Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
54 : Setelah Menikah


__ADS_3

Melihat wajah Zee yang sudah lelap dan terlihat jelas kelelahan di bantal sebelahnya, Devano langsung teringat ucapan sekaligus pesan sang mamah.


“Jangan hamil dulu, Zee belum pulih, takutnya kenapa-kenapa!” ucap ibu Arnita ketika Devano pamit membawa Zee untuk istirahat di kamar hotel, beberapa jam lalu.


Teringat pesan sang mamah, Devano malah tersenyum geli. Namun kemudian, telunjuk tangan kanannya menempel di hidung Zee dan perlahan turun ke bibir istrinya itu, bersemayam di sana.


Zee langsung menggeliat pelan dan buru-buru memunggungi Devano sembari menarik selimut, menutup tubuhnya yang hanya memakai bikini. Sebagian punggungnya tak dapat ia punggungi karena ia terlalu mengantuk. Namun yang ada, kenyataan tersebut dimanfaatkan Devano untuk menarik tali di punggungnya hingga menghasilkan jepretan yang cukup mengejutkan di sana. “Sayang, kalau kamu mau minta nambah, berarti kamu beneran kompeni!” omel Zee mirip orang meracau.


Namun, Devano malah tersenyum geli dan perlahan tertawa ringan sambil mendekap Zee dari belakang.


“Pahaku saja masih gemetaran lemas begini,” rengek Zee berkeluh kesah.


Devano membenamkan bibirnya di pipi Zee dan sebagiannya menyentuh hidung. “Kamu pusing enggak?” tanya Devano dan Zee berangsur menggeleng lemah, meski wanita itu Devano pergoki masih sepenuhnya terpejam. “Mualnya gimana?”


“Aku enggak pusing ataupun mual, tapi kalau kalau mau lagi, besok pagi saja. Ini masih lemes, perih, capek juga,” ucap Zee di tengah kedua matanya yang masih terpejam.


Devano mengeratkan dekapannya seiring batang hidungnya yang ia sapukan lembut di punggung hidung Zee. “Ini beneran langsung sembuh apa gimana? Berarti sebenarnya kamu enggak sakit, tapi memang pengin nikah saja, ya?” tudingnya lirih tentu saja menggoda Zee. Zee yang tampak jelas sangat lelah sekaligus mengantuk, perlahan tertawa sambil berusaha balik badan menghadap Devano.


Zee membingkai kedua wajah Devano. Kedua tangannya berangsur menepuk-nepuk pelan pipi Devano seiring kedua matanya yang kembali terpejam.


“I love you!” bisik Devano yang kemudian menempelkan bibirnya di batang hidung Zee, tapi Zee hanya membalasnya dengan bergumam.


Zee jelas kelelahan sekaligus mengantuk apalagi setiap hal jail yang Devano lakukan benar-benar tidak Zee gubris.

__ADS_1


Devano meraih ponsel di nakas yang ada di belakang punggungnya. Ia mendapati waktu yang sudah pukul dua pagi. Ia menggunakan ponselnya itu untuk memfoto wajah Zee, memfoto wajah mereka, tangan mereka yang sengaja ia buat saling menggenggam, terakhir memfoto langit-langit kamar. Dan Devano menjadikan langit-langit kamar sebagai status WA-nya, sementara foto tangannya dan Zee yang saling menggenggam dihiasi cincin, sengaja Devano gunakan untuk foto profil.


Keesokan harinya, semuanya tampak baik-baik saja, selain Zee yang memang masih mengeluhkan sakit efek malam pertama yang mereka lalui. Mereka sarapan lebih awal dan masih mereka lakukan di kamar karena Zee harus makan sekaligus meminum obatnya tepat waktu.


Sepanjang itu, Devano yang melakukan semuanya. Dari membangunkan Zee setelah ia terbangun lebih dulu karena alarm yang dipasang, juga mengambil makanan yang di antar ke kamar hotel mereka menginap. Mereka makan di balkon sambil menikmati suasana pagi yang sejuk dari sana.


“Kamu enggak mau memuji kecekatanku dalam menjadi seorang istri?” tanya Devano yang begitu sibuk memandangi Zee khususnya bagian wajah hingga ke pundak.


Zee yang awalnya mesem, menatap tak percaya Devano, menjadi tersipu. Mulutnya masih penuh makanan sehat yang Devano pesan untuk mereka. Iya, lagi-lagi Devano ikut mengonsumsi apa pun yang Zee konsumsi.


“Suamiku haus dipuji?” lirih Zee sengaja menggoda.


Devano menggeleng sambil membuka tutup kemasan air mineralnya. “Enggak hanya itu, sih. Soalnya kalau bisa ya selalu lebih.” Dengan santai, ia menenggak minumannya, tanpa peduli pada sang istri yang menjadi sibuk menertawakannya.


Mengawasi penampilannya, Zee menyadari piama lengan pendek warna kuning yang ia pakai, menjadi satu-satunya pakaian yang tersisa. Sebab awal mereka ke sana memang untuk keperluan resepsi lamaran. Piama kuning itu pun yang Zee pakai ketika menjalani rias.


“Pakai seprai saja, dililitin ke tubuh kamu. Pasti cocok,” jail Devano dengan santainya ketika wanita yang duduk di hadapannya, mengeluhkan pakaian yang tersisa.


“Kalau beneran begitu, orang-orang pasti bakalan mikir, suami wanita itu pasti enggak waras!” kes Zee tapi Devano malah tertawa puas.


Zee membiarkan Devano bahagia dan menuangkannya melalui tawa yang seolah sangat sulit untuk berakhir.


“Kalau sudah beres pengobatan, kita langsung jadiin, ya? Aku pengin punya banyak anak!” ucap Devano mendadak serius.

__ADS_1


“Memangnya Pak Kompeni mau punya anak berapa?” manis Zee kian tersipu. Ketika Devano sibuk tertawa ataupun menahannya, ia memang kesulitan berhenti tersipu.


“Sebanyak-banyaknya. Aku akan menciptakan banyak kompeni andal!” ucap Devano yakin seyakin-yakinnya.


Zee benar-benar terbahak.


“Anda juga jangan lupa, setelah Anda menikah dengan saya, otomatis Anda juga jadi bagian dari perkompenian!” tegas Devano dengan gaya rese bin bawelnya.


Zee langsung terbahak-bahak, batuk karena tersedak ludahnya sendiri. “Tapi aku bakalan jadi kompeni baik hati.”


“Kompeni baik hati bagaimana? Di mana-mana ya sama saja!” cibir Devano yang kemudian meraih kotak obat Zee dan menyiapkannya. “Obatnya diminum dulu, jangan sampai telat.”


“S-sayang, ... obatnya keras banget apa, ya? Rambutku makin rontok,” lirih Zee serius dan membagikan kekhawatirannya kepada sang suami.


Devano menatap santai Zee. “Kanker kan memang keras. Baik yang penyakit maupun yang kantong kering—kanker.” Balasannya sudah langsung membuat sang istri menahan tawa. “Makanya kamu harus makin sering bersyukur, ... sekeras-kerasnya aku, aku masih peduli ke kamu. Aku juga bisa romantis, kan?”


Zee yang awalnya tersipu menjadi cemberut manja. “Romantis ya romantis, tapi enggak sampai pasang fotoku lagi tidur mangap buat wallpaper hp!” kesalnya. Ia meraih ponsel Devano dari hadapan pria itu kemudian menunjukkan keluh kesahnya dan itu memang ada di layar ponsel Devano. Namun dengan entengnya, Devano malah tertawa bahagia.


Bangun tidur tadi, yang langsung Zee lakukan memang memeriksa ponsel Devano. Awalnya tujuan Zee adalah menu galeri setelah sebelumnya menggunakan telunjuk Devano untuk membuka sandi ponsel. Namun belum juga apa-apa, Zee sudah langsung mengenali wallpaper tak berfaedah yang menghiasi layar ponsel suaminya.


Beruntung, segala foto yang Devano kirim untuk status di media sosial masih aman. Meski tentu saja, memiliki suami super jail sekelas Devano membuat Zee waswas. Jantung Zee juga jadi kurang aman karena setiap saat harus menahan tegang. Terlebih, semacam urusan romantis saja Devano masih saja jail.


“Menikah jadi imun baik kamu bertambah, ya?” tanya Devano kali ini serius. Wanita di hadapannya langsung diam dan perlahan menatapnya sambil tersipu.

__ADS_1


__ADS_2