Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
27 : Kalau Cinta, Bilang, Bos!


__ADS_3

Rencana Rendan menghan*curkan hati apalagi mental seorang Zee melalui kabar pernikahannya dengan Cheryl, gagal total. Malahan, Rendan yang merasakan dampak dari rencananya sendiri karena Cheryl malah berubah arah. Cheryl tak segan membuang Rendan dengan keji, persis seperti yang pernah pria itu lakukan kepada Zee, beberapa kali. Iya, beberapa kali karena tak bisa dipungkiri, Rendan telah melakukannya berulang kali.


“Sudah, ... enggak ada gunanya mempertaruhkan hidupmu untuk wanita seperti dia! Percayalah, wanita seperti dia hanya akan menjadi sumber kehancuranmu. Sumber kesialanmu!” bujuk ibu Cempaka sembari merangkul Rendan, membawanya pergi dari Cheryl.


Sayangnya, sekeji bahkan sehi*na apa pun Rendan sekeluarga kepada Cheryl, Cheryl bukan tipikal yang akan peduli. Sebab menghancurkan atau dihancurkan sudah menjadi bagian dari wanita itu dalam bertahan mengarungi kehidupan yang keji untuk sebagian besar orang.


“Waktunya mengubah rencana. Waktunya mendekati Zee lagi agar aku bisa mulai mendekati Devano juga!” batin Cheryl sembari melirik sinis kepergian punggung Rendan berikut kedua orang tua pria itu. Tampak ibu Cempaka yang terus merangkul Rendan, memberi putranya wejangan agar putra semata wayangnya itu tidak benar-benar kehilangan kewarasan. Sementara yang dilakukan sang papah, pria berkacamata min itu hanya sesekali menghela napas sambil mengelus punggung Rendan. Tampang berat dari seorang pria yang memang tidak banyak omong.


Kemudian, tanpa tahu malu, Cheryl sengaja mendatangi kontrakan Zee. Sayangnya, pintu yang awalnya masih terbuka lebar itu mendadak ditutup langsung oleh Devano.


“Apaan? Enggak tahu malu banget kamu!” kesal Devano.


“Aku beneran menyesal!” Cheryl terus memohon dari depan pintu yang masih tertutup rapat.


“Apaan, ... menyesal buat orang seperti kamu hanya ada kalau kamu beneran sudah kaku di alam baka! Karena walau sekarat pun, orang seperti kamu pikirannya tetap jahat!” tegas Devano yang kemudian memilih abai meninggalkan pintunya. Tak peduli walau di depan sana, Cheryl terus saja meyakinkan, menyesal dan ingin meminta maaf.


“Sudah, Om. Om istirahat saja. Orang seperti mereka tak sepantasnya diberi kesempatan. Tak tik lama, Om,” ucap Devano yang kemudian berkata, “Tunggu mereka benar-benar pergi, setelah ini kita jalan-jalan.” Devano berangsur duduk di sofa panjang bekas Rendan dan orang tuanya duduk.


“Jalan-jalan bagaimana? Hari ini aku beneran mager dan mau tidur panjang saja!” kesal Zee.


“Siapa juga yang mau ajak kamu!” sewot Devano yang tentu saja sengaja membalas Zee. Bisa-bisanya Zee langsung menolak ajakannya sebelum ia mengajak wanita itu terang-terangan.


Ulah Devano langsung membuat Zee kicep, menelan ucapannya sendiri. “Ya sudah, aku mau balik tidur lagi.”


Pak Lukman yang sudah terbiasa dengan interaksi Zee dan Devano, menjadi tak kuasa mengakhiri senyumnya sembari terus duduk di sebelah pak Samsudin. Apalagi ketika Zee benar-benar pergi masuk kamar, ekspresi geregetan Devano kepada Zee benar-benar lucu.


Entah set*an apa yang tengah merasuki seorang Devano hingga pria itu mau-mau saja menunggui Zee tidur hingga siang bolong. Setelah sampai bekerja melalui ponsel canggihnya, juga mondar-mandir tak jelas di kontrakan tak begitu luas, dan membuatnya gerah sekaligus tak betah, Devano malah ketiduran.


Devano sangat lelap, meringkuk di sofa panjang yang membuat pria itu tetap menekuk kedua kakinya yang panjang. Suasana panas yang memang membuat sekelas Devano tak bisa jauh dari AC, telah membuat pria itu kuyup keringat. Zee sampai tidak tega melihatnya karena tampang Devano kali ini lebih mirip pengungsi yang tak diharapkan.


“Sudah kamu mandi sana, sudah ditungguin selama itu.” Sekelas Pak Samsudin sampai tidak tega kepada Devano. Pak Samsudin sengaja menegur Zee yang malah mengamati Devano dengan tatapan heran.

__ADS_1


“Enggak apa-apa, Pah. Dia memang lebih bagus begini, jadi enggak berisik!” balas Zee dengan entengnya. Padahal ia sudah berbisik-bisik dalam berucapnya, tapi tetap saja membuat Devano terbangun.


“Sudah, tidur lagi!” sebal Zee.


Sembari beranjak duduk, Devano berkata, “Dikiranya aku beruang kutub yang sepanjang waktu tidur buat hibernasi?!”


Zee langsung kicep dan tak memiliki pilihan lain ketika Devano memaksanya ikut pria itu jalan-jalan.


“Kalau Pak Vano benar-benar ingin mengajak saya jalan, harusnya tanpa aku mandi pun, memang enggak masalah, kan?” tawar Zee.


“Ya enggak masalah kalau kamu memang enggak tahu malu!” semprot Devano dan langsung membuat Zee mingkem.


Sekitar dua jam kemudian, Devano tak hanya mengajak Zee karena ia juga mengajak pak Samsudin dan juga pak Lukman makan siang di rumah makan lesehan khas masakan Sunda.


“Hari ini menjadi rekor kesabaran saya terulur melebihi panjangnya masa lalu!” ucap Devano ketika meraih buku menu yang menghiasi tengah-tengah meja mereka.


Lagi, pak Lukman tak kuasa menahan senyumnya. Apalagi memang seperti yang Devano keluhkan, hari ini menjadi hari pemecahan rekor seorang Devano bisa sabar. Hari ini seorang Devano mau-maunya saja menunggu berjam-jam.


“Mau jalan-jalan ke mana lagi?” tanya Devano kepada Zee ketika mereka keluar dari rumah makan. Zee dan Devano melangkah di belakang.


“Pak Vano salah makan, apa bagaimana?” tanya Zee yang juga sudah langsung menatap curiga sang bos.


Devano juga langsung menatap tak habis pikir Zee. “Tadi kan kamu lihat, aku makan apa yang kamu dan semuanya makan juga!”


Satu lagi yang paling berubah dari seorang Devano dan memang paling mengusik pendengaran Zee. Devano tak lagi menyebut dirinya sebagai saya, melainkan aku. Pria itu seolah sedang berkomunikasi dengan keluarganya sendiri padahal kini yang bersama Devano Zee dan pak Samsudin.


“Kenapa lagi?” lirih Devano yang tentu saja protes. “Kejam dibilang kompeni. Baik ya tetap dicurigai!”


Zee kembali menatap Devano sambil terus melangkah menyusul pak Lukman dan pak Samsudin. Namun Devano mendadak menggandengnya, setelah seseorang juga langsung menabraknya. Zee tak memiliki pilihan lain selain mengikuti, membiarkan tangan kirinya digandeng oleh sang kompeni yang lagi-lagi baik hati. Malahan kali ini, Zee merasa kebaikan sang kompeni agak ngeri. Masa iya, sepenjang perjalanan mengunjungi mal dan berakhir membeli beberapa potong pakaian, tangan di kompeni terus menggandengnya? Alasan yang juga membuat mata Zee terasa sangat panas karena sibuk memandangi gandengan tangan mereka.


“Ini harusnya bukan salah makan atau minum. Ini semacam tindakan refleks seseorang yang ingin melindungi. Namun, masa iya sekelas pak Devano melakukannya kepadaku?” pikir Zee.

__ADS_1


“Hari ini, Pak Vano bertingkah aneh,” ucap Zee ketika akhirnya mereka nyaris masuk mobil yang terparkir di tempat parkir depan mal yang baru saja mereka tinggalkan.


“Jangankan kamu. Aku saja bingung kenapa aku jadi seaneh ini. Kamu enggak sampai kirim san*tet online ke aku, kan? Biar aku jadi begini?” balas Devano yang pada akhirnya tetap menuding Zee.


Zee langsung melirik sebal Devano. “Bilang saja kalau Pak Vano terbawa perasaan. Selama ini kan Pak Vano ibarat padang tanah yang sangat gersang, sementara adanya kita membuat padang tanah itu terus disiram dan kini beneran sudah jadi tanah subur!” Zee mendadak ceramah.


“Iya, bener. Aku sudah jadi tanah subur. Para cac*ing saja sudah sampai jogedan senam zumba demi membuat tubuh mereka tetap langsing karena kesuburanku yang beneran bikin makmur. Termasuk rumput tetangga, sumpah mereka sampai iri dan dengan sengaja tumbuh di kehidupanku. Cheryl dan Rendan contohnya. Khususnya Cheryl, aku tahu dia tertarik kepadaku. Jadi tolong tetap waspada kepadanya.” Devano juga tak mau kalah dan ikut berceramah.


Dalam hatinya, Zee yang terdiam bingung berkata, “Jadi, pak Devano benar-benar jatuh cinta kepadaku?”


Tak mau penasaran, Zee sengaja bertanya kepada Devano. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Devano tak langsung bisa menjawab dan malah salah tingkah. Di belakang mobilnya, pria itu membuat mereka berhenti melangkah sambil sesekali menunduk.


“Bukan berarti kamu bisa semena-mena kepadaku. Untuk urusan pekerjaan, kita tetap bos dan bawahan!” tegas Devano.


Zee yang kesal karena Devano tetap belum mau berterus terang, sengaja mengomel. “Bilang saja kalau pak Vano beneran cinta ke aku! Gitu saja repot!” Kemudian Zee juga berkata, “Kalau aku sampai diambil Rayyan bagaimana? Gara-gara pak Vano enggak mau jujur?!” Ia sengaja meninggalkan Devano dengan langkah tergesa. Keputusan yang sudah langsung membuat seorang Devano kocar-kacir. Melalui lirikan jail penuh kemenangannya, Zee mengawasi setiap gelagat Devano yang terlihat sangat gelisah.


“Z-zee ...?” lirih Devano baru saja duduk di sebelah Zee. Mereka kembali duduk di belakang pak Lukman dan pak Samsudin.


Sambil melirik sadis Devano, Zee berkata, “Kalau memang cinta, bilang!”


Devano refleks menelan ludahnya dan tenggorokannya mendadak sangat kering. Tak menyangka, apa yang baru saja Zee ancamkan lebih mengerikan dari ancaman klien penting di perusahaan.


“Cinta kok sekejam ini! Lebih kejam dari siksa para kompeni!” batin Devano masih saja gelisah.


“Cinta enggak mau jujur, ya kayak nahan bisul!” lanjut Zee masih berbisik-bisik seiring mobil mereka yang perlahan meninggalkan tempat parkir.


“Nyindir saja terus!” sebal Devano.


Dengan entengnya Zee berkata, “Oke!”


Saking gemasnya Devano yang tidak tahan, sengaja mendekap erat kepala Zee. Zee merengek kesakitan, sementara kedua pria dewasa yang bersama mereka, kompak menggeleng tak habis pikir.

__ADS_1


__ADS_2