Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
49 : Lamaran


__ADS_3

Menolak ajakan makan dari Rayyan, Devano rasa kurang etis. Ditambah lagi, ia sudah berjanji untuk tidak dendam kepada Rayyan, asal Zee sembuh. Selain itu, Devano juga ingin melihat sejauh mana kekompakan Rayyan dan Cheryl. Selain itu, Devano juga yakin, Zee sudah lapar.


“Bagaimana kalau kita ke restoran Jepang? Atau Korea? Sejauh ini, banyak wanita yang menyukai makanan Korea gara-gara kegemaran mereka pada budaya Korea Selatan khususnya boy band dan dramanya,” tawar Rayyan terus melangkah di belakang Zee yang digandeng Devano.


“Aku dan Zee sedang hidup sehat karena kami ingin punya banyak anak! Jadi, kami akan makan makanan lokal saja,” yakin Devano.


Balasan serius Devano membuat seorang Zee langsung mesem. Lain dengan Rayyan maupun Cheryl yang melangkah di belakangnya dan refleks menelan ludah. Anehnya, kali ini agenda menelan ludah yang Rayyan maupun Cheryl lakukan, membuat mereka seolah-olah sedang menelan biji kedondong tua.


Berbeda dari biasanya, kali ini Devano melangkah terbilang sangat santai. Padahal biasanya, langkah Devano cenderung mirip orang yang sedang kerasuk*kan arwah jahat. Rayyan sempat berpikir bahwa keduanya sengaja pamer kemesraan, tapi setelah Rayyan perhatikan lagi, Devano hanya berusaha menyeimbangi langkah Zee yang memanglah lemah.


“Kamu sakit?” tanya Rayyan lantaran semua yang Zee makan berupa rebusan. Sayur bening, ayam kukus, dan juga aneka sayur rebus lainnya.


“Dibilang kami sedang hidup sehat. Kalau memang Zee sakit, kenapa aku juga makan seperti yang Zee makan?” Devano menjawab dengan sewot.


“Wajah Zee pucat berkeringat begitu,” batin Rayyan diam-diam mengawasi kebersamaan Zee dan Devano.


Devano yang sadar tangan Zee gemetaran dan wanita di sebelahnya tidak berani memegang sendok untuk menikmati makanan di piringnya, sengaja menyuapkan nasi maupun sayur bening di sendoknya, dan awalnya akan ia lahap, kepada Zee.


Zee terkejut, tapi ia segera menerima suapan dari Devano karena tak mau membuat kedua sejoli di hadapan curiga. Pria itu terus menyuapinya sambil sesekali makan sendiri. Jadi, dua porsi makanan mereka, mereka habiskan bersama-sama dan itu masih Devano yang menyuapi.


“Kami akan langsung pergi karena kami masih banyak urusan. Kami juga bayar pesanan kami sendiri!” yakin Devano sembari bersiap pergi. Ia menenteng kantong belanjaan sekaligus tas Zee, menggunakan tangan kanannya.


“Kalian beneran akan menikah?” tanya Rayyan sambil sesekali menyantap steak sapinya. Begitupun dengan Cheryl yang melakukannya sambil menyimak obrolan di sana.


“Tentu.” Devano masih menjawab sigap sambil menuntun Zee pergi dari sana.

__ADS_1


“Kapan?” Rayyan terus bertanya walau kabar rencana pernikahan Devano dan Zee, sudah sangat melukainya. Jauh di lubuk hatinya sana seolah ada sembilu yang sibuk menya*y*at.


“Masih rahasia. Mungkin kami baru akan mengabarkannya setelah kami punya anak!” jawab Devano lagi, dan kali ini sekalian pamit sekaligus pergi.


Ditinggal Zee dan Devano, Rayyan dan Cheryl langsung melongo. Terlebih di depan pintu masuk sebelum keluar dari restoran, Devano sengaja jongkok di hadapan Zee kemudian menggendong Zee.


“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?” ucap Rayyan lirih sekaligus rahasia di tengah fokus tatapannya yang terus lurus pada kepergian Zee dan Devano.


Cheryl berangsur melirik Rayyan yang duduk di sebelahnya. “Manusia ini, ...ib*lis berwajah bayi!” batinnya.


“Jeb*ak Devano, tidu*rlah bersamanya seperti apa yang kamu lakukan dengan Rendan, lalu pastikan Zee melihatnya!” tegas Rayyan yang perlahan meletakkan garpu dan juga pisa*u steak-nya. Ia kehilangan selera makan hingga ia memilih pergi dari sana. Beberapa lembar uang seratus ribu sengaja ia keluarkan dari dalam dompetnya, kemudian menaruhnya di sebelah tangan kanan Cheryl.


Bersama sang ajudan yang terus saja mengikuti, Rayyan benar-benar pergi meninggalkan Cheryl sendiri.


“Tidur dengan Devano? Hanya wanita tidak normal yang tidak mau melakukannya!” batin Cheryl yang kemudian tersenyum penuh kemenangan. Senyum yang hanya menarik salah satu sudut atas bibirnya.


Mengenai pernikahan Zee dan Devano memang masih sangat rahasia karena acara lamaran Zee dan Devano pun masih dirahasiakan. Namun malam ini, orang tua Devano ditemani adik-adik Devano, datang berkunjung sebagai bentuk dari lamaran secara sakralnya. Jadi, acara di hotel yang Devano harapkan dihiasi uang asli bukan hanya dan cermin, ibarat resepsi dari lamarannya.


Memang tidak ada agenda khusus karena pihak Devano dan Zee sepakat hanya ada semacam tukar cincin dulu. Kendati demikian, pihak Devano tetap membawa bingkisan sebagai jamuan yang langsung memenuhi meja ruang tamu, maupun tikar karakter di sudut biasa pak Lukman istirahat. Khusus untuk malam ini, kasur yang biasa pak Lukman pakai untuk tidur, sengaja disimpan di kamar pak Samsudin.


“Panas banget, yah, Kak?” tanya Didi sengaja meng*g*oda sang kakak yang walau sudah selesai tukar cincin, masih saja berkeringat hebat.


“Bukan panas, tapi tegang!” jujur Devano dan langsung membuat adik-adiknya yang duduk di tikar karakter, kompak tertawa.


“Baru begini saja sudah kuyup keringat, apa kabar kalau menikah dan harus menjalani ijab kabul di hadapan banyak saksi?” timpal Divani lagi sementara kedua adiknya, Deanzo dan Dianri, hanya sibuk menahan tawa lantaran takut pada Devano.

__ADS_1


“Kalau nikah, Kak Vano pasti semangat karena sudah pasti!” ucap Deanzo, si tukang tidur yang akhirnya berkomentar.


“Sudah pasti bagaimana?” bisik Divani yang jadi penasaran. Ia sampai mengerutkan dahi. Ketika ia menoleh ke sebelah, ia juga memergoki sang kakak yang tak kalah penasaran menatap Deanzo.


“Pasti malam pertamanya,” lirih Deanzo setengah tertawa.


Divani dan Dianri kompak menahan tawa mereka mengikuti Deanzo. Tidak dengan Devano yang langsung menahan amarah, tapi kedua pipi Devano malah tampak merah khas menahan malu karena mau! Kenyataan yang juga menjadi hiburan tersendiri untuk ketiga adiknya. Jarang-jarang mereka bisa begitu pada sang kakak yang selama ini mendidik mereka layaknya sengkuni sekaligus kompeni.


“Tadi aku lihat, di kamar Kak Vano ada beberapa kantong belanja isinya pakaian pasangan, terus aneka dalaman s*e*k*s*i!” bisik Deanzo lagi kepada kedua saudarinya. Entah kenapa, rasanya sangat bahagia mendadak jadi sumber gosip untuk kelakuan kakak laki-lakinya yang selama ini terkenal dingin tak tersentuh itu. Bahkan walau tangan kanan Devano mendadak menarik telinga kanan Deanzo, pemuda yang memiliki rupa tampan layaknya Devano itu, sama sekali tidak merasa keberatan.


Malahan, Deanzo merasa sangat puas karena kenyataan tersebut menegaskan, gosip ciptaannya berhasil mengacaukan seorang Devano yang selama ini terkenal selalu bisa melakukan segala sesuatunya dengan sempurna.


Zee yang duduk di sebelah Devano dan memakai pakaian rapi walau bukan pakaian khusus, diam-diam menghentikan tangan kanan Devano. Zee sampai menahan kedua tangan Devano, menggenggamnya di pangkuannya menggunakan kedua tangan, agar calon suaminya itu tidak macam-macam lagi kepada ketiga adiknya.


“Asyiiiiik! Mulai sekarang, Kak Vano enggak akan macam-macam apalagi men*in*das kita!” ucap Dianri, si bontot dengan sangat ceria.


Menahan senyumnya, Zee melirik dan perlahan menatap Devano yang beberapa saat lalu memasang cincin berlian pilihan pria itu ke jari manis tangan kirinya. “Ke adik-adik kamu saja, kamu kejamnya melebihi kompeni, ya? Pantas mereka girang banget kalau aku ngamanin kamu.” Zee sengaja berbisik-bisik.


Devano mendengkus kesal. “Harusnya kamu bela aku dong!” protesnya dengan suara lirih juga, tapi Zee langsung menggeleng.


“Kalau aku dukung kamu, aku enggak akan dapat banyak dukungan dari mereka!” bisik Zee.


“Yang mau nikah sama kamu itu aku!” bisik Devano masih protes.


“Kamu sendiri yang bilang kalau saudara ipar lebih rawan dan wajib dijaga!” bisik Zee lagi.

__ADS_1


“Ah, kamu ah! Pamorku jadi luntur!” keluh Devano tapi Zee makin sibuk menahan tawanya.


__ADS_2