
“Kalau Pak Vano terus tantrum begini, gengsi juga diperpanjang enggak kunjung disudahi ... sepertinya memang berat,” ucap Zee ketika mengantar Devano pulang hingga depan pintu kontrakan. Ucapan yang juga langsung terngiang-ngiang di benak seorang Devano hanya karena pertanyaan ibu Arnita barusan.
Baru pulang, Devano yang ternyata sampai membuat sang mamah menunggu di sofa ruang keluarga, langsung disuguhi pertanyaan kabar terbaru hubungannya dengan Zee. Bisa Devano pastikan, kabarnya yang sampai berkunjung dalam waktu lama di dalam kontrakan Zee, sudah langsung sampai ke telinga sang mamah.
“Kakak, ... kok malah diem?” tagih ibu Arnita lantaran lagi-lagi, sang putra bungkam di setiap ia bertanya mengenai perkembangan hubungan dengan Zee.
“Intinya, hubungan kami masih abu-abu, Mah.” Hanya itu yang mampu Devano katakan. Walau tiba-tiba saja, ia juga menjadi berpikir meminta bantuan sang mamah agar Zee mau menerimanya dalam hubungan nyata. Bukan hubungan pura-pura lagi, walau tentu saja Devano belum pernah mengatakan pada siapa pun perihal hubungannya dan Zee yang sebelumnya hanya pura-pura.
“Hah? Bantu? Kakak ingin Mamah, ... bantu Kakak biar Zee mau sama Kakak lagi?” ucap ibu Arnita memastikan. Merasa kurang greget andai apa yang ia pastikan malah benar.
“Bukan hanya ingin, Mah. Tapi memang berharap!” yakin Devano yang mendadak menggenggam kedua tangan sang mamah. Namun, sang mamah malah langsung memberinya wajah masam perpaduan dari tanggapan refleks syok sekaligus kecewa.
Ibu Arnita refleks menelan ludahnya. “Kok Kakak malah minta bantuan Mamah? Usaha sendiri lah. Soalnya enggak akan mempan, seusaha apa pun Mamah. Karena kalau Kakak tetap berulah bikin Zee kesal, ya ujung-ujungnya kalian ribut!” yakinnya dan Devano langsung menghela napas dalam, tampak sangat loyo. Sang putra makin tidak bersemangat.
“Aku merasa ... kurang power karena sepertinya, sekeras apa pun aku bertahan, aku tetap enggak bisa bertahan di perusahaan. Rayyan benar-benar menginginkan posisiku,” keluh Devano benar-benar pasrah. “Sudah kehilangan posisi yang selama ini aku perjuangkan hingga Zee menganggapku sebagai kompeni, sekarang aku juga harus memperjuangkan cintaku sendiri.”
“Apa yang bisa aku banggakan jika aku sampai digantikan Rayyan? Ini sama saja dipecat, kan? Masa iya aku harus menemui Zee dengan statusku yang mantan CEO? Aku harus lengser karena digantikan ahli waris!” Kali ini, Devano refleks berkeluh kesah.
“Mengenai perusahaan, ... Mamah boleh minta Kakak buat mundur saja, enggak? Mamah enggak mau Kakak makin terluka.” Ibu Arnita kian menatap sendu kedua mata sang putra.
Permintaan sang mamah membuat hati seorang Devano seperti teriris. Kedua mata Devano juga langsung berembun, menahan luka tak berdarah dan tak semua orang paham. “Perusahaan, ....” Baru mengatakannya saja, Devano sudah langsung merasa sangat sesak.
“Aku sudah di sana sejak aku baru SMA. Aku memulai semuanya dari nol tanpa kenal waktu hingga aku juga lupa, aku sudah menghabiskan seluruh waktuku selama ini. Aku melewatkan banyak hal hanya untuk perusahaan. Dan aku sampai mengorbankan segalanya termasuk itu Zee, demi kelangsungan perusahaan.”
“Namun kini, aku dipaksa mundur, ... menyerahkan semuanya kepada Rayyan. Bukankah ini sama saja dengan perampokan?”
__ADS_1
“Pohon kokoh ada karena mereka tumbuh dari bawah. Mereka tak langsung memiliki daun apalagi batang yang kokoh. Karena mereka kadang membuat akar sebanyak mungkin agar mereka bisa tumbuh sebelum akhirnya berdiri dengan kokoh.” Devano menunduk frustrasi.
“Kakak tahu di dunia ini tidak ada yang instan. Begitu juga dengan posisi yang didapat Rayyan. Seberapa pun kuat persiapan mereka membuat Rayyan serba bisa seperti Kakak, ... Kakak tahu jawabannya.” Mengatakan itu, ibu Arnita sudah terasa sangat sakit.
“Percayalah, ... sampai kapan pun, tidak akan ada yang bisa melampaui kemampuan orang hebat apalagi jika dia tidak pernah memiliki pengalaman.”
“Kakak enggak usah takut. Karier Kakak beneran enggak akan langsung selesai. Karena kadang, kita memang harus mundur bahkan jatuh agar kita memiliki pemikiran sekaligus usaha untuk loncat ke posisi yang lebih tinggi.”
“Bahkan Mamah yakin, ... tanpa adanya kasus ini, Kakak belum tentu ada pikiran buat jadi lebih baik lagi.” Ibu Arnita berusaha merengkuh hati Devano. Ia berangsur meraih kedua lengan Devano. “Kakak enggak sendiri. Mamah, Papah, bahkan Zee ... kami semua akan selalu ada buat Kakak. Percaya pada Mamah, ... di mana pun bintang berada, mereka akan tetap bersinar karena begitulah takdir mereka.”
Ucapan ibu Arnita yang begitu menenangkan barusan, sukses membuat seorang Devano tak kuasa menahan air matanya lagi. Devano menjadi tersedu-sedu dan terlihat sangat rapuh.
“Sekarang serahkan saja semuanya kepada Rayyan. Jika pihak mereka meminta Kakak mengajarkan semuanya kepada Rayyan, sudah ajarkan saja dan kasih waktu terbatas agar Kakak juga tidak kehilangan banyak waktu Kakak yang berharga. Setelah itu Kakak resign dan kita mulai semuanya lagi. Hari ini kan Papah sudah resign. Kakak pasti enggak tahu, kan?” lanjut ibu Arnita.
“Kakak pasti baru tahu juga, kan? Rencana ini memang murni, beneran baru Mamah dan Papah sepakati. Besok kita bahas lagi, ya. Sekarang Kakak istirahat dulu. Sudah malam bahkan dini hari,” yakin ibu Arnita yang kemudian melirik penuh arti, jam klasik di ujung sana.
Sudah pukul satu pagi, dan Devano paham maksud lirikan mamahnya yang juga sengaja menggodanya.
“Aku sengaja pulang larut malam sih Mah. Niat hati biar digerebek warga terus dinikahin, eh malah enggak ada yang gerebek-gerebek. Malah aku yang diusir Zee!” ucap Devano pasrah dan memang jujur, tapi langsung ditertawakan oleh sang mamah.
***
Kompeni : Zee, kamu pasti belum tidur gara-gara khawatir ke aku.
Si Hitam Zee : Sok tahu.
__ADS_1
Kompeni : Kurang ajjaar banget kamu, kirim stiker lagi ngupil gitu!
Si Hitam Zee : Mending dikasih stiker orang ngupil ketimbang aku kasih stiker hati yang bikin jantung Pak Vano nggak aman?
Membaca pesan dari Zee, Devano yang refleks senyum-senyum, juga berakhir jatuh menggelundung dari tempat tidur, setelah Zee benar-benar mengiriminya stiker hati berwarna merah dan berdebar-debar.
***
“Mencintai pria kompeni sekelas pak Devano, aku juga harus bisa lebih sabar dari wanita yang telah melahirkannya,” batin Zee.
Di dalam kamarnya, Zee yang sudah menutup tuntas tubuhnya menggunakan selimut, menjadi senyum-senyum sendiri memandangi layar ponselnya yang dihiasi ruang obrolannya dengan Devano.
Selanjutnya, Zee yakin akan tidur dengan nyenyak karena telah membuat jantung pak Kompeni tidak aman. Daripada tiga malam terakhir, Zee tidak bisa tidur gara-gara pak Kompeni tetap dengan gengsinya. Walau saat paginya, Zee malah dikejutkan oleh kehadiran Devano yang membangunkannya lewat peluit yang begitu nyaring dan pria itu tiup tepat di sebelah telinganya.
“Ya ampun Pak Kompeni! Ngapain situ di sini? Ini kamar orang, ngapain situ di sini?!” kesal Zee buru-buru menutup tuntas tubuhnya menggunakan selimut lagi.
Namun, Devano yang memang memiliki watak kompeni dengan sengaja berulang kali meniup peluitnya di atas kepala Zee.
“Sudah pagi, ih. Ayo kita jalan apa lari pagi terus pulangnya cari sarapan biar kayak orang-orang!” protes Devano.
“Memangnya kita siapa, situ ngajak jalan apa lari pagi, terus pulangnya cari sarapan kayak orang-orang?” omel Zee sengaja menantang. Ia menatap kesal Devano yang detik itu juga langsung kicep.
“Apa coba? Enggak bisa jawab, kan?” kesal Zee yang kali ini sampai meraih bantal guling kemudian melemparnya ke dada Devano.
Ketimbang membalas, Devano malah berkata, “Pacaran, yuk?”
__ADS_1