
“Zee, kamu boleh memanggilku apa pun, ... benar-benar sesukamu. Namun jika di depan keluargaku baik orang tua maupun adik-adikku, kamu wajib menjaganya. Di depan orang tuaku, karena mereka saja menghormatiku. Sementara jika di depan adik-adikku, kamu pasti lebih tahu alasannya.”
“Aku berkata seperti ini karena aku menghargai, ... aku menyayangimu. Karena jika aku perhatikan, kebanyakan dari mereka apalagi seorang istri, ... ipar dan mertua jauh lebih mengerikan ketimbang hantu paling menyeramkan, kan?”
Devano bertutur penuh pengertian sambil terus mengemudikan mobilnya.
Zee yang sadar, sikap tak kenal aturannya sudah sangat keterlaluan, segera meminta maaf. Di sebelah Devano, ia menjadi duduk tidak nyaman.
“Terus menurut kamu, harusnya aku panggil kamu apa? Aku saja bingung, dan kamu pun enggak kasih solusi,” ucap Zee merasa putus asa.
“Sayang juga enggak apa-apa, tapi kesannya gimana ya. Dengar sendiri saja jadi mual!” ucap Devano yang langsung mendapat lirikan sebal dari Zee.
“Lupakan soal panggilan, yang penting saat bersama keluargaku, kamu bisa mengondisikan,” ucap Devano yang kemudian membuat mobilnya memasuki pelataran hotel tempat mereka akan menggelar acara lamaran.
“Baru pesan langsung wajib siap, pasti pihak hotelnya berasa nyawanya dicabut paksa, ya?” ucap Zee sembari melepas sabuk pengamannya.
“Asal ada uang, mereka pasti siap. Ada harga, ada pekerjaan!” balas Devano yang langsung berkata, “Kalau pusing, atau capek, bilang, ya!”
Zee mengangguk-angguk paham, kemudian keluar dari mobil layaknya apa yang sudah lebih dulu Devano lakukan.
Acara lamaran mereka tetap akan dilangsungkan di hotel berbintang, walau acaranya hanya dihadiri oleh keluarga sekaligus relasi terdekat. Tamu undangan pun tidak lebih dari seratus, tapi setelah Zee masuk mengecek persiapan di sana, wanita itu langsung merinding, terpukau! Zee tak bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Yang jelas, acara yang Devano sekeluarga siapkan untuk pertunangan mereka, benar-benar spesial sekaligus idaman kebanyakan wanita.
“Kamu tahu, daripada dirias ala-ala kaca dan penuh bunga begini mirip taman di tengah kota, lebih baik hiasannya pakai duit asli biar beda sama konsep tetangga!” ucap Devano sambil terus mengawasi sekitarnya.
“Jangan bikin gara-gara terus, kenapa?” lirih Zee yang kemudian mendekap lengan kanan Devano menggunakan kedua tangannya.
“Besok acaranya enggak lama-lama. Takutnya kamu kecapaian,” ucap Devano sambil terus memimpin langkah.
“Sebagus ini, hanya dipakai sebentar? Mubazir banget enggak, sih?” ucap Zee.
__ADS_1
Devano menoleh sekaligus menatap Zee. “Memangnya mau selama apa?”
Zee menunduk sekaligus cemberut. Namun tiba-tiba saja, ia memiliki ide. “Besok, setelah semua orang pergi, kita di sini dulu agak lama, ya?” Walau Devano terus menatapnya, pria itu tak lantas memberinya jawaban.
“Bilang saja, iyaaaaa. Enggak usah gengsi-gengsi. Apalagi ibaratnya, demi mengimbangi kamu, aku sampai banti*ng harga!” sebal.
Sambil memalingkan wajah dan kembali sibuk mengawasi sekitar, Devano berucap lirih, “Ya.”
“Aku enggak dengar tadi kamu bilang apa?” ucap Zee sengaja, merengek manja dan mengguncang pelan dekapan kedua tangannya pada lengan kanan Devano.
“Enggak dengar berarti bude*k!” balas Devano benar-benar, malas.
Mendengar itu, Zee yang jadi geregetan kepada Devano, sengaja berjinjit kemudian mencubit gemas bibir Devano.
Setelah melangkah sekitar dua menit lagi, Devano mengajak Zee duduk di kursi yang ada di tengah ruangan, sementara dirinya bertahan berdiri.
“Ruangannya tidak terlalu besar karena tamunya pun sedikit,” ucap Devano.
Devano langsung mesem hanya karena mendengarnya. Kemudian ia beranjak jongkok, menatap Zee bertabur senyuman, khususnya kedua mata Zee. Awalnya, Zee membalasnya tersenyum. Kedua mata Zee sampai berbinar-binar menatapnya. Namun tampang tersebut tak bertahan lama karena yang ada, Zee cemberut.
“Kenapa?” tanya Devano, lirih.
“Sudah terbiasa kecewa karena berulang kali juga gagal romantis, ... ya sudah, enggak ngarep lagi!” jujur Zee.
Tampang putus asa sekaligus ngambek Zee malah menjadi sumber kebahagiaan bagi seorang Devano. “Aku bahagia kalau kamu lagi susah begitu!”
Zee langsung melirik sinis Devano yang sampai menahan tawa, tapi perlahan tangan kanannya meraih tengkuknya. Sambil tetap jongkok, Devano mendekap Zee. Zee langsung tersipu malu, tak lagi banti,*ng harga karena ia langsung jual mahal. Zee tak mau memeluk Devano walau sebenarnya, ia sudah sangat ingin melakukannya.
“Seperti ini satu jam, ... cukup?” lirih Devano sambil mengelus penuh sayang, kepala Zee. Sampai saat ini, Zee masih menggerai rambutnya, dan beberapa di antaranya berjatuhan karena rontok.
__ADS_1
Perubahan sikap Devano yang naik turun mirip emosi ibu-ibu jika di akhir bulan dan sudah sangat kehabisan uang bulanan sambil menunggu jatah selanjutnya, membuat Zee tak berani berharap lebih. Karena setelah pria itu mendadak memeluknya manis layaknya sekarang, tak menutup kemungkinan, di beberapa detik kemudian, Devano akan langsung menjitak atau malah melemparnya ke planet tetangga.
“Si Cheryl ditebus oleh Rayyan. Paling sebentar lagi, dia jadi badut yang berusaha bikin kita ketawa. Emosi, maksudnya,” ucap Devano.
Untuk beberapa saat, Zee tidak bisa berkomentar. Lidahnya mendadak kelu saking terkejutnya. Rayyan melakukan itu untuk apa? Bergegas ia memundurkan wajah agar bisa menatap Devano tanpa mengakhiri dekapan pria itu. Efek Devano jongkok, wajah pria itu ada di bawah wajahnya. Devano sampai harus menengadah hanya untuk menatapnya dengan saksama.
“Kamu enggak salah bicara?” ucap Zee memastikan.
“Aku mendapatkannya langsung dari pihak kepolisian. Rayyan dan tim pengacaranya mengatakan, apa yang Cheryl lakukan hanya bagian dari salah paham. Sementara sekarang, status Cheryl merupakan sekretaris sekaligus asisten pribadi Rayyan. Mereka beneran akan jadi badut termasuk ke kita,” yakin Devano.
Zee merenung serius. “Si Rayyan sepertinya memang kurang amuni*si deh.”
“Bukan makanan, kan? Yang buat meledakkan dia saja? Kasih dia ke Ferdy Samb*o biar di-dor juga. Beres!” sergah Devano langsung sewot.
Zee menghela napas pelan. “Kok bawa-bawa Ferdy Samb*o?” tegurnya lirih. “Sebenarnya, Rayyan itu cukup dirangkul,” lanjutnya.
Spontan, Devano mengakhiri dekapannya. “Anda ini kejam sekali? Ke orang lain, ke laki-laki lain, Anda sangat pengertian dan semacam itu Anda bilang harus dirangkul! Kenapa kepada saya, Anda malah kejam!”
Zee melepas sepatu flatnya kemudian menghantamkannya ke kening Devano. “Kesurupan kamu, bilang begitu? Lah, kamu pikir selama ini aku kurang sabar apa? Sembarangan kejam-kejam ... yang kejam itu sebelah. Mikir, ingat. Jangan hanya mengingat yang bagi kamu kurang apalagi menyakitkan. Gini-gini, aku sayang banget ke kamu. Sementara alasanku bilang Rayyan harus dirangkul karena level kepekaan dan cara pikir dia beda dengan kita. Rayyan enggak busa setahan bant*ing kamu. Mentalnya bayi, tapi pikirannya dakjal. Kalau terus dibiarin, dia bisa jadi psikopat. Orang seperti Rayyan sangat bahaya, tapi bukan berarti kita menjauhinya. Harus dirangkul, pelan-pelan, sambil tabo*k dikit juga enggak apa-apa. Perhatikan saja, kamu sendiri yang bilang hanya wajahnya saja yang mirip bayi tapi kelakuan minus, kan?”
Devano tidak menjawab karena apa yang Zee katakan memang benar. “Dari kecil tuh anak memang nyusahin, kerjanya cuma ngrepotin sama nangis. Lama-lama aku taruh di kandang ayam lagi kalau gini ceritanya. Malahan sepertinya, tuh anak wajib dirukiyah. Harusnya dia enggak kekurangan kasih sayang.”
“Orang tua sama keluarganya sepertinya kurang tegas. Kalau sampai enggak tega pukul, guyur saja. Papah pun gitu. Dulu, setiap aku rewel, aku enggak dipukul sama papah. Papah langsung ambil gayung diisi air terus diguyurin ke aku,” ucap Zee.
“Ngapain hanya guyur? Cegurin saja ke laut, biar hanyut!” tanggap Devano masih sewot.
Zee geleng-geleng kemudian mengawasi sekitar.
“Ayo ke galeri mal mereka. Mereka pasti langsung jadi badut buat ngawasin kita!” usul Devano. “Kamu belum capek, kan? Kalau capek aku gendong. Biar kita sama-sama lihat ekspresi mereka!” Ia benar-benar bersemangat.
__ADS_1
Zee terdiam sejenak, “Aku mau gendong!” Ia menahan senyumnya dan memberikan ekspresi termanisnya. Walau ulah Devano yang menyuguhkan pipi kanan kepadanya, juga langsung membuatnya sibuk menahan tawa dan lama-lama tersipu malu. Pria itu baru menarik wajahnya, setelah ia melayangkan ciuma*n di pipi kanannya. Terakhir, Devano sungguh menggendongnya, membuatnya mendekap punggung kokoh yang dua tahun lebih selalu ingin ia jadikan pelampiasan tendan*g maupun tinj*u.