
“Kenapa yang ini kosong? Aku menjatuhkannya, apa bagaimana?” Jantung Zee sudah langsung berdetak sangat cepat sekaligus keras. Lebih keras dari suaranya barusan yang memang lirih saking takutnya. Bagaimana tidak? Dokumen rahasia yang Devano titipkan kepadanya justru hanya tinggal mapnya!
“Ada masalah?” tanya Devano. Telinga tajamnya yang tak kalah teliti dari tatapannya, menemukan gelagat aneh dari Zee. Malahan ketika ia amati, wanita itu mendadak pergi.
“Bentar, aku cari dulu di ruang kerjaku,” ucap Zee.
Alis tebal Devano mendadak nyaris tersambung hanya karena mendengarnya. Buru-buru pria itu memeriksa setiap berkas yang sudah tersedia di mejanya. Namun giliran map berisi berkas pentingnya malah, kosong, tubuhnya apalagi tangannya yang memegang, sudah langsung gemetaran. Lebih membuat Devano naik pitam lagi, di luar sana Zee masih sibuk mencari, menandakan wanita itu memang kehilangan dokumennya.
Di tengah dadanya yang bergemuruh menahan kesal, Devano yang masih mencengkeram map kosong, melangkah keluar.
“Ini isinya ke mana?” Devano tidak bisa mengontrol emosinya.
Zee yang awalnya membelakangi keberadaan Devano, langsung terlonjak kaget dan perlahan refleks menghadap Devano. “Harusnya ... ada,” lirihnya takut-takut menatap Devano.
Kesal, Devano benar-benar kesal. Alasannya terpejam pasrah pun karena ia sudah ingin mengamuk. Termasuk tindakan refleksnya memban*ting map di tangan kanannya. “Cari ... cari sampai ketemu!” tak hanya suaranya yang menjadi gemetaran, tapi juga gigi-giginya yang sampai terdengar bergemeretak dan tak hentinya bertautan. Bahkan walau di hadapannya, Zee sudah sampai menangis ketakutan, kenyataan tersebut tidak mampu memadamkan kekesalan bercampur emosi seorang Devano.
Baru pertama ini, Zee mendapati seorang Devano sangat marah. Tak beda dengannya, pria itu sampai menangis.
“C-cariiiii!” tuntut Devano. “Harga diri bahkan nyawaku sekeluarga, aku pertaruhkan di berkas itu!”
__ADS_1
Zee menunduk menyesal kemudian mengangguk-angguk. “Aku akan mencoba mencarinya di rumahku.”
“Jangan pernah kembali jika kamu tidak menemukannya!” tegas Devano padahal Zee yang balik badan, baru akan melangkah pergi.
Penegasan yang Devano lakukan juga bertepatan dengan kedatangan Rayyan. Rayyan langsung mencurigai memang ada yang tidak beres di sana. Devano yang tampak sangat emosional dan sampai menangis. Juga Zee yang sudah sangat kacau dan buru-buru pergi sembari mengempit tasnya.
Rayyan yang memang tak berniat bertanya kepada Devano, memilih mengejar Zee. Ia sampai berlari karena Zee yang awalnya hanya melangkah buru-buru, juga perlahan berlari.
“Zee, kamu mau ke mana?” Rayyan terus berusaha bertanya, tapi Zee terus mengabaikannya. Ia sampai menahan sebelah pergelangan Zee, tepat ketika mereka sampai lobi.
“Saya harus pulang! Dan tolong, jangan sembarangan menyentuh saya!” tegas Zee yang kemudian berusaha mengipratkan tahanan tangan Rayyan, tapi pria itu tetap tak mau melepaskannya. Malahan, Rayyan menatapnya dengan tatapan yang begitu emosional.
Zee tidak memiliki keputusan lain selain menerima tawaran Rayyan. Sebab selain Rayyan yang terus saja memaksa, berkas yang harus segera ia temukan juga akan dipakai rapat pukul sembilan nanti. Hanya saja, walau ia sudah menggeledah seisi kamar hingga semua pakaian berantakan dan tempat tidur yang hanya berupa kasur sofa tergeletak di lantai juga sampai ia balik, Zee tetap tidak menemukan dokumen yang dicari.
“Sebenarnya, apa yang kamu cari?” tanya pak Samsudin bingung sendiri lantaran Zee tak mau bercerita dan sibuk mencari sendiri.
Rayyan dan pak Lukman juga ada di sana. Di depan kamar Zee yang pintunya dibiarkan terbuka sempurna, dan di dalamnya sudah mirip kapal pecah karena semua barang termasuk itu pakaian, terserak di lantai.
Bukannya menjawab, Zee yang masih kerap menangis, malah terduduk lemas di dalam sana. Tatapan Zee kosong, tapi perlahan, wanita itu mendadak terlihat seperti sedang merenung serius.
__ADS_1
Dalam diamnya, Zee teringat adegan pintu kontrakannya yang perlahan tengah ditutup dari luar kemudian sampai dikunci juga. Yang mana tak lama kemudian, selain tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan dari sekitar kontrakan, Zee malah mendapati Rendan yang perlahan mendekat bahkan sampai terlibat kebersamaan dengannya.
Rendan, sunggh hanya nama itu yang Zee curigai. “R-rendan!” Zee langsung berusaha mencari-cari ponselnya. Ia kesulitan melakukannya lantaran ia lupa menaruh tas kerjanya yang tampaknya tertindih barang-barang di kamarnya.
Rayyan yang lama-lama tidak tahan, tak tega melihat Zee yang mirip orang kehilangan akal sehat, nekat menelepon kontak Kak Vano, di ponselnya. Rayyan sampai keluar dari kontrakan Zee. Akan tetapi di tempat berbeda, di ruang kerjanya, Devano membeku di tempat duduknya. Devano mengabaikan setiap telepon dari Rayyan yang terus terulang.
“Tadi kamu masuk ke kamarku, kan?” tuding Zee yang sudah terhubung sambungan telepon dengan Rendan. Di kamarnya, ia berusaha berdiri, keluar dari situasi di sana yang benar-benar berantakan.
Sembari melangkah tergesa meninggalkan kamarnya yang mirip kapal pecah, Zee mengajak Rendan bertemu.
“Aku tidak bisa sekarang. Kecuali kalau kamu mau ke kantorku karena sekarang aku masih sibuk! Aku sedang sangat sibuk, gara-gara kemarin, pacar gadunganmu itu berulah!” balas Rendan dari seberang sana.
Rayyan kembali mengawal Zee. Lain dengan pak Lukman yang langsung berusaha menghubungi nomor ponsel Devano. Namun tak beda dengan telepon dari Rayyan, telepon dari pak Lukman juga Devano abaikan.
Di dalam ruang kerjanya, Devano masih membeku, mirip patung dan hanya sesekali melirik ponselnya yang ada di meja hadapannya. Gawai berwarna putih itu tak hentinya bergetar sekaligus berdering. Dari Rayyan, pak Lukman, sang papah, dan kini sang mamah. Namun, bukan semua itu yang Devano masalahkan, melainkan waktu yang sudah pukul sepuluh pagi. Dengan kata lain, satu jam sudah ia melewatkan waktu yang harusnya menjadi rapat penting.
Rapat penting yang membuat seorang Devano mempertaruhkan harga diri bahkan nyawanya sekeluarga, mengingat status sang ayah dalam keluarga Rayyan memang hanya anak sambung. Namun karena keahlian seorang ibu Arnita yang merupakan desainer andal, juga pak Restu yang sangat pekerja keras dan memiliki jiwa kepemimpinan tinggi, Devano yang memiliki kemampuan tak kalah dari orang tuanya, ada di posisi sekarang.
“Zee, kenapa kamu tega mengecewakan aku? Aku pikir kamu beda, tapi ternyata kamu sama saja. Kamu menjual kepercayaanku. Kamu pasti sengaja sekongkol dengan Rayyan hanya karena kamu tahu, dia lebih dariku!” batin Devano.
__ADS_1
“Papah terpaksa membatalkan rapat, dan semuanya kecewa ke Kakak. Sebenarnya ada apa? Kalau memang ada masalah, harusnya Kakak cerita. Kakak enggak jawab telepon Papah, Zee juga susah dihubungi!” tegas pak Restu sembari melangkah tergesa menghampiri sang putra.