Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
56 : Hukuman yang Pantas


__ADS_3

Rendan memang tidak mengenali siapa Rayyan. Karenanya, ia hanya menekankan, bahwa apa yang tengah mereka sepakati, benar-benar rahasia. Namun, Rayyan sungguh tidak menyangka jika video yang menjadikan Zee sebagai modelnya, menjadi video wanita lain yang Rendan maksud sekaligus janjikan kepada Rayyan.


Dalam koleksi yang Rendan miliki, semua video Zee sedang mandi. Dengan demikian, ancaman Rendan kepada Zee bahwa dirinya memiliki koleksi video Zee yang Rendan rekam diam-diam ketika Zee sedang mandi, benar adanya.


“Warna kulitnya sangat seksi, bukan? Malahan ketimbang Cheryl, dia lebih seksi. Kemarin saja, dua videonya tembus—” Penjelasan Rendan terhenti lantaran memotongnya. Rayyan bertanya dengan kesal mengenai kebenaran Rendan yang sudah menjual atau setidaknya mengunggah video Zee.


Namun, Rendan menatap santai Rayyan, walau lawan debatnya itu menatapnya dengan tatapan marah bahkan emosional.


“Bisnis ini benar-benar menguntungkan. Buktinya, Anda saja menginginkannya,” ucap Rendan tersenyum santai karena merasa di awan. Ia merasa bahagia lantaran video koleksinya banyak yang menawar dengan harga tinggi, dan salah satunya oleh Rayyan.


“Jadi benar, Anda sudah menjual dua videonya?!” tegas Rayyan memastikan. Ia masih bersikap dengan emosional. Apalagi ketika akhirnya lawan debatnya malah mengangguk santai. Ia tak segan mence*k*ik Rendan, kemudian memban*t*i*ng kepala pria itu ke meja.


Rendan langsung syok sekaligus nyaris jantungan pada apa yang Rayyan lakukan kepadanya. Ia berusaha bangkit sekaligus melawan ulah Rayyan, tapi dengan segera Rayyan naik ke meja, sebelum akhirnya pria berwajah santun itu malah menganggap kepalanya tak ubahnya bola, menendangnya tanpa aturan.


Tubuh Rendan menggeliat srkaligus gemetaran kesakitan di lantai. Kedua orang Rayyan yang ada di sana siap mengamankannya andai Rayyan meminta. Sebab kenyataan Rayyan yang sampai mengginja*k kuat kedua tangan Rendan menegaskan, sesuatu yang genting harus segera mereka lakukan.


Di tempat berbeda, Zee tengah menyuapi sang papah makan. Ia melakukan pria itu penuh sayang, seolah apa yang ia lakukan kini menjadi kesempatan terakhir dirinya bisa melakukannya.


“Apa pun yang terjadi, Papah harus ikut aku. Papah tinggal sama aku,” ucap Zee sambil menyuapi sang papah sup iga.


“Yang benar, ... apa pun yang terjadi karena sekarang kamu sudah menikah, kamu harus ikut suami kamu,” ucap pak Samsudin sambil mengunyah suapan dari Zee. Di hadapannya, Zee langsung cemberut dan meliriknya sebal.

__ADS_1


“Devano setuju, Pah ....” Kali ini, Zee merengek sambil menatap penuh harap sang papah.


Kebersamaan mereka ada di balkon hotel pak Samsudin menginap. Sementara di dalam sana, Devano sengaja memisahkan diri untuk menerima telepon masuk dari Rayyan.


“Papah akan tetap tinggal di kontrakan karena di sana menjadi saksi kebersamaan indah kita dengan mamah,” yakin pak Samsudin yang bertutur lembut penuh perhatian kepada sang putri.


“Berarti, aku benar-benar akan menabung untuk membeli kontrakannya!” yakin Zee.


Pak Samsudin mesem. Kedua tangannya meraih tangan kiri Zee yang masih bertahan di pinggir meja kayu berlapis kaca di sana. Menggeleng pelan bersama senyum indah yang terlukis di wajahnya, ia berkata, “Kamu cukup fokus ke hubungan sekaligus rumah tangga kamu dengan Devano. Perhatikan sekaligus cintai Devano sebaik mungkin. Devano sangat mencintaimu, dan Papah yakin dia akan selalu melakukan yang terbaik buat kamu. Kalian juga harus sehat, biar kamu bisa hamil dan segera melahirkan anak buat Devano. Begitu-begitu, Devano sudah tiga puluh tahun lewat, kan? Di usianya yang baru bisa menikah apalagi dia anak pertama, dia pasti sudah sangat menginginkan anak.”


Wejangan sang papah, membuat Zee menunduk dalam. Mengenai kesehatannya yang belum bisa ia kabarkan kepada sang papah. Zee merasa berdosa jika memikirkannya. Namun Zee juga khawatir kejujurannya malah membuat kesehatan sang ayah menjadi membur*u*k.


“Kemari sebelum aku benar-benar membu*n*u*hnya!” ucap Rayyan dari seberang dan terdengar sangat emosional.


Devano pun sudah langsung kacau setelah mendengar kabar yang Rayyan bagikan. Mengenai Rendan dan juga kejahatan pria itu yang sudah menjual video Zee. Hati Devano menjerit mengkhawatirkan kesehatan sekaligus keselamatan Zee dan pak Samsudin.


Devano terpaksa menghampiri kebersamaan Zee dan pak Samsudin untuk pamit. Ia tak mungkin mengajak Zee karena Zee sedang menyuapi pak Samsudin. Zee dan pak Samsudin sedang menjalani quality time.


“Kalau ada apa-apa, langsung bilang ke pak Lukman saja. Aku pergi bentar, kok,” ucap Devano refleks mengelus-elus kepala Zee. Ia berdiri persis di sebelah Zee yang juga tengah mendekapnya, walau istrinya itu masih duduk. Zee mendadak sangat manja kepada Devano.


Pak Samsudin yang awalnya tersenyum kikuk menyaksikan interaksi menggemaskan antara Zee dengan Devano, menjadi mengernyit serius. Ulah Devano mengelus kepala Zee, membuat rambut Zee yang masih agak setengah basah dan memang tergerai, rontok parah.

__ADS_1


“Sayang, rambutmu rontok banget? Kamu salah sampo apa bagaimana?” tanya pak Samsudin. Ia sengaja berdiri untuk memastikan kepala anaknya. Namun, Zee yang awalnya duduk juga buru-buru berdiri.


Devano juga jadi tak kalah panik dari Zee. Ia menyesali tindakan refleks tangannya yang tidak bisa diam dan selalu ingin menguwel-uwel Zee. Dan kini, ia menata tangan kanannya yang sela jemarinya dihiasi rambut Zee.


“Memang salah sampo, Pah. Ini lagi perawatan khusus,” yakin Zee terpaksa berbohong. Demi membuat sang papah tak berpikir macam-macam, ia terpaksa berbohong.


“Oalah ... udah, potong pendek saja. Sebahu apa malah setelinga. Mungkin akar rambutnya enggak kuat karena sudah terlalu panjang,” ucap pak Samsudin yang turut membelai kepala Zee.


Zee yang merasa sangat nelangsa refleks mendekap pinggang Devano lebih erat. Ia sengaja membenamkan wajahnya di perut Devano karena ia memang menangis. Sebab semua hal yang berkaitan dengan orang tuanya memang akan selalu membuatnya se*nsi*tif.


“Kalau enggak malam, besok kita bisa ke salon buat potong rambut,” ucap Devano sambil mendekap Zee penuh sayang menggunakan kedua tangannya. Ia bahkan sengaja mengajak pak Samsudin.


“Berarti nanti sekalian sama Papah, ke salon langganan!” ucap Devano bersemangat meski kedua matanya yang sudah berembun, terasa sangat panas. Karena tak beda dengan Zee, semua yang berkaitan dengan kesehatan Zee maupun kesehatan pak Samsudin, menjadi hal yang s*ensi*tif untuknya.


***


Rendan sudah babak belur ketika Devano sampai di salah satu vila milik keluarga Rayyan. Wajah Rendan tak hanya lebam, tapi juga dihiasi luka yang mengeluarkan darah. di kedua sudut bibir, juga bibir bawah yang pecah, termasuk juga kedua lubang hidung, semua itu dihiasi darah segar. Sementara kedua tangan Rendan, diikat kuat ke belakang menggunakan tali. Termasuk juga dengan kedua kakinya.


Jantung Devano sudah berdetak sangat kencang menahan amarah yang sudah tak kuasa ditahan hanya karena pria itu ingat kesalahan fatal apa yang telah Rendan perbuat. Di lantai gudang sana, pria itu tak berani menatapnya di tengah kesakitan yang jelas tengah menggerogoti Rendan. Dan, emosi Devano sungguh melesat ketika Rayyan yang masih tampak emosional, menunjukkan video Zee hasil rekaman Rendan, di ponsel Rendan. Di sana banyak koleksi khusus milik Zee maupun Cheryl, selain unduhan video serupa.


Lantas, hukuman macam apa yang kiranya pantas untuk orang seperti Rendan? Karena andai sampai dipenjara, itu tak akan pernah setimpal dengan trauma yang harus korban rasakan.

__ADS_1


__ADS_2