Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
39 : Si Wajah Bayi


__ADS_3

“Aku yakin, kamu sudah tahu semuanya. Kamu pasti akan menyalahkanku walau jelas, apa yang aku ambil memang hakku!” ucap Rayyan lirih sekaligus tenang.


Tidak ada perubahan berarti dari seorang Rayyan. Pria itu masih sangat tenang. Tatapan yang begitu teduh, juga wajah tak berdosa mirip bayi.


Zee menatap wajah tenang di hadapannya dengan sangat serius. Ia menggeleng pelan. “Aku tidak akan pernah menyalahkan siapa pun termasuk itu menyalahkan kamu. Karena aku yakin, sebelum melakukan ini, kamu tahu risikonya. Namun, bisa aku pastikan, aku tak segan menjadi kejam jika kamu sampai berani melukai Devano lagi!”


“Tidakkah kamu berpikir untuk menjadi milikku dan selamanya bersamaku? Aku akan memberimu apa pun yang kamu mau melebihi yang kamu terima dari Devano,” balas Rayyan tulus, tapi wanita yang ia tawari langsung menggeleng tegas.


“Sampai kapan pun, kamu tidak akan bisa memberi lebih dari Devano karena semua yang Devano berikan benar-benar tak bisa dibeli dengan apa pun, bahkan itu seluruh kekayaanmu!” tegas Zee walau ia masih berucap lirih. “Jangan pernah menjadi sumber luka untuk keluargamu sendiri. Harta dan jabatanmu tidak akan pernah menyelamatkan kamu jika kamu saja tega menghancurkan keluargamu!” tegas Zee yang kemudian memutuskan untuk langsung pergi.


“Aku melakukan ini karena kamu. Benar-benar kamu! Karena aku mencintaimu sejak awal aku melihatmu!” yakin Rayyan.


Apa yang Rayyan katakan, membuat Zee refleks melangkah lebih pelan. Namun, Zee tak membiarkan itu terjadi lebih lama lagi. Zee tak mau termakan omongan apalagi tipu daya seorang Rayyan. Karena seperti yang Rayyan katakan, tak selamanya wajah bayi juga memiliki kelakuan bayi.


“Kamu orang yang aku wawancara saat awal kamu masuk ke perusahaan.” Rayyan kembali berucap lantang.


Bersamaan dengan itu, di ingatan Rayyan mendadak terputar kejadian di masa lalu. Saat awal dirinya bertemu Zee layaknya apa yang tengah ia yakinkan kepada Zee.


“Aku menggantikan pak Restu yang ingin Devano memiliki sekretaris terbaik. Saat itu aku memilihmu walau bagi Devano, tampangmu terlalu biasa!” yakin Rayyan lagi.


Disebut dulu dirinya bertampang sangat biasa, Zee tidak mempermasalahkannya. Karena dulu, Zee memang tidak memedulikan penampilannya. Dulu itu, Zee tipikal yang merasa cukup asal dirinya berpenampilan sopan. Belum lagi, kematian sang mamah ditambah sang papah yang menjadi sering sakit bahkan penyakit sang papah bukan penyakit sepele, memang telanjur membuat Zee merasakan tekanan batin yang luar biasa.


Jangankan memedulikan penampilan, dulu otak Zee saja hanya berisi bagaimana caranya agar dirinya bisa mendapat pekerjaan yang menghasilkan banyak uang dan itu masih halal?


Barulah setelah bekerja kepada Devano yang sudah langsung memperlakukannya layaknya tawanan, akhirnya Zee mendapat pendapatan yang mencukupi. Tak hanya biaya hidup sekaligus pengobatan sang ayah yang bisa Zee tutup. Karena gaji dari bekerja menjadi sekretaris yang kadang merangkap menjadi asisten pribadi seorang Devano, memang lebih dari lumayan.


“Aku tidak tahu apa sebenarnya maksud kamu, tapi caramu begini sangat kekanak-kanakan! Caramu begini sangat merugikan. Tidak hanya merugikan orang lain. Karena dari semuanya, kamulah yang paling rugi!” ucap Zee setelah ia sampai menoleh sekaligus menatap Rayyan.

__ADS_1


“Kamu berharap, aku bertanggung jawab karena kamu melakukan semua ini gara-gara aku? Itu namanya egois terlebih aku tidak pernah memintanya!”


Mendengar itu, Rayyan tetap bungkam. Ia jadi tidak memiliki keberanian untuk menatap Zee secara terang-terangan.


“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Berhenti sekarang sebelum kamu semakin menyesal!” yakin Zee sebelum ia kembali pergi.


“Aku tidak akan pernah berhenti!” yakin Rayyan sengaja berucap lantang lantaran Zee terus meninggalkannya. “Sampai kapan pun, aku benar-benar tidak akan pernah berhenti!”


Rayyan menangis, terpejam pasrah tanpa bisa mengakhirinya. Selalu begini, benar-benar tidak pernah berubah. Dirinya selalu tertinggal jauh, kalah dari Devano dalam hal apa pun. Dalam hatinya, itu lah yang ia keluhkan. Rayyan merasa takdir baik tak pernah berpihak kepadanya. Dari dulu, sampai sekarang, semua kebaikan hanya berpihak kepada Devano.


Di lain sisi, Zee menjadi takut kepada Rayyan. “Bertampang bayi, tapi diam-diam begitu. Jangan-jangan, sebenarnya Rayyan psikopat. Aku jadi takut, ... takutnya dia beneran nekat melukai Vano. Semoga ketakutanku tidak pernah terjadi. Semoga semuanya baik-baik saja, dan Rayyan pun juga menyadari kesalahannya,” batin Zee.


Namun di dalam mobilnya, Rayyan yang sudah menyeka tuntas air matanya, malah mendapat amplop berisi foto Cheryl.


“Wajahnya mirip yang dipajang di galeri dan mal kita karena dia pernah mencuri di sana,” ucap Rayyan dengan suara lembutnya yang benar-benar menenangkan.


Senyum cerah perlahan menghiasi wajah Rayyan yang tampan. Rayyan membaca informasi mengenai Cheryl dan memang tercatat secara rinci di sana.


“Sekarang dia dipenjara. Besok juga, dia sudah harus keluar dari penjara,” ucap Rayyan sembari menyerahkan informasi mengenai Cheryl, tanpa terlebih dulu memasukkan dokumen dan berkasnya ke dalam amplop lagi.


“Asal Tuan Rayyan yang meminta, semuanya pasti akan terjadi dengan begitu cepat, bahkan hal mustahil sekalipun!” ucap sang sopir sangat yakin bersama tatapannya yang mengawasi tuan mudanya melalui kaca spion di atasnya. Dari sana ia melihat, bos tampannya yang langsung tersenyum kalem.


***


“Devano ... kamu tahu, daripada yang menyukaimu, di dunia ini lebih banyak yang membenci kamu?” Tiba-tiba saja, Zee ingin mengatakan itu apalagi kini, Devano tengah melilitkan syal hangat ke lehernya.


Di subuhnya sesuai jadwal, Devano jadi menjemput Zee ke kontrakan. Tampak pak Lukman yang baru lewat membawa koper Zee yang terbilang besar.

__ADS_1


“Biar mereka blangsattan. Sudah mau mereka begitu dan jangan salahkan aku karena berurusan denganku saja sudah bikin hidup mereka susah, apalagi kalau berani macam-macam!” oceh Devano yang kemudian mengga deng Zee masuk ke dalam Alphard hitamnya. Di sana, ibu Arnita tengah menatap serius layar ponsel sambil sesekali melahap apel dari kotak bekalnya.


“Te ...?” sapa Zee lembut dan langsung menyalami takzim tangan kanan ibu Arnita yang juga langsung menyambutnya dengan hangat.


“Duduk, ya ... Sayang, ... Zee ajak sarapan dulu, ya,” ucap ibu Arnita masih fokus dengan ponselnya.


Devano mengajak Zee duduk di belakang, dan itu langsung mencuri perhatian ibu Arnita. Ibu Arnita sampai melongoknya.


“Kalian kenapa? Kakak enggak duduk di depan kayak tadi?” tanya ibu Arnita memastikan.


“Apaan sih, Mah. Kayak enggak pernah muda. Ini harusnya ditutup tirai biar lebih privasi mirip warung makan yang tetap beroperasi di bulan puasa!” keluh Devano.


Tak hanya ibu Arnita dan pak Lukman saja yang menertawakannya. Karena Zee yang baru mengetahui sisi lain seorang Devano juga sampai sakit perut.


“Kenapa, sih?” tanya Zee di sisa tawanya.


“Sudah, kamu fokus suapi aku saja biar kita tetap bisa sarapan sebelum menjalani penerbangan!” balas Devano masih jengkel sambil bersedekap.


“Memangnya kamu mau ngapain, enggak fokus sarapan sendiri?” balas Zee.


“A-aku mau fokus!” yakin Devano.


“Fokus ngapain?” balas Zee yang malah ingin jail. Tampang Devano jika sedang sewot karena jual mahal layaknya sekarang, benar-benar menggemaskan.


“Ya fokus napas. Kalau aku sampai salah napas kan bahaya!” yakin Devano yang sudah sangat geregetan kepada Zee. “Kamu yah, Zee, ... malah ketawa. Untung aku sayang kamu, kalau enggak, pasti sudah aku serahin kemu buat bahan pesu*gihan!” kesal Devano lagi.


Bukan hanya Zee yang langsung tertawa sampai lemas. Karena ibu Arnita juga sampai menangis. Wanita itu tak lag bisa fokus menatap layar ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2