
Foto cincin pilihan Devano, kemudian foto Devano yang sedang mencicipi es krim milik Zee dan Zee masih memegangi es krimnya, menjadi status WA seorang ibu Arnita yang di setiap statusnya dihiasi stiker hati warna merah. Rayyan yang ada di ruang kerjanya dan dulunya ditempati Devano nyaris selama sepuluh tahun lamanya, tak sengaja melihat kedua status tersebut.
Kedua tangan Rayyan gemetaran hebat mengiringi detak jantungnya yang seolah nyaris meledak saking kerasnya pemompa darah dalam tubuh itu bekerja. Rayyan bahkan tak sanggup melihat kedua status tersebut lebih lama lagi. Malahan walau sudah mematikan layar ponselnya hingga gawai itu menjadi gelap, Rayyan juga sampai melempar asal ke meja kerjanya yang berantakan.
Rayyan sampai menangis, seperti biasa. Kebiasaan dari kecil yang masih ia bawa hingga kini ia menjelma menjadi dewasa. Seseorang masuk ke ruang kerjanya, pak Mario. Pria yang menjadi papah sambungnya semenjak ia berusia enam tahun, menatapnya dengan tatapan khawatir.
“Sudah ... jangan membiarkan dirimu makin terluka karena mereka memang akan menikah. Jadilah Rayyan yang bebas. Nikmati hidupmu, dan serahkan kembali kembali semua ini ke Devano. Bukankah kamu sendiri yang bilang, semua pekerjaan hang harus kamu selesaikan, terlalu memusingkan?” Pak Mario terus bertutur pelan penuh kepedulian.
Rayyan langsung sibuk menggeleng. “Pah ....”
Pak Mario langsung menggeleng tegas sambil berkata, “Cukup, Rayyan! Jangan memaksakan keadaan. Apa yang kamu lakukan tidak membuat Devano terluka karena yang terluka justru kamu. Zee pun enggak mungkin berpaling ke kamu karena andai kamu terus maju menekan Devano, yang ada Zee malah membenci kamu!” Ia sudah ada di hadapan Rayyan.
“Setidaknya, kalau kamu memang enggak peduli ke keluarga kita, kamu enggak peduli ke mamah kamu, adik-adik kamu ... paling tidak kamu peduli ke diri kamu.” Pak Mario masih sibuk meyakinkan. “Percayalah, ... akan ada masa kamu menyesali keputusan kamu. Walau kebahagiaan kamu memang ada di tangan kamu, kamu tetap harus melakukannya dengan mempertimbangkan pendapat orang lain. Kamu harus mempertimbangkan setiap keputusan yang kamu ambil dengan mendengarkan pendapat dari orang tua sekaligus keluarga kamu.”
“Andai kamu memang ingin belajar memimpin perusahaan, beneran enggak apa-apa. Papah, mamah, dan semuanya akan selalu mendukung kamu. Namun jika niatmu hanya untuk melukai dan itu bisa melukai dirimu sendiri, ... sudah. Cukup, ... berhenti!”
__ADS_1
Rayyan terpejam pasrah. Kedua tangannya menekap wajah seiring ia yang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.
Berbeda dengan Rayyan yang merasa dilema karena memang cemburu pada Devano yang selalu bisa memiliki apa yang pria itu mau dan juga selalu ia mau juga, pak Samsudin tak hentinya tersenyum cerah. Di sofa panjang ruang tamu yang ada di kontrakannya, sofa panjang biasa Devano bermalam, pak Samsudin tak hentinya tersenyum memandangi status WA ibu Arnita maupun status WA Zee.
Zee : Pah, aku bahagia banget! Aku yakin, Papah juga akan merasakannya. Papah pasti juga bahagia! Dua hari lagi, aku dan Devano lamaran. Kemarin, Devano melamar aku dan aku bilang iya. Malam ini, kami pulang, tapi ini enggak tahu aku langsung diantar ke kontrakan, apa di rumah Devano.
Pesan tersebut benar-benar baru masuk menghiasi ruang obrolan WA pak Samsudin dengan sang putri. Pesan WA yang juga menambah kebahagiaan pak Samsudin. Air mata bahagia menjadi berjatuhan dan sebagiannya menimpa layar ponsel. Penuh bahagia di tengah hati yang berbunga-bunga, dengan kedua tangan yang juga gemetaran, pak Samsudin menulis pesan balasan untuk sang putri.
Papah : Enggak apa-apa. Diatur saja. Semoga apa yang kalian rencanakan, sukses sampai tujuan. Kalian juga hati-hati ya. Oh, iya, ... katanya mau di luar negeri satu bulanan?
Zee : Enggak jadi satu bulan, Pah. Tapi satu bulan lagi, kami juga ke Singapura lagi.
Pak Samsudin merasa sangat bahagia dengan kehidupan Zee yang sekarang. Zee yang begitu diperhatikan oleh Devano sekeluarga. Ditambah lagi, Zee juga bekerja bersama Devano sekeluarga, selain Devano sekeluarga yang memang jauh lebih dekat dengan mereka ketimbang Rendan dan keluarganya. Tentunya, orang tua mana yang tidak bahagia melihat putri semata wayangnya menjadi bagian dari keluarga kaya raya? Keluarga berada yang juga sangat menyayangi Zee, selain Zee yang memang menjadi hidup lebih dari berkecukupan?
“Alhamdullilah ya Alloh. Andaipun Hamba harus mati sekarang, Hamba benar-benar siap. Hamba bisa pergi dengan tenang karena Zee sudah bersama orang yang tepat!” batin pak Samsudin sembari menyeka sekitar matanya yang basah. Pak Lukman yang baru datang dari dapur sambil membawa nampan berisi piring dipenuhi potongan buah pepaya, langsung tercengang.
__ADS_1
Pak Lukman sangat mengkhawatirkan pak Samsudin. Bergegas ia menaruh yang dibawa, di meja. “Pak Samsudin ada keluhan apa? Mau saya antar ke rumah sakit?” lirihnya santun, tapi yang berangkutan berangsur menggeleng sambil tersenyum.
“Saya baik-baik saja, Pak Lukman. Malahan, saya merasa sangat bahagia. Melihat hubungan Zee dan Devano, saya merasa sangat senang. Andai saya harus meninggal sekarang pun, saya siap. Saya bisa pergi dengan tenang karena Zee sudah bersama orang yang tepat,” ucap pak Samsudin.
Pak Lukman langsung menatap sedih pak Samsudin. Ia berangsur duduk di sebelah pria itu. “Pak Samsudin enggak boleh bilang begitu. Kalau mbak Zee dengar, pasti mbak Zee sedih karena kebahagiaan mbak Zee juga enggak pernah luput dari kehadiran pak Samsudin. Makanya, pak Samsudin harus selalu sehat. Pak Samsudin harus selalu ada bersama mbak Zee karena mbak Zee sangat butuh Pak Samsudin!” yakinnya yang merasa ngeri, kenapa pak Samsudin sampai membahas kematian di tengah kebahagiaan Devano dan Zee?
Pak Samsudin menunduk loyo, dan sengaja meraih ponselnya yang dihiasi sederet pesan WA masuk. Semua pesan itu berasal dari Zee. Zee mengiriminya banyak foto perjalanan putrinya itu di Singapura bersama Devano dan ibu Arnita.
Papah : Bahagia selalu yah, Sayang!
Zee : Makasih banyak, Pah. Papah juga harus selalu bahagia, ya. Karena kebahagiaanku akan kurang lengkap tanpa kebahagiaan Papah. (emoji hati putih)
Papah : Pasti. Papah akan selalu sama kamu. Papah bakalan dukung semua yang kamu lakukan. Makasih banyak sudah selalu melakukan yang terbaik! Makasih banyak karena selalu jadi kebanggaan Papah. Makasih banyak selalu jadi pelangi dalam hidup Papah dan keluarga kita.
Di bandara, Zee yang sudah duduk di bangku tunggu, tak kuasa membendung air matanya. Pesan-pesan yang sang papah kirimkan tak ubahnya mata tombak yang menghunjam jantung sekaligus hatinya. Harusnya Zee memang bahagia bahkan bangga, tapi entah kenapa, pesan tersebut malah terasa menyakitkan. Membuat tangis pilu tak kuasa ia tahan, selain ia yang tetap bungkam walau Devano terus bertanya penyebabnya menangis sesenggukan layaknya sekarang.
__ADS_1
Setelah sampai mendekap erat tubuh Zee, Devano mengambil alih ponsel Zee. Dalam dekapannya, Zee sampai membenamkan wajah, terisak pilu dan terdengar sangat menyayat hatinya. Devano merasa tidak ada yang aneh dengan ruang obrolan WA Zee dan sang papah. Begitupun dengan ibu Arnita yang sampai mengomel, mengira Devano sebagai penyebab Zee menangis.
“Aku paham ... aku paham. Zee pasti merasa sangat terenyuh, makanya bukannya bahagia, dia malah nangis begini,” ucap Devano berbisik-bisik kepada sang mamah yang ada di sebelah Zee. Dalam dekapannya, tangis Zee berangsur berkurang. Namun, Zee tetap diam walau calon istrinya itu tak lagi sesenggukkan.