Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
TAMAT


__ADS_3

Seolah tak pernah melukai Zee dengan sengaja, orang tua Rendan khususnya ibu Cempaka memohon bantuan, meminjam sejumlah uang dan terbilang tidak sedikit, kepada wanita yang pernah ia hin4 itu. Malahan ibaratnya, Zee sudah sampai mereka lepeh. Namun kini, kepada wanita itu juga mereka meminta bantuan.


“Kami benar-benar tidak tahu harus meminta bantuan ke siapa lagi selain meminta bantuan ke kamu, Zee!” Ibu Cempaka masih terisak pedih. Air matanya tidak ada, tapi kedua tangannya yang memegang gumpalan tisu, tak hentinya mengusap sekitar mata. Seolah di sana sudah dibanjiri air mata buayaanya yang bahkan sama sekali tidak keluar.


“Minta bantuan itu ke Tuhan, Bu Cempaka. Masa iya urusan gitu saja, Anda lupa!” tanggap Devano dengan santainya sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa panjang keberadaannya duduk bersama Zee. Terlihat jelas kemarahan dari ibu Cempaka yang duduk di sofa bekas Rayyan duduk.


“Mas Devano, maaf,” sergah ibu Cempaka serius dan memang marah.


“Jangan panggil saya Mas karena saya bukan emas-emas!” protes Devano sewot.


Dalam diamnya, Zee kesulitan mengendalikan tawanya gara-gara ulah sang suami. Namun demi menjaga interaksi yang ada di sana, ia tetap bersikap seserius mungkin.


“Daripada kepada Zee yang memang bukan gudangnya uang, memohon pinjaman kepada pegadaian, bank, atau malah pinjool jauh lebih disarankan.” Devano kembali berbicara layaknya bos besar. “Semudah itu mencari pinjaman di era sekarang yang serba canggih. Asal mau bayar sesuai ketentuan, harusnya semuanya aman. Namun andai tidak bisa, ya otomatis seperti yang sekarang terjadi. Atau kalau tidak, jual saja semua yang kalian punya. Sebab keputusan kalian meminjam uang kepada sesama manusia yang butuh termasuk itu Zee, malah bisa jadi beban hidup baru bagi yang kalian pinjami.” Devano sengaja membuat punggungnya lebih tegap kemudian bersedekap. Di hadapannya, ibu Cempaka terlihat tidak terima dengan caranya.


“Anda bisa bicara begitu karena Anda belum tahu, alasan Rendan terlibat banyak pinjoool pasti gara-gara rencana pernikahannya dengan Zee!” tegas ibu Cempaka sambil menatap marah Devano.


“Loh, loh, ... bukankah pernikahan itu mau dilanjut dengan Cheryl? Kenapa masih Zee yang diungkit-ungkit? Lagi pula, tujuh puluh persen modal nikahnya itu pakai uang Zee. Rendan hanya bayar sedikit. Selama ini kan si Rendan emang hidup hedonn dengan Cheryl. Kalau senang sama Cheryl, kalau susah apalagi butuh uang, si Rendan nyarinya Zee!”


“Mereka berdua juga sampai punya bisnis video porn0, kan? Bikin sendiri biar meminimkan modal, terus dijual semahal mungkin. Rendan bahkan dengan sangat kurang 4jar merekam Zee saat sedang mandi. Emang sesampahh itu anak kalian yang bernama Rendan.”


“Setelah apa yang terjadi, doa saya cuma satu, ... semoga Cheryl dan Rendan yang ibaratnya sudah mengkhianati Zee dan sampai terbiasa melakukan hubuungan kel4min, juga mengalami gangguan kel4min. Amin!” Devano menutup ceramahnya.


Niat hati meminta bantuan, orang tua Rendan malah Devano ceramahi. Devano yakin kedua orang tua Rendan sudah langsung sakit hati gara-gara ceramahnya. Namun Devano sama sekali tidak peduli. Bagi Devano, orang sekelas orang tua Rendan yang sangat congak tanpa modal, memang harus diberi pelajaran.


Geleng-geleng, Devano berkata, “Bukannya meminta maaf, malah minta bantuan dan itu pinjam uang yang jumlahnya ratusan juta.” Ia menatap kedua orang tua Rendan yang sudah langsung kicep. Menatapnya pun, kini keduanya tampak tidak berani.


***


Malam sebelum paginya Zee menjalani pemeriksaan, Devano menemukan amplop warna violet di bantal untuknya. Sementara di sebelahnya, sang istri sudah lelap meringkuk menghadapnya.

__ADS_1


Devano yang memang baru kembali, langsung menatap amplop dan juga wajah Zee, silih berganti. Ia yang sudah memakai piama lengan panjang warna biru laut, berangsur meraih amplop tersebut kemudian duduk. Di bagian depan amplop tersebut tertulis : Untuk Pak Kompeni Terkasih...


Devano memutuskan untuk langsung membuka sekaligus membacanya. Di dalam amplop tersebut berisi secarik kertas berwarna senada dengan amplopnya.


“Semenjak bersamamu, aku jadi tidak pernah takut pada apa pun. Terima kasih banyak telah menjadi pelangi dengan cara yang berbeda. Ke depannya, kita pasti akan jauh lebih bahagia dengan cara kita. Sehat selalu, aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Selamat ulang tahun suamiku. Doa terbaikku selalu bersamamu.”


Untuk pertama kalinya, Devano menitikkan air mata hanya karena ucapan ulang tahun. Kue ulang tahun untuknya memang masih ada di meja depan sana. Ada dua karton yang wadahnya berupa fotonya. Namun ucapan di amplop yang masih ia pegang, benar-benar membuat semuanya makin spesial.


Boleh dibilang, kini menjadi ulang tahun paling spesial yang Devano rasakan. Di ulang tahunnya kali ini, ia tak hanya merayakannya bersama keluarga tercinta. Di ulang tahun kali ini yang mana ia sudah menjadi seorang suami, ia merayakannya bersama sang istri. Karena walau tadi mereka sudah merayakannya di restoran bersama keluarga Devano dalam formasi lengkap termasuk itu pak Samsudin dan pak Lukman, Zee juga diam-diam sudah menyiapkan kejutan manis di kamar mereka menginap.


Setelah menyimpan rapi surat cinta lengkap dengan amplopnya dari sang istri kemudian menyimpannya di meja, Devano sengaja menempelkan bibirnya di kening Zee. Ciiiuman yang benar-benar berlangsung lama.


“Sehat selalu karena kita harus menciptakan banyak kompeni. Kita harus menciptakan banyak lapangan kerja untuk mensejahterakan kehidupan karyawan kita. Aku juga mencintaimu meski aku yakin, ketimbang cintamu kepadaku, cintaku kepadamu jauh lebih besar,” bisik Devano dengan bibirnya yang masih menempel di kening Zee.


“Kata siapa? Aku juga sudah cinta banget ke kamu!” rengek Zee sembari mengerucutkan bibirnya. Ia menatap manja Devano, sementara kedua tangannya mendekap tengkuk suaminya. Setelah sempat terkejut, suaminya itu sudah langsung tersipu. Kendati demikian, Devano juga langsung membalas c1umannya walau sebelumnya, pria itu tampak jelas terkejut.


Pagi sekitar pukul delapan, semuanya sudah menemani Zee di rumah sakit. Hanya Devano dan ibu Arnita yang mendampingi Zee secara langsung. Sisanya kompak menunggu di ruang tunggu. Ketegangan terlihat sangat nyata walau mereka yakin, harusnya Zee sudah jauh lebih sehat. Termasuk juga Devano dan ibu Arnita yang harus menunggu di luar ketika Zee menjalani pemeriksaan intensif di ruang khusus.


Lima Tahun Kemudian ....


Zeedev putra pertama mereka yang kini baru akan genap berusia lima bulan tak hentinya menangis. Devano yang sedang di ruang kerjanya sudah kewalahan menenangkannya. Sambil terus menempelkan ponsel ke telinga kiri, tangan kanan Devano makin aktif mengenang sang putra.


Tak lama berselang, seseorang datang dengan buru-buru. Itu ibu Arnita yang membawa dua dot susu dan masing-masing berisi nyaris penuh.


“Sayang ... Sayang, sini ikut Oma.” Ibu Arnita mengambil alih sang cucu, membiarkan Devano yang jasnya tersampir di tempat duduk sementara dasinya sudah miring, menyelesaikan pekerjaannya dengan leluasa. Devano langsung mondar-mandir di ruang kerjanya sambil terus berbincang lewat sambungan telepon.


Setelah Devano selesai dengan sambungan teleponnya pun, ia segera mengambil alih sang putra yang masih saja menangis walau mulutnya sudah tersumpal empeng dot.


“Mungkin dia ngantuk pengin tidur,” ucap ibu Arnita berusaha mengimbangi usaha Devano yang tak hanya menimang dalam menenangkan Zeedev. Sebab Devano juga tak segan mengoceh panjang lebar, mengada-ngada hanya untuk mencuri perhatian sang putra.

__ADS_1


“Zeedev ....?”


Dipanggil namanya dengan panggilan manja khas, Zeedev langsung diam. Bocah berambut jabrik hitam itu sungguh sudah mengenali mamahnya.


Zee yang tampak sangat sehat dan kepalanya pun tak lagi pitak, melangkah buru-buru bahkan agak berlari mendekati Zeedev yang masih diemban Devano.


“Eh ... eh,” ucap Devano sengaja mundur, menjaga jarak dari Zee yang makin ke sini makin awet muda. Terlebih dengan gaya rambut sepundak yang diluruskan dan Devano sangat menyukainya.


“Papah,” ucap Zee merengek manja. Panggilan yang juga sudah menjadi candduu untuk seorang Devano. Papah. Sebab semenjak Zee akhirnya hamil Zeedev, panggilan papah juga mendadak menjadi panggilan kesayangan untuk Devano.


“Kamu sudah mandi?” todong Devano sambil menatap sang istri penuh peringatan. Ia tak akan memberikan putra mereka kepada Zee andai Zee memang belum mandi.


“Oh iya ... kamu habis dari pemakaman. Wajib mandi loh, Sayang! Pamali!” tegas ibu Arnita tak menerima penolakan.


“Ini saja aku sampai keramas, Mas, Papah Kompeni. Ini rambutku masih setengah basah. Tadi aku sampai buru-buru keringinnya,” yakin Zee yang juga buru-buru mengemban sang putra. Bersamaan dengan itu, Devano ia pergoki mengendus kepalanya.


“Wangi lah!” ucap Zee yang kemudian menimang sang putra penuh sayang.


Hari ini Zee memang sengaja menghadiri pemakaman Cheryl. Wanita itu meninggal akibat penyakit kelam1n yang bisa menular akibat kehidupan se3ksnya yang tidak sehat. Penyakit yang juga sampai Rendan idap, tapi sampai sekarang, Rendan yang masih harus menjalani sisa masa hukuman, masih menjalani pengobatan rutin. Tentunya, keadaan tersebut tak semata karena sumpah serapah Devano. Karena adanya sebuah penyakit memang karena kehidupan kedua sejoli itu yang tidak sehat.


Kini, suasana ruang kerja Devano menjadi makin meriah akibat kedatangan pak Restu yang membawa mobil mini. Mobil yang bisa dikendarai hingga anak usia enam tahun itu, pak Restu hadiahkan secara khusus untuk sang cucu.


“Wah, warnanya merah. Warna kesukaan Kak Dev. Makasih banyak yah, Opaaaa!” ucap Zee seolah dirinya yang menjadi perantara sang putra berbicara.


Sungguh kebahagiaan yang sempurna, setelah sederet masa sulit mereka lewati bersama bertabur suka dan duka.


Terima kasih banyak buat kalian yang sudah meramaikan sekaligus mendukung cerita ini. Sampai jumpa di ceritaku yang lain, yaaaa.


“Sesakit apa pun suatu pengkhianatan, nyatanya kita tetap bisa bahagia jika kita menginginkannya, sekaligus mengizinkan diri kita merasakannya. Bayangkan jika aku tetap bersama Rendan, yang ada pasti aku juga tertular penyakit kelam1n,” batin Zee menatap bahagia keluarga kecilnya.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2