
Dering telepon kerja di sebelah kanannya, mengusik perhatian seorang Devano yang awalnya tengah melamun. Devano masih memikirkan keputusannya yang telah memecat Zee di hadapan banyak karyawan.
Seorang tamu yang dikata telah menemukan dokumen penting, mengaku ingn bertemu. Dokumen penting yang juga sudah dipastikan mirip dengan dokumen yang Zee hilangkan.
Cheryl, kedatangan wanita itu ke ruang kerja Devano sudah langsung mengejutkan Devano. Bersamaan dengan itu, yang Devano ingat adalah cerita Zee mengenai wanita itu yang memergoki seseorang menutup pintu dengan hati-hati dari keluar, kemudian menguncinya. Sedangkan sejauh ini, orang lain yang bisa masuk kontrakan Zee dengan leluasa selain Zee dan sang papah hanyalah Cheryl. Sementara alasan Cheryl bisa ke ruang kerja Devano karena wanita itulah orang yang menemukan berkas penting milik Devano.
“Pasti kamu terkejut, ya? Aku lebih-lebih. Namun aku merasa harus melakukan ini karena aku yakin, ini sangat penting untuk kamu,” ucap Cheryl sembari menatap sekaligus berdiri ragu, di hadapan Devano. Ia masih bertahan berdiri di belakang kedua kursi yang ada di hadapan Devano.
“Jadi, ... bagaimana kronologinya?” tanya Devano, walau hatinya juga sudah langsung menjerit, meminta maaf kepada Zee.
Cheryl menghela napas dalam-dalam, mengukir sebuah senyum elegan nan tak berdosa, kemudian maju, menyerahkan berkas yang kini ia tampung dalam map mika warna merah muda.
Dengan dingin dan benar-benar kejam, Devano memeriksanya. Mata tajamnya langsung mengawasi setiap lembar yang ada di sana sambil sesekali melirik Cheryl.
“Saat akan ke rumah Zee untuk meminta maaf walau apa yang aku lakukan selalu mendapat penolakan, aku tidak sengaja menemukannya ...,” cerita Cheryl.
“Jadi, sebenarnya kamu tahu, harusnya ini ada di tangan Zee? Lalu, pukul berapa kamu menemukan semua ini? Juga, ... apakah sebelumnya, kamu sudah mengabarkannya kepada Zee?” Devano bertanya dengan suara lirih terdengar malas, tanpa sedikit pun melirik Cheryl.
Deg-degan, itulah yang langsung Cheryl rasakan. Namun, demi bisa menjerat hati seorang Devano, Cheryl akan langsung bersandiwara mengikuti skenario yang sebelumnya sudah Cheryl siapkan.
“Saat tadi aku ...,” ucap Cheryl memulai cerita.
“Tunggu, ... kamu tidak perlu melakukannya sekarang,” ucap Devano yang perlahan menatap Cheryl. Di hadapannya, Cheryl langsung menatapnya bingung.
__ADS_1
Seseorang mengetuk pintu ruang Devano dari luar. Devano yang masih fokus menatap kedua mata Cheryl, memintanya untuk segera masuk.
“Jelaskan semuanya di kantor polisi!”
Apa yang baru saja Devano katakan sudah langsung membuat Cheryl bingung. “Hah? Maksudnya gimana?” Karena walau ia sudah berasumsi jauh dari nyaman, ia masih berusaha berpikir tenang. Apalagi yang datang malah seorang satpam, itu sudah membuatnya yakin, Devano akan meminta bantuan satpam tersebut untuk menyeretnya ke kantor polisi!
“Aku tidak sebodoh Rendan maupun laki-laki lain yang bisa kamu kelabui menggunakan tubuh dan fisikmu. Karena kalau aku memang mau, aku bisa dapat yang lebih dari kamu!” ucap Devano sembari menggeleng tak habis pikir kepada Cheryl.
“Y-yaaampun!” batin Cheryl panik sepanik-paniknya.
“Bawa dia keluar. Nanti pengacara saya akan segera mengambil alih kasus ini. Jika dia tidak mau, kamu bisa menyeretnya,” ucap Devano sembari fokus menatap sang satpam.
“S-siap, Pak!” sanggup sang satpam yang kemudian segera menjalankan tugasnya.
“Devano, kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Harusnya kamu berterima kasih!” protes Cheryl tetap tidak terima dan memang tidak mau dibawa paksa pergi dari ruang kerja Devano.
Sepanjang perjalanan, Cheryl sudah langsung menjadi fokus perhatian layaknya Zee, ketika mantan sahabatnya itu berakhir dipecat untuk kasus yang masih sama. Semuanya menonton Cheryl, membuat mereka perlahan ingat bahwa wajah Cheryl tidak asing. Karena ternyata, Cheryl merupakan salah satu sosok terlarang yang tidak boleh mendekati mal fashion mereka.
***
Kepulangan Devano yang menjadi sosok sangat dingin, sudah langsung disambut dengan tatapan khawatir oleh keluarga besar. Mereka yang menunggu di ruang tengah, langsung berdiri menatap Devano. Namun, Devano benar-benar cuek.
Ibu Arnita yang sudah terbiasa menjadi pawang seorang Devano, segera bertindak setelah sebelumnya terlibat tatapan penuh arti bersama suami dan adik-adik Devano.
__ADS_1
“S-sayang, ... mamah sudah tahu semuanya. Mengenai kamu dan Zee, juga keputusanmu. Bahkan pak Lukman sudah pulang ....” Sembari terus menyusul, ibu Arnita berbicara panjang lebar menyusul Devano.
Devano yang merasa tidak bisa untuk terus bersandiwara, sengaja berhenti. Ia sungguh ingin mengakhiri semuanya. Hingga setelah ia balik badan, membuatnya berhadapan sekaligus menatap sang mamah, ia berkata, “Kami sudah putus, Mah!”
Walau ibu Arnita sudah tahu, wanita itu tetap kebas dan refleks mundur dengan langkah gontai di tengah fokus tatapannya yang tertuju pada kedua mata sang putra.
“Iya, ... kami memang sudah putus,” ucap Devano.
“Kamu pasti akan sangat menyesal!” tegas ibu Arnita.
Devano mendadak galau dan perlahan menunduk. “Menyesal kenapa aku harus memulai semua ini ...,” batinnya.
“Cepat minta maaf,” ucap ibu Arnita.
Devano yang merasa tidak berdosa berkata, “Untuk apa?” Karena pada kenyataannya, ia tidak berniat jatuh lebih dalam lagi pada Zee dan pesona. Jatuh cinta hanya membuatnya sakit. Wanita dan cinta hanya akan menjadi kelemahannya, Devano sudah membuktikannya.
Ibu Arnita tersenyum getir sembari menggeleng. “S-sayang ... kamu ... bukan begini. Kamu enggak harus melukai diri kamu hanya kamu takut kehilangan Zee!” yakin ibu Arnita. “Percaya kepada Mamah, kalian saling mencintai! Kalian cocok dan saling melengkapi walau kalian memang berbeda dengan pasangan pada umumnya.”
“Kalian bahagia dengan cara kalian!” lanjut ibu Arnita sambil meyakinkan. Ucapan yang juga terus terngiang di ingatan seorang Devano hingga malam makin larut bahkan pagi kembali menyambut. Semalaman ini hingga pagi, Devano mirip patung yang duduk anteng di kursi kerja di dalam kamarnya.
Tak beda dengan Devano, semalaman Zee juga tidak bisa tidur. Bahkan walau Zee sudah meringkuk, menghangatkan tubuhnya dengan selimut, kedua mata yang terus ia paksa terpejam, juga terus berusaha terbuka. Zee terlalu mengkhawatirkan Devano.
“Kamu terlalu kesepian. Selama ini kamu terlalu memaksakan keadaan. Apalagi sekarang ada Rayyan yang sudah akan langsung menggeser kamu dari kedudukan yang selama ini kamu perjuangkan. Kedudukan yang telah membuat kamu melakukan segala cara demi memajukan bisnis keluargamu. Kamu rela bekerja bak kompeni, tapi hanya karena statusmu bukan cucu kandung, kamu harus rela menelan pil pahit dengan merelakan semua perjuanganmu berakhir dengan kata selamat tinggal. Kamu pasti sangat terluka gara-gara ini!” Zee menggi*git kuat bibirnya. Perlahan ia menunduk membiarkan butiran bening luruh dari kedua sudut matanya membasahi pipinya. Butiran bening yang mewakili kekhawatiran sekaligus cinta tulusnya kepada seorang Devano yang walau sudah memperlakukannya dengan kejam, tetap membuatnya menyayanginya.
__ADS_1