Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
45 : Kebaya Lamaran


__ADS_3

“Selamat, ya!” Zee tak hanya menoleh kemudian menatap Devano yang melangkah di sebelahnya. Karena ia juga sengaja mengulurkan tangan kanannya. Namun lantaran Devano tak kunjung membalas uluran tangan kanannya, ia sengaja menjabat tangan kanan pria itu.


Layaknya ketika akan ke kantor, pagi ini Devano berpenampilan rapi menggunakan setelan jas warna abu-abu lengkap dengan dasi. Dan seperti biasa juga, Devano terlihat sangat tampan.


“Ini ada apa, sih? Selamat buat apa? Aku kan belum naik jabatan,” ucap Devano terheran-heran.


Zee menghela napas dalam. “Selamat karena kamu sudah bisa memakai hati kamu. Kamu mengakui ketulusanmu kepada orang yang selama ini tulus ke kamu. Aku sampai merinding karena perubahan kamu beneran drastis!”


Menyimak itu, Devano langsung tersipu. “Kamu tambah kagum ke aku, dong?” ucapnya sengaja membanggakan dirinya layaknya biasa.


“Tentu! Aku juga makin sayang!” yakin Zee dan langsung membuat seorang Devano kikuk. Pipi pria kejam itu sampai merah, selain Devano yang jadi tidak berani menatapnya walau hanya untuk beberapa saat saja.


“Makin kamu melakukan perubahan baik, makin sayang juga aku ke kamu!” lanjut Zee masih meyakinkan.


“S-serius ...?” balas Devano lirih, dan menatap Zee dengan tatapan tak percaya.


“As-sli! Serius, bahkan berius-rius!” yakin Zee sampai menyentak jabat tangan mereka.


Devano refleks tersipu. Tangan kirinya yang bebas, membelai rambut sebelah kanan Zee. Namun ulahnya itu membuat sela jemarinya dihiasi rambut Zee yang rontok dalam jumlah banyak. Detik itu juga kebersamaan mereka menjadi diliputi banyak kesedihan. Dada yang menjadi bergemuruh dikuasai sesak, juga kedua mata mereka yang kompak berembun.


Devano mengumpulkan rambut Zee yang rontok dan menghiasi sela jemari tangan kirinya, kemudian menyimpannya di saku celana sisi sebelah kiri.


“Aku mau potong rambut, ya?” izin Zee yang melanjutkan langkahnya meninggalkan gang menuju kontrakan.


“Jangan pendek-pendek,” pinta Devano refleks sembari melanjutkan langkahnya juga.


Zee langsung mendengkus sinis melirik Devano. “Katanya, kalaupun aku gundul, enggak apa-apa, biar irit sampo sekaligus hemat pengeluaran?” ucapnya sengaja menyindir Devano.


Devano langsung gelagapan. “Itu ....”

__ADS_1


Tak mau membuat Devano merasa makin bersalah, Zee sengaja mengalihkan perhatian. “Hari ini, kita jadi pilih seragam buat lamaran kita?”


“Tentu. Mamah sudah siapin buat kita. Enggak usah repot-repot karena kita kerja dan coba seragamnya masih di gedung yang sama.” Devano sengaja membuat suasana tak lagi melow karena sakitnya Zee.


“Kamu jangan kaget karena ketimbang memilih gaun modern, aku lebih memilih kebaya,” ucap Zee sambil melirik Devano penuh arti. Tatapannya masih diselimuti banyak kesedihan dan benar-benar basah. Ia mulai kewalahan menahan kesedihan apalagi air matanya.


“Bukan masalah. Kalaupun kamu juga ingin aku pakai kebaya, aku siap-siap saja asal kamu yang minta!” yakin Devano hangat. Ia tersenyum walau kedua matanya yang terasa makin panas, juga sudah sangat basah.


Zee mendekap erat lengan kanan Devano menggunakan kedua tangannya. Tatapan mereka yang dihiasi senyum pura-pura masih bertemu. Puncaknya, Devano mengecup kening Zee. Bibir berisi milik pria itu menempel sangat lama di kening Zee walau mereka terus melangkah dan sudah sampai di depan mobil Devano yang terparkir di sisi jalan sebelah gang.


Devano kembali menyetir sendiri, sedangkan pak Lukman yang Devano beri cuti, masih menjaga pak Samsudin. Pak Lukman baru akan mengambil cuti setelah acara lamaran Zee dan Devano, beres.


***


Kebaya untuk acara lamaran Zee bernuansa keemasan. Kebaya simpel tapi elegan dan terlihat mahal. Sebagai desainer, ibu Arnita turun tangan langsung mengurus semuanya. Dari mendesain, pemilihan kain, bahkan menjahitnya.


“Si Zee, baru menginap semalam di Singapura, jadi kelihatan lebih putih!” ucap Devano sengaja menggoda sekaligus meledek Zee.


“Lebih putih lagi kalau tubuhku sampai dicat putih yang tahan bocor!” balas Zee sewot.


Ibu Arnita yang awalnya mesem, langsung menahan tawanya apalagi Devano juga langsung terbahak-bahak.


“Serius, kamu beneran mau? Kalau iya, nanti aku minta orang buat beliin yang ukuran ember gede!” ujar Devano dan yang ada, membuat Zee makin kesal.


“Lengan panjang batik punya Kakak, baru beres besok, ya. Soalnya, malam ini baru mamah jahit!” ujar ibu Arnita selesai membantu Zee.


“Devano bilang, dia mau pakai kebaya juga, Mah!” ucap Zee yakin.


Ibu Arnita kembali terbahak.

__ADS_1


“Kapan aku bilang begitu?” sewot Devano.


Zee menghela napas dalam. “Ya ampun ... pagi tadi, di gang kontrakan, pas kita mau berangkat!”


“Oh iya aku lupa ... Mah, memangnya Mamah sanggup bikin kebaya buat aku juga?” Devano menatap serius sang mamah yang malah tertawa sampai lemas. Ibu Arnita berakhir duduk sila di lantai, di sebelah Zee.


“Mah, aku serius. Soalnya aku sudah janji ke Zee!” yakin Devano.


“Ih, jangan, Mah ... jangan! Yang ada, aku jadi takut kalau Devano beneran pakai kebaya!” sergah Zee panik dan memang sudah takut. Karena baru membayangkan Devano benar-benar memakai kebaya di acara lamaran mereka saja, ia merasa sangat takut. Apalagi jika Devano benar-benar memakai kebaya?


“Kalian, ya ... kalau sudah bareng ... ramenya mengalahkan kerumunan yang sedang tawuran!” ucap ibu Arnita beranjak berdiri. Ia dibantu Zee, kemudian berjalan terseok menuju meja kerjanya. Ia meraih botol minum miliknya dari sana, kemudian meminum bekal air minumnya itu.


Zee yang sadar, penampilannya sudah sempurna walau rambutnya hanya ia cepol asal, sengaja meminta pendapat Devano.


“Aku pikir-pikir, kamu kurang aja*r banget ke aku, masa iya kamu panggil aku ‘kamu’ bahkan ‘Devano’!” ucap Devano yang bukannya mengomentari penampilan Zee dengan kebaya lamaran mereka, tapi malah memprotes panggilan Zee kepadanya.


Zee kebingungan. Ia berpikir cukup lama, memikirkan panggilan yang pas untuk calon suaminya. “Kakak ...?” ucap Zee, apalagi semua orang terdekat Devano termasuk pak Lukman, memanggil Devano dengan panggilan itu.


Devano merengut dan buru-buru menggeleng. “Apaan, terlalu lempeng!” balasnya sewot.


Ibu Arnita yang menjadi bagian dari pasangan yang berbakat ribut itu, kembali mesem. Ia menutup botol air minumnya dengan hati-hati.


“Terus, apa? Mas, Abang ...? Sayang?” Zee masih mengabsen panggilan umum yang biasa dipakai oleh pasangan, apalagi pasangan baru.


“Terlalu biasa!” balas Devano masih sewot sekaligus cemberut. Ia sungguh tidak bahagia dengan panggilan yang Zee tawarkan kepadanya.


“Kompeni?” ujar Zee lagi dan langsung membuat seorang Devano memelotot syok menatapnya.


Zee refleks mundur karena Devano seolah akan menerka*mnya detik itu juga. Namun selain Devano terus mendekat hingga ibu Arnita sampai berseru menegur, ternyata Devano sengaja mendekapnya erat.

__ADS_1


“Astaga ... enggak Devano, enggak Zee, sama-sama hobi bikin senang jantung!” batin ibu Arnita sampai harus menghela napas pelan cukup lama karena jantungnya benar-benar bekerja lebih keras dari semestinya.


__ADS_2