
Senyum manis Rayyan perlahan surut ketika tatapan pria itu berhenti di wajah Zee. Wajah Zee memang tak sepucat saat terakhir mereka bertemu, tapi topi hangat yang wanita itu pakai hingga menutupi telinga terlalu mencolok. Mustahil Zee tidak memiliki alasan khusus hingga wanita itu seolah wajib memakai penutup kepala. Tak hanya kepala yang sengaja Zee tutup, tapi juga kedua telinganya. Seolah, wanita itu juga menghalau rasa dingin.
“Kamu sakit, Zee?” pertanyaan tersebut Rayyan lontarkan karena setelah ia amati dengan cermat, rambut Zee juga makin tipis. “Kalaupun kamu langsung hamil, kenapa rambut kamu makin tipis ...?” Melihat rambut Zee yang sekarang benar-benar membuatnya khawatir. Bahkan walau ia tahu, yang Zee butuhkan hanya Devano. Walau sedikit, Rayyan yang tetap masih menyayangi Zee memang ingin berguna bagi wanita itu.
Zee perlahan mendongak hanya untuk menatap Devano yang juga perlahan menatapnya. “Ada kanker di dalam tubuhku. Sudah stadium dua, dan untung sudah langsung ketahuan. Berkat Devano, semuanya teratasi lebih dini. Alasan yang juga membuatku begini. Juga, alasan yang membuat Devano buru-buru menikahiku hanya agar Devano bisa mengurusku dengan leluasa. Itulah kenapa, sampai kapan pun, bagiku Devano tidak akan pernah tergantikan.”
“Manis sekali ... ternyata dalam banget cinta kalian,” batin Rayyan refleks.
Apa yang Zee katakan dan itu memang terdengar sangat manis terlebih di telinga Devano yang sampai mendapat pujian, membuat pria itu berangsur berdeham.
“Harusnya kalau Devano sudah turun tangan jadi dokter kamu, sekelas kanker enggak ada yang berani lagi ke kamu!” ucap Rayyan sambil tersenyum manis. Ia melakukannya dengan tulus.
“Kalian enggak perlu sedih. Karena selain sedih hanya bikin imun makin burruk, sekelas malaikat maut saja takut ke Devano, apalagi kanker, kan?” Selain itu, Rayyan juga jadi ingat kenyataan Zee dan Devano yang menjadi makan serba sehat. Benar-benar serba rebus sekaligus matang, juga serba sayuran dan buah.
Tak lama kemudian, kebersamaan di sana menjadi senyap. Karena selain Rayyan tak lagi bicara, Devano dan Zee juga mendadak kompak diam. Keduanya tampak larut dengan pikiran masing-masing.
“Aku tamu, tapi kalian enggak mempersilakan aku duduk?” ucap Rayyan yang kemudian melangkah menuju tempat duduk yang ada di sana. Ia memilih duduk di sofa yang ada di sana. Tentunya ia memilih sofa tunggal karena sofa panjang yang ada di sana pasti akan digunakan oleh Zee dan Devano.
__ADS_1
“Kamu mau memata-matai perusahaan kami? Atau, ... kamu malah mau bikin produk KW dari produk-produk kami?” tanya Devano setelah ia duduk di sebelah Zee yang juga ia bantu duduk.
Dengan sangat tenang, Rayyan menatap kedua wajah di hadapannya. “Aku ingin mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik kalian. Aku merasa tidak cocok dengan jabatanku yang sekarang.”
“Bukannya enggak cocok!” sergah Devano memotong ucapan Rayyan. Setelah kedua orang yang di sana menatapnya, Devano sengaja berkata, “Memang enggak ada pantas-pantasnya laki-laki cengeng sekaligus enggak tahu pekerjaan seperti kamu malah jadi pimpinan. Kamu tuh cocoknya jadi, ....” Devano sengaja menggantung ucapannya hingga kedua orang yang ada di sana, menatapnya penasaran. “Pemain sinetron azab yang hidupnya selalu tertiindas! Hahahahaha!”
Ketika Rayyan langsung menunduk dalam, tidak dengan Zee yang langsung mesem dan perlahan menahan tawa. Begitulah Devano, terdengar kejam tapi memang jujur alias kenyataan. Kepada Zee yang selalu mengayomi saja, mulut Devano tetap tajam. Apalagi kepada Rayyan yang telah melakukan kesalahan fatal!
“Yang tadi aku serius,” ucap Rayyan mencoba kembali mengalihkan fokus di sana.
Devano langsung menggeleng sambil dadah-dadah menggunakan tangan kiri yang tidak merangkul pinggang Zee, kepada Rayyan. “Maaf, kami enggak menerima jabatan sumbangan apalagi jabatan titipan. Soalnya yang namanya sumbangan apalagi titipan, kalau diambil sewaktu-waktu tanpa aba-aba, rasanya mirip ditinggal pasangan pas lagi sayang-sayangnya!”
“Keterlaluan bagaimana? Enggak hanya keterlaluan, tapi apa yang kamu lakukan juga kebangetan sekaligus kurang ajjaar!” sergah Devano.
Lagi, Rayyan tak kuasa membalas karena itu juga yang telah ia lakukan. Ia sudah keterlaluan, kebangetan, sekaligus kurang ajjar kepada Devano apalagi kepada pak Restu.
Sadar dirinya tak memiliki andil, sampai detik ini Zee memilih diam. Zee memilih menyimak, dan baru akan mengoreksi jika memang ada yang perlu dikoreksi.
__ADS_1
“Kamu enggak usah mikir macam-macam. Kamu fokus belajar urus perusahaan saja pelan-pelan. Kamu sudah tua, jadi jangan hanya main-main. Sudah waktunya kamu belajar tanggung jawab dalam skala besar. Urusan aku dan papahku yang sampai resign dari perusahaan kamu, itu bukan berarti otomatis bikin kami menjalani hidup susah. Malahan walau perusahaan kami masih baru, andai aku langsung punya lima anak, gaji bulananku masih bisa bikin mereka obesitas dengan makanan enak!” jelas Devano.
Sadar dengan pembahasan sekarang juga memerlukan perannya, Zee sengaja berdeham kemudian berkata, “Apa yang Devano katakan benar. Kamu sudah dewasa dan sudah sepantasnya mengerjakan tanggung jawab dalam skala besar agar orang tuamu juga bisa menikmati masa tua mereka tanpa susah payah. Kami pun mulai begitu. Pelan-pelan mengambil tanggung jawab papah mamah agar mereka bisa menghabiskan masa tua mereka dengan indah.”
“Mikir kamu! Dengar dan praktikan apa yang baru saja Zee katakan! Kalau kamu sampai mendengarnya di seminar motivasi yang kamu ikuti, pasti kamu wajib bayar!” omel Devano kepada Rayyan benar-benar geregetan.
Rayyan masih diam dan perlahan menyudahi tatapannya kepada kedua mata Zee maupun kedua mata Devano. Ia menunduk ragu sekaligus berat.
“Jika kamu membahas ini dengan orang tuamu, mereka pasti akan sangat bahagia. Bicarakan dengan mereka, mintalah dukungan sekaligus arahan dari mereka, mereka pasti akan jauh lebih merasa berguna sekaligus dihargai,” lanjut Zee.
Apa yang baru saja Zee katakan sudah langsung masuk ke hati seorang Rayyan. Rayyan terpesona kepada Zee yang baginya makin cantik karena pola pikir wanita itu.
“Kalau aku ngajak kamu tukar tambah istri, ... bagaimana? Mau ...?” tanya Rayyan serius, tapi perlahan tersenyum. Ia menatap Devano penuh keseriusan, tapi yang bersangkutan sudah langsung berdalih kedua tangan Devano yang siap menghaj4r Rayyan, sudah akan langsung menjadi penggali kuburan untuk Rayyan.
“Cari istri sendiri karena istri tetangga maupun saudara yang menurutmu baik, belum tentu akan baik juga jika dipasangkan dengan kamu,” ucap Zee sementara di sebelahnya, Devano tak lagi berkomentar.
Setelah terdiam cukup lama, Rayyan yang kembali menatap kedua mata Zee dan juga Devano silih berganti sengaja mengucapkan terima kasih. Ia pamit dan sengaja menyalami Devano. Namun ketika ia akan melakukannya kepada Zee, tangan kanan Devano yang baru ia lepas sudah langsung kembali menjabat tangannya. Devano benar-benar tak mengizinkannya menjabat tangan Zee.
__ADS_1
Tak lama setelah kepergian Rayyan, tak ada tiga puluh menit, seseorang kembali datang mengetuk pintu ruang kerja Devano yang di dalamnya masih ada Zee. Devano dan Zee masih duduk bersebelahan di sofa panjang, tapi kali ini keduanya sedang fokus pada laptop di pangkuan masing-masing.
Yang membuat Zee dan Devano tak percaya, ternyata tamu yang karyawan mereka bawa, malah orang tua Rendan. Keduanya langsung menangis-nangis, memohon ampun sekaligus, ... bantuan.