
Hal yang langsung Cheryl lakukan ketika memergoki Zee ada di resepsi mewah keberadaannya adalah melakukan segala cara untuk mempermalukan wanita itu. Ditambah lagi, kali ini Zee tampil begitu cantik dengan gaun pesta yang terlihat mahal dan membuat penampilan Zee makin menawan.
Namun, apa yang terjadi? Es cendol yang Cheryl pilih dari jajaran meja di prasmanan malah berakhir sia-sia walau sebelumnya, Cheryl sudah menumpahkannya ke tubuh Zee. Devano yang sedari awal menggandeng Zee lah pelakunya. Devano dengan sigap mendekap tubuh Zee dari belakang kemudian membawanya mundur. Membuat usaha Cheryl mempermalukan Zee gagal total.
Rendan yang menjadi pasangan Cheryl dan tak sengaja memergoki Cheryl langsung tercengang. Bukan karena ulah Cheryl, melainkan wanita yang diincar dan kini didekap erat dari belakang oleh seorang pria gagah dan tak lain Devano. Alasan yang membuat seorang Rendan langsung curiga, wanita cantik sangat memesona dalam dekapan Devano malah Zee. Rendan sungguh pangling kepada wanita yang masih ia harapkan mau kembali memberinya kesempatan, agar mereka bisa bersama-bersama lagi itu.
“Tukang kutil pakaian di mal, sudah berkeliaran dan langsung bikin ulah di resepsi orang?” sinis Devano seiring ia yang menuntun Zee keluar dari dekapannya. “Kamu masih wajib lapor dan andai kamu sampai terlibat kriminal lagi, otomatis kamu langsung masuk kandang, kan?” lanjutnya dan tentu saja menuding Cheryl. Ia menggeleng tak habis pikir sambil tersenyum mengejek kepada Cheryl. Di hadapannya, wanita itu kebingungan dan berangsur meminta maaf.
“Maaf karena saya ceroboh!” ucap Cheryl.
“Ceroboh bagaimana? Jelas-jelas kamu niat!” tepis Devano keji bahkan untuknya sendiri.
Cheryl yang kebingungan karena menghadapi Devano tak seperti yang ia pikirkan, sengaja berkata, “Saya benar-benar tidak sengaja.”
“Dasar wanita ular! Terus, kamu masih tetap tidak mau minta maaf setelah membuat orang lain kritis dan nyaris meregang nyawa?” lanjut Devano. Karena Cheryl hanya kebingungan dan terlihat jelas berusaha mengelak, Devano pun berkata, “Memang dasarnya kamu enggak bener sih!”
__ADS_1
“Baru tadi pagi mohon-mohon, sekarang sudah nempel lagi. Memang kalian enggak ada yang bener, sih. Kalian terlalu cocok hingga apa pun yang terjadi bahkan walau isinya hanya sengsara, aku harap kalian selalu bersama!” Kali ini, Zee yang angkat bicara. Ia menatap miris Rendan kemudian menggeleng. Kepada Cheryl pun, ia melakukan hal yang sama.
Lantaran kedua sejoli yang mengikuti tak kunjung merespons setiap pertanyaannya, ibu Arnita merasa heran. Benar saja ketika akhirnya ia memastikan, baik Devano dan Zee tak lago di belakangnya. Malahan setelah ia mencari, Zee dan Devano tertinggal di belakang.
“S-sayang, itu anak-anak!” Ibu Arnita sengaja mengabarkannya kepada pak Restu.
Pak Restu langsung mengawasi dengan serius. “Sepertinya ada yang enggak beres,” lirihnya sambil menatap khawatir sang istri, walau yang ia khawatirkan tentu Devano dan Zee.
Ibu Arnita mengangguk-angguk kemudian buru-buru memimpin langkah. Membuat pak Restu otomatis mengimbangi karena mereka memang masih bergandengan.
“Sayang, ini ada apa?” tanya ibu Arnita berdiri di sebelah Zee dan perlahan agak di depan calon menantunya itu. Kenyataan kini yang diliputi ketegangan membuatnya yakin, kebersamaan di sana tidak baik-baik saja. Ditambah lagi, di lantai dengan Zee juga sampai ada cendol yang tumpah dalam jumlah banyak, padahal gelas yang ia yakini sebagai wadahnya, ada di tangan si wanita bergaun hitam di hadapan Zee.
Wajah Cheryl dan Rendan sudah langsung pucat sekaligus berkeringat.
“Mohon maaf Pak Devano, ... ini maksud Pak Vano bagaimana?” ucap Rendan berusaha sesantun mungkin walau jujur saja, ia sudah sangat ingin memesan pembunuh baya*ran untuk mengha*bisi Devano.
__ADS_1
“Taiii emang kamu!” kesal Devano.
Ibu Arnita menghela napas pelan sekaligus dalam. “Sekarang kita memang harus lebih hati-hati buat menilai seseorang. Karena yang namanya sahabat dan benalu itu bedanya tipis. Namun kamu wajib bersyukur, keputusanmu membuang mereka merupakan keputusan yang sangat tepat. Enggak apa-apa kamu kehilangan mereka, kamu terlalu istimewa buat orang seperti mereka.” Ia sengaja mengambil alih Zee, merangkulnya dan melanjutkan obrolan dari hati ke hati, sebagai wujud kepedulian sekaligus dukungannya. Sebab Ibu Arnita yakin, berada di posisi Zee yaitu dikhianati oleh calon suami dan sahabat sendiri, sangat tidak mudah.
“Pantas kamu bisa mengimbang Devano. Karena pada kenyataannya, kamu memang wanita hebat!” tutup ibu Arnita sambil mengelus penuh sayang sebelah wajah Zee.
Zee langsung tersipu. “Kalau keadaannya sudah seperti ini, harusnya aku sama pak Vano enggak hanya pura-pura. Coba nanti aku tanya ke pak Vano, masa iya mau pura-pura terus?” batin Zee.
Sementara itu, para laki-laki khususnya pak Restu, tengah menatap saksama wajah Cheryl. “Kak, kok wajahnya enggak asing, ya? Wajah wanitanya.” Ia menatap Devano penuh keyakinan.
“Ya iya enggak asing. Wajahnya kan masuk jajaran orang terlarang memasuki mal kita karena kemarin selain enggak bisa bayar belanjaan, dia ini juga kepergok ngutil! Fotonya kan sengaja dipajang, disebar di sepanjang mal buat pembelajaran. Agar yang lain enggak ikut-ikutan!” jelas Devano.
“Oalah ....” Pak Restu benar-benar syok. Namun ia juga baru ingat, alasan wajah Cheryl baginya tidak asing, juga karena foto Cheryl yang disebar di sepanjang mal.
Menyimak itu, Cheryl yang merasa sangat malu, hanya tertunduk dalam. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain pergi dari sana, meninggalkan Rendan begitu saja.
__ADS_1
“Pria ini juga enggak asing, ya?” Kali ini, yang pak Restu maksud Rendan.
Sebelum dikuliti habis-habisan lagi oleh mulut jahat Devano, Rendan buru-buru permisi sekaligus pergi. Namun dengan lantang, Devano menyebutkan bahwa Rendan merupakan perwakilan dari departemen store yang kontraknya baru Devano putus paksa sebab sang bos tak mampu membuat Rendan meminta maaf kepada Zee apalagi pak Samsudin.