Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
44 : Mendadak Berhati


__ADS_3

Sesampainya di Jakarta, Devano memang memboyong Zee ke rumahnya. Namun, kenyataan itu untuk sekadar mampir karena Devano memilih mengantar Zee ke kontrakan. Devano khawatir, selain rindu kepada sang ayah, sebenarnya Zee juga rindu sang mamah dan otomatis, Zee harus merasakan suasana kontrakan.


“Kamu yakin, kamu baik-baik saja, kalau aku tinggal?” tanya Devano memastikan sebelum ia benar-benar pulang.


Zee mengangguk-angguk. “Iya, aku baik-baik saja. Sekarang kamu pulang dan istirahatlah. Jangan tidur di sofa lagi, takutnya tubuh kamu benar-benar remu*k!” yakinnya.


“Aku lebih memilih tubuhku remuk, tapi pikiran dan hati aku tenang. Daripada aku pulang dan sekadar istirahat saja enggak bisa gara-gara pikiran apalagi hati aku selalu memikirkan kamu!” yakin Devano.


Zee langsung tidak bisa berkomentar. “Masa iya, kamu tidur di tikar ...,” lirih Zee yang kemudian memiliki ide untuk bertukar tempat tidur. Zee yang tidur di sofa, sementara Devano yang tidur di kamar Zee.


“Enggak ... enggak. Aku mau beli kasur saja,” balas Devano yakin dengan keputusannya.


“Beli kasur bagaimana? Sekarang saja sudah setengah satu pagi!” lirih Zee mengingatkan.


“Ya enggak apa-apa. Kita niatnya kan memang beli, bukan bega*l!” sewot Devano.


“Maksudku ya lihat kondisi juga! Jam berapa ini?” Zee mulai terbawa emosi.


“Mereka niat jualan enggak” balas Devano masih sewot.

__ADS_1


“Ah, kalau sudah begini, aku malas, ah!” kesal Zee. “Sudah, kamu yang tidur di kamarku saja, aku yang tidur di sofa!” lanjutnya sembari melangkah masuk meninggalkan Devano yang ia pergoki berangsur menyusul.


“Aku paling enggak bisa tidur tanpa selimut,” ucap Zee sembari membuka pintu lemari plastik paling bawah. Ia mengeluarkan selimut beludru warna kuning dari sana.


Sempat bingung, Devano sengaja mengambil sebuah bantal dari tempat tidur Zee.


Tempat tidur Zee berupa kasur busa yang tak sampai dihiasi ranjang. Di kontrakan Zee juga tidak disertai banyak barang. Malahan semua lemari di sana merupakan lemari plastik. Tidak ada yang berbahan kayu lantaran menurut informasi dari Zee, lemari kayu rawan tikus.


“Ini jangan-jangan, nanti aku jadi bahan rebutan tikus?” khawatir Devano tak mau ditinggal Zee.


“Ya sudah, kalau begitu kamu tidur sama pak Lukman saja.” Zee yang mendekap selimutnya, menatap yakin Devano.


“Kalau ada apa-apa, langsung bangunin aku saja,” pesan Zee yang juga sampai mengantar Devano. Di sebelah sofa ruang tamu, pak Lukman sudah tidur di kasur busa tanpa ranjang. Selain dihiasi seprai rapi, kasur pak Lukman tidur juga memiliki bantal maupun selimut lengkap layaknya tempat tidur Zee.


Devano tak langsung tidur walau ia sudah merebahkan tubuh dan sampai memakai selimut Zee. Kedua matanya tak mau menutup dan malah sibuk mengamati suasana sekitar.


“Di kontrakan yang enggak lebih indah dari suasana gudang di rumah ini, Zee menyimpan banyak kenangan. Kenangan yang menjadi sumber kebahagiaan bahkan ketenangan Zee dan papahnya. Ini yang dinamakan bahwa sesuatu yang bermakna, khususnya yang berkaitan dengan orang terkasih, tidak bisa dibeli. Walau aku memberinya lebih dari ini, kenangan dalam rumah ini tidak pernah bisa terganti,” batin Devano.


Lalu, yang mencuri perhatian Devano adalah pak Lukman. Hampir selama mengabdi, pak Lukman sangat jarang pulang selain di acara lebaran maupun acara khusus. Malahan kadang, pak Lukman sampai setahun penuh tidak izin.

__ADS_1


“Andai aku yang jadi anak pak Lukman, ... aku beneran sedih. Sekejam ini hidup bagi sebagian orang. Terlalu banyak hal yang mereka korbankan untuk mendapatkan kehidupan lebih layak. Pak Lukman begitu setia pun karena papah mamah membiayai pendidikan ketiga anaknya hingga ketiganya sama-sama jadi sarjana. Satu bahkan sudah menjadi polisi, sementara sisanya memilih menjadi pegawai negeri di kota mereka. Termasuk untuk rumah, ... mamah sama papah juga ada bantu. Kasihan sih kalau dipikir-pikir. Zee pun gitu. Dia kehilangan mamahnya di usianya yang masih sangat muda. Kalau dipikir-pikir, aku beneran beruntung. Aku masih punya papah mamah lengkap dan juga sehat. Urusan materi pun, kami masih bisa hidup mewah. Termasuk walau aku dan papah harus mendadak resign, ... kami langsung bisa bangkit dan langsung punya pekerjaan sekaligus usaha baru.” Dalam diamnya, Devano masih sibuk merenung. “Kenapa aku baru berpikir ini sekarang?” pikir Devano. “Berarti selama ini aku memang kompeni murni. Kompeni tulen!”


***


“Hah? Cuti?” ucap pak Lukman jadi takut karena Devano mendadak memberinya cuti selama sepuluh hari.


“Ini beneran cuti, Pak, bukan pemecatan. Pak Lukman sama sekali enggak bersalah. Ini murni kesadaran saya yang menyadari bahwa selama ini, saya sudah terlalu keji. Selama ini saya beranggapan, saya memiliki Pak Lukman karena saya menyayangi Pak Lukman. Saya tidak bisa tanpa Pak Lukman apalagi jika harus kehilangan Pak Lukman. Saya merasa Pak Lukman merupakan sebagian dari nyawa saya apalagi sejauh ini, Pak Lukman begitu setia. Namun setelah saya renungi, cara saya selama ini salah. Karena ketimbang saya, istri dan anak Pak Lukman jauh lebih berhak.” Devano tak kuasa membendung air mata berikut kesedihannya. Ia tersedu-sedu tanpa berani menatap pak Lukman yang sudah berlinang air mata di sebelahnya.


“Mulai sekarang, semuanya harus seimbang. Karena semuanya memang sama-sama penting. Pekerjaan dan keluarga, sama-sama kewajiban seorang kepala keluarga. Jadi, maksimal dua atau tiga bulan sekali, Pak Lukman wajib cuti, quality time bareng keluarga.”


“Ehm ... dan andai nanti Pak Lukman sudah tidak bekerja bersama saya, ... tolong jangan pernah lupakan saya. Pak Lukman tetap harus sering main. Kelak pun, saya ingin anak-anak saya mengenal Pak Lukman. Terlalu banyak hal berharga yang tidak bisa saya lupakan. Hal berharga yang tidak bisa tergantikan dari kebersamaan kita. Kita bersama-sama sebelum saya genap berusia lima tahun. Tak jarang, ketimbang keluarga bahkan orang tua saya, Pak Lukman selalu jauh lebih peka pada setiap perubahan emosi saya, yang saya sendiri saja sulit mengontrolnya.” Devano menutup ucapannya dengan menarik beberapa helai tisu yang Zee sodorkan di hadapannya.


“Si Pak kompeni mendadak berhati begini,” batin Zee yang sudah langsung berlinang air mata. Terlebih walau tidak menyaksikan setiap kebersamaan pak Lukman dan Devano, selama menjadi sekretaris yang kadang merangkap menjadi asisten pribadi seorang Devano, Zee juga bisa melihat hubungan Devano dan pak Lukman yang sangat baik. Pak Lukman yang begitu memahami Devano melebihi seorang papah. Juga Devano yang begitu ketergantungan kepada pak Lukman. Lihat saja, kini pun, Devano membiarkan tubuhnya didekap erat oleh pak Lukman yang menangis sesenggukan. Devano juga membalas dekapan pak Lukman tak kalah erat.


“Kok jadi melow begini?” batin Zee yang menarik tisu di kotak yang ia pegang, untuk mengelap air matanya sendiri. “Untung sudah beres sarapan. Kalau enggak, pasti jadi enggak doyan makan apalagi aku memang paling anti sedih-sedih. Karena tipikal manusia sepertiku kalau sudah melow langsung bikin imun turun. Makan enggak selera, bahagia pun susah!” batin Zee lagi. Ia membereskan mangkuk dan piring bekas mereka sarapan di ruang tamu.


Pagi ini, Devano dan Zee yang bangun lebih awal dari pak Samsudin, menyiapkan sayur bening, telur rebus, dan juga nasi putih untuk sarapan.


Di sebelah Zee, pak Samsudin yang duduk di sofa tunggal, juga sudah ikut berlinang air mata. Ia meraih sebelah tangan Zee, menuntun putrinya itu untuk masuk ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Melalui ekor lirikannya, diam-diam Devano mengawasi Zee. “Karena Zee. Karena mengenalnya lebih dalam, aku jadi tahu makna kebersamaan, kesetiaan, sekaligus waktu yang begitu berharga dan tak mungkin bisa terulang. Malahan saking berharganya, walau sekadar tinggal kenangan pun, susah payah pasti akan dipertahankan,” batin Devano yang kemudian berterima kasih kepada Zee, walau ia melakukannya masih dalam hati. “Cepat sehat, biar kita selalu bisa sama-sama!” batin Devano masih belum bisa menepi dari kesedihan maupun tangisnya.


__ADS_2