Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
58 : Jodoh Dan Rumah Baru


__ADS_3

Suasana sebuah kantor kepolisian sedang tidak banyak aktivitas termasuk itu kehadiran pengunjung. Hanya ada dua mobil polisi yang kebetulan baru saja menepi. Kemudian, tampak seorang polisi yang keluar dari pintu penumpang dari masing-masing mobil polisinya.


Kedua polisi tadi menunggu penumpang yang awalnya di sebelah mereka. Dari mobil polisi sebelah kiri muncul Cheryl yang tampak enggan keluar. Tampang Cheryl jelas menahan jengkel sekaligus malu, alasan yang juga sekadar melangkah saja, wanita itu tampak sangat berat. Sementara dari sebelah kanan, muncul Rendan yang masih menggigil kedinginan. Kedua sejoli itu bertemu di teras depan kantor kepolisian setelah Cheryl tak sengaja menoleh, menatap aneh sosok yang menggulung tubuh dengan selimut di sebelahnya. Tak beda darinya, sosok tersebut tampak berat bahkan kesulitan dalam melangkah.


“Loh?!” batin Cheryl melotot tak percaya melihat Rendan yang mirip mayat dipaksa hidup. Kedua mata Rendan saja seolah sulit terbuka. Sementara warna kulit Rendan cenderung pias. Seolah tidak ada darah yang tersisa di dalam tubuh pria itu. Ah, iya ... warna kulit Rendan mirip warna kulit para vampir!


Di lain sisi, walau kedua mata Rendan juga sudah nyaris terpejam akibat rasa sangat dingin yang pria itu tahan, dan juga rasa lain sebagai efek dari hukuman yang ia terima sari Zee sekaligus rombongan, Rendan masih bisa melihat sekaligus mengenali Cheryl.


“Masa iya, mataku salah lihat? Tapi ngapain juga Cheryl ada di sini? Dia tahu aku di sini dan berniat menolongku? Enggak ... enggak. Cheryl enggak sebaik itu! Lihat, kedua tangannya saja diborgol!” batin Rendan yang walau berbicara dalam hati, suara yang dihasilkan masih suara gemetaran efek menggigilnya. Rendan benar-benar merasa tersiksa akibat rasa dingin yang menggerogoti sekujur tubuhnya. Malahan, kini ia mendadak terjatuh karena kedua kakinya kembali kram.


Sama-sama hanya berani berbicara dalam hati, baik Cheryl maupun Rendan menjadi kerap menatap satu sama lain. Masih tak percaya, digiring ke kantor kepolisian saja, mereka sampai bersama!


Malam kali ini menjadi saksi, betapa kedua sejoli itu sangat jodoh. Baik Cheryl termasuk Rendan sampai memikirkan itu. Sejodoh itu kah mereka hingga menjalani hukuman pun, akan di tempat yang sama? Walau ketika polisi menyuguhkan video mereka yang telanjur menyebar dan itu disebarkan oleh Rayyan menggunakan ponsel Rendan, Cheryl langsung mengamuk. Tubuh Rendan yang masih kaku dan juga masih terbungkus selimut tebal, Cheryl dor0ng sekuat tenaga hingga terkap4r di lantai. Puukul, tend4ng, 1njak, juga sump4h-serapah tak hentinya keluar dari mulut Cheryl. Cheryl benar-benar mengutukk perbuatan Rendan. Terlebih sejauh ini, Cheryl tak tahu jika kebersamaan mereka yang sedang ‘begitu’ sampai Rendan rekam.


***


Di dalam kamar hotel, di depan cermin wastafel kamar mandi, Devano tengah membantu Zee memotong rambut. Rambut panjang Zee dipotong menjadi sepundak. Zee yang duduk di kursi, tampak harap-harap cemas memandangi prosesnya pada cermin wastafel yang ada di hadapan mereka. Zee dapati, Devano yang sampai berkaca-kaca dalam melakukannya. Kedua tangan Devano saja sampai gemetaran dan tampak jelas bahwa pria itu hanya sok tegar.


Sebagian rambut panjang Zee sudah disisihkan rapi di sebelah wastafel karena setiap yang Devano potong, langsung Devano susul di sana.

__ADS_1


“Mas kompeni mau berubah haluan jadi spesialis pangkas rambut?” tanya Zee sengaja mengg0da sang suami demi mencairkan suasana. Ia tak mau kekhawatiran Devano berubah menjadi rasa takut, terlebih penyakitnya saja memiliki peluang besar untuk sembuh.


“Kalau memang menguntungkan, boleh-boleh saja alih profesi. Nanti kalau rambutnya susah dipangkas atau malah pemiliknya yang susah diurus, biar sekalian kepala sama lehernya juga dipangkas!” balas Devano dan langsung membuat Zee terbahak-bahak.


“Ujung-ujungnya kr1minal!” ucap Zee di sela tawanya. “Enggak jadi kompeni malah jadi tukang tebaz leher sekaligus kepala orang!”


Devano melepes kain penadah potongan rambutnya dari tubuh Zee dengan hati-hati. Kemudian, ia mematut penampilan Zee. Awalnya, ia hanya melakukannya dengan tetap berdiri di belakang Zee. Namun tak lama kemudian, ia sengaja jongkok di hadapan Zee kemudian membingkai wajah Zee menggunakan kedua tangannya.


“Gemes lagi?” lirih Zee memastikan.


“Jadi kelihatan lebih muda,” balas Devano dan langsung membuat Zee memelotot syok.


Devano tidak menjawab. Pria tampan itu hanya tertawa sambil menggeleng. Tawa yang juga menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Zee. Kemudian, jemari tangan kanan Devano meraba bibir Zee, disusul pria itu yang melayangkan beberapa k3cupan lembut di sana dan langsung mendapat balasan dari Zee.


Ditangkapnya Cheryl apalagi Rendan, memang menjadi kelegaan tersendiri untuk mereka. Walau trauma tetap ada apalagi video miliknya sudah sampai dijual dengan harga mahal, Zee merasa ada yang jauh lebih penting untuk ia lakukan dan itu fokus pada pengobatan yang tengah dijalani. Ditambah lagi, Devano sekeluarga termasuk papahnya tahu. Mereka semua mendukungnya, berharap pengalaman tidak mengenakan yang Zee alami juga bisa menjadi pembelajaran berharga bagi semuanya untuk lebih berhati-hati lagi.


Keluar dari kamar hotel, Zee dan Devano dikejutkan oleh keberadaan pak Samsudin yang berdiri menunggu ditemani pak Lukman. Tangan kanan pak Samsudin menenteng kantong belanjaan warna putih berlabel pakaian. Pria itu mengambil salah satu isi kantong belanjaannya, dan itu semacam krepus atau topi hangat. Ia memakaikannya di kepala Zee dengan sangat hati-hati.


“Begini akan jauh lebih baik. Kalau rontok enggak ke mana-mana, terus kepala kamu juga enggak kedinginan. Ini ada beberapa dan Papah sengaja beli buat kamu,” ucap pak Samsudin sembari memberikan kantong belanjaan dan isinya sampai ia perlihatkan kepada Zee maupun Devano.

__ADS_1


“Kita pulang!” sergah Devano yang memang sudah menarik kopernya.


Pak Samsudin tersenyum semringah apalagi ia tahu, Devano telah membeli kontrakan yang selama ini ia tempati, dan otomatis, ia tak takut lagi jika sewaktu-waktu kontrakan itu sampai ditutup dan tak lagi disewakan.


“S-sayang, kontrakan sebelah juga sudah kamu beli? Aku baru dikasih kuncinya,” tanya Zee memastikan setelah akhirnya mereka sampai di kontrakan. Zee bahkan sudah ganti pakaian, meski ia tetap memakai topi hangat pemberian sang papah.


Malam-malam, mereka mendapatkan banyak kiriman barang dan dibawakan langsung oleh pak Lukman. Ada dua buah blender, aneka wajan dan panci anti lengket, kompor gas baru, kulkas baru, dan juga tempat tidur baru.


“Banyak banget,” komentar Zee.


“Tentu, kan kita akan tinggal di sini. Jadi nanti ini sebelah kalau sudah enggak disewa juga bakalan aku beli. Biar enggak hanya kalian saja yang bisa mengenang masa lalu indah kalian dengan mamah. Karena nantinya, aku dan anak-anak kita, juga!” balas Devano yang walau harusnya terdengar sangat manis, tapi logat bicaranya tetap dengan gaya kompeni keji.


Namun tentu saja, keputusan Devano tersebut sudah langsung membuat Zee berbunga-bunga. Ketika Devano tak sengaja menoleh kepada sang istri pun, pria itu jadi bingung sendiri.


“Kamu kenapa jadi kemayu begitu? Mirip cacing kepanasan? Jangan begitulah ... Yang langsung di ingatanku langsung wari4!” semprot Devano.


Zee ingin meng4muk, tapi ucapan Devano tetap membuatnya tertawa hingga menangis. “Sayang, biar seperti orang-orang!”


“Enggak usah pakai cara orang-orang, pakai cara kita saja. Itu tempat tidurnya, ayo beresin dulu. Kita ganti pakai yang baru biar yang lama juga langsung diangkut mobil pengangkutnya! Biar di kontrakan enggak banyak barang!” sergah Devano.

__ADS_1


Zee langsung menurut. Tak menyangka, Devano benar-benar melepas egonya dan dengan sengaja tinggal di kontrakan biasa bersamanya sekaligus sang ayah.


__ADS_2