Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
41 : Romantisnya


__ADS_3

Apa yang Devano katakan membuat Zee ingat ucapan sekaligus permintaan sang ayah, akhir-akhir ini.


Akhir-akhir ini, pak Samsudin selalu meminta Zee untuk menikah, selagi pak Samsudin masih hidup. Selagi pria itu masih bisa menjadi wali nikahnya. Lebih tepatnya, pak Samsudin ingin melihat Zee berubah tangga lantaran pria itu yakin, kelainan jantung yang diidap bisa membuatnya tiada tanpa diduga.


Jujur, pemikiran sang papah kadang membuat Zee marah karena pria itu seolah sudah sangat siap meninggal, meninggalkannya untuk selama-lamanya. Namun jika melihat keadaan, ucapan sang ayah juga tidak ada salahnya.


Mengangguk-angguk Zee menengadah sambil menatap Devano walau mulutnya terkunci rapat.


“Pulang dari sini, kita urus pertunangan. Setelah kembali ke sini, kita baru urus persiapan pernikahan. Hasil dari pengobatan nanti menjadi pertimbangan, bolehkan kita menggelar pesta, atau cukup yang sederhana saja takutnya kamu kecapaian,” lanjut Devano, dan lagi-lagi membuat Zee yang menyimak, mengangguk-angguk walau bibirnya terkunci rapat.


Devano menatap wajah Zee lekat-lekat. Membuat wajah mereka makin tak berjarak. Namun baru berhasil membuat bibir mereka menempel, Zee langsung menarik mundur bibirnya. Tanggapan Zee dan Devano yakini refleks, membuat Devano terdiam sejenak. Namun kemudian, Devano sengaja mengecu*p dalam bibir Zee, meski karena ulahnya itu, sebelah tangan Zee refleks menghantam dadanya dengan asal.


“Mau masuk ke dalam?” tawar Devano yang makin mengeratkan dekapannya.


“Bentar lagi!” lirih Zee sembari mengeratkan dekapannya kepada tubuh Devano. Wajahnya tak sengaja menyentuh lengan Devano yang tidak terbalut kaus putih. Lengan tersebut terasa sangat dingin dan mungkin efek angin di sana yang masih berlangsung kencang.


“Tangan kamu dingin banget! Tapi sebentar lagi. Sebentar lagi saja, aku ingin begini!” lirih Zee.


“Sampai besok pun enggak apa-apa kalau kamu memang mau. Paling mamah yang teriak-teriak karena khawatir ke kita!” balas Devano jutek.


Di saat sedang romantis pun, Devano tetap saja jutek. Mulut Devano masih sangat sulit berucap manis apalagi kalau sampai berbohong. Namun, alasan Zee tersenyum juga karena wanita itu merasa terenyuh. Ia bahagia dan mencintai Devano apa adanya, walau di beberapa kesempatan, ia tetap akan protes apalagi jika Devano semena-mena.


Perlahan tapi pasti, Devano meletakan piring berisi potongan buah melonnya, di meja kayu yang ada di sana. Masih ada tiga potong buah melon, dan ia segera melahapnya. Setelah meletakan garpunya, Devano merogoh celana levis hitamnya, mengeluarkan ponselnya dari sana kemudian melakukan swafoto dari samping.


Layaknya kura-kura, ulah Devano membuat Zee sigap membenamkan wajahnya di dada Devano. Zee tak mau wajahnya terekspos. Meski karena Devano terus meminta, ia membiarkan wajahnya diabadikan menggunakan kamera ponsel.


“Coba aku mau lihat,” pinta Zee.


“Kalau mau lihat, kamu wajib bayar!” balas Devano sewot.


Zee yang tersenyum, refleks mencubit gemas hidung Devano. Pria itu mengajaknya duduk di kursi sebelah, memangkunya, dan memberikan ponselnya. Membuat Zee bisa melihat foto-foto yang beberapa saat lalu Devano abadikan, dengan leluasa.

__ADS_1


“Kamu kelihatan jauh lebih cantik kalau di foto!” ucap Devano santai berusaha menikmati suasana malam dengan udara yang benar-benar dingin.


“Menghina banget! Masa iya, aku lebih cantik kalau di foto!” kesal Zee.


Devano tersenyum santai dan tak lagi mempermasalahkan setiap omelan Zee. Malahan ia merasa bersyukur jika Zee masih mengomel. Sebab jika itu masih terjadi, tandanya Zee sedang tidak menahan sakit.


Menghabiskan malam di balkon hotel bahkan dirinya sampai di pangku Devano, Zee masih sulit percaya karena pada kenyataannya, seorang Devano tetap bisa romantis.


***


Ibu Arnita tak sengaja terbangun, dan mendapati Devano masih terjaga. Putranya itu masih mengawasi wajah Zee yang sudah terpejam damai meringkuk ke arah Devano. Kemudian, ibu Arnita meraih ponselnya yang di nakas belakangnya. Melalui ponselnya, ia sengaja memastikan waktu yang tengah berlangsung. Tepat pukul dua pagi dan itu sungguh mengejutkan seorang ibu Arnita. Ibu Arnita refleks menghela napas dalam sambil mengembalikan ponselnya ke nakas.


“Kak, ... tidur. Sudah pukul dua pagi!” tegur ibu Arnita lirih. Ibu Arnita yakin, sekali jatuh cinta, putranya benar-benar menyayangi wanita yang dicintai dan salah satu buktinya adalah kini. Devano sampai tidak bisa tidur karena terlalu mengkhawatirkan Zee.


Devano menghela napas dalam dan perlahan mengalihkan tatapannya kepada sang mamah. “Mah, tukeran. Aku yang di situ!” pintanya berbisik-bisik, tapi sang mamah langsung menggeleng dan memberinya tampang yang benar-benar galak.


“Please!” mohon Devano.


“Enggak, ... kalian belum menikah. Lagian, Zee pasti marah kalau kamu sampai melakukannya!” yakin ibu Arnita berbisik-bisik juga.


Ibu Arnita tetap menggeleng, tetap dengan keputusan sekaligus prinsipnya walau di tempat tidur sebelah, Devano sudah langsung menekuk wajah sedemikian rupa mirip kanebo kering dalam gulungan.


“Nanti kalau sudah nikah, pasti sampai bosen!” yakin ibu Arnita.


“Ih, apaan sih, Mah. Beneran bukan buat itu!” yakin Devano.


“Sudah, sekarang kamu tidur!” balas ibu Arnita.


Devano mendengkus kesal kemudian mengangguk-angguk. “Oke!”


“Tidur, biar besok masih ada waktu buat jalan-jalan apalagi Mamah yakin, ini jadi pertama kali, Zee keluar negeri,” yakin ibu Arnita dan kali ini dengan jauh lebih lembut.

__ADS_1


“Pengin peluk Zee, Mah,” rengek Devano.


“Besok, ... besok!” yakin ibu Arnita.


Kali ini, Devano benar-benar tak memiliki pilihan lain selain menerima keputusan sang mamah. Ia menarik selimut dan menutupkannya hingga dagu. Kendati demikian, kedua matanya tetap tertuju kepada Zee, walau sang mamah juga masih terjaga mengawasinya.


Paginya, Zee menjadi orang yang bangun paling awal karena baik Devano termasuk ibu Arnita, masih lelap. Zee jadi bingung untuk beraktivitasnya, takut menimbulkan bunyi dan mengusik tidur kedua orang yang ada di sana. Namun karena ia kebelet pipis dan ia juga wajib meminum obatnya tepat waktu, ia beranjak dengan hati-hati dari tempat tidurnya.


Dering alarm di ponsel Devano dan ada di sebelah wajah pria itu, membuat sang pemilik terusik. Devano langsung mencari Zee, dan ia tak menemukannya di tempat tidur sebelah. Segera tatapan Devano terempas dan membuatnya memergoki Zee yang juga menoleh, menatap kepadanya walau wanita itu nyaris masuk ke dalam kamar mandi di seberang.


Seolah Zee memiliki medan magnet yang berlawanan dengan medan magnet yang ia miliki hingga dengan mudah ia tertarik, Devano juga dengan mudah mengejar Zee. Ia melangkah cepat walau langkahnya masih sangat sempoyongan karena ia memang masih sangat mengantuk.


“Aku mau pipis dulu,” ucap Zee yang menutup pintu menuju kamar mandi. Ia meninggalkan Devano di ruang yang dihiasi dua buah wastafel berhias hamparan dinding yang disertai cermin rias.


Devano menghela napas dalam kemudian memilih untuk membasuh wajahnya dan menggunakan sabun wajah khusus milinya yang memang ada di sana.


“Kamu enggak pusing, kan?” tanya Devano sembari meraih sikat dan pasta gigi setelah ia beres membasuh wajah dan membuat wajahnya makin cerah.


“Sedikit!” balas Zee masih di dalam dan baru saja membuka kunci pintu ruang keberadaannya.


“Sedikit, apa banyak?” balas Devano sengaja menatap pantulan bayangan Zee dari cermin di hadapannya.


Zee menggeleng. “Enggak begitu banyak.”


“Ya sudah, sekarang siap-siap, sebentar lagi sarapan kita datang, habis sarapan kamu langsung minum obat!” sergah Devano yang kemudian menggosok giginya cepat.


Bel yang terdengar dan menandakan seseorang menekannya di luar, membuat Devano buru-buru menuntaskan bersih-bersih wajah dan juga mulutnya.


“Sarapan kita sudah diantar,” sergah Devano sembari buru-buru melangkah.


“Jadi kamu sengaja pasang alarm sesuai jadwal sarapan dan minum obatku?” tanya Zee memastikan dan sengaja menghentikan kesibukannya dalam menggosok gigi.

__ADS_1


Sambil terus melangkah, Devano berucap santai, “Tentu.”


Balasan singkat yang untuk pertama kalinya membuat seorang Zee tersipu. “Romantisnya!” batinnya.


__ADS_2