
“Berkas kemarin yang dari papah, sudah dibawa, kan?” ucap Devano sembari melangkah cepat menuju ruang kerjanya. “Berkas itu lebih berharga dari nyawamu! Jadi kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, kan?”
“Tahu penting, kenapa bukan Pak Vano saja yang simpan, sih?!” keluh Zee. “Baru sampai sudah langsung jadi kompeni!” batinnya buru-buru mengeluarkan kunci dari tas kecilnya, kemudian menggunakannya untuk membuka brankas di bawah meja kerja miliknya. Meja kerja yang keberadaannya berada persis di depan ruang kerja Devano.
Masih dengan sangat buru-buru, Zee menyusul Devano setelah sebelumnya memboyong setumpuk berkas dari brankas. Tak lupa, ia juga langsung mengunci brankasnya sebelum meninggalkannya. Hingga walau ia tertinggal cukup lama, ia bisa langsung mengejar Devano. Terlebih, Devano sampai diam, dan ternyata ada seseorang yang tengah mengawasi suasana ruang kerja seorang Devano.
“Kejutan!” ucap Rayyan benar-benar lembut.
Zee yang melongok dari punggung sang bos, juga turut mendapat senyum super manis dari seorang Rayyan. Semurah itu senyum seorang Rayyan, berbanding jauh dari Devano.
Yang Zee lihat, Devano terlihat tidak suka dengan kejutan dari Rayyan. Padahal sebagai saudara, harusnya mereka dekat. Namun jika Zee melihat cara Devano menatap Rayyan, yang ada Devano terkesan membenci Rayyan.
“Selamat bergabung. Namun mohon maaf, bisa tolong secepatnya tinggalkan kami karena kami mau urus banyak pekerjaan?” ucap Devano.
Rayyan yang langsung tak berkutik, juga langsung fokus menatap Zee. Dalam dekapan wanita cantik berkulit sawo matang eksotis itu, dipenuhi setumpuk map dan berkas. Seperti yang Devano katakan dan tampaknya keduanya akan sangat sibuk.
“Aku pikir jam kerja belum mulai, jadi aku sengaja ke sini agar kita bisa mengobrol,” ucap Rayyan yang kembali fokus menatap Devano.
“Aku bahkan sampai disebut kompeni hanya untuk kelangsungan perusahaan keluargamu,” ucap Devano yang kemudian menghela napas lengkap dengan memasang wajah lelah.
“Ya sudah, semangat!” ucap Rayyan kepada Devano. Ucapan yang juga masih sama dengan yang ia katakan kepada Zee.
“Kenapa ucapan pak Devano seolah mereka asing? Bukankah mereka bersaudara?” pikir Zee yang merasa interaksi Devano dan Rayyan terlalu kaku.
“Mohon bimbingannya,” ucap Rayyan kepada Zee, sebelum ia benar-benar pergi. Tentunya, senyum manis melebihi madu, masih menjadi ekspresi tunggal dari seorang Rayyan.
“Enggak salah? Masa iya, dia minta bimbingan ke aku? Memangnya dia mau menempati posisi apa?” pikir Zee yang memang menunduk, tapi langsung terkejut lantaran wajah Devano sudah ada di bawah wajahnya. Lebih tepatnya, pria itu menatapnya dengan tatapan khas ketika seorang Devano sangat penasaran.
__ADS_1
“Wajah kamu enggak merah. Tapi kamu pasti deg-degan, kan?” tuding Devano telanjur yakin, Zee langsung baper gara-gara sikap manis Rayyan.
“Wajah merah bagaimana? Deg-degan gimana? Ya jelas deg-degan, kan aku masih hidup!” balas Zee sewot.
Devano langsung mundur. “Pura-pura. Pasti kamu malu buat ngaku!” tudingnya.
“Apaan sih pak Vano! Beban hidupku sudah terlalu banyak, jadi tolong jangan ditambah dengan tudingan tak beralasan Pak Vano mengenai perasaan saya kepada si Rayyan!” kesal Zee yang masih saja dikejutkan dengan tingkah ajaib Devano yang mendadak menahan dahi berikut punggung kepalanya menggunakan kedua tangan. Gaya Devano mirip orang yang tengah berusah merukiyah.
Dari depan meja kerja Zee, Rayyan yang tak sampai bisa mendengar obrolan Devano dan Zee, hanya menatap iri keseruan di dalam sana. Setelah Devano menahan dahi dan juga punggung kepala Zee, Devano yang sampai memban*ting Zee dan terlihat karena sangat gemas, membuat pria itu buru-buru menahan punggung Zee hingga kedua sejoli itu malah mengalami adegan romantis.
“Seorang Devano benar-benar jatuh cinta,” batin Rayyan.
Di jam istirahat, Zee yang sampai melepas sepatu heels-nya dikejutkan oleh sebuah termos kopi berukuran sedang yang menghalang-halangi langkahnya dari samping. Padahal, Zee baru saja meninggalkan area ruang kerjanya. Namun, seseorang tampak sengaja menghentikannya dan lebih anehnya lagi, orang itu Rayyan.
Rayyan tak hanya membawa satu termos kopi berbentuk cup gelas. Karena pria itu membawa satu lagi dan berangsur dinikmati.
“Di sini, aku beneran enggak kenal siapa pun kecuali kamu, kak Vano, papah Restu, sama ayah Mario. Jadi tolong, jadilah temanku! ” yakin Rayyan.
Zee yang langsung membuka tutup termos gelas kopinya berkata, “Kalau aku enggak mau jadi teman kamu, bagaimana? Masalah kopi, aku bisa ganti dengan kopi yang sama!” Ia menatap Rayyan penuh kepastian.
Walau awalnya langsung bingung dengan tanggapan dingin Zee, Rayyan tak segan mendekap erat Zee dari samping.
“Ih, ini apa-apaan?” protes Zee berusaha menyingkirkan kedua tangan Rayyan tapi pria itu tidak peduli.
“Sudah, jangan kaku. Sebentar lagi kan kita bakalan jadi ipar. Kak Vano pasti enggak marah, masa sama adik sendiri cemburu!” yakin Rayyan.
Tanpa Zee apalagi Rayyan ketahui, Devano yang ada di belakang mereka, sudah langsung menatap marah kebersamaan mereka.
__ADS_1
“Pak Rayyan, ... Pak Rayyan, tahan. Ini saya belum waktunya istirahat karena saya harus menghadap pak Restu sekarang juga! Jadi, mohon maaf ya. Saya pamit dulu! Dah ... makasih banyak kopinya!” ucap Zee sambil terus berlari dan sesekali menatap Rayyan.
Sebelum Zee sampai menoleh ke belakang, Devano yang cerdik sudah lebih dulu bersembunyi di balik tembok menuju ruang kerjanya maupun Zee. Dari sana juga, ia masih mengawasi gerak-gerik Rayyan. Pria yang selalu menang dalam urusan cinta darinya itu, masih melepas kepergian Zee.
“Kenapa Rayyan selalu hobi merebut wanita yang aku sukai?” pikir Devano.
***
“Nanti malam kita ada jadwal tambahan,” ucap Devano ketika akhirnya Zee kembali.
“Sudah biasa!” Zee yang kali ini sudah sampai nyeker, menatap sebal suasana luar yang sudah sore. Sebab andai ia memberikan tatapan sebal itu kepada Devano, yang ada ia pasti dikasus oleh yang bersangkutan.
Seharian ini, Zee sudah bekerja mirip singa kelaparan hingga rias yang ia pakai sudah luntur bersama keringat yang dihasilkan dari kerja kerasnya. Termasuk juga, kedua bulu matanya yang akhirnya itu lepas lantaran sudah mulai lepas. Memang harus setahan banting itu jika ikut Devano. Termasuk pekerjaan tambahan yang baru saja Devano kabarkan.
“Ya sudah ayo kita pulang. Kita ke salon biar kamu bisa perawatan. Biar kamu juga good looking!” yakin Devano.
“Taai!” balas Zee tidak percaya.
“Kok taii?” Devano yang baru berdiri, langsung syok.
“Ya iya, taiii. Enggak mungkin sekelas Pak Devano jam segini memulangkan karyawan! Pak Devano kan kompeni, masa iya lupa!” balas Zee menjelaskan sejelas-jelasnya.
Devano langsung tidak bisa berkata-kata. Namun sekitar satu menit kemudian, ia berangsur menghela napas dalam. “Beri saya hadiah kalau saya memulangkan kami sekarang!”
“Pak Vano memecat saya?” balas Zee masih belum paham.
“Lama-lama aku beneran bisa jadi sumo kalau gini caranya. Ayo cepat siap-siap pulang. Mamah sudah lagi OTW ke salon juga!” omel Zee.
__ADS_1
“Eh, ini beneran?” Zee makin sulit percaya, tapi ia memutuskan minggat lantaran Devano sudah sampai mengambil tanda pengenalnya sebagai CEO di sana. Tanda pengenal yang otomatis bisa langsung membuat Zee pingsan andai benda berbahan marmer itu berakhir di kepalanya.