Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
59 : Suami Suci Lahir Batin


__ADS_3

“Itu T-Rex ijonya ditaruh di tempat yang lain kenapa, jangan di tempat tidur. Sempit, jadi enggak bisa leluasa.”


“Sempit gimana? Badan kita kan enggak sebesar raksasa, Mas Kompeni! Lagian, tempat tidur yang baru juga ukurannya dua kali lipat lebih besar sekaligus luas dari sebelumnya.”


“Pokoknya aku enggak mau ada macam-macam di tempat tidur selain bantal, bantal guling, dan selimut.”


“Ditambah di T-Rex, ini beneran bermakna banget buat aku, Pak Kompeni!”


“Kan kamu sudah punya aku, ... T-Rex hidup, nyata! Bukan boneka!”


Zee menunduk murung lantaran kali ini, keputusan Devano tak bisa ditawar lagi.


“Lihat, kamu saja lebih milih peluk T-Rex ijonya ketimbang melakulannya ke aku!” kesal Devano, tapi Zee yang awalnya kebingungan, berangsur menertawakannya.


“Ya ampun Pak Kompeni, bisa-bisanya malah cemburu ke boneka!” Zee masih terbahak-bahak, tapi Devano yang tampak masih sangat kesal buru-buru mengambil bonekanya, kemudian menaruhnya asal di meja rias yang juga sudah sampai Devano belikan baru untuk mereka. Kemudian, yang bikin Zee gemas kepada sang suami, setelah meletakkan asal bonekanya di meja rias, Devano buru-buru memeluknya.


“Jangan fanatik-fanatik, lah. Kita kan enggak kekurangan apa pun,” lirih Devano masih memeluk Zee.


“Apanya yang fanatik, sih, Pak Kompeni? Ini kan simbolis dan aku sengaja membelinya karena dia bikin aku ingat Pak Kompeni. Aku beli ini setelah Pak Kompeni memecat aku!” balas Zee yang berangsur menengadah dan membuat tatapan mereka bertemu karena Devano juga kebetulan baru saja menatapnya.


“Iya, aku tahu. Karena CCTV utusan aku juga bilang begitu. Pas itu kan, aku kirim beberapa orang buat jadi CCTV dan ngawasin kamu secara eksklusif!” balas Devano.


Zee geleng-gelang kemudian mencibit gemas hidung bangir Devano. “Kamu ya ... lagian, kenapa kamu larang-larang aku koleksi satu boneka sementara di kamar kamu saja banyak banget boneka Pororo? Di kamar Pak Kompeni ada satu lemari khusus dan isinya semua atribut berbau Pororo dan Desa Porong-Porong, kan?”

__ADS_1


Devano tak bisa mengelak, tapi ia hanya mampu tersenyum tak berdosa. “Itu nanti aku mau warisin ke anak-anak. Sudah, ... itu si T-Rex ijonya di meja rias saja. Pokoknya jangan ada pihak ketiga di antara kita bahkan walau itu hanya boneka. Kamu kan tahu. Aku bahkan baru bisa pacaran setelah kualat jadiin kamu kekasih pura-pura. Selama ini aku terlalu sibuk.” Devano buru-buru mengeratkan dekapannya kepada Zee.


Dalam dekapan Devano, Zee tak hentinya terkikik. Acara membereskan kamar dan menggantinya dengan semua yang serba baru membuat Tuan Kompeni sekelas Devano mengakui keluh kesahnya selama ini sebagai jomlo sejati.


“Beruntung kamu, Zee. Punya suami masih suci lahir dan batin!” lanjut Devano dan membuat Zee makin sulit mengakhiri tawanya.


Zee m3mukul-mukkull gemas kedua lengan kokoh Devano yang masih memenjarakannya dalam pelukan erat. “Bisa-bisanya ngomong begitu. Mentang-mentang mantanku sudah enggak suci.” Ia masih sulit menyudahi tawanya, tapi ia juga berucap syukur karena ia berjodoh dengan Devano yang meski sedang dalam momen romantis, ada saja yang nyelekit dan membuat romantis mereka beda.


“Iya, harus aku akui aku sangat beruntung. Punya suami masih suci lahir batin. Walau kelakuannya mirip kompeni dan setiap ucapan yang keluar mirip sambal level neraka, laki-laki berprinsip seperti Pak Kompeni beneran sudah langka!” ucap Zee sambil tersenyum manis menatap Devano. Devano langsung tersipu dan itu benar-benar membuatnya sangat menggemaskan.


“Coba dibikin status, terus tandai akunku. Pakai IG saja karena aku enggak pakai FB!” pinta Devano malu-malu, tapi Zee buru-buru menggeleng. “Kenapa?”


“Kalau aku sampai bikin, itu ibarat review yang dicari oleh para p3lakor! Ibaratnya kayak aku lagi jualan suami sendiri!” balas Zee sewot.


Zee langsung menggeleng kemudian buru-buru membenamkan wajah di dada Devano. “Aku enggak mau ambil risiko. Aku enggak mau kehilangan suamiku, meski sekarang suamiku sudah enggak suci lagi gara-gara,” ucapnya tapi telanjur ditahan Devano.


“Sudah kamu cicipi!” Devano geleng-geleng, tapi sang istri sudah sampai lemas gara-gara obrolan mereka.


***


Meski selalu bisa mencairkan suasana, Devano dan Zee tetap melalui banyak hal sulit khususnya ketika Zee harus merelakan satu persatu rambutnya rontok.


“Nanti tumbuh lagi. Jadi irit sampo, kan?” ucap Devano sambil menaruh tangan kanannya di atas kepala Zee yang sudah tampak pitak.

__ADS_1


“Kenyataan istri Bapak yang sampai irit sampo enggak akan bikin Bapak mendadak jadi crazy rich, Pak!” sebal Zee berkaca-kaca menatap suaminya. Ia meraih penutup kepalanya kemudian memakainya dengan hati-hati. Devano langsung membantunya.


“Ngapain aku jadi crazy rich kalau aku saja waras rich!” balas Devano dan lagi-lagi membuat Zee tertawa.


Mereka memandangi pantulan bayangan mereka pada cermin wastafel di hadapan mereka.


Fisik Zee yang makin hari makin sehat layaknya orang sehat pada kebanyakan, memang membuat Zee tidak pernah absen menemani sang suami bekerja di kantor mereka. Kantor yang masih di butik ibu Arnita dan sebagiannya masih dalam pembangunan.


“Lusa kita cek ke Singapura, kamu jangan lupa kalau memang masih ada keluhan,” ucap Devano sembari menuntun Zee keluar dari kamar mandi di ruang kerja mereka.


“Keluhan apa? Beneran sudah enggak ada keluhan karena aku saja bisa jumpalitan!” yakin Zee yang memang merasa sehat bugar. Satu-satunya yang ia keluhkan hanya kepalanya yang pitak karena rambutnya yang masih saja rontok.


“Ya jangan jumpalitan, kamu ya ....” Devano hendak mencubit gemas hidung Zee, tapi ia ragu melakukannya. Takut ulahnya malah membuat pembuluh darah di hidung Zee pecah, meski sudah ada sekitar dua puluh hari lamanya, Zee tak lagi mimisan. Karenanya, setelah mereka sampai berhenti melangkah dan berhadapan sekaligus menatap satu sama lain, ia sengaja menggunakan kedua tangannya untuk membingkai wajah istrinya.


Sejauh ini, semenjak tahu Zee sakit, jika sedang tidak lupa, Devano memang selalu memperlakukan Zee dengan sangat hati-hati. Malahan cara Devano memperlakukan Zee lebih hati-hati dari memperlakukan bayi.


Devano berangsur menempelkan bibirnya di hidung Devano.


“Aku yakin aku sudah jauh lebih baik. Apalagi sekarang ini, aku nyaris jadi vegetarian sejati. Semuanya serba sayur direbus atau dikukus, serba matang karena memang harus. Minum jus semacam tomat saja kita selalu dikukus dulu tomatnya baru kita jus. Kamu sampai bikin tahu dan tempe sendiri. Bentar lagi pasti kita sampai buka perusahaan tahu dan tempe kompeni!” ucap Zee lembut berusaha meyakinkan sekaligus menenangkan Devano.


“S-sayang ... yang terakhir tadi ada benarnya juga. Kenapa kita enggak buka perusahaan tahu dan tempe kompeni sekalian, ya?” serius Devano tapi sang istri malah meliriknya sebal.


“Urusan bisnis sama duit memang enggak ada duanya!” ujarnya yang langsung diam lantaran seseorang mengetuk pintu ruang kerja mereka.

__ADS_1


“Masuk!” seru Devano yang perlahan menjaga jarak tapi tetap menggandeng Zee. Ternyata yang datang malah Rayyan. Sudah cukup lama semenjak mereka merampungkan kasus Rendan dan Cheryl, mereka memang tak bertemu atau setidaknya berkomunikasi lagi.


__ADS_2