia juga sampai tidak berani membalas tatapan kedua mata Devano yang menatapnya penuh keseriusan.


“Jangan bikin aku takut, ih!” ujar Zee lantaran Devano tak kunjung berbicara.


“Mau langsung nikah, apa tunangan dulu? Namun, ... mulai besok juga, kamu tinggalnya di rumah aku, yah, biar aku tetap bisa kontrol pola hidup kamu. Jadi mulai sekarang, semua makanan, minuman, dan juga jadwal sehari-hari kamu wajib di susun,” ucap Devano. Namun, Zee yang awalnya tegang dan perlahan menunduk malah ia pergoki menangis.

__ADS_1


__ADS_2