
“Zee, kamu itu manusia, kan, bukan siput?!” Devano marah-marah sembari menempelkan gagang teleponnya di telinga kanan. Kemarahan yang perlahan memudar digantikan keterkejutan yang membuat pria itu bingung sendiri.
Di hari ketiga hidupnya tanpa Zee, Devano masih belum bisa melepaskan diri dari bayang-bayang wanita itu. Ia bahkan sudah memecat enam pengganti Zee dan kebanyakan dari mereka selalu menangis gemetaran di setiap Devano marah-marah.
Kini, Devano menjadi terdiam lemas di kursi kerjanya. “Ketika aku nyaris kehilangan kewarasanku hanya karena aku jauh dari kamu, lalu, apa yang terjadi kepadamu?” pikirnya yang kemudian mengeluarkan ponselnya. Setelah Ia menyalakan gawai canggih tersebut, ia benar-benar langsung gondok karena layar ponselnya sudah langsung dipenuhi foto Zee yang sedang jalan-jalan di mal.
“Masih jadi turis?!” kesal Devano dalam hatinya.
Di tempat layaknya di foto yang memenuhi layar ponsel Devano, Zee menjadi memelankan langkahnya hanya karena wanita itu mendapati toko boneka dan menjadikan aneka dinosaurus menjadi bagiannya. Yang langsung Zee rindukan setelah melihat salah satu boneka dinosaurus khususnya yang T-Rex tentu Devano.
“Jujur, aku enggak bermaksud meninggalkanmu apalagi setelah aku mengetahui masa lalu kamu. Aku melakukan ini karena aku ingin, kamu jauh lebih menghargai orang lain,” batin Zee yang kemudian membimbing sang papah yang masih ia gandeng, masuk ke dalam toko boneka tersebut.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Devano yang masih sibuk dengan pekerjaannya, terusik oleh dering ponsel tanda pesan masuk. Devano yang awalnya terdiam penuh keterjagaan, buru-buru memastikan.
“Ternyata dia juga kangen aku,” batin Devano yang mendadak melow hanya karena dikirimi foto-foto Zee yang tengah mendekap boneka T-Rex berukuran terbilang besar.
Devano menghela napas dalam di tengah kenyataan perasaannya yang mendadak terombang-ambing. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat duduk keberadaannya.
Malamnya, Devano kembali mengawasi kontrakan Zee. Ia baru tiba kemudian turun dari mobilnya, melangkah memasuki gang menuju kontrakan Zee berada.
“Kalau memang kangen, bilang saja kenapa? Enggak usah colong-colongan begini?” tegur Zee yang melangkah di belakang Devano sembari menenteng dua kantong warna hitam.
Devano langsung ketar-ketir mendengar itu, tak berani memastikan sebelah kanannya dan menjadi keberadaan Zee. Aroma satai dan juga ayam bakar, tercium kuat dari sana. Sementara baru saja, Zee lewat begitu saja meninggalkannya.
“Enggak banyak yang berubah. Cuma jadi kurus, matanya saja sampai cekung, gelap, segelap pemikirannya!” batin Zee mendengkus sinis lantaran Devano masih saja bertahan dengan gengsinya, padahal jelas-jelas sudah kepergok.
“Sombong banget!” batin Devano. Awalnya, ia nyaris putar balik pergi dari sana. Namun, yang ia lakukan malah buru-buru menyusul Zee.
__ADS_1
“Maaf, tidak menerima tamu malam-malam,” ucap Zee yang walau tidak sampai menatap Devano, sengaja buru-buru menutup pintu kemudian menguncinya.
“Sombong banget nih orang!” kesal Devano, tapi kali ini hanya bisa melakukannya dalam hati.
Dari balik pintu yang baru saja ia kunci dan masih ia punggungi, Zee berseru, “Jangan di situ terus kalau enggak mau diteriaki maling!”
“Terus, kamu pikir, aku bisa nembus nih pintu atau malah mendadak mengecilkan tubuhku sekecil semut agar aku bisa masuk lewat sela-sela?” kesal Devano.
“Entah lah, bukan urusanku!” balas Zee dengan santainya, dan memang sengaja memancing emosi Devano. Terbukti, kedua tangan pria itu dengan cekatan menggedor pintu penuh emosi.
Ulah Devano yang mengundang perhatian, juga membuat pria itu mendapatkan pembelaan dari pak Samsudin. Devano bahkan langsung diizinkan masuk ke dalam kontrakan Zee. Pria itu diajak makan bersama, layaknya gem-bel yang kelaparan setelah tersesat di dunia lain. Tanpa melihat tampang Devano yang masih terlihat layaknya orang kaya, pria itu memang menjadi berantakan setelah ditinggal Zee. Zee mengakuinya.
Pak Samsudin menjadi penengah di antara kedua sejoli itu. Pria itu duduk di tempat duduk tunggal, membiarkan Zee dan Devano duduk berhadapan.
“Kalaupun Devano ada salah, harusnya kamu tidak melupakan kebaikannya selama ini, Zee,” ucap pak Samsudin berusaha menasihati Zee, tapi yang dinasihati tetap menyibukkan diri dengan melahap setiap tusuk santainya.
Zee langsung menatap kesal Devano. “Situ enggak usah nyolot, kalau situ saja jauh lebih bob*rok!” kesalnya.
Devano langsung kicep mendengarnya. Menghindari tatapan Zee, Devano memilih melahap satu porsi satai di piringnya yang juga dilengkapi dengan lontong. Lain dengan Devano, pak Samsudin malah mendadak migran karena harus menghadapi kedua sejoli yang terus saja ribut.
“Makan dulu, kepala Papah pusing gara-gara kalian berantem terus!” tegur pak Samsudin yang tentu saja hanya berucap lirih, lain dengan Zee dan Devano.
Zee dan Devano yang ditegur begitu, menjadi saling lirik. Namun, keduanya tetap melahap satai mereka dan memang sengaja melakukannya untuk menyibukkan diri.
“Pah, aku boleh ngontrak di sini juga?” tanya Devano. Mulutnya memang masih aktif mengunyah, sementara tatapannya masih sibuk melirik Zee walau jelas-jelas, yang ia ajak berbicara merupakan pak Samsudin.
“Kenapa kamu ingin mengontrak di sini?” tanya pak Samsudin.
__ADS_1
Diam-diam, Zee mempersiapkan diri untuk menyimak balasan Devano. Ia penasaran, dan memang telanjur berharap Devano mengatakan kata-kata manis untuknya maupun hubungan mereka, di jawabannya.
“Mengontrak tanpa alasan enggak akan diterima,” lanjut pak Samsudin lantaran Devano menjadi diam.
Devano yang menjadi berhenti mengunyah, berangsur memfokuskan diri ke Zee. Ia menatap kedua mata itu, tapi Zee langsung menepisnya dengan sinis.
“Biar bisa jadi satpamnya Zee, Pah!” balas Devano.
Jantung Zee sudah langsung berdetak lebih kencang mendengarnya. Zee sampai menahan napas karena terlalu gugup.
“Daripada hanya jadi satpam, lebih baik kalian menikah saja,” yakin pak Samsudin yang walau masih fokus makan, tetap mengawasi kedua sejoli di sana dengan saksama.
Zee langsung menunduk, membiarkan Devano memandangi wajahnya dengan leluasa.
“Zee mana mungkin mau, Pah ...,” ucap Devano yang masih sibuk mengawasi Zee.
“Fitnah banget!” kesal Zee belum sudi menatap Devano.
“Oh, berarti kalau begitu, sebenarnya kamu mau nikah sama aku?” balas Devano gercep.
Sambil jual mahal, Zee menggeleng. “Enggak juga. Buat apa juga nikah sama laki-laki enggak tahu aturan, enggak punya hati dan lebih mengedepankan gengsi seperti kamu? Yang lebih saja banyak, kenapa aku harus memilih yang minus?”
“M-minus ...?!” pekik Devano tak percaya. Tusuk satai yang ia pegang sudah langsung patah gara-gara emosi yang ia tahan. Tangannya sudah langsung gemetaran hebat.
“Dalam sebuah hubungan sudah sewajarnya ada selisih paham karena kehidupan ini memang tersusun dari banyak perbedaan. Perbedaan yang menjadi satu kesatuan sekaligus saling melengkapi,” yakin pak Samsudin makin migran.
“Tuh, dengar. Kita ini walau banyak memiliki perbedaan, tapi kalau sudah cinta ya cukup jalani saja!” ucap Devano, tapi Zee yang masih marah kepadanya hanya menanggapi dengan lirikan sinis, sebelum akhirnya wanita itu kembali sibuk makan satainya.
__ADS_1