Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
48 : Akhirnya Bertemu


__ADS_3

Terlalu asyik dengan kebersamaan mereka, membuat Zee dan Devano sampai lupa alasan sekaligus tujuan mereka mengunjungi galeri mal yang kini dipimpin oleh Rayyan.


“Apa yang sedang mereka lakukan?” lirih Cheryl pura-pura tak paham dan memang sengaja menanyakannya kepada Rayyan agar pria di sebelahnya makin kesal. Paling tidak, melalui Rayyan, ia ingin balas dendam kepada Zee.


“Itulah perbedaan mencolok antara kamu dan Zee,” balas Rayyan dengan nada bicara yang terdengar sangat kejam bahkan di telinganya sendiri.


Cheryl menatap kesal kepergian punggung Rayyan. Iya, pria itu langsung meninggalkannya tanpa obrolan berarti bahkan sekadar untuk basa-basi. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh sebagai wujud dari amarah yang susah payah ia tahan karena ia sudah sangat ingin memberi Rayyan pela*jaran. Namun sampai detik ini, Cheryl belum tahu bahwa sebenarnya, Rayyan menyukai Zee.


“Andai dia tidak tampan, kaya, dan ternyata pewaris tunggal dari kerajaan bisnis fashion ini, tentu aku tidak akan menjadikannya sebagai targetku! Namun apa pun yang terjadi, aku tetap akan menjadikan Devano sebagai targetku karena aku sadar, Devano punya kemampuan. Devano punya power yang enggak sembarang orang bisa memilikinya, bahkan sekelas Rayyan!” batin Cheryl segera menyusul kepergian Rayyan.


Bagi seorang Rayyan, perbedaan Cheryl dan Zee sangat mencolok. Ketika Zee bersinar karena keceriaan sekaligus keuletannya, selain Zee yang memang cerdas sekaligus pemberani, alasan Cheryl bersinar karena wanita itu menjual penampilan. Selebihnya sungguh tidak ada yang bisa dibanggakan apalagi istimewa dari seorang Cheryl. Padahal harusnya Cheryl paham, tanpa adanya perawatan termasuk uang sebagai modal, kecantikan sekaligus kemole*kkan fisik yang selama ini selalu menjadi andalannya, semua itu benar-benar akan pudar.


Tak disangka, Rayyan menghampiri kebersamaan Zee dan Devano. Kedua sejoli itu hendak mengantre untuk melakukan pembayaran. Rayyan tersenyum penuh ketenangan layaknya biasa. Yang mana, ia juga yang lebih dulu menyapa Devano maupun Zee.


“Aku merasa sangat senang bahkan tersanjung karena kalian masih mau mampir ke sini, padahal mamah Arnita sudah menarik semua pakaiannya dari sini,” ucap Rayyan benar-benar lembut, selembut senyum sekaligus tatapannya.


“Sebenarnya awalnya kami akan belanja ke tempat lain. Namun setelah dipikir-pikir, kami sengaja memilih tempat ini. Karena selain kami ingin mengenang perjalanan hubungan kami, kami sengaja meramaikan mal ini yang makin hari makin sepi padahal belum ada satu pekan aku melepaskannya kepadamu,” ucap Devano yang tentu saja sengaja menyindir Rayyan secara halus.


Rayyan memang tetap mempertahankan senyumnya, tapi kedua tangannya yang ada di sisi tubuh, sudah refleks mengepal kencang. Saking kencangnya, kedua tangan itu sampai menjadi gemetaran. Rayyan berpikir tidak ada yang mengetahui perubahan ekspresinya, padahal Devano sudah langsung memergokinya. Devano tersenyum penuh kemenangan melirik kedua tangan Rayyan yang masih mengepal, silih berganti.

__ADS_1


“Aku terkejut setelah kamu memperkerjakan Cheryl,” ucap Zee angkat bicara. Ia menatap wajah tampan Rayyan penuh terka.


“Goblo*knya Rayyan memang diformalin, makanya awet sampai akhir hayat!” ucap Devano sengaja mengomel. “Urusan perusahaan besar dan menyangkut ribuan karyawan kok asal pungut pegawai penting. Emang dasar otaknya rungkad!”


Cheryl yang sadar dirinya tengah menjadi bahan pembahasan, langsung ketar-ketir. Ia tak berani mengangkat tatapan apalagi wajahnya. “Rayyan, kamu wajib bela aku!” batin Cheryl.


Seolah memiliki ikatan batin, Rayyan yang masih menanggapi keadaan dengan tenang, berkata, “Setiap orang memiliki masa lalu dan semuanya juga memiliki kesempatan untuk memiliki masa depan lebih baik!” Maksudnya berkata demikian adalah agar ia tampak bijak.


“Bukan urusan masa lalu dan masa depan seseorang. Bukan juga karena dia pernah menjadi tukang kuti*l bahkan gundik calon suami sahabatnya sendiri. Ini menyangkut kemampuan, kinerjanya untuk perusahaan. Termasuk kinerjamu. Ada ribuan karyawan yang bergantung pada kalian, sementara ribuan karyawan ini punya keluarga yang harus dihidupi dan otomatis juga bergantung kepada kalian!” tegas Devano marah-marah layaknya biasa.


Tidak ada yang tidak memperhatikan Devano maupun Rayyan sebagai lawan bicaranya. Malahan hampir semua karyawan di sana termasuk kasir yang sedang menotal pembelian pembeli di depan Devano, langsung menunduk lesu. Mereka terlalu khawatir apalagi ditariknya barang-barang dari butik ibu Arnita, membuat satu gerai paling luas di sana masih kosong karena tak kunjung diisi dengan penggantinya.


“Sepuluh tahun lebih menjadi bagian dari perusahaan ini, tentu Kak Vano paham kondisi di sini.” Zee angkat suara dengan jauh lebih lembut karena ia tak mau Rayyan makin tertekan dan berakhir menjadi psikopat layaknya yang ia takutkan. Di hadapannya, Rayyan yang awalnya sudah nyaris menangis, langsung tersenyum.


Zee menghela napas pelan, masih berusaha merangkul hati seorang Rayyan. “Jika kamu menginginkan sesuatu bahkan itu pekerjaan, menjadi milikmu, agar mereka mau diajak kerja sama, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mencintainya. Namun sebelum kita mencintai hal lain, kita wajib memulainya dari diri kita. Kita harus mencintai diri kita terlebih dahulu agar kita bisa melakukannya juga kepada orang lain!” yakinnya. “Itulah alasan kenapa Kak Devano begitu paham dengan perusahaan ini. Karena Kak Devano tulus mencintai perusahaan ini, hingga dia menghabiskan semua waktunya untuk membesarkan perusahaan ini.”


“Dan sekarang, ... setelah kamu mendadak mengambil perusahaan ini secara paksa, padahal kamu tidak tahu apa-apa mengenai bisnis apalagi perusahaan, ... mau tidak mau, kamu wajib belajar.” Zee menatap Rayyan dengan tatapan sangat dalam tapi tajam.


“Jadilah rumah untuk usahamu. Kamu harus jadi keseluruhan, bukan hanya sebagian. Sebuah rumah tidak hanya memiliki atap yang selalu ditakdirkan menjadi posisi paling tinggi. Sebuah rumah maupun bangunan lain selalu wajib memiliki fondasi kuat, dinding dan segala penyangga lain yang tak kalah kokoh. Jadilah rumah bagi karyawan yang akan tetap bahagia untuk kembali datang, dalam suka maupun suka,” yakin Zee lagi.

__ADS_1


“Sayang, dia mana ngerti kalau bahasa kamu begitu,” ucap Devano yang kemudian menaruh kantong belanjaannya dan membiarkan sang kasir memeriksa sekaligus menotal belanjaannya.


Zee menatap bingung Devano, tapi rasa bingungnya juga menjadi makin kuat ketika ia kembali menatap Rayyan yang terlihat jelas tidak paham.


“Harusnya kamu jadi artis, bukan pebisnis. Kamu lebih berbakat berakting ketimbang mikirin ***** bengek penyusun perusahaan!” ucap Devano yang kemudian memberikan kartu kreditnya sebagai alat pembayaran belanjaannya dan Zee.


“Kamu bisa belajar ke pak Mario karena pak Mario juga tidak kalah mencintai perusahaan ini layaknya pak Restu dan Kak Devano,” ucap Zee sengaja buru-buru lantaran Devano yang sudah membayar belanjaan mereka kemudian menenteng kantong berisi belanjaan mereka, sudah sampai menggandeng sebelah tangannya. Devano jelas akan langsung membawanya pergi.


“Kenapa kalian begitu mengkhawatirkanku?” ucap Rayyan.


“Aku bisa, ... sungguh!” lanjut Rayyan meyakinkan.


Zee mengangguk-angguk. “Semangat!”


“Semangat buat menyambut kehancuran kalau kamu tetap keras kepala!” bisik Devano kepada Zee tanpa melirik Rayyan selaku sosok yang ia maksud.


Rayyan yang masih tersenyum bahagia menatap wajah Zee, berkata, “Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Ini sudah petang dan sudah masuk makan malam, kan? Untuk tempatnya, kalian yang pilih!”


“Suruh Cheryl ajak Rendan, baru kami mau makan malam bersama kalian!” tegas Devano sengaja menantang. Apakah Rayyan sanggup membuat Cheryl mengundang Rendan menjadi bagian dari makan malam mereja?

__ADS_1


__ADS_2