Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
50 : Ketulusan Cinta Mereka


__ADS_3

“Lega ...,” ucap Devano sembari tersenyum ceria kepada pak Lukman yang berbaring di sebelahnya.


Malam ini Devano kembali menginap di rumah Zee. Devano tak ikut pulang keluarganya dan sudah langsung beristirahat di kasur pak Lukman biasa istirahat sekaligus tidur di kontrakan Zee.


“Pak Lukman, lihat. Cincin tunanganku berkilau banget, padahal biasanya aku pakai yang lebih besar dan berkilaunya enggak sesilau sekarang, kan? Bisa pas banget begini, tandanya jodoh, kan? Asli sampai sekarang, aku masih deg-degan padahal acaranya sudah beres ....”


Baru kali ini, pak Lukman mendengar seorang Devano berbagi cerita mengenai kebahagiaan mengenai hati dan cinta. Pak Lukman bisa melihat, Tuan Muda yang ia urus sejak balita itu benar-benar jatuh cinta. Devano terlihat bahagia. Boleh dibilang, mengikat Zee menjadi salah satu hal paling membahagiakan bagi seorang Devano. Pak Lukman bisa merasakannya.


“Kakak bahagia banget?” tanya pak Lukman menatap Devano bertabur senyuman.


Devano mengangguk-angguk seiring ia yang meringkuk menghadap pak Lukman.


Tersipu malu, pak Lukman bertanya, “Mau langsung punya anak?”


Kebahagiaan pak Lukman yang membuat pria tua itu tersipu malu, juga menular kepada Devano. Malu-malu Devano mengangguk. “Aku akan menjadi papah yang baik versiku. Aku kan sudah nabung sejak kecil. Bisa buat modal masa depan apalagi aku masih kerja. Jadi, aku bakalan atur waktu. Kapan aku kerja dan kapan aku punya anak.”


Pak Lukman yang menyimak, mengangguk-angguk. Ia sangat mendukung keputusan Devano termasuk itu mengenai rencana Devano yang akan menjadi papah baik untuk anaknya. “Kakak pernah merasakan, bagaimana rasanya terpisah lama dari papah. Jadi pak Lukman yakin, Kakak akan melakukan yang terbaik. Tentunya, Kakak memang akan menjadi Papah terbaik untuk anak-anak Kakak!” ucap pak Lukman dan langsung membuat Devano yang masih menyimak, berkaca-kaca kemudian memeluknya.


“Kehidupan ini membuatku banyak belajar. Termasuk dari setiap kegagalan yang aku alami, aku juga belajar banyak hal!” ucap Devano yang membiarkan air matanya berlinang meluapkan isi hati alasan dadanya bergemuruh.


“Sejauh saya mengenal Kakak, tak pernah sekalipun Kakak gagal. Kakak tahu artinya gagal itu apa? Gagal adalah saat di mana seseorang memilih menyerah, mengakhiri semua perjuangannya. Sementara sejauh ini, Kakak selalu bangkit kemudian mencoba cara baru di setiap cara yang Kakak jalani belum berhasil. Jadi pada kenyataannya, Kakak memang tidak pernah gagal karena Kakak tidak pernah menyerah!” yakin pak Lukman.


Devano yang menyimak makin berlinang air mata seiring dirinya yang mengeratkan dekapan kedua tangannya terhadap punggung pak Lukman.


“Satu hal yang membuat saya masih bertanya-tanya. Kenapa akhir-akhir ini, Kakak begitu menjaga mbak Zee? Mbak Zee, sakit? Kakak sampai rutin menginap. Kakak juga sampai belajar memasak,” tanya pak Lukman yang kali ini bertanya dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, Devano tidak bisa menjawab pertanyaan pak Lukman. Cukup lama keheningan itu menyelimuti karena baik pak Lukman maupun Devano, sama-sama diam.


“Saya hanya sedang berusaha belajar menjadi pasangan yang baik, Pak Lukman,” yakin Devano tanpa bisa menyudahi kesedihannya.


Sejauh ini, Devano selalu jujur, membagi kisahnya kepada pak Lukman termasuk ketika Devano merasa sangat kesal kepada seseorang dan paling sering kepada Rayyan.


Tak mau membuat pak Lukman khawatir, Devano yang sudah mengakhiri dekapannya kepada pak Lukman, sengaja menatap pak Lukman. “Doakan yang terbaik saja, yah, Pak. Zee memang sedang kurang sehat, tapi karena dia belum mau tinggal di rumah sebelum kami menikah, mau enggak mau aku harus mengalah dan tinggal di sini, agar aku bisa merawatnya.” Selain berkata demikian, Devano juga meminta pak Lukman untuk merahasiakannya dari pak Samsudin.


Pak Lukman mengangguk-angguk sanggup. “Saya yakin, Kakak akan melakukan yang terbaik!”


Lagi-lagi Devano merasa terharu dengan cara pikir pak Lukman. Namun tak lama berselang, Devano mendapat telepon WA dari Zee dan wanita itu memintanya datang ke kamar.


“Aku ke Zee dulu, Pak. Sumpah, kami enggak macam-macam!” yakin Devano sebelum buru-buru pergi menemui Zee, tanpa terlebih dulu menunggu balasan atau sekadar tanggapan pak Lukman.


Zee tidak mengunci pintu kontrakannya hingga Devano bisa masuk dengan leluasa. Devano melakukannya dengan hati-hati demi berjaga-jaga dari pak Samsudin. Zee yang awalnya membelakangi kedatangan Devano dan masih menyelimuti tubuh bagian bawahnya, berangsur menoleh. Aroma parfum Devano yang ia kenal, menjadi alasannya melakukannya.


Hati Devano seolah dire*m*a*s dengan keji. Devano sudah nyaris menangis, tapi Devano langsung berusaha tegar dan dengan cekatan meraih tas khusus obat milik Zee yang ada di meja sebelah kasur.


“Kayaknya kamu kelelahan. Kepala kamu pusing? Ini kamu wajib minum obat tambahannya.” Devano yang paham setiap obat Zee, langsung menyiapkannya. Segelas air minum yang sebelumnya sudah direbus, Devano tuang dari wadah minum warna biru yang menghiasi meja.


“Pusing banget, ... mual juga. Papah sudah tidur, kan?” lirih Zee sengaja berbisik-bisik.


“Minum obatnya dulu, ... setelah itu tidur.” Devano mensyukuri keputusannya tetap tinggal demi menjaga Zee, merupakan keputusan tepat.


Di lain sisi, kepedulian Devano membuat Zee merasa sangat tersentuh. Zee janji tidak akan pernah melupakan kepedulian Devano dalam menjaga sekaligus membantunya sembuh dari sakit.

__ADS_1


Devano sudah membaringkan Zee dengan hati-hati di tengah tempat tidur.


“Obatnya bikin aku ngantuk,” ucap Zee yang membiarkan Devano mengompres wajah berikut sekitar lehernya yang terus berkeringat, dengan air hangat.


“Mungkin memang efeknya biar kamu bisa istirahat,” balas Devano.


Zee mengangguk-angguk di tengah kedua matanya yang berkedip sendu. Kedua tangannya yang gemetaran berangsur membingkai wajah Devano.


“Berarti mulai sekarang, kamu memang wajib istirahat total,” ucap Devano.


“Enggak juga. Maksudku, bukan begitu. Aku enggak harua istirahat total karena yang harus aku lakukan adalah mengurangi aktivitasku. Seharian ini kan jadwal kita padat. Dan aku yakin, enggak ada yang menyangka termasuk Rayyan dan keluarga besar kalian, kalau kita sudah lamaran,” lirih Zee susah payah dalam mengatakannya.


Devano mengangguk-angguk.


“Kamu juga tidur, ya. Aku beneran nyaris tidur. Ngantuk banget!” ucap Zee yang berangsur mendekap tengkuk Devano.


“I love you!” bisik Devano tepat di sebelah telinga Zee. Untuk pertama kalinya ia melakukan itu. Di tengah tatapannya yang menjadi kosong, air matanya berlinang. “Semuanya beneran terasa sangat berharga, ketika sedang diuji seperti ini,” batin Devano tanpa perubahan berarti.


“I love you too! Aku rasa ... walau sebelumnya aku pernah menjalin hubungan, bersamamu memang yang paling spesial,” lirih Zee.


Devano berangsur membalas dekapan Zee. “Istirahatlah.” Ia kembali mencoba membaringkan tubuh Zee dengan hati-hati. Namun, Zee menolak.


“Lepaskan aku ketika aku sudah benar-benar tidur,” lirih Zee kali ini benar-benar memohon.


Devano mengangguk-angguk sanggup walau lagi-lagi, air matanya berlinang membasahi pipi. Satu hal yang langsung Devano syukuri. Karena ketika ia terbangun di pagi harinya, Zee sudah ceria lagi. Wanita berusia dua puluh enam tahun itu sengaja membangunkannya. Mengajaknya untuk memasak bersama agar mereka bisa sarapan tepat waktu dan Zee pun bisa minum obat tepat waktu.

__ADS_1


“Kita juga jalan pagi bentar sekalian berjemur biar racun di tubuh kita keluar, ya.” Devano bangun dengan malas keluar dari kamar Zee.


Demi menjaga Zee secara siaga, ia rela tidur di lantai menjadikan selimut dari lemari Zee sebagai alasan ia tidur.


__ADS_2