
“Pakai heels kamu, kalau kamu enggak mau aku gendong!” kesal Devano lantaran di depan pintu sana dan sudah siap melangkah keluar, Zee tetap menenteng sepatu heels-nya.
Zee yang memang kelelahan dan sampai tak berdaya, berangsur balik badan menatap Devano. “Aku mau digendong, dong, Pak. Soalnya kakiku memang sakit banget.”
“Tapi tadi saya enggak benar-benar nawarin. Cuma buat formalitas!” yakin Devano mendadak berubah pikiran. Masa iya, dirinya beneran menggendong Zee dan itu di kantor di jam yang bisa dipastikan karyawan masih dalam formasi lengkap?
“Pak Vano jangan asal berubah pikiran. Nanti kalau Pak Vano asal bohong apalagi ingkar janji, seumur hidup Pak Vano, Pak Vano bakalan terus diikuti ular hitam belang putih!” yakin Zee dengan suara lemasnya.
Devano langsung ketar-ketir. “Kamu jangan asal nakut-nakutin, yah, Zee!” kesalnya.
“Nakut-nakutin gimana? Ini saya beneran serius Pak Vano!” yakin Zee walau kemudiaan sengaja berbohong, “Tuh kan, bener, Pak! Tuh, ularnya sudah datang!” Zee panik dan benar-benar kabur karena yang dibohongi langsung mengetahui kebohongannya. Walau sebelumnya, Devano sungguh langsung panik ketakutan memanggil nama Zee sekaligus meminta tolong.
“Eh, Zee! Kurang ajar, kamu, ya! Cepat ke sini! Balik ke sini biar saya bisa hukum kamu!” kesal Devano tetap mengejar Zee yang masih tetap membiarkan kedua kakinya nyeker.
Zee sangat menikmati kebersamaannya dan Devano saat ini. Terlebih biar bagaimanapun, balas dendamnya dengan menjaili Devano, sukses parah. Tak peduli walau semua mata sudah langsung memperhatikannya. Tak peduli walau di belakang sana, Devano sudah tidak sabar menelannya hidup-hidup.
Di lorong belakang dan baru saja Zee dan Devano tinggalkan, pak Restu memergoki Rayyan yang mematung, termangu menatap kehebohan Zee dan Devano. Pak Restu yang sampai dikawal seorang ajudan yang membawakan tas kerjanya secara khusus, sengaja merangkul Rayyan dari belakang. Pria muda itu terlihat begitu terkejut dan refleks memastikan, tapi langsung tersenyum hangat ketika tatapan mereka bertemu, terlebih pak Restu juga sudah langsung menatapnya hangat.
Bersama pak Restu sang om, Rayyan menjadi bagian dari pasangan heboh yang tadi sempat kejar-kejaran. Mereka memergoki Zee masih menangis dan tengah ditenangkan oleh Devano. Tadi, Zee terpeleset dan berakhir terbanting di teras lobi yang basah akibat terpaan hujan deras dan memang masih berlangsung.
“Kakak, kebiasaan. Hobi banget jail ke Zee!” tegur pak Restu serius.
Zee yang malu, buru-buru menghapus air matanya. Ia membiarkan Devano membopongnya masuk mobil pria itu dan memang baru terparkir di hadapan mereka.
“Sekalinya beneran digendong, eh dibanting duluan!” keluh Zee ketika Devano membantunya duduk.
__ADS_1
“Siapa yang banting, Zee. Jelas-jelas, tadi kamu jatuh!” yakin Devano yang jujur saja merasa bersalah. Kendati demikian, ia tetap merasa tak habis pikir lantaran Zee sangat ceroboh dan sangat gampang jatuh.
“Alasanku jatuh gara-gara dikejar Pak Vano!” kesal Zee yang menjadi irit bicara.
Zee berangsur mengelus-elus kedua kakinya yang kali ini terekspos sempurna karena ia memakai rok selutut.
Sambil duduk di sebelah Zee, Devano yang tetap memperhatikan gerak-gerik Zee berkata, “Sudah, jangan khawatir. Nanti kalau kaki kamu kenapa-kenapa, saya ganti pakai kaki kucing agar kamu juga enggak gampang jatuh!” yakinnya.
“Kalau boleh tahu, Pak Vano punya kenalan dukun san*tet atau cenayang sakti, enggak?” tanya Zee ketus.
Walau sudah curiga, Devano yang sempat terdiam, bertanya, “Memangnya kenapa?”
“Biar Pak Vano enggak kejam keterlaluan!” balas Zee sambil melirik sinis Devano.
Kebersamaan mereka dilanjutkan dengan keheningan karena baik Zee maupun Devano kompak diam. Barulah setelah sampai di salon, ada obrolan karena di sana sudah ada ibu Arnita yang sudah menunggu. Ibu Arnita datang lebih awal dan memang langsung menjalani rias.
“Jatuh dia. Kebiasaan, dia kan belum bahagia kalau belum elus-elus lobi!” ucap Devano.
Melihat keadaan Zee, ibu Arnita meminta perawatan khusus untuk wanita yang ia ketahu sebagai kekasih dari sang putra. Zee menjalani pijat sekaligus lulur seluruh badan.
Saking nyamannya karena selama dua tahun terakhir bekerja kepada kompeni yang selalu membuatnya bekerja bak singa kelaparan, Zee sampai ketiduran. Barulah ketika berendam di antara busa lembut dan kelopak bunga mawar, Zee sadar. Zee tak hentinya tersenyum ceria menikmati perawatan yang ia dapatkan.
Berdandan cantik sekaligus glamor, Zee dan ibu Arnita memakai gaun pesta bernuansa merah. Bedanya ketika gaun milik ibu Arnita berwarna merah maroon, gaun milik Zee berwarna merah permen yang sangat cerah.
Layaknya Zee dan ibu Arnita, Devano dan sang papah juga kompak memakai setelan jas dan dasi. Bedanya ketika pak Restu memakai kemeja lengan panjang warna putih dan menjadikan jas maroon sebagai atasannya, Devano yang memakai jas hitam, menjadikan warna merah selaras dengan gaun Zee, untuk kemeja dan dasinya. Pak Restu dan Devano menunggu di ruang tunggu karena walau tujuan masih sama, mereka tetap memakai mobil berbeda.
__ADS_1
“Kakinya enggak jadi diganti pakai kaki kucing?” sindir Devano sambil tersenyum mengejek kepada Zee.
“Enggak, dong! Kan sudah perawatan!” balas Zee dengan gaya yang benar-benar sombong. Ia langsung melangkah pergi meninggalkan Devano yang detik itu juga mengatainya sombong. Bedanya, kali ini pria itu melakukannya sambil tertawa.
“Itu jalannya yang bener! Mata sama kaki disinkronin!” omel Devano.
Zee yang kali ini membiarkan rambut panjangnya dikeriting gantung layaknya ratu kecantikan, berangsur menoleh dan membuatnya menatap Devano. “Makanya gendong atau setidaknya gandeng biar enggak jatuh lagi!” Namun kali ini, ia sengaja menggoda Devano.
Di belakang sana, Devano yang sempat kembali semena-mena kepadanya sudah langsung salah tingkah, selain pipi putih Devano yang menjadi merah.
Pesta pernikahan yang mereka datangi merupakan pesta pernikahan yang sangat mewah. Halaman hotel berbintang selaku tempat resepsi pernikahan digelar, penuh dengan papan ucapan bunga. Devano bilang, resepsi yang mereka kunjungi merupakan resepsi dari anak salah satu pengusaha terkaya di Indonesia.
Devano dan Zee yang ditunggu di lobi hotel oleh pak Restu dan ibu Arnita, segera mengekor kepada keduanya. Sampai di titik sekarang, Devano dan Zee tetap tidak bisa tenang. Zee memberikan tas tangan mewahnya yang memang sudah disediakan khusus oleh Devano layaknya keperluan lainnya, kepada Devano.
“Ini ngapain lagi, sih?” omel Devano dengan suara lirih.
“Gugup!” kesal Zee dan langsung diam setelah Devano dengan cekatan menggandengnya. Pria itu menuntunnya mengikuti kepergian pak Restu dan ibu Arnita di antara hamparan undangan yang penampilannya benar-benar menawan.
Ibu Arnita dan pak Restu berangsur memelankan langkah mereka tak lama setelah mereka mengisi buku tamu undangan.
“Besok pakai konsep resepsi yang begini keren!” lirih ibu Arnita mengajak sepasang muda di belakangnya berunding.
Devano dan Zee kompak celingukan. Terus begitu sepanjang pak Restu dan ibu Arnita memberi masukan untuk rencana resepsi pernikahan mereka dari resepsi pernikahan yang sudah ada. Karena tampaknya, ibu Arnita dan pak Restu sengaja membawa mereka ikut serta kondangan, agar Devano dan Zee juga mulai memikirkan konsep pernikahan impian yang akan diusung keduanya.
“Jadi begini, Pak Vano enggak merasa bersalah?” lirih Zee menatap Devano penuh gelisah. Ia sampai menengadah hanya untuk menatap kedua mata tajam Devano yang perlahan meredup.
__ADS_1
Zee merasa bersalah karena ibu Arnita dan pak Restu benar-benar tulus kepada hubungan mereka. Karenanya, ia menjadi marah. Tak hanya kepada Devano, tapi juga dirinya. Ia pun memilih balik badan dan bermaksud pergi. Namun sekejap kemudian, sebelah tangan Devano dengan cekatan menahan sebelah tangannya, kemudian menariknya mundur ke dalam dekapan.
Tak disangka, di hadapannya ada segelas es cendol yang harusnya mengguyur Zee. Dan kalian tahu siapa pelakunya? Cheryl! Cheryl yang tampil elegan walaupun tak sememukau Zee, datang bersama Rendan!