
Hubungan Zee dan Devano begitu rahasia khususnya untuk Rayyan sekeluarga. Undangan untuk Rayyan sekeluarga pun tidak berketerangan acara pertunangan, melainkan peresmian perusahaan baru Devano sekeluarga. Karenanya, Rayyan benar-benar syok dan hanya bisa bengong ketika sampai di acara resepsi pertunangan. Mundur tidak mungkin, tapi maju menyakitkan.
“Apa-apaan, ini?” batin Rayyan sudah tertinggal oleh rombongan keluarganya. Mamah dan papahnya sudah melangkah ceria dengan kedua adiknya. Keempatnya tampak sangat tidak sabar bertemu Devano sekeluarga.
Rayyan masih menatap tak percaya sederet bingkai foto berukuran 20 R yang menghiasi pintu masuk di sana. Itu foto Zee dan Devano ketika di Singapura. Foto yang tak hanya memamerkan keromantisan dan sengaja direncanakan. Karena semua foto di sana benar-benar natural, seolah sengaja diambil diam-diam tanpa sepengetahuan Zee maupun Devano.
Dari semua foto di sana, Rayyan pernah melihat foto Zee dalam dekapan pria yang semuanya yakini sebagai Devano. Namun di bingkai tersebut, wajah Devano tak lagi ditutup-tutupi layaknya saat di status WA milik Zee. Wajah Zee dan Devano terpampang nyata meski di kebersamaan keduanya gelap dan jelas suasana malam di sebuah balkon. Paling membuat setiap mata pengunjung berbinar, tentu foto keduanya saat Devano mencicipi es krim di tangan Zee, tapi keduanya bertatapan sambil menahan senyuman.
“Luar biasa! Cheryl benar-benar tak berguna! Dia bahkan enggak tahu mengenai acara ini!” kesal Rayyan dalam hatinya. Ia terpaksa maju, masuk dan siap menjadi saksi kebahagiaan Zee dan Devano walau kenyataan itu sama saja bun*u*h diri.
Rayyan : Kamu beneran enggak berguna! Bisa-bisanya kamu kecolongan ini!
Rayyan sengaja mengirim pesan tersebut kepada Cheryl. Tak lupa, ia juga sengaja mengirimi Cheryl foto suasana di pintu masuk resepsi pertunangan Zee dan Devano yang dipenuhi bingkai putih berisi foto romantis keduanya.
Di apartemennya dan tengah membersihkan rias di wajah menggunakan kapas, Cheryl yang sudah memakai gaun malam warna merah, langsung mendengkus kesal. Jemari tangan lentik berkuteks merahnya segera mengetik pesan balasan.
Cheryl : Jangankan aku, kamu saja yang saudaranya juga enggak tahu, kan?
Rayyan : Aku memperkerjakan kamu agar aku tidak harus bekerja keras! Bukan malah kamu yang terus berusaha mengaturku!
__ADS_1
Cheryl makin kehilangan selera hidup lantaran terus disalahkan oleh Rayyan. “Sebereng*s*eknya Rendan, dia enggak sekejam Rayyan. Rendan hanya selingkuh karena dia butuh. Namun Rayyan, dia menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan keinginannya. Sebenarnya aku dan Rayyan mirip. Bedanya, Rayyan kaya sementara aku hanya pura-pura kaya,” gumamnya yang kemudian kembali menulis balasan untuk Rayyan.
Cheryl : Terus, sekarang mau kamu apa? Bukankah akan lebih menyakitkan jika aku melakukannya setelah mereka meresmikan hubungan? Bayangkan andai Zee tahu Devano tidur denganku padahal mereka sudah akan menikah! Itu pasti akan jauh lebih menyakitkan dari ketika Zee memergoki aku dengan Rendan.
Walau sudah menunggu lama, Cheryl tetap tidak mendapat balasan. “Nih orang beneran seenak jidatnya, ya! Awas saja kalau dia macam-macam, ... aku beneran enggak segan curi aset-aset rahasianya!” kesalnya yang memilih meletakan ponselnya, kemudian kembali fokus membersihkan rias di wajahnya menggunakan kapas.
***
“DEVANO!” ibu Fiola sampai berlari hanya untuk menghampiri Devano, yang sejak awal bertemu di usia Devano yang belum genap lima tahun, sudah langsung jadi musuh bebuyutannya.
Devano yang sedang menyalami setiap tamu yang datang di panggung pelaminan bersama Zee, langsung tegang dan buru-buru bersembunyi di belakang punggung Zee.
“Kalau aki enggak boleh peluk kamu, berarti aku boleh nyanyi?” tuntut Fiola sengaja membuat Devano tidak memiliki pilihan lain. Ia memang paling tahu bagaimana caranya membuat Devano menyerah.
“Apa-apaan, ih! Kamu jangan bikin gara-gara di pestaku karena suaramu bisa bikin dinding, kaca, dan benda lain yang ada di sini retak!” balas Devano.
“Om, ih! Istrimu!” Kali ini Devano sengaja mengadu kepada Mario lantaran ibu Fiola nekat mendekapnya mesra. Namun seperti biasa, pak Mario hanya tersipu.
“Aunty itu ngefans banget ke kamu, Kak. Saking ngefans dan gemesnya ke kamu, nih, yang di sebelah Om sampai dikasih nama Devano juga!” ucap pak Mario benar-benar sabar, meski ia juga sampai tertawa lantaran Devano memasang wajah melas nan teraniaya hanya karena terus dipeluk Fiola.
__ADS_1
Sambil tetap memeluk Devano, Fiola berangsur menatap Zee yang tersenyum ramah dan tampak begitu manis dengan setelan kepada dan juga sanggul modernnya.
“Kenapa hanya tunangan, enggak langsung nikah saja? Nikah enak, loh. Bebas mau ngapain. Mau duaan sampai minggu depan di kamar pun enggak ada yang melarang!” ucap ibu Fiola kepada Zee yang hanya tersipu malu. Kemudian, ia sengaja menatap Devano. “Sudah sama-sama dewasa, sudah sama-sama pintar cari uang juga. Kenapa enggak langsung nikah saja? Sejauh ini kan, kalian kan ke mana-mana selalu bareng, ... takutnya kebablasan. Sudah nikah saja. Apa memang bentar lagi?”
Devano langsung merenung serius. “Tumben Aunty mikir?” lirihnya dan untuk pertama kalinya, ia memanggil sang bibi, Aunty.
Ibu Fiola yang sampai tertawa lepas, langsung kegirangan karena akhirnya seorang Devano memanggilnya Aunty. Benar-benar untuk pertama kalinya!
Ketika Fiola kegirangan dan terus memeluk Devano, yang dipeluk malah fokus menatap Zee penuh keteduhan. Bukan lagi tatapan penuh rasa kagum karena setelan kebaya, rias tipis lengkap dengan sanggul, membuat penampilan Zee yang terbiasa bar-bar menjadi sangat anggun. Melainkan keinginan yang seketika hadir dan tak kuasa ia tahan, akibat ocehan seorang ibu Fiola beberapa saat lalu.
Mengenai menikah, yang otomatis akan membuat Devano menjaga Zee dengan lebih leluasa. Terbukti layaknya akhir-akhir ini, hanya karena terhalang status hubungan mereka, Devano yang benar-benar tulus merawat Zee, harus kucing-kucingan ketika masuk sekaligus tidur di kamar Zee. Padahal alasannya di kamar Zee, murni karena dirinya ingin siaga. Meski jika dikasih lebih, Devano mau-mau saja karena ia masih normal dan ia mencintai Zee.
“Mas Kompeni kenapa? Dia lagi mikirin apa?” batin Zee sudah langsung curiga.
Pak Mario membawa sang istri berikut kedua anaknya, dari sana. “Bahagia selalu, ya!” ucapnya bertabur senyum tulus sambil berlalu dari sana.
Kepergian pak Mario yang membawa keluarga kecilnya, membuat Devano hanya berdua dengan Zee. Di tengah alunan musik romantis yang di setel lirih, ia mendekati Zee dengan rasa gugup yang mendadak membuncah.
“Langsung nikah saja, yuk?” ucap Devano ketika pada akhirnya, tatapannya dan Zee bertemu.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, Rayyan sampai di dekat panggung mempelai. Rayyan langsung diam tak ubahnya batu. Seolah ucapan Devano barusan justru mantra kutukan yang langsung mengubahnya menjadi batu.