Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
34 : Enggak Mau Pacaran Tapi Langsung Nikah


__ADS_3

“Hah ...? Apaaah? Tadi Pak Vano bilang apa? Ih, apaan, sih? Ngomong kok bisik-bisik ketikung kentut saja enggak kedengaran!” Zee menyisihkan anak rambutnya ke belakang telinga. Ia pura-pura tak dengar, memasang tampang yang bagi Devano sangat menyebalkan. Terbukti, Devano yang langsung terlihat murka, berangsur mendekat kemudian berteriak tepat di sebelah telinganya.


“Masih mau pura-pura enggak dengar?” omel Devano.


Zee yang keberisikan buru-buru minggat keluar dari kamar sambil lari bak menghindari kejaran hantu. Zee masuk ke kamar mandi dan mengunci diri di sana sambil menggosok gigi kemudian membasuh wajahnya dan sampai menggunakan sabun khusus.


“Zee ...?” panggil Devano terdengar malas dari luar sana.


“Enggak mau ah, aku enggak mau pacaran sama kompeni!” kesal Zee sambil mengeringkan wajahnya menggunakan handuk wajah. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati sambil sesekali melirik pintu kamar mandi di sebelahnya dan memang sampai ia kunci.


Devano yang berkecak pinggang dan berdiri tepat di depan pintu kamar mandi Zee berada, berkata, “Enggak mau pacaran, soalnya kamu maunya langsung nikah?”


Balasan santai dari sebelah, membuat Zee senyum-senyum sendiri. Pipinya sampai bersemu.


“Sepi, berarti kamu lagi senyum-senyum sendiri!” tebak Devano sinis. Mulutnya memang paling sulit berucap manis.


“Fitnah banget ih!” kesal Zee sengaja jual mahal.


“Merasa difitnah sama saja mengakui! Keluar kamu, kalau memang enggak merasa!” omel Devano.


Zee yang merasa tertantang sengaja membuka pintu. Ia melangkah kesal, dan malah terpeleset, berakhir terjatuh dalam dekapan Devano yang untungnya sigap mendekapnya. Dunia Zee langsung hening, menyisakan detak jantungnya yang menjadi berdetak sangat kencang, sebagai satu-satunya suara di sana.


“Aku tidak akan pernah melepaskanmu!” ucap Devano.


Bukan karena dirinya nyaris jatuh akibat terpeleset yang menjadi alasan Zee nyaris jantungan, melainkan karena dirinya malah didekap erat oleh Devano yang berdalih tidak akan pernah melepaskan Zee.


“Terima kasih banyak! Sampai kapan pun, aku mohon jangan lepaskan aku!” ucap Zee yang berangsur mendekap erat Devano.


“Nggak mungkin. Sebentar lagi saja kita akan jalan-jalan sekalian cari sarapan sama papah. Dikiranya kita kembar nempel, nempel terus kayak enggak punya kerjaan!” balas Devano.


Zee yang kembali merasa kesak, sengaja menggunakan tangan kanannya untuk mencubit perut Devano.

__ADS_1


“Aw ... aku akan belajar memaafkanmu!” ucap Devano sambil meringis kesakitan.


“Belajar romantis kenapa, sih?” ucap Zee.


“Belum bisa,” balas Devano blak-blakan.


“Mau jadi suamiku, enggak? Kalau enggak ya sudah karena jadi wanita penyebar melebihi wanita yang sudah melahirkan kamu saja, bagiku sangat berat!” balas Zee sengaja menantang.


“Oke! Ya sudah, cepat siap-siap. Papah kamu sudah menunggu di depan,” balas Devano menyanggupi.


“Aku sudah siap. Memangnya mau pakai apa lagi? Yang penting aku pakai baju, kan?” ucap Zee sembari mengakhiri dekapannya kemudian menatap tak habis pikir Devano yang juga langsung menatapnya tak habis pikir. “Apaan lagi? Aku memang begini, dan akan tetap begini walau dilulur pakai ramuan mujarab sekalipun. Dikiranya gara-gara aku enggak pernah mandi, kulitku enggak segonjreng situ?” sinis Zee yang juga sampai melirik sinis Devano.


“Kamu yang bilang, bukan aku!” balas Devano sengaja tidak mau disalahkan.


“Tapi dulu Pak Vano sering fitnah aku enggak pernah mandi hanya karena kulitku gelap!” sewot Zee.


“Walau kulit kamu gelap, yang penting cinta kamu sudah jadi penerang buat hidupku!” yakin Devano dan sukses membuat Zee tersipu. “Bentar, deh ... kok aku mendadak mual begini pengin muntah, ya?” keluhnya dan langsung menjadi kendang Zee yang sibuk memuk*ulinya asal.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Zee yang tetap memakai piama lengan panjang, sudah digandeng oleh Devano. Bersama pak Samsudin yang turut Devano gandeng, mereka jalan pagi menelusuri jalanan sekitar kompleks. Sementara yang dilakukan pak Lukman dan memang ikut melangkah di belakang ketiganya, pria itu beberapa kali mengabadikan kebersamaan ketiganya kemudian mengirimkannya kepada ibu Arnita melalui aplikasi WA.


Zee yang langsung balas menatap Devano berkata, “Setia, tanggung jawab, bisa membahagiakan aku lahir batin, sayang ke papahku juga, terus romantis juga!”


Jengkel, Devano sengaja mendorong Zee sambil berkata, “Sana cari ke pasar apa ke planet sebelah, ... ada enggak laki-laki seperti itu yang juga mau sama kamu!”


Pak Lukman bahkan pak Samsudin yang menyaksikannya sampai menahan tawa. Apalagi ketika Zee buru-buru lari kemudian mendekap erat sebelah tangan Devano dan tadinya sempat menggandengnya erat.


“Sudah nemu apa gimana? Kok sudah langsung balik?” tanya Devano masih mengomel. Di sebelahnya, Zee langsung sibuk mengangguk.


“Aku cukup sama kamu saja. Enggak apa-apa, enggak romantis. Yang penting setia, tanggung jawab, bisa bikin aku bahagia lahir dan batin, terus sayang juga ke papahku!” ucap Zee bertutur cepat kemudian membenamkan wajahnya di bahu Devano.


Devano mesem. Dalam hatinya, ia berkata, “Zee, sebelumnya aku belum pernah sayang ke wanita lain selain mamah dan saudaraku, seperti aku sayang ke kamu. Kamu beneran yang pertama bahkan satu-satunya.”

__ADS_1


“Ini hari kerja, tapi kamu malah santai?” tanya Zee sambil menengadah hanya untuk menatap Devano.


“Hari ini aku mau resign. Kamu mau gabung ke perusahaan baruku?” tanya Devano.


Zee yang masih menengadah menatap Devano langsung berkata, “Bohong! Resign apaan?”


“Jadi, kamu enggak mau sama aku kalau aku sudah bukan CEO di sana lagi?” tanya Devano seiring ia yang menghentikan langkahnya lantaran Zee lebih dulu melakukannya.


“Kamu serius? Kenapa? Kamu ada masalah, tapi enggak cerita? Apa masih berkaitan dengan berkas kemarin? Kan sudah ditemukan dan Cheryl pun sudah sampai dipenjara,” ucap Zee berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Si Rayyan!” balas Devano langsung sewot.


“Rayyan?” lirih Zee sengaja mengulang ucapan Devano karena memang tidak paham.


“Dia menginginkan posisiku. Dan memang sudah mengambilnya. Aku juga sudah mengajarinya semuanya sesuai keinginan mereka. Kemarin, ... Papah juga sampai resign!” ucap Devano blak-blakan karena mulutnya memang tidak bisa berbohong apalagi mengucapkan dusta hanya agar menciptakan hal manis.


Zee makin tidak paham. “Rayyan lebih muda dari kamu, kan?”


“Namun papah hanya anak sambung. Daripada hubungan keluarga kami hancur, ... daripada ada pertumpahan darah dan mamah pun memohon agar aku mundur, ... oke, aku mundur!” yakin Devano yang lagi-lagi menjadi melow jika membahas perusahaan.


Zee yang bisa merasakan kesedihan seorang Devano, juga ikut merasa sesak. Tak beda dengan Devano, kedua matanya juga berembun. “Tenang, nanti kalau aku ketemu Rayyan, bakalan aku tendang dia sampai ke rumah sebelah!” yakin Zee sambil munduk, walau kedua tangannya sudah langsung menepuk-nepuk punggung Devano.


“Jangan hanya ditendang, sih. Masukin saja ke kandang ayam, terus kunci. Biar dia di sana selama-lamanya, keluar-keluar pas kepalanya penuh uban. Asli aku dendam, tapi ya sudah aku mau bangun usaha sendiri saja. Apalagi papah mamah juga langsung bangkit ...,” ucap Devano yang sebenarnya belum selesai karen Zee sudah telanjur menahan.


“Kamu punya aku. Kamu bisa ngandelin aku!” yakin Zee yang sampai menggenggam erat sebelah tangan Devano menggunakan kedua tangannya.


“Oh, tentu! Aku punya kamu juga. Di kantor aku tetap bos kamu,” sergah Devano meyakinkan.


“Di rumah, aku yang bosnya!” sergah Zee tak mau kalah tapi langsung membuat Devano mingkem. “Deal, ya!” sergahnya memaksa.


“Okelah ... deal!” Devano benar-benar pasrah kemudian menjabat tangan kanan Zee yang sudah lebih dulu terulur.

__ADS_1


Pak Lukman dan pak Samsudin yang sampai diminta menjadi saksi, hanya geleng-geleng.


“Kalian cepat-cepat nikah saja, biar enggak ribut terus. Mumpung Papah masih hidup juga biar Papah masih bisa jadi wali Zee!” ucap pak Samsudin kali ini sengaja menasihati Zee dan Devano yang sangat sulit akur.


__ADS_2