Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
38 : Optimis


__ADS_3

Butik milik ibu Arnita terbilang besar dan juga jauh lebih ramai dari ketika Zee ke sana, beberapa bulan lalu. Mungkin karena kini, butik tersebut merangkap menjadi kantor baru pak Restu dan Devano yang pemasarannya sengaja dilakukan besar-besaran.


Berbeda dengan dulu juga, kedatangan Zee kali ini tak hanya sampai di ruang tunggu. Karena Zee langsung Devano ajak keliling hingga sampailah mereka di ruang kerja ibu Arnita. Di dalam ruang kerja ibu Arnita pun tak hanya dihuni pemiliknya. Karena di sana juga ada pak Restu yang langsung menanyakan banyak hal kepada Zee dan Devano, khususnya mengenai kesehatan Zee.


“Besok Mamah ikut biar bisa bantu urus ini itunya,” ucap pak Restu menatap serius kedua sejoli yang duduk bersebelahan di sofa sebelahnya.


“Enggak apa-apa, Pah. Besok, tetap aku sama Zee saja karena di sini pun banyak pekerjaan,” ucap Devano.


Pak Restu menggeleng tegas. “Enggak apa-apa. Sehari sampai satu minggu ditinggal Mamah, masih aman, kok. Semoga saja, di sana penanganannya juga lebih cepat.” Ia fokus menatap kedua mata Devano dan Zee, silih berganti. Devano yang cenderung tidak mau menatapnya karena menahan kesedihan, sementara Zee melakukannya karena sungkan.


“Kamu masih ada keluhan khusus, Zee?” tanya ibu Arnita yang duduk di sebelah pak Restu. Ia mencoba meraih kedua tangan Zee yang awalnya ada di pangkuan dan ia genggam erat.


“Mamah sama Papah jangan begitu, ... nanti yang ada, Zee bingung bahkan takut. Sudah, dibawa santai saja!” tegur Devano yang kemudian beranjak berdiri meninggalkan kebersamaan.


Teguran dari Devano membuat pak Restu dan ibu Arnita menjadi saling lirik. Keduanya membenarkan anggapan Devano walau jujur saja, mereka memang telanjur khawatir kepada keadaan Zee.


Devano sengaja mengawasi suasana butik melalui monitor CCTV yang terpampang di hadapan meja kebersamaan mereka. Melalui monitor di sana, semuanya masih terpantau ramai. Terlihat kawasan pakaian menengah ke bawah yang paling dipenuhi pengunjung.


“Per hari ini, sudah ada tiga klien yang langsung ikut gabung ke sini, dan salah satunya dari China. Mereka mengaku akan ikut ke mana pun aku bekerja karena alasan mereka mau bekerja sama, bukan hanya karena melihat perusahaannya, melainkan mereka melihatku secara personal.” Devano berangsur menatap wajah ketiga orang di sana. Ketiganya menatapnya dengan tatapan berbinar-binar. Ada harapan besar yang seolah tengah ketiganya gantungkan kepadanya.


“Penjualan secara online akan mulai dikerahkan besar-besaran per minggu depan. Jadi nanti ruang kosong yang aku minta kemarin, nantinya itu khusus buat tempat packing pesanan online. Sekarang kan serba canggih dan kadang selain memang enggak sempat, pembeli memang malas antre berebutan.”


“Rencana semacam itu sedang dipakai oleh banyak perusahaan ternama, dan bisa jadi, perusahaan lama juga akan melakukannya. Semacam diskon dan sederet penawaran lain pasti akan perusahaan lama lakukan. Dari semacam diskon, atau paling dikhawatirkan, mereka akan menggaet publik figur yang sedang banyak digemari,” ucap Zee.

__ADS_1


“Biarkan mereka banting harga dan terus melakukan promo murah, biar mereka bangkrut!” balas Devano. “Kita tarik minat masyarakat dengan model baju terkini dan harga yang juga manusiawi. Kita juga enggak usah stok ke galeri mereka lagi. Sudah putus saja biar yang awalnya terbiasa belanja di sana, belanjanya langsung ke kita.” Devano mendengkus sinis kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana bahan warna abu-abunya. “Kabar hengkangnya aku dan papah dari perusahaan lama juga sudah Zee buat. Semua portal pemberitaan online sudah langsung kompak menyebarkannya.”


Ketiga orang di sana paham, Devano sudah langsung balas dendam. Malahan ketiganya juga berujar, Rayyan telah memilih langkah sekaligus memilih lawan.


“Pagi tadi, ... Om Mario kembali minta maaf ke Mamah atas semua yang terjadi,” cerita ibu Arnita.


“Sudah salah dari awal sih. Salah siapa Rayyan terlalu dimanja. Salah didikan itu. Ya silakan saja, selamat menjemput kebangkrutan!” balas Devano sewot. “Sudah, mulai sekarang biarin saja, terserah Rayyan. Takutnya kalau kita tetap bahas, dikiranya kita masih ngarep.”


Mengenai kebencian Devano kepada Rayyan, Zee tidak mau ikut campur. Karena Devano masih mau berpikir pijak setelah asal didepak saja, bagi Zee sekelas Devano yang terkenal kejam, sudah sangat dewasa. Padahal jika mau, sekelas Devano bisa saja menyewa pembunu*h bayaran untuk menghabis*i Rayyan.


“Ya sudah, Zee. Yang kemarin itu, tolong disiapkan,” ucap Devano yang kemudian melepas dasi maupun jasnya.


“Lagi sakit kok masih disuruh kerja!” tegur ibu Arnita yang kali ini mengomel.


“Sehat-sehat ya! Mamah optimis kamu cepat sembuh!” lirih ibu Arnita masih menggenggam kedua tangan Zee.


“Papah juga sehat, kan?” sambung pak Restu masih menata khawatir Zee.


Zee mengangguk-angguk. “Iya, Om. Papah sehat. Sekarang pun, papah selalu bangun pagi-pagi buat masak sebelum jalan pagi sekalian belanja sayuran.”


Mendengar itu, ibu Arnita langsung tersipu. “Suami idaman itu.”


“Suami idaman pun enggak harus semuanya yang begitu!” tepis pak Restu yang menjadi sangat mirip dengan Devano jika sedang sewot layaknya sekarang.

__ADS_1


“Setuju! Karena suami yang sibuk kerja dan pintar cari duit, juga tetap disebut sebagai suami idaman. Bintang selalu bersinar karena cahayanya masing-masing, kan?” timpal Devano tak mau kalah dan langsung dibenarkan oleh sang papah.


Ibu Arnita dan Zee kompak diam sambil sesekali bertatapan melalui lirikan. Kedua wanita itu tak berani berkomentar lagi karena keduanya sadar, pasangan mereka sama-sama kakunya. Walau tentu saja, untuk urusan romantis, pak Restu sudah tidak diragukan lagi.


Seharian ini, keempatnya sibuk di ruang kerja ibu Arnita. Malamnya, Devano mengantar Zee pulang karena biar bagaimanapun, subuhnya mereka harus bersiap menjalani penerbangan ke Singapura.


“Sudah sana masuk, kamu bilang masih banyak yang belum kamu bereskan. Masalah pakaian cukup bawa tiga setel saja. Kalau memang kurang, gampang nanti beli di sana,” ucap Devano lantaran Zee tetap mengantarnya hingga keluar dari gang menuju kontrakan.


“Aku optimis enggak sampai sebulan,” ucap Zee dan langsung membuat Devano menghadap sekaligus menatapnya sambil mengaminkan.


“Sepertinya daripada aku, kamu jauh lebih tegang!” ucap Zee yang kemudian meraih kedua tangan Devano. Perlahan tapi pasti, Zee juga menyandarkan tubuhnya ke tubuh Devano.


“Aku juga optimis, enggak ada satu bulan di sana. Kalaupun harus pulang pergi, semoga enggak harus bikin kamu kesakitan. Tukeran saja, gimana? Pas kamu sakit, aku yang gantiin, terus kamu jadi aku biar bisa marah-marah seenaknya ke orang lain?” ucap Devano sambil menunduk hanya untuk menatap Zee.


Ucapan lirih Devano yang terdengar berat tersebut sudah menghadirkan rasa sesak di dada Zee. Namun demi meredam kesedihan itu, Zee sengaja balas menatap Devano sambil berkata, “Enggak apa-apa, meski jadi aku, kamu harus pakai daster atau malah rok mini warna pink?”


Devano yang masih menatap Zee, menggeleng. “Enggak apa-apa!” balasnya yakin walau ia masih berucap dengan suara yang benar-benar lirih sekaligus berat.


“Subuh besok aku ke sini lagi sama mamah dan pak Lukman. Nanti pak Lukman balik langsung ke sini buat jagain papah!” ucap Devano sembari memasuki mobil yang mana kali ini, ia juga masih menyetir sendiri.


Zee mengangguk-angguk sambil melambaikan tangan kanannya. “Hati-hati!” serunya dan Devano langsung mengacungkan jempol kanan kepadanya. “Jadi, jempol kanan ibarat kode buat jawaban semacam setuju, baik dan bagus, ya?” pikir Zee.


Zee dan Devano terus memperhatikan satu sama lain walau jarak mereka makin jauh. Bahkan, Zee sengaja baru pergi setelah mobil Devano tak terlihat lagi. Walau kenyataan mobil Rayyan yang mendadak datang berhenti di hadapan Zee, membuat Zee merasa sangat tidak nyaman. Berbeda dari biasanya, kali ini Rayyan mengemudikan mobil sport besarnya. Sekadar keluar dari mobil saja, Rayyan yang duduk di tempat duduk penumpang sebelah tengah sampai dibukakan oleh sang sopir. Dan kini, Rayyan yang turun tepat di hadapan Zee, benar-benar sudah ada di hadapan Zee.

__ADS_1


__ADS_2