Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
37 : Mantra Dan Patuh


__ADS_3

“Kenapa Pak Vano jadi gandeng tanganku terus?” tanya Zee sambil melirik wajah Devano yang kini jadi terlihat serius.


“Karena aku enggak mau kamu jatuh lagi,” balas Devano yang kemudian menoleh, menatap wajah Zee. “Kalau ada keluhan semacam pusing atau mual, langsung kabari aku!” ucapnya dan Zee langsung mengangguk patuh.


Rendan yang diam-diam menyimak langsung bengong tak percaya mendengarnya. “Pusing atau mual ...? Maksudnya, Zee lagi bunting?” pikirnya yang kemudian memastikan.


Tentunya, Rendan tak berani menatap Zee terang-terangan. Ia hanya berani melakukannya melalui lirikan. Bertepatan dengan itu, Zee mengelus-elus perutnya yang sedang diperhatikan Rendan. Kenyataan yang langsung membuat seorang Rendan melotot kemudian menelan ludahnya sendiri. “Emang dasar, pas sama aku enggak mau! Sekarang, giliran sama bos yang lebih keren, dia sudah langsung bunting!” batinnya yang kemudian mengoreksi anggapannya. “Enggak ... enggak. Dia enggak keren karena aku lebih keren!”


Devano dan Zee duduk di tempat duduk depan meja yang baru saja Rendan tinggalkan.


“Memangnya di sini, enggak ada ruang VIP?” ucap Devano masih mengawasi sekitar. Ia mencoba mencari ruangan khusus yang biasanya menjadi ruang VIP agar kebersamaannya dan Zee jauh lebih privasi.


“Sudah, di sini saja,” balas Zee meyakinkan.


“Sengaja cari VIP pasti biar bisa ehm ... ehm! Dasar manusia enggak berada*b!” batin Rendan memutuskan pergi dari sana. Kalu ini, ia melenggang dengan leluasa lantaran yakin, baik Zee maupun Devano tak mungkin melihat apalagi mengawasinya.


Di lobi restoran, Rendan terusik oleh sederet pesan masuk yang menghiasi ponselnya. Selain berdering, gawai canggihnya itu juga tak hentinya bergetar dan membuat Rendan kegelian. Karenanya, Rendan buru-buru mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana levis panjang warna hitamnya.


“Hah ...? Tagihan? Tagihan apa ini? Pinjaman online? Kapan aku pinjam? Loh, kok ini banyak banget? Ini pasti penipuan modus terbaru! Sudah ah, biarin saja. Takutnya kalau sampai dibuka apalagi asal klik link, yang ada malah data pribadiku yang dimanfaatkan buat hal tidak-tidak!” pikir Rendan sengaja mengantongi ponselnya lagi.


Rendan segera menuju motornya yang terparkir di tempat parkir bagian Depan, kemudian menggunakannya untuk pergi dari sana. Hanya saja, kebersamaan Zee dan Devano beberapa saat lalu dan sampai membuat Rendan yakin Zee sedang bunting, tak hentinya terngiang-ngiang di benak Rendan. Rendan sengaja menghentikan laju motornya guna mengamankan dirinya yang kurang fokus. Daripada terjadi apa-apa, pikirnya.


Setelah tahu Zee sakit, Devano jadi perhatian. Semacam menu makanan pesanan mereka saja sampai Devano suguhkan kepada Zee.


“Ini romantis!” lirih Zee yang tersipu malu.

__ADS_1


Devano yang tetap serius berkata, “Sudah, habiskan semuanya. Sayur, daging, ikan, buah, ... semua ini bagus buat kamu!”


Zee mengangguk-angguk patuh. Ia langsung mencicipi semua menu di sana, kemudian menyuapi Devano. Tentu Devano tak langsung menerima. Pria itu bahkan membuka mulutnya dengan ragu. Namun kegigihan Zee menyuapinya, membuat Devano terbiasa menerima setiap suapan dari Zee. Malahan, Devano belajar menyuapi Zee juga meski tentu saja, Devano sangat kaku dalam melakukannya.


Hingga suasana menjadi petang, Rayyan masih diam-diam menunggu di dalam mobil, di tempat duduk penumpang belakang sebelah sopir. Mobil mereka diparkir tak jauh dari gang menuju kontrakan Zee berada. Kedatangan mobil Devano sudah langsung mengusik kedamaian Rayyan.


Dari tempat duduknya, Rayyan langsung melongok, mengawasi mobil Devano dengan sangat serius. Tampak Devano dan Zee yang keluar dari mobil, nyaris bersamaan. Devano menyetir sendiri, dan tak lantas pergi walau telah menutup pintu kemudinya. Devano membuka pintu mobil sebelah tengah kemudian mengambil tas ungu dari sana. Buru-buru pria itu melangkah memutari mobil depan kemudian menghampiri Zee yang terlihat jelas menunggu. Devano menggunakan tangan kanan yang tidak menenteng tas, untuk menggandeng tangan Zee. Detik itu juga, Zee yang terdiam menunggu langsung melangkah mengikuti tuntunan Devano. Tak sekadar itu, sebab Zee juga sampai mendekap lengan kanan Devano menggunakan tangan kanannya.


“Hubungan mereka makin dekat,” pikir Rayyan yang kian yakin bahwa hubungan Zee dan Devano makin tak terpisahkan lantaran Devano tak kunjung kembali. Tiga jam telah berlalu, tapi Devano tak kunjung keluar dari kontrakan Zee.


Hingga larut malam, dini hari, bahkan ... pagi. Devano tetap di dalam kontrakan Zee. Selama itu juga Rayyan menunggu. Rayyan sampai tidak tidur karena otaknya tak bisa berhenti memikirkan hubungan Zee dan Devano.


Padahal di sofa ruang tamu Zee, Devano tidur dengan sangat lelap, walau pria yang selama ini terkenal kejam itu harus menekuk kedua kakinya yang panjang. Zee yang baru keluar dari kamar, dan memergoki kenyataan tersebut, jadi makin sayang kepada Devano. Demi tetap siaga untuknya, Devano rela tidur di sofa lepek dan sampai menekuk kakinya semalaman penuh.


“Kamu sakit apa sih, kok Devano sampai begitu? Terus, seharian kemarin, kalian ke mana saja? Kalian beneran ke rumah sakit, kan?” tanya pak Samsudin, sengaja berbisik-bisik karena tak mau mengusik Devano.


***


“Bagaimana?” tanya Zee setelah Devano menyesap teh manis hangat yang sengaja ia buat untuk pria itu.


Devano yang benar-benar baru bangun, dan belum sempat membasuh wajah, berkata, “Teh manis. Hangat.”


Balasan super datar Devano langsung menyulut emosi Zee. “Ya maksudnya, rasanya. Pas, apa kurang manis, apa terlalu manis? Apa kamu enggak suka manis-manis karena aku sudah manis!” omel Zee tapi ia melakukannya dengan berbisik-bisik karena tak mau mengusik sang papah yang sedang membuat nasi goreng di dapur.


Devano yang masih mengantuk, selain menahan rasa pegal di sekujur tubuhnya, memberikan jempol tangan kanannya, kemudian menempel sekaligus mendorongkannya ke kening Zee.

__ADS_1


“Kadang aku merasa, ... Pak Vano memang kelainan, dan begini salah satu contohnya!” keluh Zee.


“Jangankan kamu, ... aku saja merasa begitu. Aku di sini, pikiranku lebih mirip pasar!” balas Devano jujur.


Zee meraih tangan kanan Devano yang jempolnya masih menempel di keningnya. Kemudian, ia meletakan tangan itu ke ubun-ubun Devano seiring ia yang berangsur berdiri.


“Kamu bukan ahlinya merukiyah!” tegur Devano. “Kamu ahlinya bikin aku khawatir, emosi, kangen juga,” lanjutnya yang kemudian menghela napas pelan. “Sudah sekalian pijatin kepalaku, kayaknya aku masuk angin.”


Tanpa perlawanan, Zee menggunakan kedua tangannya untuk memijat-mijat kepala Devano. “Sekarang aku merasa, beberapa ucapannya mirip mantra yang begitu ampuh hingga aku dengan begitu mudah patuh,” batinnya sambil diam-diam mengawasi Devano.


Menggunakan kedua tangannya untuk menggenggam mug isi teh manis hangat buatan Zee, Devano menghabiskan isinya. Devano memang terlihat sangat tenang, tapi Zee yakin, seperti yang beberapa saat lalu Devano keluhkan, pikiran pria itu mirip dengan pasar. Terlalu banyak yang Devano pikirkan. Terlalu banyak beban yang harus Devano pikul.


“Ada uban! Sumpah, aku nemu di ubun-ubunmu!” yakin Zee yang memang melihat apa yang ia katakan.


“Fitnah,” balas Devano dengan santainya sambil tetap menikmati tehnya.


“Kan tadi aku sudah bilang sumpah! Bentar aku cabut!” balas Zee yakin.


“Awas hati-hati. Sehelai rambutku seharga satu M!” balas Devano tetap santai. “Kadang aku bingung sendiri, kenapa aku mau-mau saja patuh kepadanya? Dia bilang, aku kelainan? Bukankah dia sendiri yang kelainan? Bukan ... Bukan itu maksudku, tapi ... dialah yang membuatku kelainan,” batin Devano.


“Tuh, lihat! UBAN!” ucap Zee memberikan uban yang baru saja ia cabut.


“Uban apaan? Ini rambut putih. Tanda-tanda rambut lelah, ini!” yakin Devano dengan santainya.


“Rambut putih memang uban, kan? Memang sejak kapan uban ganti warna lain selain putih?!” Zee makin emosi.

__ADS_1


Namun dengan santainya, Devano berkata, “Sejak diwarnai.” Ia memilih menghabiskan tehnya, menikmatinya, sekaligus menikmati ekspresi kesal Zee yang menjadi sibuk menguwel-uwel rambutnya.


__ADS_2