Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
25 : Akhir yang Seperti Apa?


__ADS_3

“Kamu percaya, Zee dan Devano, benar-benar berkencan? Bukankah ini terlalu tiba-tiba?” Di balik kemudinya, Rendan menatap saksama wajah Cheryl yang duduk di sebelahnya.


Mereka masih di tempat parkir halaman depan hotel berbintang yang baru saja mereka tinggalkan. Hotel berbintang yang memiliki halaman luas dan juga membuat mereka bertemu dengan Zee. Zee, wanita itu bersama Devano dan orang tua Devano yang begitu sibuk melindunginya.


“Aku yakin kamu jauh lebih paham soal ini. Namun bisa aku pastikan apalagi menurut informasi yang aku dapatkan, Devano jomblo sejati.” Rendan berbicara yakin seyakin-yakinnya.


“Menurut informasi yang aku dapat, malam Zee memergoki kita, papahnya Devano kritis dan Devano diwajibkan mengenalkan calon istri.” Setelah cerita demikian, Rendan yang mencengkeram erat kemudinya menggunakan kedua tangan, berkata, “Masuk akal, kan? Mereka sama-sama membutuhkan hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk bekerja sama.”


“Jadi, ... apa rencanamu?” tanggap Cheryl mendadak bersemangat. Namun, ia juga berniat merebut Devano dari Zee. Cheryl pastikan, dirinya mampu memiliki sekaligus mendapatkan Devano dari Zee. Devano yang tampan, kaya, dan sangat berpengaruh, benar-benar suami idaman bagi seorang Cheryl.


“Kita buat permainan ini menjadi milik kita!” lirih Rendan sembari tersenyum penuh kemenangan. Karena walau baru memperkirakan, ia yakin akan memenangkan sandiwara yang sudah lebih dulu dimulai Devano dan Zee.


“Ayo kita lakukan!” sergah Cheryl makin bersemangat.


Di lain sisi, Devano sedang merasa lega selega-leganya. Sebab adanya hubungannya dan Zee, membuatnya bebas dari agenda perjodohan. Terbukti sekarang, ia tak lagi dikenal-kenalnya dengan anak gadis maupun janda rekan orang tuanya. Pak Restu maupun ibu Arnita sudah langsung sibuk mengenalkan Zee kepada semuanya. Keduanya begitu bangga dan berdalih, Zee sebagai calon istri Devano.


“Oh, ternyata Devano suka yang hitam manis, sawo matang gini, ya?” ucap seorang ibu-ibu rasa tante-tante yang gayanya sungguh glamor khas seorang sosialita.


“Nah, ini nih yang bikin aku kurang percaya diri tampil di depan umum tanpa menutup tuntas tangan sama kaki. Soalnya di Indonesia standar cantik seorang wanita kebanyakan patokannya wajib putih mulus macam orang chinese atau malah cewek Korea! Semacam ini memang subyektif, tapi memang bukan rahasia umum kalau yang kulitnya lebih gelap seperti kulitku malah jadi korban rasis,” batin Zee yang tetap tersenyum elegan pada wanita berkulit putih mulus semulus susu di hadapannya.


“Lebih tepatnya, saya suka orang yang enggak sibuk urus hidup orang sih, Tan!” balas Devano. “Yang good etitude tanpa melulu mengedepankan tampang dan penampilan!”


Si wanita langsung melebarkan senyumnya sambil terus menatap Devano. Senyum yang malah terlihat mirip meringis dan biasanya ekspresi tersebut terjadi karena perasaan yang tidak nyaman. “Tapi yang hitam manis begini memang lagi ngetren, sih, Sayang. Kamu pakai perawatan apa? Apa, kamu hobi trip jemur di pantai atau malah gurun, ya?” Ia memfokuskan tatapannya kepada Zee.


“Itu asli tanpa bisa dibeli apalagi operasi!” tepis Devano masih galak.

__ADS_1


Ibu Arnita yang tak mau putranya mengamuk, buru-buru undur dari sana. Membawanya pergi sambil pamit sehangat mungkin dengan senyuman andalan.


“Zee, jangan pernah berdiri di tempat gelap, biar kamu kelihatan dan enggak sampai hilang!” kesal Devano lantaran Zee malah sibuk melipir dan seolah sengaja bersembunyi dari rombongan mereka.


Zee yang langsung meringis, berangsur berbisik-bisik membalas Devano, “Saya bisa pakai senter ponsel agar saya tetap kelihatan, Pak! Terus, ... saya juga sama seperti Pak Vano. Saya enggak suka orang yang sibuk urus hidup orang padahal hidupnya saja enggak karuan!” Di sebelahnya, ibu Arnita sudah langsung mencubit asal perut Devano.


“Si Zee baper!” ledek Devano yang kemudian tertawa.


Zee hanya meliriknya sinis. Bahkan walau Devano sampai mendekapnya, sibuk berusaha membuatnya tertawa. Pak Restu dan ibu Arnita sampai geleng-geleng melihat tingkah putranya.


“Yang baper, aku apa malah pak Vano, sih?” pikir Zee yang sampai di akhir pertemuan mereka, tetap tidak bisa membahas perihal sandiwara mereka. Terlalu banyak mata-mata termasuk itu sopir baru Devano yang bisa jadi telah diutus untuk menjadi CCTV oleh orang tua Devano.


“Mbak Zee, ... boleh ngobrol sebentar?” tanya pak Lukman yang masih bertugas mengawasi sekaligus membantu pak Samsudin. Selain itu, pak Lukman juga sampai tinggal di kontrakan Zee.


“Iya, Pak Lukman. Pak Lukman duduk saja.” Zee juga berangsur duduk di hadapan pak Lukman.


“Saya boleh ngobrol, kan, Mbak?” izin pak Lukman memastikan.


“Tentu, Pak. Bapak mau ngobrol apa?” balas Zee yang kemudian menyisihkan ponselnya di meja walau tatapannya masih fokus membalas tatapan teduh nan santun pak Lukman.


“Ini mengenai Kak Vano, Mbak. Maksud saya, pak Vano,” yakin pak Lukman.


Kali ini Zee hanya mengangguk, menuntun pak Lukman untuk segera cerita.


“Sebenarnya, pak Devano sudah mengalami banyak hal sulit dari kecil. Pada dasarnya, pak Devano memang anak yang sangat cerdas sekaligus ceria. Namun keadaan memaksanya dewasa terlalu cepat. Hal tak seharusnya yang membuatnya seperti sekarang.”

__ADS_1


“Dari kecil mentalnya sudah terluka, diracuni oleh orang yang tak menyukai orang tuanya. Pak Devano nyaris meregang nyawa karenanya. Dan dia, pak Devano punya trauma tersendiri dalam urusan orang tua khususnya papah.”


“Sejak dalam kandungan hingga usianya nyaris lima tahun, dia terpisah dengan papahnya. Pak Devano hanya tinggal bersama mamahnya. Keadaan membuat mereka terpaksa terpisah. Dari sini, lah, luka mental itu pak Devano dapatkan. Karena walau kebersamaan orang tuanya telah menghadirkan banyak kebahagiaan, luka mental di masa lalu tetap membuat pak Devano beda dari yang lain—novel : Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak.”


Mendengar kabar tersebut, Zee jadi kasihan kepada Devano. Ada kepedulian tersendiri yang makin lama makin besar. Zee sampai jadi tidak bisa tidur, beberapa kali berganti posisi tidur sambil memastikan layar ponsel. Kini ia menyalakan layar ponselnya kemudian berangsur duduk.


“Kalau aku bilang, memangnya pak Vano enggak kasihan ke orang tuanya yang beneran ngarep ke sandiwara kami, aku yakin ini akan menjadi beban tersendiri buat dia. Lagi pula, dia juga sudah bantu aku habis-habisan.”


Setelah merenung serius, Zee sengaja mengirimi Devano pesan WA.


Zee : Pak, dari tadi aku ingin tanya. Akhir seperti apa yang sudah Pak Vano siapkan untuk hubungan kita? Karena setiap yang kita mulai pasti akan memiliki akhir.


Di kamar Devano, Devano yang belum tidur berangsur mengernyit. “Akhir?” lirih Devano yang mendadak bingung. Duduknya di kursi kerja menjadi gelisah, sementara pulpen di tangan kanannya juga ia taruh begitu saja. “Bagaimana jika aku tidak ingin semua ini berakhir?”


Pak Devano : Kamu mau transmigrasi, tanya-tanya akhir?


Membaca balasan pesan dari Devano, Zee yang masih duduk berangsur membalas.


Zee : Kalau bisa aku ingin begitu. Namun sepertinya, aku tidak bisa.


“Karena pada kenyataannya, aku sudah sayang pak Vano,” lirih Zee yang kemudian mengembuskan napas pelan melalui mulut.


Pak Devano : Tidur. Sudah malam. Karena saya tak segan potong gaji kamu kalau kamu sampai telat.


Iseng, Zee sengaja mengirim stiker hati merah yang berdebar-debar, sebagai balasannya. Namun, kenyataan tersebut langsung membuat seorang Devano syok. Perlahan tubuh Devano berakhir terduduk di lantai seiring pria itu yang memegangi dadanya. Di sana, jantung dan juga hatinya langsung eror gara-gara stiker kiriman Zee.

__ADS_1


__ADS_2